Keinginan hati

1009 Kata
Greta duduk dengan tidak nyaman. Dia melirik antara Ayahnya dan Kleis yang sepertinya sedang beradu 'Siapa yang paling lama bertahan'. Keduanya seperti musuh bebuyutan bertemu. Kleis tetap santai dan menikmati makanan dimeja, sedangkan Arian sudah memiliki ekspresi sangat jelek. Greta menyentuh lengan Arian. "Ayah.Apa.Kamu.tidak.selera.makan?" "Iya! Ayah tidak selera makan karena lalat yang ikut makan dengan kita," jawab Arian dengan sengaja. "Mau.aku.bawa.obat.penghilang.serangga?" "Tidak perlu,nak. Kamu lebih baik makam yang banyak,masih butuh lama untuk memulihkan kesehatanmu." "Baik." Greta memberikan isyarat patuh. Kleis menatap antara Ayah-anak itu. Sebuah senyuman kecil muncul dan menghilang. Pemuda itu makan dengan baik, tidak memperdulikan tatapan penuh permusuhan dari Duke Arian padanya. Setelah makan bersama, Arian langsung menarik tangan Greta dan meninggalkan Kleis disana sendiri. Greta yang patuh hanya mengikuti saja. Ternyata Arian membawanya ke perpustakaan besar. "Kamu perlu mempelajari tentang ekonomi lebih dalam dari profesor...." "Ini juga! Tentang strategi paling hebat..." Greta merasa bahwa Arian seperti ingin membuatnya sibuk belajar. Dia memegang buku-buku itu dengan bingung. Dia dibawa ke arah meja dan membuka halaman buku. Greta dengan mudah memahami semua isi buku dengan cepat. "Ayah.apa.kamu.ingin.menjauhkan.aku.dan Kleis?" Greta bertanya pada pria itu dengan tatapan mendelik kesal. Dia bangkit dan membawa buku ditangannya berjalan pergi dari perpustakaan. "Greta!" Seru Arian panik dan buru-buru berlari mengejar putrinya. Greta berbalik dan menghadap pria itu. "Ayah.jangan.kekanakan.aku.dan.Kleis.adalah.teman baik." Arian menundukkan kepalanya saat melihat putrinya memarahinya. "Baiklah. Ayah tidak akan menganggu kalian bermain,jadi jangan marah,oke?" Greta mengulurkan jari manisnya dan menarik jari manis pria itu. "Janji?" "Janji." Greta tersenyum puas, gadis itu mengjinjit dan mengecup pipi pria itu. "Sampai jumpa." Arian mengangguk dan membiarkan gadis itu pergi. Setelah melihat sosoknya benar-benar lenyap, wajah Arian berubah menjadi cemberut. "Samuel!" Samuel muncul dari kegelapan. "Perintah anda?" "Awasi Bocah Kleis itu dan jauhkan dia untuk dekat-dekat dengan putriku!" "Tuan...saya paham." Arian berjalan pergi dan meninggalkan Samuel yang terlihat kebingungan. 'Sebenarnya aku itu asisten atau mata-mata sih?' Samuel hanya bisa pasrah dengan kelakuan tuanya itu. Benar-benar sosok yang sangat overprotektif dengan anaknya. ___***___ Di Kediaman Earl Brown Beberapa gadis bangsawan terlihat sedang menikmati 'Tea Time' yang biasanya diadakan oleh para wanita muda untuk berkumpul dam tentunya menceritakan kejelakan orang yang mereka tidak sukai. "Oh...bagaimana kabar 'Orang' itu yah..."tanya seorang gadis muda. "Dia pasti sedang sekarat." "Hahaha...Bisu itu hanya berani menganggu kita jika diwilayahnya." "Benar,Nona Ellen sering diganggu. Beruntung pangeran Ian datang dan menolong waktu itu." Ellen Brown yang seorang putri Earl yang memiliki kecantikan yang tidak bisa dipungkiri. Rambutnya yang panjang dan bergelombang, serta sosoknya yang sering dianggap sebagai peri oleh orang-orang. Tidak heran banyak sekali pemuda bangsawan yang melamarnya, tapi ditolak oleh wanita muda itu. Ellen yang duduk diantara mereka semua hari ini mengenakan gaun putih bersih yang menunjukkan kerendahan hatinya. Matanya yang sayu memberikan suasana lembut. "Tolong jangan menceritakan keburukan tuan putri,"ucap Ellen dengan suara lembut. "Nona Ellen! Anda sangat lembut,Si Bisu itu akan berulah jika anda sebaik ini." Ellen menutupi wajahnya, tidak ada yang melihat senyum sinis dibibir gadis itu. Saat dia mengangkat kepalanya, matanya memerah sedih. "Tuan putri Greta menyukai pangeran Ian,ini salahku yang menganggu mereka."Ellen mengusap matanya yang seperti menahan air matanya. "Nona...anda benar-benar baik!" Para wanita muda yang lainnya berseru lagi. Ellen membalas perkataan para lady itu dengan senyuman rendah hati. Mereka kembali menikmati acara minum teh mereka. Saat hari sudah mulai sore, para lady mulai pamit dan meninggalkan kediaman Earl dengan kereta mereka. Ellen melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian para lady itu. Setelah melihat sosok kereta yang mulai menjauh, ekspresi wanita itu seketika berubah menjadi jelek. Ellen berbalik dan masuk ke dalam, dia langsung naik ke lantai atas di kamarnya. Masuk dalam kamar, pelayan pribadinya, Ria, sudah menyiapkan cucian kaki dan kain tidur untuknya. "Ria." "Saya disini,Nona." Ria mendekat dan membungkuk di depan Ellen. "Apa ada berita tentang si bisu itu?"tanya Ellen dengan nada yang mengejek. "Tidak ada,Nona. Semua orang di rumah Duchy sangat tertutup dan sulit mendapatkan informasi." "Jadi tidak ada kabar bahwa dia mati atau apa gitu?" "Tidak ada,Nona." "Sial! Si bodoh itu kenapa malah di tolong saat itu,padahal tinggal sedikit lagi." Ria hanya diam, dia sangat tahu bahwa Ellen Brown, bukanlah pribadi yang baik dan murah hati seperti yang dipikirkan oleh semua orang diluar sana. Tetapi dia hanyalah iblis yang penuh kebencian dan jahat, Ria hanya bisa patuh jika disuruh, bila melawan dirinya akan disiksa dan yang lebih buruk dia akan dijual di pasar b***k oleh Ellen. Entah berapa banyak pelayan yang sudah perempuan itu jual. Ellen selesai mengganti pakaiannya dan berbaring diatas kasurnya. "Para lady sialan itu sangat menyebalkan. Mereka punya mulut yang bergosip tanpa henti,"ucap Ellen dengan ekspresi jijik. Dia memakan buah anggur di atas meja samping ranjangnya. "Kenapa bukan aku yang menjadi Nona muda Rodriguez? Kenapa harus si bisu itu sih," ujarnya dengan geram. Ellen memang sangat menginginkan menjadi putri Duke. Kekayaan yang berlimpah, serta status yang sangat dihormati, siapapun pasti mau. Ellen sangat benci dilahirkan dalam keluarga kelas rendah seperti Earl, dia hanya bisa menyenangkan lady berpangkat tinggi dan bersikap rendah. "Harusnya aku yang menjadi putri Duke,bukannya si cacat yang bodoh itu," Ellen sangat jijik jika mengingat sosok Greta. Gadis yang selalu mengenakan topi.besar yang menutupi wajahnya itu, entah seburuk apa muka yang dia sembunyikan. Dan juga dia malah menyukai pangeran Ian yang jelas sangat mencintai Ellen. Tapi karena itu juga, Ellen bisa menginjak dan mempermainkan harga diri Greta. Dia selalu bisa membuat Greta harus menanggung malu dengan setiap tindakannya. Apalagi reputasi jelek yang saat ini dimiliki oleh Greta, membuat Ellen sangat bahagia. Ellen jugalah yang merencakan kejadian di danau istana saat itu, dia memancing agar Greta berusaha menyerangnya didepan mata Pangeran Ian, dan hasilnya Greta-lah yang didorong oleh pria itu dalam danau. Dia pikir setelah kejadian, semua hadangan yang menghalangi jalannya untuk menjadi Wanita terbaik di kerajaan akan segera terkabul, malah si bisu itu di selamatkan dari danau. Ellen sangat ingin menjadi yang terbaik dan terdepan diantara semua orang didunia ini. Harusnya dia yang diberikan status dan kehormatan,bukannya si bisu yang bisa dengan muda di manipulasi olehnya. "Ria, buatkan surat untuk pangeran Ian dan katakan padanya bahwa aku ingin mengajaknya berjalan-jalan besok." Ria mengangguk dengan patuh. "Akan segera yang lakukan,Nona." bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN