"Kenapa kamu kesini." Riana tersentak saat tuan muda yang semalam hampir saja melecehkannya sudah berdiri bersandar di tembok dapur. Lelaki tampan berkulit putih pucat, mata sipit, alis tebal tatanan rambut bak idol korea memandang Riana dengan tatapan sulit diartikan. "Tu-tuan Damian, selamat pagi." Riana menunduk takut. "Ck, tenang saja, saya tak ingin rahang saya patah lagi." ujarnya mengambil cangkir putih dalam rak lalu menuangkan kopi bubuk tiga sendok teh. "Biar saya siapkan tuan." Damian membisu menyedu kopi panasnya sendiri. "Tuan biar saya antarkan." sahut Riana saat melihat sang tuan muda hendak mengangkat secangkir kopi itu sendiri. "Tidak usah." "Biar saya saja tua, ah....." "Kamu nggak papa?" Damian terkejut melihat tangan Riana terkena tumpahan kopi panas miliknya,

