HARI BAIK UNTUK KABAR BAIK

1114 Kata
Tiba-tiba Paman Greg panik. Jauh lebih panik dari sebelumnya. Ia menyembunyikan foto yang mengundang banyak tanya tersebut dari ayah. “Kita pulang, Rid!” ucap ayah yang matanya masih belum terbuka sepenuhnya. “Tapi, Yah!” Tanpa banyak bicara, ayah langsung menuntunku keluar meninggalkan Paman Greg yang masih tercengang. Ia pun mulai menyalakan motornya. “Naik, Rid!” Ayah terlihat sangat buru-buru. Aku dan ayah pun melaju menaiki motor dengan kecepatan seperti biasa; 30 km/jam, meninggalkan Paman Greg dan foto yang penuh misteri. *** Aku baru ingat, sekarang kan masih perayaan hari Idul Adha. Pantas saja, sewaktu aku pulang, di rumah sudah banyak bingkisan berisi daging kiriman tetangga. Setiap perayaan Idul Adha, kami selalu kebingungan dengan banyaknya daging mentah pemberian orang qurban. Ayahku tak gemar masak, begitu pun ibu. Paling-paling kami mengolahnya menjadi sate. Menurutku, satenya tak terlalu enak. Tapi tak apalah, yang nikmatnya kan kebersamaan. Momen Idul Adha adalah waktu yang paling kunantikan. Ketika saat itu tiba, aku selalu ingin menonton penyembelihan hewan qurban. Entah itu sapi, kambing mau pun domba. Tapi aneh, kebanyakan temanku tidak suka menontonnya, dengan alasan tak tega melihatnya mengucurkan darah. Padahal, saat itu adalah saat paling menarik bagiku. Entahlah, aku pun tak mengerti mengapa aku tak takut melihat darah merah berlumuran. Aku tinggal di sebuah kelurahan. Rumahku menjorok lagi ke dalam melewati jalan kecil pas seukuran mobil. Setelah itu lurus, dan belok kanan sekali. Patokannya gampang, pokonya pas pengkolan ke kanan itu ada rumah besar dengan halaman yang luas. Di lihat dari luar, aku bisa melihat 5 mobil dan 3 motor-nya terparkir di garasi. Mobilnya adalah mobil-mobil jenis gunung. Seperti Offroad. Sedangkan yang lainnya adalah mobil sport. Motornya adalah motor jenis Harley, dan motor matic lainnya. Rumah itu adalah rumah temanku, Heru. Ayahnya adalah seorang polisi dengan jabatan tinggi yang ditugaskan di pulau sebrang sana. Ibunya bekerja di sebuah kapal sebagai asisten nakhoda. Mereka jarang pulang. Setahuku, mereka pulang hanya pada hari-hari besar saja. Seperti Idul Fitri dan tahun baru. Heru tinggal bersama 2 kakak perempuan, 1 kakak laki-laki dan 5 pembantu. Belum tahu aku namanya. Yang jelas, mereka semua sama-sama jarang keluar rumah. Kalau Idul Adha seperti ini, mereka pasti qurban 2 sapi. Mereka menyembelihnya di halaman belakang rumah yang sangat luas. Luasnya hampir sama dengan dua kali ukuran lapang voli. Saat penyembelihan dimulai, aku selalu ingin melihatnya paling depan. Tapi beberapa orang dewasa selalu melarangku. “Mundur, munndur! Bahaya!!” ujar salah seorang panitia sambil berteriak. Ya, apa boleh buat. Tapi untungnya, ada tugu yang cukup tinggi yang bisa aku naiki. Dan akhirnya aku tetap bisa melihat setiap penyembelihan hewan qurban. Betapa asyiknya melihat penyembelihan hewan qurban. Selain aku bisa melihat lumuran darah, terkadang juga banyak kejadian-kejadian lucu lainnya. Seperti saat aku masih berusia 5 tahun. Sapi yang hendak disembelih itu mengamuk kepada semua orang. Kakinya yang kuat dihentakan ke arah yang tak beraturan. Ia berlari ke sana kemari. Begitu pun orang-orang yang berada di sekitarnya, mereka berlari ketakutan. Lucunya, pernah ada beberapa orang yang ditubruk sapi hingga nyebur ke kolam ikan. Ada juga kejadian sapinya yang sampai nyebur ke kolam ikan. Ah, sapi yang bodoh! Mungkin dia panik. Setelah disembelih, hewan qurban itu dipotong, kulitnya dipisahkan dan organ-organ yang berada di dalam perutnya dikeluarkan. Setiap aku melihat sayatan-sayatan pisau, ada sensasi yang aneh dalam tubuhku yang tak bisa digambarkan. Pokoknya, setiap aku melihat penyembelihan aku selalu geli, ingin tertawa. Orang-orang ramai membantu dan menyaksikan pengurusan hewan qurban. Ada yang memasak, memotong daging, memisahkan kulit, meengeluarkan organ dalam dan lainnya. Selepas itu, kami pun makan bersama-sama. Heru mengajak semua teman sekelasnya untuk makan besar, termasuk aku. Kami tak perlu repot memasak atau pun menyiapkan hal-hal lainnya. Yang perlu kami lakukan hanyalah datang, duduk dan menunggu makanan datang. Setelah itu beberapa di antara kami ada yang langsung pulang dan ada yang bermain terlebih dahulu. Heru memiliki banyak mainan. Ruangan penyimpanan mainannya adalah sebuah kamar besar. Di sana, semua sudut dari kamar tersebut adalah mainan. Dari mulai mainan kecil-kecilan hingga yang paling besar. Tapi aku tak begitu tertarik dengan semua itu, aku lebih suka pergi ke lantai 3. Di sana ada sebuah kolam renang yang begitu jernih. Heru pun sama. Ia bilang bosan main permainan terus. Akhirnya, setiap Idul Adha, setelah makan bersama kami berenang bersama di lantai 3. “Cita-citaku menjadi tentara, Rid!” katanya sebelum nyebur. “Tentara?” sahutku sambil membuka baju. “Ya, tentara angkatan laut.” “Emangnya kenapa?” “Ayahku kan polisi, ibuku kerja di laut. Yaudah aku ingin jadi tentara angkatan laut. Biar kayak ayah dan ibuku, gitu…” Aku pun menatapnya dengan tersenyum kecil. “Kenapa?!” tanyanya keheranan. “Jadi tentara itu harus bisa berenang!” kataku sambil mendorongnya ke kolam sambil tertawa lepas.   “Sialan kau, Rid!” “Ayo balapan!” sahutku sambil nyebur. Heru dan aku adalah teman dekat. Aku sering bermain bersamanya sepanjang hari. Meski terkadang, ayah melarangku bermain bersamanya. Dan entah kenapa. Kami berdua bisa dibilang rival. Di sekolah, kami selalu berlomba dalam setiap pelajaran. Tahun lalu, ia berhasil mendapatkan peringkat pertama kelas. Tapi setelah itu, aku pun bisa merebutnya. Perlombaan itu berlaku dalam setiap mata pelajaran, termasuk olahraga. Kalau olahraga, aku paling jago pelajaran renang. Setiap kali praktek renang, aku pasti bisa mengalahkan semua teman-temanku. Termasuk Heru. Cukup aneh, bukan? Padahal Heru memiliki kolam renang pribadi di rumahnya, ia bisa berenang kapan pun ia mau. Sedangkan aku hanyalah orang yang numpang renang ketika bermain bersamanya. Tapi mungkin itulah yang disebut bakat. Dan dialah Heru, orang yang tak pernah menyerah dan tak pernah mengakui kekalahannya. Jika aku mengalahkannya dalam beberapa hal, ia akan terus menekuni hal tersebut sampai ia bisa mengalahkanku. Berbeda dengan aku. Dalam olahraga catur, aku tak pernah bisa mengalahkannya. Paling bisa aku menandinginya dengan hasil remis. Ia adalah orang yang sangat jenius dalam membuat strategi. Ia tahu kapan dan bidak mana yang harus ia pindahkan. Dan anehnya lagi, ia seperti bisa mengetahui ke mana arah pikiranku. Setiap bidak yang aku pindahkan, ia bisa mengukur sejauh mana potensi dari bidak tersebut. Mungkin, itulah salah satu perbedaan antara aku dengannya. Buktinya sekarang. Ia sedang aral karena kalah balap renang denganku. “Awas kau, Rid! Suatu saat aku pasti bisa mengalahkanmu!” Aku membalasnya dengan tersenyum yang memiliki arti; coba saja kalau bisa! Pastinya, aku bangga bisa mengalahkannya. Setelah berenang, biasanya kami berbaring di atas teras. Sambil memandangi langit yang begitu indah. Saat itu pula, kami sering bercerita, bahkan bisa sampai ketiduran. “Rid! Aku dapat kabar gembira,” ucap Heru. “Kabar apa?!” “Ayahku katanya mau pindah tugas kesi sini. Jadi, aku bisa lebih sering bertemu dengannya. Kau akan tahu itu, Rid.!” “Apa?!” “Kau akan tahu betapa hebatnya ayahku memberantas kejahatan di kota ini!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN