FLASH, SI AMFIBI

1065 Kata
“Oh, ya? Apa yang dilakukan ayahmu kepada para penjahat itu?” “Setahuku, mereka dihukum sesuai tingkat kejahatan mereka. Ada yang dipenjara, didenda, atau dihukum mati.”             “Ayahmu pasti sangat gagah, kan?”             “Tentu. Kalau ayahmu kerja apa?” Cukup susah menjawab pertanyaan tersebut. Karena yang aku tahu, ayah selalu berada di rumah. Tak punya seragam kerja, sepatu pantopel, kemeja atau buku-buku perkantoran. “Kenapa kau diam?!” “Entahlah, aku tak tahu ayah bekerja apa. Tapi yang kutahu, dulu ayah bekerja bersama Paman Greg.” “Paman Greg?!” “Ya, dia punya banyak barang-barang antik, seperti di museum!” “Oh, ya?! Apa kau tahu di mana rumahnya? Aku juga boleh mengunjunginya, kan?” tanya Heru yang nampak sangat tertarik setelah mendengar sesuatu tentang Paman Greg. Saking menariknya Paman Greg, kini ia beranjak dari tidurnya. Aku menyeringai. “Gak bisa. Itu sangat berbahaya!” “Lho! Maksudnya?!” “Pokoknya gak bisa. Ini sangat rahasia,” jawabku biasa saja. “Ah, payah kau, Rid!” lanjut Heru yang kembali membaringkan badannya ke teras. “Sudahlah, lain kali aku ceritakan padamu tentang Paman Greg. Sekarang aku pulang dulu,” kataku sambil menguap. Heru mengantarkanku ke luar. Aku diberi bingkisan berupa daging qurban dan beberapa makanan lainnya. Setelah itu aku pun berjalan menuju rumah. Oh, ya. Kami sama-sama tinggal di sebuah komplek yang ada di Cibinong, Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Bogor adalah kota hujan. Kata orang dewasa, Bogor adalah salah satu penyebab Jakarta sering Banjir. Soalnya, Bogor yang merupakan dataran tinggi itu berdekatan dengan Jakarta yang berada di dataran yang lebih rendah dari Bogor. Jadi, air yang ada di Bogor akan dialirkan ke Jakarta. Komplek yang kutinggali bernama Komplek Merpati. Letaknya tak jauh dari pusat kota. Untuk pergi ke alun-alun atau masjid agung, aku hanya membutuhkan waktu 15 menit bersama ayah dan motor lambatnya. Orang-orang di komplek-ku bermacam-macam. Baik secara pekerjaan, kemasyarakatan dan yang lainnya. Jika seseorang dari arah kota memasuki komplek-ku, maka ciri dari pintu pertamanya adalah rumah Heru. Setelah berjalan sejauh 500 meter dari sana, akan terdapat lapang sepak bola dan warung besar yang menyediakan segalanya. Dan tepat di samping lapangan, ada belokan ke kiri dan ke kanan. Ke kiri adalah jalan buntu menuju lapangan voli sedangkan ke kanan adalah jalan yang akan mengantarkannya ke sebuah rumah yang berada di samping kiri jalan. Rumah itu adalah rumah minimalis yang memiliki halaman 7x5 meter persegi. Tak ada tanaman penghias taman, yang ada hanyalah kolam kecil berisi ikan-ikan hias seperti; koi, gapi, pelakat, sepat, cupang dan lainnya. Rumah itu terbentuk dari 2 buah kamar, 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 1 dapu dan 2 kamar mandi. Ya, dan itulah rumahku. Rumahku tak terlalu bersih dan rapi. Tapi tidak juga berantakan dan kumuh seperti rumah Paman Greg. Saat memasukinya, bau harum akan tercium yang timbul dari sebuah pengharum ruangan yang sengaja diletakkan di tuang tamu. Di sana juga terdapat sebuah sofa yang biasa ayah tiduri. Aku tidur sendiri di kamarku, sedangkan ayah kadang-kadang tidur di kamar atau di sofa. Meski pun saat ibu masih ada. Selain sofa, di ruang ramu juga ada meja yang menyimpan beberapa koran dan asbak besar yang terbuat dari marmer. Di samping ruang tamu, terdapat ruang tengah. Tak banyak perabot tersimpan di sana. Hanya TV, radio dan speaker yang tiap pagi menyanyikan lagu dangdut. Setelah itu dapur. Dapur di rumahku adalah dapur paling nganggur, perabotnya masih terlihat seperti baru. Ya, begitulah, keluargaku tak ada yang suka dan pandai memasak. Kalau masak pun hanya air, mie instan dan pasakan-pasakan goreng lainnya (Itu pun terkadang bisa sampai gosong). Di dalam dapur, terdapat satu kamar mandi, sedangkan yang satunya lagi terletak di kamar ayah. Kamarku adalah ruang bebas bagiku. Ayah memperbolehkanku mendesainnya sendiri. Pertama, dinding di kamarku hampir penuh oleh foto, tempelan dan gambar-gambar tak jelas yang aku buat senditi menggunakan krayon. Salah satu dari foto yang kupajang adalah nasi padang, rumah padang dan anak-anak padang yang sedang bermain. Kasurku adalah kasur dengan ranjang tingkat. Tak tahu kenapa ayah membelikanku ranjang seperti itu. Padahal aku kan anak tunggal. Tapi tak apalah, dengan ranjang seperti itu aku bisa tidur di dua tempat. Di samping ranjang terdapat lemari kecil yang menyimpan jam beker, akuarium dan sebuah bingkai foto yang mengabadikan ibu dan ayah. Oh, ya. Aku salah ternyata. Di dalam kamar aku tak hidup sendiri. Aku ditemani sahabatku, Flash. Ia adalah seekor kura-kura brazil yang tinggal di akuarium. Sudah sedari dulu aku menyukai kura-kura brazil. Kata ayahku, aku pernah kehilangan kura-kura lebih dari 5 kali. Setelah hilang, aku pun meminta ayah untuk membelikannya kembali. Flash makan dua kali dalam sehari. Ia memakan cacing, pelet dan jangkrik. Setiap pagi, ia makan bersama sinar matahari. Karena kata ayah, Flash adalah reptil berdarah dingin. Jadi ia akan selalu membutuhkan senar matahari untuk menghangatkan dirinya. Bahkan, di akuarium pun aku pasang lampu bohlam berwana kuning untuk menghangatkannya. Di sisi akuarium, aku simpan batu besar untuk dirinya berteduh. Ada beberapa hal yang membuatku menyukai kura-kura brazil. Pertama, karena ia adalah hewan amfibi yang bisa hidup di darat dan di air. Kedua, karena tempurungnya yang cantik. Ketiga, aku suka ketika ia makan. Dan terakhir, ia berjalan sangat lambat. Yang terakhir itu mungkin kurang masuk akal. Tapi bagiku, lambatnya berjalan adalah sebuah keindahan yang tak bisa diucapkan. Banyak pertanyaan-pertanyaanku mengenai kura-kura. Bahkan ada pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab. Seperti; apakah tempurung kura-kura bisa bertumbuh? Atau, ketika kura-kura tumbuh ia mencari tempurung lainnya yang lebih besar. Dan selanjutnya, bagaimana kura-kura itu terlahir. Aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dari pengalamanku sendiri. Tapi sayangnya, semua kura-kura ku selalu kabur saat ia masih kecil. Aku pun tak mengerti bagaimana caranya menghilang. Padahal, aku menyimpannya pada wadah yang cukup tinggi, yang tak mungkin bisa ia menaikinya. Ayah bilang, mungkin ia diambil kucing saat ia dijemur pagi hari. Dan alasan itu cukup masuk akal. Akhirnya, aku tak pernah meninggalkannya saat ia dijemur. Tapi sayangnya, ada masalah lain ketika aku tak meninggalkannya. Yaitu, susah makan. Aneh memang, setiap aku melihatnya, ia jarang menyantap makanan. Ketika ditinggal, dan kembali lagi, makanannya sudah habis. “Dasar kura-kura pemalu. Kalau lapar, ya makan!” pikirku. Selain ingin mengunjungi Padang, aku punya cita-cita lain. Cita-cita itu adalah menjadi peternak kura-kura brazil. Aku akan menjual kura-kura ku dengan harga murah dan memberikan pengetahuan bagi para pembeli cara merawat kura-kura yang baik dan benar. Ya, hanya supaya mereka tak mengalami kesalahan yang sama sepertiku yaitu kasus kura-kura yang menghilang entah kemana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN