Danang pun sampai di kamar Dinar. Seluruh dinding kamarnya berwarna hitam gelap tanpa dekorasi apa pun. Cahaya pun hanya keluar dari layar PC, CPU dan monitor-monitor lainnya. Dinar sudah biasa berada dalam tempat seperti itu, tapi tidak dengan Danang yang tak biasa. Ketika memasuki kamar Dinar, ia kesusahan dalam penglihatan. Beberapa kali ia menabrak barang-barang yang ada di kamar Dinar.
“Susah, Bang?!” tanya Dinar.
“Lumayan!” sahutnya.
Setelah itu, Dinar menekan sebuah tombol yang ada di dekat CPU nya. Tombol itu berwarna putih seukuran bola baseball.
“Klik!” suara tombol ditekan.
Seketika, lampu pun menyala. Dinding yang tadinya berwarna hitam, berubah menjadi biru. Karena yang sebelumnya itu ternyata bukan cat, melainkan kain yang bisa diatur dari tombol kendali yang berada di dekat Dinar.
“Ribet amat!” ketus Danang.
“Ada apa, Bang?!” tanya Dinar.
“Misi sukses, Nar! Vidio editan, Lu benar-benar sukses!”
“Gak usah ditanya itu, Bang!” sahutnya sambil cengengesan.
“Si Greg percaya, kalo si Ferdi berniat membunuhnya dan menghancurkan organisasi kita melalui tetangga polisinya.”
“Iya, Bang! Si Greg juga t***l bisa ditipu kayak gitu!”
Danang dan Dinar terbahak-bahak.
“Yang penting, organisasi kita gak jadi hancur sama si Ferdi karena rahasia kita tetap aman!”
“Iya, Bang! Ngomong-ngomong, kapan kita melakukannya lagi?!”
“g****k, Lu!”
“Janagan gitu lah, Bang! Kita kan harus merayakan keberhasilan misi dan keabadian organisasi kita!”
Danang menganggukkan kepalanya. “Ada benarnya juga, ya!”
“Tuh, kan!!!”
“Lusa! Di hotel dan kamar yang sama,” sahut Danang. “Lakukan persiapan yang matang. Lebih matang dari sebelumnya!” pungkasnya.
***
Selepas shalat maghrib, Heru dan keluarganya berkumpul di ruang makan. Mereka akan melaksanakan makan malam bersama. Semuanya hadir, kecuali ibu yang masih bekerja sebagai nakhoda di sebuah kapal. Ayah Heru yang bernama Pak Jhon, kebetulan sedang libur. Jadi ia bisa ikut makan malam bersama yang lainnya.
Menu makan malam kali ini adalah empat sehat lima sempurna. Karena memang sebenarnya selalu seperti itu. Makanan yang tersaji sangat tertata dengan rapi. Dan nampaknya semua hidangan akan terasa sangat enak. Apalagi disantap secara bersamaan bersama keluarga.
Bi Ratih, yang memasak dan menyajikan makanan pun ikut makan bersama keluarga Heru. Ia duduk di atas kursi yang setara dengan yang lainnya.
Di keluarga Heru, kulturnya memang seperti itu. Mungkin karena memang Bi Idah sudah serasa menjadi keluarga sendiri. Bukan pembantu, jongos atau pun yang lainnya. Keluarga Heru memperlakukan semuanya dengan baik berdasarkan rasa kekeluargaan. Bukan atas dasar perintah dari atasan ke bawahan. Itu pun tidak hanya berlaku bagi pembantu, tapi juga berlaku bagi sopir, tukang kebun dan yang lainnya.
Ayah Heru adalah seorang penyayang. Ia tak pernah membedabedakan orang. Orangnya dermawan, dan rendah hati. Ya, meski pun kalau dilihat dari wajahnya hal tersebut takkan bisa dipercaya. Pak Jhon nampak sangat jarang ia tersenyum. Matanya terbuka lebar, seperti orang melotot. Sedangkan badannya tinggi dan besar. Rambutnya cepak, seperti tentara. Dan lagi, suaranya begitu besar menggema. Sangat menakutkan. Tapi itulah uniknya. Jika orang yang belum tahu siapa itu Pak Jhon mungkin mereka akan ketakutan.
Kalau Ibunya Heru, Ibu Siska, juga memiliki sifat yang hampir sama dengan Pak Jhon. Hanya saja, wajahnya Bu Siska lebih ramah dan berseri. Akan tetapi ia sangat tegas kepada semua hal. Jika ia sedang membenarkan sesuatu yang salah, maka akan ia benarkan. Dengan cara apa pun. Walau pun harus membentak, berteriak atau pun memukul.
“Semuanya sudah siap. Sudah dihidangkan. Tinggal dimakan, Pak,” lapor Bi Idah kepada Pak Jhon.
“Makan bareng, Bi!” sahut Pak Jhon singkat.
Bi Idah pun menganggukkan kepalanya. Lalu mempersiapkan dirinya untuk makan bersama.
Heru dan ketiga kakanya pun datang menghampiri meja makan. Begitu pun dengan semua pembantu lainnya seperti sopir, tukang kebun dan beberapa lainnya. Mereka semua makan bersama di atas meja yang sama dan makanan yang sama.
Oh, ya. Selain dari pada itu, kebaikan Pak Jhon lainnya adalah seluruh pembantunya diberi fasilitas kamar yang layak. Mereka bisa tinggal di sana tanpa harus bayar. Betapa baiknya Pak Jhon, bukan?
“Ayo mulai!” seru Pak Jhon.
Pak Jhon mengambil nasi pertama kali. Lalu setelah itu yang lain mengikutinya. Karena memang harus seperti itu menurut etikanya. Bahwa yang paling tua atau pun sesepuh adalah yang pertama mengambil nasi. Akan tetapi, Pak Jhon selalu merendah bahkan ia tak mau jika sengaja diperlakukan seperti itu.
Setelah semuanya mengambil nasi dan lauk pauknya, mereka pun makan bersama. Biasanya, saat makan malam adalah waktunya untuk bersama-sama dan menikmatinya. Makan malam adalah waktu yang tepat untuk mengobrol, bercerita, bercanda dan yang lainnya. Apalagi jika Pak Jhon hadir di tengah-tengah mereka. Makan malam akan usai pukul sepuluh. Itu pun paling cepat. Kalau paling lama, bisa sampai jam sebelas. Nah, beda lagi kalau Bu Siska turut hadir. Semuanya lengkap tak ada yang terlewatkan. Makan malam akan usai tengah malam. Karena biasanya akan selalu agenda tambahan yang diinisiasi olehnya. Seperti nonton film, berdansa, atau bermain truth or der. Ah, betapa menyenangkannya keluarga tersebut.
Makan malam dimulai. Bi Idah dan para pembantu lainnya makan sangat lahap menggunakan tangan. Sedangkan seluruh keluarga Heru makan menggunakan pisau, sendok dan garpu. Terkecuali Heru sendiri. Heru tak mau makan pake sendok, garpu dan pisau. Katanya, ribet. Ia memilih memakan langsung menggunakan tangan. Karena tentu lebih simpel, cepat dan menyenangkan.
Satu per satu hidangan di meja menghilang dari meja. Masakan Bi Idah memang sangat terasa enak. Lebih dari pasakan ibunya Heru. Ya, wajar saja, sih. Soalnya kan ibunya adalah seorang nakhoda yang kesehariannya sangat sibuk dengan setir perahu.
Sekarang, yang tersisa di atas meja hidangan hanyalah beberapa butir buah sebagai penutup, lalu satu gelas kopi hitam buat ayah dan sisanya es jeruk dan jus buah lainnya untuk setiap orang.
Setelah itu, Bi Idah langsung membawa semua piring dan alat makan lainnya ke dapur untuk dicuci. Di samping itu, Pak Jhon mulai menyulut rokoknya. Rokok dan cara merokoknya sangat khas. Ia merokok menggunakan cerutu yang terbuat dari gading gajah. Harganya sangat mahal. Karena barang berikut sangat langka. Gajah sangat sulit ditemukan. Jika sudah ditemukan pun, untuk menangkapnya juga sangat susah. Cerutu itu ia dapatkan saat pergi berdinas ke Papua. Di sana ia menemukan seorang penjual asongan yang menjual cerutu tersebut dengan harga yang cukup mahal.
Cara merokoknya, cerutu itu ia simpan di bibir paling pojok. Ketika ingin mengepulkan asap, ia mengambil rokoknya dengan sela-sela jari manis dan kelingking. Tidak seperti orang pada umumnya yang menlakukan hal tersebut dengan sela-sela jari tengah dan telunjuk.