ACC

1120 Kata
“Ayah! Apa ayah ingat dengan Farid?!” tanya Heru kepada Pak Jhon. Pak Jhon melamun sejenak, memikirkan siapa itu Farid. “Ya. Kenapa?!” “Ayah tau, kan, ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, ayah nya juga meninggal!” Pak Jhon tidak langsung menjawab. Ia sedang memikirkan sesuatu. “Tinggal sama siapa dia sekarang?” “Sendirian, Yah! Di rumahnya!” Pak Jhon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gini, Yah! Tiga hari kemarin dia gak makan. Gak ada yang mermberinya perhatian sedikit pun. Dia masih kecil, yah. Dia harus cari makan sendiri untuk melanjutkan hidup.” Pak Jhon kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia teman dekatku, Yah! Dia orang hebat! Sainganku di sekolah. Dia satu-satunya orang yang bisa menandingiku dalam setiap mata pelajaran. Bahkan aku bisa dibilang kalah. Apalagi kalo renang! Dia jago banget, Yah!” Tak ada respon lain. Pak Jhon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayolah, Yah! Aku masih sanggup untuk berbagi kamar. Kamarku terlalu besar!” Kini Pak Jhon menghisap cerutu, kemudian mengepulkan asap rokoknya. “Kakek-neneknya?” lanjutnya. “Gak tau, Yah! Farid pun gak tau! Orang tuanya belum pernah cerita apa pun kepadanya tentang keberadaan kakek dan neneknya!” Pak Jhon berdeham sejenak. “Saudaranya yang lain?!” “Yah! Jika ada saudaranya yang peduli. Pas pemakaman harusnya mereka datang takziah. Tapi itu tidak terjadi, Yah! Farid sendirian mengurusi hidupnya! Heru tak tega, Yah!” Pak Jhon kini menatap mata anaknya. “Ajak dulu dia ke sini. Ayah pengen bicara. Lima hari ke depan ayah ada di rumah!” pungkas Pak Jhon. Heru mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan ayahnya. Perasaannya senang, karena sebentar lagi teman dekatnya akan selalu dekat bersamanya setiap saat. Karena mereka akan menjadi saudara sebenar-benarnya saudara. Keesokan harinya, Heru langsung mengunjungi rumah Farid. Dan seperti biasa, ia membawa satu bungkus nasi padang untuk dimakan. Ia berangkat menggunakan sepeda lipatnya yang baru beberapa bulan kemarin dibelikan ayahnya. Ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Karena tak sabar, ia akan membawa kabar gembira bagi temannya. Sesampainya ia di sana, ia mengetuk pintu dan memanggil Farid berkali-kali. Tapi tak ada jawaban. Setelah itu, ia coba menarik gagang pintu, dan tak disangka, pintu rumah farid tak dikunci. Heru pun melakukan pencarian lebih lanjut ke dalam rumahnya. Pertama, di ruang tamu dan ruang tengah. Akan tetapi ia Farid masih belum ditemukan. “Rid!” teriak heru sambil berjalan menuju dapur untuk mencarinya. Di dapur, Heru tak menemukannya. Dan sekarang, hanya ada satu ruangan lagi yang belum diperiksa, yaitu kamar. Oh, bukan satu, tapi dua. Kamr tidur dan kamar mandi. “Pasti di kamar!” ucap Heru pelan dan dengan penuh keyakinan. Heru mengendap-endap di rumahku. Ia berjalan perlahan memasuki kamarku. Setelah ia membukanya, ia tak menemukan siapa-siapa di dalam kamar. Ia mencariku di mana-mana tapi tetap tidak bisa menemukanku. Ia mulai cemas. “Kemana Farid pergi?!” tanyanya kepada dirinya sendiri. Ia mencari lagi ke setiap tempat yang ada di kamar. Di bawah ranjang, bawah meja bawah kursi dan tempat-tempat tersembunyi lainnya. Tapi, ia masih belum menemukanku. Kemudian, ia kembali menyisir seisi rumah. Kini ia mencarinya lebih detail. Setiap ruangan dan setiap tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian diperiksanya. “Gawat! Ke mana dia pergi?!” Kemudian ia teringat dengan perilaku bunuh diri. Ia berpikir bahwa aku telah mati bunuh diri. Akhirnya ia memeriksa pisau dan alat-alat tajam lainnya yang ada di dapur. Akan tetapi semua itu masih aman dan terlihat bersih.                 “Mungkin di luar!” pikirnya. Heru segera berlari ke halaman belakang yang penuh dengan rumput-rumput liar. Karena halaman belakang rumahku adalah kebun. Akan tetapi ia tetap belum menemukanku. Heru tetap mencari. Ia terus berjalan menyusuri kebun sambil memanggil-manggil namaku. Hingga akhirnya, ia putus asa lalu kemudian kembali ke halaman rumahku. Ia perrgi menggunakan sepedanya. Setelah diparkir, dan sampai menuju jalan, Heru menemuiku yang sedang berjalan untuk pulang setelah pergi dari warung untuk membeli sarapan. “Dari mana kau?!” teriak Heru menyapaku. Aku pun cukup terkejut. Mengapa Heru berada di depan rumahku?! “Ada apa?!” tanyaku singkat membalas sapaannya. “Biasa. Nasi padang!” sahutnya sambil mengangkat sebungkus nasi padang. Aku pun teringat dengan tiga bungkus nasi padang misterius yang selalu ada di depan rumahku saat pagi. “Oh, ya! Makasih kemarin nasi padangnya!” ucapku. “Emang dimakan?!” tanyanya balik. “Ya! Yang ketiga aku makan. Yang lain aku buang karena basi!” Heru tersenyum lega. Ia senang mendengar kabar tersebut. “Syukurlah kalo makan!” Aku pun membalas senyumannya. Heru menyodorkan nasi padangnya yang baru. “Untuk hari ini!” “Kenyang! Barusan makan bakwan!” sahutku sambil mengusap-usap perut. “Yakin?! Ini nasi padang! Pake rendang!” Bakwan sebenarnya tak terlalu membuatku kenyang. Apalagi bakwannya cuma dua yang aku beli dengan uang jajan terakhirku senilai seribu rupiah. “Nasi padang, yah?” tanyaku basa-basi. “Banyak bicara, Lu!” sahut Heru sambil membawaku pergi ke dalam rumah. Heru membuka pintu rumahku dengan menarik gagang pintu, aku sempat terkejut karena ternyata Heru bisa membuka pintu rumahku. “Lho, gak dikunci, yah?” tanyaku heran. “Makannya jangan kebanyakan melamun! Jadinya gini! Lupa segala!” “Cuma lupa ngunci pintu, lah!” “Resleting juga lupa!” Dengan spontan, aku memeriksa resleting celanaku. Dan ternyata resletingnya sudah aku pasang. “Mau aja diboongin!” sambut Heru sambil tertawa terbahak-bahak.                 Kesal juga diboongin. Aku pun membuatnya jatuh dengan sedikit menendang kakinya saat berjalan.                 “Aduh!!” pekik heru kesakitan.                 “Impas!” pungkasku sambil merebut nasi padang yang ada di genggamannya.                 Setelah itu, aku memakan nasi padang pemberian Heru sendirian. Aku sudah tau kalau ia sudah makan di rumahnya. Jadi ia tak bisa makan bersamaku. Selain itu, ia juga tak terlalu suka dengan nasi padang. Katanya, ia tak suka dengan makanan yang berminyak. Jadi, kesukaannya adalah makanan-makanan seperti sayur, sup, capcay, lodeh, salad, buah-buahan dan lain-lain. Kalau makanan daging ia juga suka, sih. Asalkan dagingnya harus dibakar. Aneh, memang. Kenapa ada orang yang tidak suka memakan daging. Padahal daging itu sangat enak.                 Sambil makan, kami menonton film kesukaan kami, yaitu Spiderman. Spiderman memang sangat keren. Ia sangat berbeda dari superhero lainnya. Yang paling aku suka darinya adalah baju dan caranya menggunakan jaring.                 Aku tahu kenapa Spiderman bisa ada di dunia ini. Ceritanya, Peter nama asli orang dibalik topeng itu digigit oleh laba-laba. Hingga akhisnya, ia bisa mengeluarkan jaring dari telap tangannya. Sungguh luae biasa, bukan?                 Spiderman tak punya kemampuan lain selain jaring dari tangaan dan sedikit bela diri. Dan itulah yang aku suka. Karena bagiku, Super Hero yang seperti lainnya itu adalah super hero yang tak masuk akal. Kekuatannya sanagat besar dan aneh-aneh. Ya, pokoknya aku suka sipderman. Aku punya baju sipidermannya. Dulu aku merengek sama ibu untuk dibelikan. Sat itu umutku baru lima tahun. Tentu, sekarang baju tersebut sudah tidak muat lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN