Bab 7

1095 Kata
Lewat tengah malam Syakila tersentak. Mata yang dihiasi bulu lentik itupun mengerjap beberapa kali, saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Dengan mata setengah terbuka ia melihat Alvin berjalan memasuki kamar. Langkah pria itu tampak berat dan tak seimbang. Penampilannya juga lebih berantakan dibandingkan saat pergi meninggalkan pesta pernikahan mereka tadi siang. Kemeja putih yang ia kenakan tampak kusut. Jas putih yang sehat membalut tubuh kekarnya, kini malah diseret hingga menyapu lantai. Syakila tidak tahu darimana datangnya Alvin. Akan tetapi, ia bisa memastikan kusutnya pakaian yang dikenakan Alvin bukan karena amukannya tadi siang. Melainkan karena pakaian tersebut sudah pernah dibuka dan dipakai kembali. Namun, tetap saja Syakila tidak akan pernah bertanya darimana suaminya datang. Yang jelas ia sudah melihat Alvin pulang, dan itu sudah lebih dari kata cukup. Sekarang ia hanya perlu memejamkan mata dan berlaku seolah tidak tahu apa yang sedang terjadi. Karena ia tidak ingin tahu apalagi mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Alvin. Termasuk membiarkan saja Alvin berbaring di sampingnya, tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Sehingga Syakila malah mual menghirup aroma yang tidak sedap, menguar dari pakaian yang dikenakan Alvin. Aroma minuman keras dan asap rokok bercampur menjadi satu. Mengalahkan aroma maskulin yang berasal dari tubuhnya dan parfum yang tadi subuh ia gunakan. Tidak sanggup, Syakila mengakhiri dramanya yang sedari tadi seolah sedang tidur. Segera ia meraih bantal untuk dibawa menuju sofa. Dan saat tangannya terulur untuk mengambil bantal, disana tubuhnya seketika membeku. Melihat jejak kemerahan di leher Alvin. Ia juga melihat dengan jelas kancing baju Alvin terpasang secara tidak beraturan. Syakila menahan nafas. Otaknya mencoba menerka dan berpikir darimana suaminya datang hingga bisa membawa tanda merah keunguan dan pakaian yang lusuh. "Tidak Syakila. Jangan berpikir yang tidak-tidak dan jangan coba-coba ikut campur. Kamu bukan siapa-siapa dan dia bukan suami kamu!" gumam Syakila dalam hati sebelum melangkah pergi. Membawa bantal ke sofa dan sepertinya malam ini ia akan tidur disana saja. Seandainya memaksakan diri untuk tidur di samping Alvin, ia bisa mati karena terlalu lama menahan nafas. Syakila benar-benar tidak sanggup jika harus menghirup aroma minuman keras yang menguar dari tubuh Alvin. *** "Menantu Mama sudah bangun. Ayo kita sarapan dulu, Sayang!" ajak Adara menyambut kedatangan Syakila di ruang makan. Ia sangat antusias menyambut kedatangan menantu dari anak sulungnya itu. Syakila yang telah terbiasa hidup berdampingan dengan Adara, tentu saja membuat rasa canggung tidak ada di dalam kamusnya saat ini. Ia leluasa bergerak kesana-kemari, tanpa ada rasa gamang sama sekali. Bahkan Syakila langsung memeluk Adara dan menenangkan diri disana. Perdebatannya dengan sang ayah kemarin pagi, membuat Syakila merasa kedua orang tuanya tidak lagi menyayanginya karena hukuman yang diberikan amatlah berat. Kenapa rasa kecewa itu tidak ada untuk Adara? Itu karena Adara membelanya dan meminta yang lain berpikir ulang. Tapi, sayangnya tidak ada yang mau mendengarkan. sehingga kini semuanya berjalan seperti yang diinginkan oleh sang ayah. "Mama lihat semalam Alvin pulang. Bagaimana sikapnya padamu?" tanya Adara, seraya menuntun Syakila duduk di kursi. "Aku tidak tahu dia pulang, Ma. Karena semalam aku ketiduran dan pas bangun tadi Alvin sudah ada di kamar," terang Syakila. Tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena menganggap urusan Alvin bukanlah urusan dirinya. "Hmmm … begitu, ya?" Kedua alis Adara bertaut. "Mama pikir kamu belum tidur, Sya." Adara tampak kecewa karena pengakuan Syakila. "Memangnya kenapa, Ma?" Syakila tampak tertarik dengan pertanyaan yang dilontarkan Adara tadi, sehingga ia bertanya kembali apa maksudnya dari pertanyaan tadi. Adara menarik nafas. Meraih tangan Syakila dan menggenggamnya. "Semalam Mama melihat Alvin pulang dalam keadaan mabuk. Ingin rasanya Mama menegur tapi, Papamu malah melarang. Padahal Mama ingin mencari tahu darimana dia datang. Kenapa dia mabuk begitu. Seperti manusia yang tak memiliki Tuhan saja, mendapatkan ujian bukannya sholat malah mabuk-mabukan." Kesal sejadi-jadinya. Adara mengumpat Alvin yang malah memilih mabuk dibandingkan melaksanakan sholat untuk mengadukan apa yang dialaminya. Syakila tersenyum tipis. Tidak merespon ucapan Adara, karena ia tidak ingin ketahuan berbohong. Ia juga mengingatkan kepada dirinya sendiri untuk tidak ikut campur dalam urusan Alvin. Agar tidak ada masalah baru yang muncul di dalam hidupnya. "Sya, kamu dengar Mama?" Adara melambaikan tangannya di hadapan Syakila, yang sedari tadi melamun. Syakila yang tidak menyimak apa yang dikatakan Adara karena sibuk dengan pikirannya sendiri, tentu saja menggeleng. "Aduh, kamu ini, Sya," keluh Adara menggeleng pelan. "Mama sudah berbicara panjang lebar, tapi kamu malah melamun." "Maaf, Ma. Aku masih …." "Ma, aku besok ke Kalimantan. Dan sepertinya tidak bisa mengajak Syakila ikut denganku," potong Alvin. Pria itu mendudukkan bokongnya di kursi, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Syakila. Bahkan ia sama sekali tidak menganggap keberadaan istrinya itu. Di matanya Syakila hanyalah orang lain, sehingga merasa tidak ada keharusan bagi mereka untuk saling bertegur sapa. "Apa katamu? Coba ucapkan sekali lagi!" Adara menyergah dengan suara yang begitu lantang, menggema hingga sudut ruang makan. Ia juga memukul meja dengan tangannya. Syakila yang melihat kemarahan Adara karena ucapan Alvin, menunduk. Ia yang juga memiliki maksud untuk meminta izin agar tidak ikut ke Kalimantan turut merasakan kemarahannya. Baru rencana saja, nyali Syakila segera ciut dan tidak ingin lagi mengungkapkannya. Ia berjanji akan pasrah saja menjalani hidup jika memang harus ikut dengan Alvin ke Kalimantan. Setelah itu, ia akan memikirkannya disana, apa yang harus dilakukan. Seandainya dipikirkan sekarang, yang ada ia akan pusing sendiri menghadapi kedua orang tuanya yang kini tak lagi mau mendengarkan apa yang diinginkan. Cukup sudah rasanya perdebatan kemarin yang membuatnya kecewa karena untuk pertama kalinya sang ayah berbicara dengan suara tinggi. "Ma, aku diminta menikah dengannya sudah aku lakukan. Lalu apalagi?" bantah Alvin dengan menunjuk ke arah Syakila. Nafasnya memburu, masih sakit hati karena Syakila menjadi dalang dibalik kaburnya Rachel. Sehingga pernikahannya dengan Rachel batal begitu saja. "Lalu apalagi katamu?" Adara mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Alvin. "Syakila adalah istrimu dan sudah seharusnya kamu membawanya kemanapun langkah kakimu pergi Alvin Prayoga. Karena apa? Karena sebagai seorang suami kamu memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah secara lahir dan batin." "A-apa? Nafkah secara lahir dan batin? Mama tidak salah?"Alvin menggeleng. "Sampai matipun aku tidak akan pernah mau menyentuh wanita yang menjadi dalang atas batalnya pernikahanku dan Rachel!" Menatap tajam kepada Syakila, yang kini tertunduk. Gadis itu menahan diri agar tidak ikut dalam keributan antara Alvin dan Adara.. Meskipun dadanya terasa sakit karena ucapan Alvin yang begitu tajam menghunus ke dalam jantungnya. "Terserah apa katamu. Yang jelas aku tidak akan menganggapmu sebagai anak jika dalam waktu satu tahun Syakila tidak hamil. Aku juga akan menarik seluruh sahamku dari perusahaanmu jikalau perkataanmu menjadi sebuah kenyataan!" Tegas tak terbantah. Adnan datang dan mematahkan segala ego dan kerasnya Alvin. Seandainya ia kekeuh dengan apa yang diucapkan, maka Alvin harus siap kehilangan perusahaannya. Karena selama ini ia hidup dibawah bayang-bayang seorang Adnan Prayoga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN