Bab 6

1959 Kata
Kamar pengantin seharusnya dihiasi dengan dekorasi yang sangat indah. Khas dengan keromantisan sepasang pengantin baru. Akan tetapi, itu semua tidak tampak di kamar pengantin yang ditempati oleh Syakila. Kamar yang ditempatinya sangat berantakan, bekas amukan dari Alvin selepas melakukan ijab Kabul tadi pagi. Pria itu melampiaskan kemarahannya atas kepergian Rachel sebelum acara pernikahan mereka dilangsungkan. Bukan hanya itu, Alvin juga memakinya atas apa yang dilakukan. Sehingga Syakila melihat sisi lain dari seorang Alvin. Pria itu tampak sangat menyeramkan. Rahangnya mengeras dengan wajah dan mata yang memerah. Kilatan kebencian juga sangat jelas terpancar dari sorot matanya. Dan kini ia duduk sendiri di kamar pengantin, yang telah dihancurkan oleh Alvin. Sama seperti tadi siang ia juga duduk sendirian di pelaminan, karena Alvin yang tega meninggalkannya seorang diri. Pria itu benar-benar marah dan langsung memperlihatkan kebencian yang sangat besar untuknya. Sesekali Syakila mengusap kasar air mata yang tak kunjung berhenti. Tidak sanggup menjadi seorang istri dari pria yang kini sangat membencinya. Apalagi setelah ini ia harus ikut tinggal bersama Alvin di Kalimantan sana. Saat hubungan mereka baik saja Syakila tidak pernah mau berdekatan dengan Alvin. Apalagi sekarang? Tidak main-main. Alvin dengan lantang mengatakan 'Aku sangat membenci dirimu!' *** "Ini rasanya sangat berlebihan," keluh Adara sebelum ia mendudukkan bokongnya di sofa. Ia baru saja datang dari kamar Alvin, melihat keadaan Syakila yang duduk termenung seorang diri. Gadis itu tampak sangat terpukul karena pernikahannya dengan Alvin. Ia juga enggan melepaskan gaun pengantin yang sedari tadi siang dikenakan. Melihat hubungan Alvin dan Syakila yang tidak pernah akur sama sekali, tentu saja membuat Adara paham dengan apa yang dirasakannya. Terlebih lagi tadi siang Alvin tiba-tiba saja pergi meninggalkan pelaminan. Melangkah ke kamar dan mengacak seluruh isi kamar, sebagai bentuk penolakannya atas pernikahan dengan Syakila. Bukan hanya itu. Hingga detik ini Alvin tidak diketahui di mana keberadaannya. Nomor ponselnya pun tidak bisa dihubungi, semenjak pergi meninggalkan rumah. "Tidak. Ini wajar dilakukan Syakila untuk menyelamatkan pesta pernikahan. Aku merasa tidak seharusnya dia itu campur dengan urusan orang lain, meskipun Rachel adalah sahabat dekatnya," tutur Davin. "... dan sepertinya ini adalah jalan yang menuntun Syakila menuju jodohnya." Sambungnya lagi. Davin tahu Syakila tidak menyukai Alvin karena sering diusili. Ia juga sadar kini ada amarah dan benci yang tumbuh di hati Alvin untuk Syakila. Akan tetapi, itu bukanlah masalah besar bagi Davin. Kenapa? Karena ia tahu bagaimana karakter Alvin dan putrinya. Alvin yang keras kepala dan egois, dirasa cocok dengan putrinya yang sangat manja serta cengeng. Dengan sifat Syakila itu, Davin yakin akan ada yang spesial di dalam rumah tangga mereka nantinya. Namun, tetap saja. Untuk berjaga-jaga Davin akan mengirimkan seseorang untuk menjaga dan mengawasi Syakila dari kejauhan. Tanpa sepengetahuan Syakila dan Alvin tentunya. "Sepertinya begitu," timpa Adnan. "Kalau mereka tidak berjodoh tentu saja ada halangan bagi mereka untuk bersatu Dan buktinya saja sangat mudah bagi Alvin untuk mengucapkan ijab kabul untuk Syakila. Padahal selama ini ia terus menghafal untuk Rachel." "Ya, aku juga yakin begitu, Nan. Aku juga sering mengatakan kepada Syakila, untuk jangan terlalu membenci Alvin setiap kali dia menggerutu karena dijahili. Aku juga mengatakan dia bisa ketulah rasa benci itu sendiri. Bukannya takut Syakila malah mengatakan akan terus membenci dan tidak akan pernah mencintai Alvin. Ternyata apa? Ada saja jalan untuk mereka bersatu." Davin menarik kedua sudut bibirnya. "Tapi, bukan berarti aku senang Rachel kabur. Tidak. Aku tetap khawatir dan turut membantu mencari di mana kini dia berada." Takut Rere dan Marcel salah dalam mengartikan apa yang diucapkannya, Davin sedikit menambahkan. Agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka semua. Marcel yang sedari tadi disalahkan Rere atas kepergian Rachel tentu saja tidak bisa banyak berucap. Ia hanya bisa pasrah karena Alvin batal menikah dengan Rachel. Mungkin mereka benar tidak berjodoh. Buktinya pernikahan Syakila dan Alvin amat lancar tanpa ada kendala apapun. Tinggal bagaimana kini menemukan keberadaan Rachel, agar mereka bisa meminta maaf secara utuh kepada Alvin. Agar Rachel bisa memberikan pengertian secara utuh kepada Alvin. Dengan begitu bisa dipastikan Alvin bisa mengerti dan menerima Syakila sebagai istrinya. Dan sepertinya pembicaraan mereka saat ini menemukan titik terang. Agar Alvin tenang dan mau menerima Syakila sebagai istri, Rachel akan mengajaknya untuk berbicara dari hati ke hati. Namun, tetap saja mereka masih bingung bagaimana caranya, karena Rachel dan Alvin sama-sama tidak tahu di mana kini mereka berdua berada. Akan tetapi, itu bukanlah sebuah masalah besar bagi Adnan. Karena ia tahu di mana Rachel. Adnan tinggal mengirim pesan agar Rachel pergi mencari Alvin dan memberikan penjelasan tentang kepergiannya. Serta meminta Alvin untuk mengerti dan menerima Syakila sebagai pengganti dirinya. Alvin dan Rachel tumbuh dan besar bersama. Tentu saja sangatlah mudah bagi Rachel untuk menemukan keberadaan Alvin. *** Rachel menarik kedua sudut bibirnya. Setelah membaca rangkaian kalimat panjang yang dikirimkan Adnan kepadanya. Mengabarkan tentang pernikahan Alvin dan Syakila tadi pagi. Adnan juga mengabarkan kedua orang tuanya sudah memaafkan apa yang telah ia lakukan. Sehingga ia bisa pulang sekarang juga. Namun, sebelum pulang Adnan memintanya untuk pergi menemui Alvin. Pria yang telah dianggap sebagai ayahnya sendiri itu percaya dirinya tahu di mana kini Alvin berada. Tentu saja. Karena ia adalah hidupnya Alvin. Rachel sangat hafal kemana Alvin akan pergi saat hatinya sakit dan terluka. Dulu sempat terjadi pertikaian dan salah paham diantara mereka berdua, sehingga menghancurkan hati Alvin. Pertengkaran mereka hari itu membuat Alvin enggan pulang ke rumah. Hingga akhirnya Rachel mengalah dan membujuk Alvin agar mau memaafkannya. Sehingga ia tahu di mana Alvin berada jika dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dengan langkah tegap dan pasti Rachel memasuki sebuah club malam yang sangat tertutup. Untuk masuk harus menggunakan kartu member atau orang dalam. Karena di sana hanya orang tertentu saja yang bisa masuk, agar rahasia di dalam tetap terjaga dan tidak bocor ke dunia luar. Bukan tanpa alasan club tersebut sangat tertutup. Itu dikarenakan di dalam sana dipenuhi oleh pasangan ilegal. Banyak yang membawa selingkuhannya ke sana untuk bersenang-senang menikmati cinta satu malam. Entah itu halal atau tidak. Dikarenakan salah seorang bartender disana adalah sahabatnya Alvin, tentu saja kesana adalah arah dan tujuannya pergi. Rachel yang ingin menemui Alvin tinggal menghubunginya dan meminta akses untuk masuk agar bisa bertemu dengan Alvin. Dan tebakan Rachel benar, Alvin ada di dalam dan telah menenggak banyak minuman. Baru saja Rachel merasa senang karena telah menemukan Alvin, dalam hitungan detik semuanya segera sirna. Saat tatapannya yang tengah mencari keberadaan Alvin, justru menemukan satu pemandangan yang sangat menyakitkan. "Adrian," gumam Rachel dengan bibir yang bergetar. Air matanya langsung luruh saat melihat Adrian, pria yang begitu dicintainya saling bertukar saliva dengan seorang wanita berpakaian minim bahan. Wanita itu duduk dengan bebasnya di pangkuan Adrian, dengan rok yang telah terlilit di pinggang. Pemandangan yang sangat menjijikkan, tapi itu terpampang nyata di hadapannya. "Adrian! Apa yang kau lakukan dengan wanita ini?" sergah Rachel, ditengah bisingnya suara dentuman musik. Tangannya terulur meraih rambut wanita, yang duduk di pangkuan kekasihnya itu. Emosi, Rachel tidak peduli jika wanita dengan pakaian minim bahan itu terjatuh ke atas kerasnya lantai. Di matanya pengkhianatan yang dilakukan Adrian sangatlah keterlaluan. Karena Rachel sudah berkali-kali mengatakan kepadanya tidak akan pernah mau menikah dengan Alvin, meskipun undangan telah disebar kepada semua orang. Akan tetapi, apa yang didapat saat ini? Bukannya dukungan, tapi justru pengkhianatan. "Rachel, kamu …?" Adrian tersentak. Ia segera bangkit dan meraih Rachel ke dalam pelukannya. Agar Rachel tidak lari darinya setelah apa yang dilihatnya tadi. Ia ingin menjelaskan apa yang membuatnya sampai melakukan hal buruk seperti tadi. Namun, sebelum Adrian bisa menggapai, Rachel mengelak. Beranjak pergi menuju seorang pria yang duduk di depan meja bartender. Tanpa mengatakan apapun, Rachel langsung memeluk dan menangis di dalam pelukannya. Ya, pria yang sedari tadi Rachel cari. Alvin. Ia memeluk Alvin dengan erat, dan menangis tergugu di sana. Agar hatinya tenang dan Adrian tidak berani mendekat. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Alvin dengan suara yang begitu serak dan lirih. Ia juga tidak percaya Rachel datang menemuinya, setelah membatalkan secara sepihak pernikahan mereka berdua. "Jangan banyak bertanya. Bawa aku pergi dari sini," pinta Rachel di sela tangisannya. Ia tidak ingin melihat apalagi berbicara dengan Adrian. Sudah cukup rasanya ia mengenal pria yang telah berhasil memilikinya secara utuh. Permintaan Rachel adalah sebuah perintah. Sehingga Alvin mengikuti apa saja yang diinginkannya. Tanpa mengingat luka yang ditorehkan Rachel karena lari dari pesta pernikahan mereka berdua. Adrian yang ingin menyusul langkah Rachel tentu saja segera menghentikan langkahnya. Saat melihat Rachel yang lari ke dalam pelukan seorang pria. Pria tidak lain adalah Alvin Prayoga, yang membuat hubungan mereka harus disembunyikan dari dunia luar. Sekaligus pria yang akan menikah dengan Rachel. Adrian memilih berhenti dan mundur. Ia akan mencari celah dan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Rachel. Yang jelas kini ia akan menyusun beberapa rencana agar Rachel kembali luluh dan memaafkan dirinya. *** "Kenapa kamu lari? Kenapa kamu meninggalkan aku, padahal hari ini adalah hari pernikahan kita?" Alvin langsung saja mencecar Rachel dengan banyak pertanyaan, setelah menepikan mobilnya. Tanpa bertanya apa yang membuatnya datang dalam keadaan menangis. "Aku tidak mencintaimu, Vin. Aku mencintai pria lain makanya aku pergi begitu saja. Tapi, hari ini pula pria yang aku cintai itu telah menghianati cinta yang aku miliki. Dia menduakan aku dengan cinta satu malamnya. Maafkan aku telah pergi dari acara pernikahan kita. Seharusnya aku tahu ini lebih awal dan menikah denganmu," sesal Rachel. Seraya menangis ia juga menjelaskan sedikit tentang apa yang dilihatnya barusan. Bukan hanya itu. Kekecewaan dan patah hati yang ia rasakan sepertinya telah membuatnya menyesal telah lari dari pesta pernikahannya sendiri. Tapi, penyesalan itu tak akan pernah berguna lagi. Karena Alvin sudah resmi menikah dengan Syakila. "Maafkan aku, Vin," lirih Rachel. Segera memeluk Alvin dengan erat, tanpa peduli ada Syakila yang telah resmi menjadi istrinya. Bodohnya Alvin. Ia merasa sangat bahagia Rachel telah kembali dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Namun, bahagia itu tidak berlangsung lama. Saat akal sehatnya mengingat pernikahannya dengan Syakila tadi pagi. Bahkan tadi siang ia sempat melangsungkan resepsi pernikahan bersama Syakila, meskipun hanya sebentar. "Vin, maukah kamu menikah denganku? Agar bisa membalas apa yang pria itu lakukan padaku?" Rachel mengurai pelukannya dari Alvin. Menatap dengan tatapan memohon kepada pria yang sudah lama mencintainya itu. Alvin sangat mencintainya. Tentu saja rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dirinya. Itu yang dipercayai Rachel saat ini. "Aku sudah menikah dengan Syakila karena kamu lari dari pernikahan kita. Tentu saja tidak mudah bagi kita untuk menikah, disaat Syakila ada diantara kita. Terlebih dari dia sudah menjadi istri sahku." Alvin tertunduk. Tidak mampu menatap Rachel setelah mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan itu. Ia memang sangat mencintai Rachel dan sangat mendambakan bisa membina rumah tangga bersama. Akan tetapi, itu sebelum menikah dengan Syakila, bukan? "Pilih Syakila atau aku?" lirih Rachel. Mengangkat dagu Alvin dan menatap ke dalam manik hitam yang selalu memancarkan cinta untuknya. Alvin bungkam. Bagaimana mungkin ia bisa memilih satu diantara dua? Memilih Syakila, akan kehilangan Rachel. Memilih Rachel akan kehilangan keluarganya. "Aku yakin kamu memilihku," ucap Rachel lantang. Sebelum memagut kedua belah bibir Alvin. Mendesak masuk agar bisa merasakan kehangatan dan kekenyalan lidah Alvin di dalam sana. Alvin tidak menerima dan tidak pula menolak. Hanya saja ia membuka mulut dan membiarkan Rachel bermain di sana. Membiarkan Rachel meruntuhkan pertahanannya dan membiarkan saja semuanya berakhir seperti apa yang diinginkannya. Sehingga kini mereka berdua sama-sama terengah-engah, karena pagutan yang semakin dalam dan menuntut. Tanpa mampu ditolak dan melarang, Alvin telah siap memasuki Rachel yang sedari tadi telah menggodanya. Melucuti seluruh pakaian mereka dan bersiap memulai percintaan yang haram bagi mereka. "Chel, ka-kamu?" Alvin tersentak. Tubuhnya membeku saat mulai memasuki Rachel. Rasanya begitu hampa karena ada bekas pria lain disana. Meskipun belum pernah sekalipun merasakan kehangatan seorang gadis, tetap saja Alvin tahu Rachel bekas pria lain. "Maaf," lirih Rachel. Segera turun dari pangkuan Alvin. Dengan wajah yang merah padam karena malu, Rachel kembali duduk di tempat semula, seraya mengenakan pakaiannya dengan cepat. Ia lupa. Ia tidak sadar jika tubuhnya tak lagi utuh demi membuktikan cintanya terhadap Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN