"Rachel tidak ada di kamar!"
Suara Rere yang begitu tinggi dan bergetar memecah keheningan. Orang-orang yang tengah merapikan sisa pekerjannya seketika menoleh. Melihat ke arah lantai dua, tempat kini Rere berada. Termasuk Marcel, yang tengah mengarahkan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan.
"A-apa?" pekik Marcel. Segera menyusul Rere ke lantai dua. Langkahnya begitu besar dan lebar menaiki satu persatu anak tangga. Tidak peduli akan salah dalam berpijak yang terpenting bisa segera sampai ke tempat Rere berada.
"Rachel pasti ada di kamar mandi, Mi. Nggak mungkin dia nggak ada," ucap Marcel, berusaha tenang. Berusaha tidak meledak mengeluarkan sisi Marcel yang sesungguhnya.
Rere menggeleng. Wajahnya yang pucat kini mulai dialiri air mata. "Tidak ada, Bi. Umi sudah periksa hingga sudut rumah ini. Akan tetapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Rachel."
"Tidak mungkin!" Marcel menegaskan. Ia segera masuk ke kamar Rachel untuk memastikan apa yang dikatakan Rere. Ia sangat yakin bahwa Rachel tidak akan pernah mau dan sanggup melawan keinginannya.
"Sudah, Bi. Percuma saja mencari kesana kemari. Bahkan sampai rumah ini dibongkar sekalipun kita tidak akan pernah bisa menemukan Rachel." Rere berucap seraya menyeret Marcel ke arah balkon. "Abi lihat! Rachel sudah kabur." Menunjuk tirai yang terikat pada tiang balkon.
Marcel tersentak. Tatapannya begitu nanar menatap kemana arah tirai tersebut bermuara. Apalagi kalau taman belakang, yang selama ini menjadi pemandangan favorit bagi Rachel setiap bangun tidur.
"Ti-tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Rachel tidak mungkin pergi begitu saja tanpa ada alasan yang jelas seperti ini. Dia tidak mungkin melanggar janjinya kepadaku," lirihnya tertahan. Terduduk di atas dinginnya lantai balkon.
"Alasannya jelas, Bi. Rachel jelas-jelas tidak mencintai Alvin Dan sudah terang-terangan mengatakan itu kepada kita." Rere mendekat. "Dan soal janji, Rachel memang tidak pernah berjanji akan menikah dengan Alvin. Selama ini dia membantah tapi, Abi terus saja memaksa. Sekarang apa? Sekarang dia sudah lari dan kita tidak tahu kemana dia pergi," sambungnya lirih. Menunjuk ke arah tempat Rachel turun dari balkon.
Rere menangis. Menumpahkan segala sesak yang ada di hatinya. Selama ini ia berusaha memendam rasa kecewanya kepada Marcel dan tetap saja setuju dengan pernikahan Alvin dengan Rachel.
Padahal Rachel sudah seringkali memohon kepadanya agar membatalkan niat mereka untuk menjodohkannya dengan Alvin. Bahkan Adnan dan Adara selaku kedua orang tua Alvin tidak menyetujui pernikahan mereka, selagi Rachel belum mau.
Namun, apa? Marcel tetap saja kekeuh dengan keputusannya dan kini Rachel telah pergi. Tanpa meninggalkan petunjuk apa-apa, karena ia pergi tanpa membawa barang apapun.
Bukannya pergi tanpa modal, tapi semuanya sudah dipersiapkan Adnan secara matang. Mulai dari kartu debit hingga ponsel baru untuk Rachel.
***
Semua diam. Suasana hening menyelimuti ruang tamu yang telah dihias sedemikian rupa. Ruangan yang seharusnya riuh dengan suara tepuk tangan dan gelak tawa, kini terlihat sepi. Sesekali yang terdengar hanya suara isakan dari seorang wanita paruh baya. Menangis karena sang putri tidak tahu hilang entah kemana.
Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Rere, masih shock dan tidak percaya Rachel telah kabur. Mengacaukan acara pernikahan yang telah disusun sebaik mungkin. Rachel pergi meninggalkan pukulan telak tepat di jantungnya.
Bagaimana tidak. Tamu undangan berdatangan, tapi Rachel selaku pengantin wanita tidak ada di tempat. Ia telah pergi meninggalkan megahnya pesta pernikahan, yang belum sempat dilangsungkan. Meninggalkan Alvin, yang patah hati karena kelakuannya.
Kini Alvin duduk tertunduk di tempat seharusnya ia mengucapkan ijab qobul. Mengucap janji suci didepan sang Maha Pencipta untuk menjadikan Rachel sebagai istri sahnya.
Namun, semuanya sirna. Hilang ditelan waktu tanpa ada sisa sedikitpun. Bersamaan dengan hancurnya harapan hidup bersama dengan sang pujaan hati.
"Bukankah Rachel sudah mengatakan tidak mencintaimu dan meminta waktu untuk belajar mencintai? Tapi kamu malah keras kepala dan mendesaknya. Jangan salahkan dia atas kejadian hari ini. Karena Rachel mengambil langkah yang tepat," tutur Adnan dengan air wajah yang begitu datar.
Tidak ada sedikitpun penyesalannya baginya telah membantu Rachel pergi dari rumah. Karena Adnan merasa pernikahan yang dipaksakan akan berakhir dengan baik. Alvin yang keras kepala seperti Adara dan Rachel yang egois seperti Marcel, tidak akan mungkin disatukan dalam tali pernikahan karena harus ada salah satu dari mereka yang memiliki pribadi mengalah. Sama halnya dengan dirinya dan Adara dulu. Marcel dan Rere tentunya.
Ada jawaban? Tidak! Alvin hanya tertunduk. Tidak sanggup mengangkat kepalanya, apalagi menatap Adnan yang kini berdiri tepat di sampingnya. Sungguh pemandangan yang diluar dugaan. Larinya Rachel tidak membuat Adnan marah kepada Rere dan Marcel, melainkan kepada putranya sendiri. Adnan ingin menampar putra sulungnya dengan kenyataan pahit agar sadar tidak semua keinginan bisa dicapai.
"Nan, kamu kenapa jadi menyalahkan Alvin? Disini Rachel yang salah bukan dia. Rachel yang kabur sehingga kita semua dipermalukan seperti ini," tegur Marcel menyelamatkan Alvin dari amukan Adnan.
Ia tidak ingin Alvin disalahkan atas gagalnya acara pernikahan yang telah disusun sebaik mungkin.
"Kamu salah, Cel. Disini yang salah murni Alvin, bukan Rachel!" Adnan menegaskan. "Dan satu hal yang harus kamu ketahui, Cel. Aku tidak pernah merestui pernikahan antara Alvin dan Rachel, karena cinta mereka tidak satu tujuan. Rachel mencintai pria lain dan tentu saja tidak mudah baginya untuk bisa mencintai Alvin."
"Cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, Pa!" bantah Alvin, yang mulai memiliki keberanian untuk melawan Adnan, karena tahu Marcel berada di posisinya.
"Oh, ya? Teori dari mana yang kamu pakai itu? Apakah sudah ada kepastian itu berhasil jika diterapkan?" Kedua alis Adnan terangkat. Mengejek Alvin yang tampak kelimpungan mencari jawaban.
Mulut Alvin bergerak, tapi tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.
"Kamu berani menjamin Rachel akan mencintaimu?" tanya Adnan sekali lagi, mendesak Alvin untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkannya.
"A-aku yakin, Pa. Aku yakin dengan itu semua. Cinta akan tumbuh begitu saja seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi aku sangat mencintai Rachel, dan akan berusaha keras untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku." Sedikit gugup. Akhirnya Alvin mampu menyelesaikan kalimatnya.
"Baik. Aku ingin buktikan apakah yang kamu katakan itu sebuah kebenaran atau tidak. Tunggu disini, aku akan mencarikan gadis lain untukmu, dan tolong buktikan seluruh ucapanmu itu. Berikan aku Cucu dalam jangka waktu satu tahun atau namamu akan hilang dari daftar keturunan Adnan Prayoga!"
Tegas dan tak bisa diganggu gugat. Ucapan Adnan terdengar menggema di ruangan luas tersebut. Menyentak seluruh orang yang ada di sana. Tanpa terkecuali. Terutama Alvin, yang masih betah duduk di kursi pengantinnya.
"Pa …. ini tidak adil. Bukan itu maksudku!"
Alvin bangkit dari tempat duduknya. Suaranya meninggi saat berbicara dengan Adnan.
"Tidak adil katamu? Tidak adil ketika kamu dicarikan gadis lain yang tidak kamu cintai. Lalu, apakah adil menurutmu saat kita semua meminta Rachel yang jelas-jelas tidak mencintaimu untuk menikah? Jangan gila kamu!"
Kepala Adnan menggeleng. Satu sudut bibirnya terangkat mengejek Alvin yang dengan percaya dirinya mengatakan tidak adil. Lalu apa kabar dengan Rachel?
"Pernikahan ini akan tetap dilangsungkan karena telah dipersiapkan dengan susah payah. Dan aku juga ingin membuktikan apakah perkataanmu tadi bisa dipertanggungjawabkan." Adnan menyipitkan matanya. "Aku akan mencarikan pengantin wanita pengganti untukmu."
"Pa, tidak bisa begini dong. Aku tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak aku kenal." Alvin membantah apa yang dikatakan Adnan kepadanya.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah katamu cinta bisa datang seiring dengan berjalannya waktu? Lalu kenapa kamu menolak? Seharusnya kamu menerima kalau memang menganggap apa yang dilakukan Rachel adalah sebuah kesalahan!"
"Ini tidak adil!"
"Dimana letak kata tidak adilnya?"
"Aku dan Rachel sudah saling mengenal dari dulu. Bahkan kami tumbuh dan hidup dilingkungan yang sama. Sedangkan wanita yang akan Papa jodohkan denganku, belum aku ketahui siapa dia. Bagaimana watak dan sikapnya."
"Itu urusan kamu dan dia nantinya."
"Tidak. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita yang tidak aku kenali. Terserah Papa untuk menyeret wanita manapun kesini, aku tidak akan pernah menikah dengannya jika kami tidak saling mengenal," tutur Alvin begitu tegas tanpa bisa dibantah lagi.
"Tidak ada penolakan disini. Atau …."
"Kalau begitu, menikahlah dengan Syakila." Davin memotong. "Bukankah kalian berdua sudah saling mengenal? Bahkan lebih dari kata saling mengenal?"
Davin yang datang dengan menyeret Syakila di tangannya, tentu saja menyentak seluruh tamu undangan yang sedari tadi sudah dikejutkan dengan kepergian Rachel.
"Tidak. Aku tidak setuju untuk ini. Alvin ini calon menantuku!!" bantah Marcel. Segera beranjak, berdiri di samping Alvin.
Marcel benar-benar tidak terima Alvin dan Syakila menikah, karena selama ini ia telah bermimpi menjadi besan Adnan. Agar hubungan mereka semakin erat dan berharap dengan membuat Alvin bahagia bisa membalas budi baik Adnan selama ini.
"Syakila memiliki andil besar atas kepergian Rachel. Aku rasa dia paham apa resiko yang akan terjadi jika Rachel lari dari rumah. Salah satu resikonya malu besar yang ditanggung oleh keluarga Prayoga. Dan dia harus menutupi itu semua," ungkap Davin. Memaksa Syakila untuk duduk di kursi yang seharusnya akan ditempati oleh Rachel.
Syakila yang tampak baru saja selesai menangis hanya diam. Ia menunduk karena takut dihadapkan pada kondisi mencekam seperti sekarang. Apalagi kini ia harus menikah dengan Alvin, yang tampak tersentak karena ucapan ayahnya sendiri.
"Alvin putraku. Jadi kamu tidak memiliki kewajiban untuk membahagiakannya. Jadi, lebih baik kamu diam dan biarkan dia menikah dengan Syakila."
Adnan berucap memang menatap ke arah Marcel, tapi tangannya bergerak menekan pundak Alvin untuk duduk di kursinya.
"Menikahlah dengan Syakila. Buktikan kepadaku apa yang kamu katakan itu sebuah kebenaran atau tidak!"
Sebelum beranjak Adnan menepuk pundak Alvin. Ia ingin Alvin mempertanggungjawabkan ucapan yang telah diucapkannya tadi.
Alvin tidak bisa mengelak. Begitupun dengan Marcel, tidak bisa membelanya setelah mendengar setiap kata yang diucapkan Adnan dengan tegas.
Dan sepertinya perintah yang diucapkan Adnan diterima dengan baik oleh Alvin. Ia langsung menerima tanpa membantah, karena tahu Syakila adalah dalang dibalik kaburnya Rachel. Tentu saja dengan senang hati Alvin menerima dengan senang hati untuk menikahinya, karena ada kesempatan membalaskan apa yang telah gadis itu lakukan.
Tanpa peduli dengan Syakila yang tertunduk. Mulai menangis dalam diam dan meremas kuat tangannya sendiri. Ia baru saja dimarahi oleh kedua orang tuanya karena ketahuan membantu Rachel kabur dari rumah. Ia juga dianggap terlalu ikut campur dalam urusan orang lain dan diminta untuk tanggung jawab.
Awalnya Syakila mengira diseret ke rumah Rachel untuk meminta maaf saja. Akan tetapi, ia salah besar. Tanpa meminta persetujuan apapun, Davin selaku ayahnya malah langsung menawarkannya menikah dengan Alvin.
Alvin? Ya, pria yang selama ia benci karena selalu saja membuatnya menangis. Selalu saja membuatnya marah dan dongkol karena sifatnya yang usil. Kepergian Alvin ke Kalimantan adalah momen yang sangat berharga, karena semenjak itu tidak ada lagi yang membuatnya menangis.
Namun, kini Alvin sedang mengucapkan ijab qobul untuknya. Setelah ini mereka akan selalu bersama dan Syakila tidak bisa membayangkan kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan dilaluinya. Terlebih Alvin tahu dirinyalah yang menjadi dalang dibalik kaburnya Rachel.