Rosa duduk termenung di ruangannya sambil menunggu kepulangan Marco. Cukup lama ia berada di sana, sampai hari menjelang sore pun sang ayah tak kunjung datang. Saat hendak bangkit, pintu pun terbuka. Sosok yang ditunggu telah datang. Rosa pun duduk kembali. “Pasti aku sudah menungguku cukup lama.” Marco memberikan tas kerjanya kepada pelayang yang datang menyambut. “Bagaimana perkembanganmu dengan Dave?” Rosa menatap manik Marco lebih dalam. “Haruskah aku menikha dengannya?” Pria itu berjalan mendekati Rosa. “Jika kau tak menikah dengannya, kita akan mati.” “Ayah... aku lebih suka hidup miskin dari pada menikah dengannya.” Rosa tak akan menyembunyikan perasaannya seperti dulu. “Apa kau sudah gila?” tanya Marco dengan wajah marahnya. “Kita tak bisa hidup jika kau tak menikah den

