Amarah Tara dan Chandra

2611 Kata
“Lo saja yang jadi partner dia.” ucap salah satu teman sekelas Tara, Tara mendengarnya. Hal biasanya baginya, bahwa tidak ada seorangpun yang mau satu tim dengannya. Termasuk saat seperti ini, pelajaran olahraga yang diharuskan berkelompok atau setim. Tara hanya menunggu, siapa yang tersisa dari mereka. Dan biasanya tidak ada seorangpun yang tersisa, jika absen penuh. Seperti hari ini, teman satu kelasnya lengkap. Tidak ada yang absen, dan Tara terpaksa berpasangan dengan sang Guru. “Pak, seperti biasa. Tara tidak memiliki pasangan.” ketua kelas melapor setelah menghitung tim dan hanya Tara yang tersisa. Tara hanya bersidekap d**a, menunggu adalah keputusan terbaik. Dari pada ia memprotes ataupun mengeluh akan kelakuan semua temannya yang menjauhkan diri darinya. Guru olahraganya menatap Tara. “Kamu tidak apa-apa kalau latihan sendiri? Hari ini Saya tidak bisa temani Kamu latihan.” Tara mengangguk. Untung saja olahraga hari ini hanya memasukkan bola dalam ring, dan kenapa dibuat satu tim? Karena teman satunya yang akan mengambil bola, dan tugas itu bergantian dengan teman pasangannya. Tara hanya harus memasukkan bola dan mengambil bolanya sendiri, apa yang susah. Pria dan wanita dibagi, pria di ring sisi sebelah kanan. Dan wanita di ring sisi kiri, apa Tara baik-baik saja? Tentu tidak, hatinya sakit ketika semua orang menolak kehadirannya. Namun dari pada itu, Tara lebih sulit menerima kenyataan bahwa. Temannya terpaksa ketika dipasangkan dengannya, dan mereka menunjukkannya secara terang-terangan. Matahari mulai menyingsing, Tara mendapat giliran terakhir. Tidak ada yang lebih mengenaskan dari pada Tara yang dominan di depan Chandra, namun ia tidak bisa berbuat apapun ketika di dalam lingkungan sosial. Tara berlari sendiri, mengambil bolanya yang masuk ke dalam ring. Lemparan Tara sungguh bagus, namun apa artinya bagus ketika tidak bisa menarik seorangpun untuk satu tim dengannya. Dunia sungguh adil bukan? Tara tidak bisa membeli seorang teman untuk menjadi partnernya. Tara sudah lelah, untung saja ketua kelas masih berbaik hati untuk memperhatikan waktunya. “Sudah cukup.” Tara tersenyum kecil, dan ketua kelas masih mau membalas senyumnya. Hah! Dunia tidak sekejam itu juga. Tara mengambil langkah, duduk di lapangan. Sedikit menjauh dari temannya, yang terpenting adalah, Tara tidak terlalu kepanasan. Di tepi lapangan, ada pohon besar yang mengarah ke lapangan. Sehingga sebagian lapangan agak teduh, dan di sanalah mereka berkumpul. Tara menengadahkan kepalanya ke atas langit yang terik dengan mata tertutup. Nafasnya lelah dan keringat juga membasahi area wajah serta bajunya, sekarang waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan sebentar lagi waktu istirahat untuk semua siswa. "Ini." Tara membuka matanya saat suara seseorang mengalun tepat di sampingnya. Tara menatap orang yang kini berdiri di sisi tubuhnya. Tara menaikkan satu alisnya saat mengenali wajah itu, matanya melebar. "Lo- Lo bukannya cowok tengil itu?" Tara berucap dengan suara naik satu oktaf, karena melihat pria yang seminggu yang lalu ia hajar sudah berada di sampingnya. Dengan air mineral ada di tangannya dan memberikannya pada Tara. "Lo kenapa di sini?" Stev terkekeh, yah Stevan lah orang yang dikata tengil oleh Tara. "Menurut Lo?" bukannya menjawab pertanyaan Tara, Stev malah menatap Tara dengan mata yang ia berkedip kearah Tara. Tara menatap pria itu dengan mata memicing, penampilan Stevan sama persis dengannya. Maksud Tara seragam olahraga yang digunakan Stev dan jam pelajarannya yang sama juga dengan Tara. Tara masih tidak mengerti dengan kemunculan Stev di sampingnya dengan seragam yang sama dengannya. Semua orang menatap Tara dan Stev berada. "Lo enggak mau kenalan sama Gue?" tanya Stev dengan tangan yang ia ulurkan pada Tara, Tara hanya menatapnya datar dengan bersidekap d**a siap tempur lagi. Stev merasa gemas dengan tingkah Tara yang memang selalu seperti itu, Stev ikut duduk di samping Tara karena tangannya yang terulur tidak bersambut. Walau begitu Stev tidak mau menyerah, tangannya kembali ia tarik, namun ia tetap memperkenalkan dirinya. "Gue Stevan, Lo bisa panggil Gue Stev." katanya. Tara hanya mengabaikan Stev, Tara menutup matanya perlahan, kembali menikmati cahaya matahari yang tembus ke matanya saat ia menutup mata. Tara tidak mempedulikan kehadiran pria bernama Stev itu, lagian untuk apa pria itu sok akrab padanya. Dan Tara tidak melihat Stev dalam barisan olahraga tadi. Jika pikiran Tara benar, Stev bisa jadi partnernya ketika olahraga Minggu depan. Tara sendiri tidak ambil pusing dengan adanya Stev, ia hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. Ujian tinggal beberapa bulan lagi dan pria itu malah pindah ke sekolahnya. Tara hanya berharap bahwa Stev tidak tertarik dengannya hanya karena pria itu kalah tarung darinya, sungguh jika itu alasannya. Tara akan menyesali tindakannya yang jago dalam hal bela diri. "Gue murid terbaik jika Lo khawatir sama keputusan Gue pindah." Tara membuka matanya saat suara Stev kembali mengalun, Tara memang tidak berniat berkenalan dengan Stev. Tara menatap Stev yang kini memejamkan matanya ke langit, sama seperti apa yang Tara lakukan. Stev membuka matanya menatap Tara, senyumnya yang khas sebagai pria idaman semua wanita. Dan Tara menghindarkan dirinya dari pria semacam Stev, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Terlebih itu gara-gara seorang pria yang bahkan tidak dekat dengannya sama sekali. "Gue pindah karena seseorang." Tara hanya mengangguk tanpa mau menanggapi. Sepertinya pikiran Tara yang tadi harus segera Tara singkirkan, mungkin Stev sedang jatuh cinta dan cara untuk mengejarnya adalah dengan cara pindah sekolah yang sama dengan wanita itu. Mudah sekali ditebak oleh Tara, dan sepertinya memang benar saat pria berseragam olahraga itu tersenyum begitu manis. Tara tidak memungkiri jika Stev adalah pria tampan dengan senyum manis, namun tingkah pria itu yang membuat Tara begitu malas. Tara beranjak dari duduknya. "Ini buat Gue kan?" Stev mengangguk, iya minuman botol yang Stev bawa memang khusus untuk Tara. Stev memandang punggung Tara yang telah menjauh dari duduknya, senyuman terukir di wajah Stev. "Lo ketemu. Gue harap Lo enggak lupa setelah yang terjadi Aloved.". *** Tara bergegas keluar dari gerbang sekolahnya, matanya menangkap tubuh seseorang yang membuat hidupnya jauh lebih berwarna menjadi suram setelah sekian lama. Orang yang sebenarnya membuat Tara merasakan ketakutan, namun Tara mencoba untuk mengabaikan rasa takut itu. "Andro." pria yang dipanggil Andro menatap Tara dengan senyumnya. Ia melepas kacamata hitamnya guna melihat langsung wajah cantik Altara, Tara melangkahkan kakinya kearah Andro. Andro menyambut Tara dengan pelukan, lalu tepukan lembut di puncak kepalanya. Seperti seorang pria yang begitu menyayangi Tara, tapi lihatlah lagi ke dalam diri Andro. Pria itu seperti jijik dengan senyum yang dipaksakan kala melepas pelukan Tara. "Sudah pulangkan?" Tara mengangguk saat Andro merangkul bahunya, mereka memiliki dendam yang mungkin sampai saat ini belum tuntas. Siapa yang bisa menilai hati orang? Terlihat covernya yang sangat bagus bukan?. "Kita mau ke mana?" tanya Tara, Tara paham jika Andro ke sini tidak dengan tangan kosong. Mungkin Andro memang menemui Tara tidak membawa apapun, namun Tara yakin jika Andro tidak mungkin kembali ke rumah tanpa menghasilkan apapun dari Tara. "Kita ma-,” ucapan Andro terhenti kala suara yang sangat keduanya kenali memotong lebih dulu. "Nona." Tara memutar matanya, Tara menatap pria yang sudah berdiri di samping tubuhnya. Chandra juga melepaskan paksa tangan Andro yang ada di bahu Tara. Tara mendengus, dengan melihat wajah Chandra saja ia sudah tahu apa yang akan terjadi di sini. "Apa-apaan sih, Om?" tanya Tara dengan datar, mata Chandra menajam menatap pria yang kini hanya menatap Chandra datar juga. "Nona ikut Saya pulang!" Tara menghempas tangan Chandra yang menggenggam tangannya erat. Tara tahu jika hasilnya akan begini, Tara tahu jika kedatangan Chandra harusnya tepat waktu. "Gue enggak mau ikut Lo, Om!" suara Tara meninggi membuat semua orang yang berada di sekitar menatap ketiganya, dengan rasa ingin tahu, jam pulang sekolah baru saja. Tentu semua murid masih banyak yang berada di lingkungan sekolah. Menyaksikan adegan ini tentu membuat mereka menunda perjalanan pulang untuk sementara. Tara diperebutkan oleh dua orang pria, dengan setelah jas mahal dan juga berwajah tampan. Chandra menghembuskan nafas kasar, ia tidak punya pilihan lain selain. "Ah! Om turunin Gue!" teriak Tara karena Chandra mengangkatnya seperti karung beras dan Tara merasa kepalanya pusing atas kelakuan tidak sopan Chandra padanya. Lihatlah sekarang, kepalanya terbalik dan rasanya membuat Tara berputar-putar. Rambut Tara yang panjang tergerak menutupi kepala Tara, Tara terus memukul punggung Chandra. Hasilnya sama, Chandra tidak peduli akan siksaan yang dilayangkannya pada Tara. Tara sendiri kesal, padahal Chandra melakukan ini untuknya. Untuknya yang kadang membuat Tara kesal, kenapa pria itu selalu mengaturnya?. "Sial! Om turunin Gue!" Tara kembali berteriak saat Chandra tidak hiraukan teriakannya, Chandra terus membawa tubuh Tara kearah mobilnya terparkir. Sedangkan Andro hanya mampu mendesah pasrah, ia sulit mendapatkan Tara akibat ulah Chandra sejak dulu ia memulai usahanya. "Sial!" umpat Andro memukul body mobilnya, terlihat begitu kesal karena usahanya gagal lagi. Namun senyum tercetak miring di wajahnya, hanya seorang Chandra tidak akan membuat Andro menyerah untuk mendapatkan Tara. Chandra tidak menyerah sama seperti Tara yang tidak menyerah dalam memberontak. Chandra dengan kasar mendudukkan tubuh Tara yang memberontak di jok penumpang dan memasangkan sabuk pengaman dengan cepat. Chandra dengan cepat mengunci mobilnya saat tangan Tara akan membuka pintu, Chandra tahu kalau Nonanya itu merasa pusing hingga lambat dalam hal pemberontakan lagi. Dan itulah salah satu kelemahan setiap orang, saat amarah menguasai tenaga yang besar pun akan terkuras dengan sendirinya. "Om apa-apaan sih? Buka enggak?" kesal Tara. Hanya kediaman Chandra yang Tara dapatkan, membuat Tara naik pitam setelah Chandra duduk di kursi kemudi. "Lo dengar Gue ngomong enggak sih?" Tara kembali berteriak, namun Chandra sama sekali tidak terpengaruh dan hanya diam. Chandra juga tidak menjalankan mobilnya. Mobilnya kedap suara dan kaca mobil juga tidak tembus pandang. "Sial! Gue akan laporkan Lo pada Daddy!" Tara menghempaskan punggungnya pada sandaran kursinya. Begitu kesal dengan ulah Chandra padanya, d**a Tara naik turun karena nafasnya yang tersengal-sengal. Tara bersidekap d**a dengan melirik tajam Chandra. Chandra masih menatap lurus, mendengarkan semua omelan Tara padanya. Namun sisi hatinya merasa dicubit saat Tara kembali bersuara. "Sial, apa sih mau Lo hah? Gue sudah muak sama Lo! Pergi dari hidup Gue, mulai besok jangan lagi muncul di hadapan Gue!". Chandra mengeraskan rahangnya, ia menatap tajam Tara. Ia paling tidak suka dengan kata-kata Tara kali ini, ia terima jika Tara akan mengumpatinya. Tapi tidak dengan pergi dari hadapan Tara meski itu sedetik saja. Chandra tidak akan melakukannya, dan pengusiran Tara benar-benar membuat kesabarannya habis. "Diam!" teriak Chandra, Tara membolakan matanya. Ini pertama kalinya Chandra membentaknya, sudut hati Tara merasa bergetar. Antara rasa takut juga sakit akibat bentakan itu, juga mata yang menatapnya dengan tajam dan dingin. Selama ini Chandra tidak pernah membentaknya ataupun menatapnya tajam. Bagaimana pun tingkah Tara, tapi kali ini?. "Lo berani?" tanya Tara menantang. “Lo berani bentak Gue?” tanya Tara, satu air mata lolos dari mata Tara. Tara menguatkan hatinya untuk tidak merasa takut atau terintimidasi dengan bentakan Chandra. "Oh Lo berani bentak Gue hah? Sekarang Gue mau turun! Buka pintunya sekarang juga!" Tara tidak mau kalah, ia berteriak kencang. Suaranya terdengar parau dan menahan gejolak rasa kecewa. Untung sekali mobil Chandra kedap suara, jika hal ini terdengar oleh para siswa yang ternyata masih berada di sekitar mobilnya. Mungkin mereka menyangka, jika pertengkaran mereka ini seperti pertengkaran pasangan kekasih. Chandra mengusap wajahnya kasar. "Sial!" Chandra memukul kemudinya, ini kali pertama Chandra kehilangan kontrol atas dirinya. Chandra memijit pelipisnya, kepalanya dipenuhi oleh amarah, hanya dengan melihat Tara berdekatan dengan Andro saja sudah bisa memancing Chandra yang memiliki penekanan terhadap emosinya. Chandra kembali menatap Tara marah. "Apa? Lo mau kembali pada pria b******k itu hah?" mata Chandra menajam. Tara menahan air matanya, bahkan Chandra tidak memanggil Tara dengan sebutan Nona lagi. Tara meneguk ludah, tenggorokannya kering. Kepalanya juga sangat pusing, antara amarah dan menahan tangis yang mungkin sebentar lagi siap untuk merobohkan dinding pertahanan Tara. "Lo mau ngulangin kesalahan pria b******k itu?" teriak Chandra kembali memukul stir kemudinya dengan keras. Tara menutup mulutnya dengan tangannya, melihat bagaimana Chandra melampiaskan amarahnya dengan memukulkan tangannya hingga memerah pada kemudi. Setidaknya Tara tahu jika Chandra menahan semua amarah untuk menyakiti dir sendiri, bukan padanya. Ingin sekali Tara menghentikan kelakuan Chandra tapi lagi gengsi masih merasukinya, di sini jelas ia yang salah karena masih mau berhubungan dengan pria yang hampir mencelakainya juga sahabatnya dulu. Memang Tara yang bodoh karena masih berlaku baik pada orang yang siap menghilangkan nyawanya hanya untuk obsesi, namun Tara tidak bisa jika terus bersama Chandra. Pria itu dan Tara akan memiliki kehidupan sendiri nanti, Tara tidak ingin bergantung. Namun Tara tidak bisa bilang itu, Tara adalah orang yang menjunjung tinggi harga dirinya. Tara menggeleng, Tara menutup matanya. "Jawab Gue Tara! Apa Lo mau mengulangi kesalahannya lagi?" Tara menjambak rambutnya frustasi juga takut, yah trauma Tara terulang lagi. Bayangan akan masa lalu di mana ia hampir mati karena Andro berputar di otaknya. Chandra tidak sadar kembali mengungkit masa lalu yang ingin Tara lupakan. "Hiks hiks, A-," Chandra mengusap wajahnya kasar, merutuki kontrol emosinya ketika melihat Andro. Dan hal itu, lihat berakibat pada Nonanya. Tara mulai merasakan kepalanya dipaksa mengingat semua hal yang mencoba untuk ia lupakan dalam kubangan lumpur dalam otaknya. Tara menggali lubang dalam otaknya untuk mengubur semua kenangan buruk, dan sekarang ini kubangan itu menyembur layaknya lava pijar yang tidak bisa Tara hentikan. Segala kenangan buruk, darah, senyum kebahagiaan orang saat Tara rasanya ingin mengakhiri ini semua. Tara menjambak rambutnya, memukul kepalanya dan mengenyahkan segala hal yang buruk itu menguap kembali. Chandra menghembuskan nafas kasar berulang kali, menetralkan emosinya lalu menatap Tara yang telah duduk di kursi penumpang dengan memeluk kakinya, hal bodoh. 'Sial Kau Chandra!' Chandra mengumpati kelakuannya sendiri. Dengan hati-hati setelah menetralkan emosinya, Chandra menarik bahu Tara yang bergetar menuju kepelukannya setelah melepaskan sabuk pengaman Tara. Chandra mengusap punggung Tara naik turun membuat tangis Tara pecah seketika. Dalam pelukan Chandra lah sejak dulu Tara bisa tenang jika ada masalah yang membuatnya merasa sendirian. Tara berusaha mengabaikan fakta, di mana ia memang butuh kehadiran Chandra dengan terus mendorong pria itu menjauh darinya. Tara memeluk erat tubuh Chandra yang menumpukan dagunya pada puncak kepala Tara. Chandra memejamkan matanya mendengar tangis Tara yang memilukan, seolah beban gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak pernah hilang dari kedua pundaknya yang menyimpan banyak beban. Tara menangis, menangis untuk menghilangkan segala yang berputar dalam kepalanya, kepalanya sakit namun rasa sakit itu tidak menjadi-jadi saat pelukan hangat ia dapat. Chandra merasakan bahwa Tara mulai tenang dengan tangis yang mulai mereda. Hembusan nafas teratur Tara yang mengenai kulit dadanya yang basah, membuat Chandra merasa tenang. Chandra membelai wajah Tara yang damai, menghapus sisa air mata Tara yang masih membekas di pipi mulusnya. Matanya membengkak dan Chandra harus merawat Tara, atau jika gadis itu bangun dan mendapati penampilannya yang buruk akan mengumpatinya lagi. Chandra menghembuskan nafasnya kasar, ia harus segera membereskan Andro. Kenapa setelah empat tahun pria itu kembali, apa tujuan Andro kembali? Chandra harus mengurus semua secepatnya. Chandra mengambil ponselnya. "Pak Santo, tolong bawakan mobil ke sekolah Nona Tara dan ajak Pak Darto sekalian." setelah mengatakan keperluannya, Chandra mematikan sambungan telfon yang ia putus sepihak. Chandra kembali memandangi wajah Cantik Tara, suasana mulai sepi baik semua murid dan Andro telah pergi dari halaman sekolah Tara. Tiga puluh menit berlalu, apa yang ditunggu Chandra datang. Mobil van berwarna hitam telah sampai pada samping mobilnya. Chandra mengurai pelukannya, menyandarkan dengan hati-hati tubuh Tara di bangku penumpang. Chandra memutari badan mobil guna menggendong tubuh Tara di depan karena Tara dengan pulas tertidur. Bahkan saat Chandra akan melepaskan tangan Tara pada lehernya, Tara malah semakin mengeratkan pelukannya. Chandra pria normal, tapi ia tidak gila untuk menyerang wanita cantik itu saat Chandra berhasil memindahkannya pada mobil Van yang baru datang. Hingga akhirnya Chandra memutuskan memangku Tara dengan Tara yang memeluknya seperti anak kangguru. "Pak Darto bawa mobil Saya." Pak Darto mengangguk, Pak Santo yang mengemudikan mobil van itu dengan hati-hati meninggalkan area sekolah. Chandra tersenyum, emosinya belum reda sama sekali. Namun melihat wajah Tara yang tenang dan damai, bahkan dalam pelukannya seperti ini benar-benar membuat Chandra merasa senang. “Jangan pernah meminta Saya pergi dari sisi Nona Tara. Saya tidak akan bisa dan tidak akan mampu.”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN