Wanita bergaun hitam dan mengenakan cadar warna senada itu, datang jelang maghrib. Dia tampak tertegun sejenak, tapi sibuk melepas tatapan tajam pada tiap sudut, lewat sepasang mata hitamnya yang tampak merah berlinang. Lalu dia mengibaskan mantel hitamnya, seperti elang yang mengepakkan sayap dengan tubuh yang diselubungi bulu pelepah garang.
Dia melewati gerbang Pondok Pesantren Sadulur Umat dengan tenang, seakan sudah setiap hari melintasi tempat itu. Sejumlah santri mempersilahkannya untuk mengikuti mereka menuju masjid. Tetapi dia menolak.
"Saya sedang berhalangan. Bisakah saya menunggu Ustadz Putra Jauhari di Pendopo?" katanya, sambil terus melangkah, seakan tahu persis dimana letak tempat itu berada.
Para santri tak sempat mengantar, mereka mengangguk hormat, lalu bergegas berlari ke masjid karena terdengar suara adzan maghrib.
Setelah sholat maghrib, kegiatan zikir dan doa di masjid dilanjutkan demi menunggu Isya. Sehingga wanita itu menjadi cukup lama duduk menunggu. Seorang santriwati yang juga sedang datang bulan, bertugas mengantarkan teh hangat, lalu berusaha menawarkan untuk menemani tamu tersebut. Namun wanita itu juga menolak.
Dia, tetap duduk tenang di lantai kayu pendopo dalam diam. Meski sekitar 1,5 jam kemudian, Ustadz Jauhari baru terlihat tergopoh-gopoh datang.
Pria bersorban itu sudah tampak sepuh, namun langkahnya terlihat lincah. Dia sangat berharap, jika tamu yang datang itu adalah bakal donatur bagi Pondok Pesantrennya yang kini sudah mulai limbung akibat minimnya pendanaan. Dari anak santri dia mendengar, bahwa tamu wanita itu bernama Sayitonah.
"Sayitonah?"
"Betul, Ustadz. Bu Sayitonah dari Kawasulan" sahut Santri.
Kawasulan?
Seketika senyuman Ustadz Putra Jauhari mengembang. Kawasulan adalah wilayah tambang emas di seberang Pulau. Banyak orang kaya di wilayah tersebut, dan beberapa warga sana pernah berkunjung ke Pondoknya demi sekedar berbagi rezeki. Menyumbang perbaikan fasilitas pondok, atau merenovasi masjid.
"Sepertinya Ibu itu pernah datang ke sini, Ustadz. Soalnya tadi beliau paham jalan menuju Pendopo tanpa diberitahu…"
"Oh, iya?"
Putra mengernyitkan dahi. Benarkah wanita itu sering ke Pondok? Sementara namanya saja baru didengarnya sekarang? Apa jangan-jangan dia Ibu Hajah Tonah, pedagang berlian yang dulu memang pernah sering datang? Wanita kaya raya yang senang berbagi rezeki asal diliput media?
"Assalamualaikum, Ibu" salam Putra dengan hormat, saat memasuki Pendopo.
Namun rasa senang itu, mendadak berubah jadi menakutkan. Putra, nyaris tidak bisa maju selangkahpun, ketika memandangi wanita itu dari dekat. Meski dia mengenakan cadar, namun pria itu mengenali tatapan sendu dari mata itu.
"Waalaikum salam" sahut wanita itu.
Putra menghembuskan nafasnya dengan kesal, sebelum dengan berat memilih duduk berhadapan dengan wanita di depannya. Seperti terpaksa berhadapan dengan tungku panas berapi, dalam suasana musim kemarau panas. Tak ada ketenangan sejak awal, bahkan keringatnya mendadak begitu deras meluncur.
"Mengapa kau kembali?" tanya Putra dingin, meski sambil sibuk mengelap dahinya dengan sapu tangan.
"Mengapa Paman bisa mengenaliku?"
Putra menggelengkan kepala, sebelum memasukkan sapu tangannya di saku baju kokonya, dan tegas melipat kedua tangannya di d**a.
"Aku bahkan mengenalimu sejak kau bayi"
"Aku malah berharap Paman bahkan tak mengenaliku"
"Sebenarnya, aku justru tak ingin lagi melihatmu!"
"Karena Paman takut? Atau, malu?"
Putra melengos, dia tampak begitu marah. Kedua tangannya tampak terkepal kini, tepat di atas lututnya.
"Lupakan masa lalu, Paman. Aku kembali dengan niat baik. Bagaimanapun, Sadulur Umat adalah milik keluargaku. Jadi aku tidak begitu senang, jika mendengar Pondok ini dari hari ke hari semakin rapuh. Makin sedikit santri, makin buruk fasilitas. Bahkan para pengajarnya juga tak banyak lagi"
"Apa maksudmu?!" bentak Putra.
Wanita itu menatap Sang Paman, sebelum meraih tas di sampingnya. Tiga batangan kuning berkilauan dikeluarkannya dari dalam tas tersebut, lalu diletakkannya tepat di hadapannya, persis di sebelah cangkir teh yang belum sempat diminum.
"Ini sebagian milikku. Semoga berguna bagi Pondok ini"
"Kau!" mata Putra mendadak melotot.
"Jangan keras kepala terus, Paman. Ingatlah, kau tak lagi muda. Jika kau dulu bisa menjual keponakanmu ini kepada Gomoh demi kemajuan Pondok ini, mengapa aku tak boleh menyumbang sedikit dari harta yang kuperoleh secara halal? Masa lalu adalah urusan lalu. Sebaiknya kita mampu untuk saling memaafkan. Kau banyak salah padaku, akupun ada salah padamu"
"Apa yang kau inginkan?" tanya Putra, suaranya mendadak sedikit melunak.
"Aku cuma ingin kau merahasiakan siapa aku kepada semua orang. Dan aku akan membantumu membesarkan Sadulur Umat"
"Durjana!"
Wanita itu tiba-tiba berdiri, sambil meraih tasnya dengan santai.
"Namaku sekarang Sayitonah. Aku adalah partner-mu dalam upaya memajukan Sadulur Umat. Jangan banyak berdebat lagi, hari sudah malam. Aku akan tidur di kamar Nenek malam ini. Ya, aku tahu beliau meninggal tahun lalu. Tetapi aku yakin, kamarnya masih bisa dipergunakan. Paman kan anak kesayangan Nenek, pasti Paman tetap rajin untuk menyuruh orang membersikan kamar dan mengganti sprei di ranjang milik almarhumah. Semoga!"
Putra langsung meludah "Cuih! Kau ini, seperti Dajjal"
"Ya, jangan lupa bahwa kau adalah Pamannya!"
Putra, mendengar langkah tergesa keponakannya itu, membuat darahnya makin mendidih. Namun matanya tiba-tiba terarah pada tiga batang emas yang tergeletak di lantai. Cahayanya nampak begitu indah berkilauan. Mendadak, Putra Jauhari menyunggingkan senyum.
⁂⁂⁂
Bagaimana aku mengenangmu?
Sementara pintu hatimu tak pernah kau bukakan.
Padahal sebagian darahku, adalah darahmu.
Darah kebetulan, yang tidak pernah kau inginkan.
Bagaimana aku mencintaimu?
Jika tiap detik nafasku bagimu adalah kehinaan.
Padahal kau membiarkan aku hidup, meski tak pernah menganggap aku ada.
Tapi bagaimana pula aku bisa membencimu?
Karena kau pernah mengirimkan aku ke tempat terbaik, dimana surga dan dunia kulihat dari sudut yang sama…
DUA
"Jangan masuk!"
Suara wanita itu begitu keras, melengking tajam. Seperti suara mobil yang tergelincir, lalu menghantam keras tembok jalanan. Sungguh mengerikan.
Seorang wanita tua tampak setengah berlari sambil setengah membungkuk memohon maaf, lalu cepat meraih mahluk gendut kecil yang hampir masuk ke sebuah kamar.
Bocah perempuan itu, baru berusia 5 tahun. Sedang sangat lincah dan ingin tahu tentang banyak hal. Hampir setiap sudut lingkup pondok pesantren itu telah dia jelajahi dengan Bik Lasmiah, pengasuhnya yang sabar dan sangat takut jika kelakuan momongannya itu bisa menimbulkan amarah Sang Majikan: Nyai Karamunting, istri almarhum Kyai Muchsin, yang begitu anggun, namun juga terlihat dingin dan menakutkan. Setidaknya setelah suami dan dua anaknya mendadak mati dalam waktu berdekatan, lima tahun silam.
"Jangan masuk kamar Nenek ya, Non Durja…" bisik Bik Lasmiah dengan gemetar, sambil bergegas membawanya menjauh dari Nyai Karamunting.
Durja, hanya bisa mengintip dari balik pundak Bik Lasmiah. Memperhatikan Neneknya yang tampak begitu menyeramkan, hanya karena dia ingin memasuki kamar tidur besar itu.
Neneknya, seperti bukan Neneknya. Mereka tak pernah bertegur sapa, apalagi bercengkerama. Wanita itu, seperti membentang jurang yang begitu curam dan dalam. Sehingga tak ada satupun kenangan manis diantara mereka, yang dapat dikenangkan.
Saat Durja berusia 7 tahun, dia baru memahami sikap kebencian yang ditunjukkan Neneknya itu. Semua terungkap jelas, ketika suatu hari dia dipanggil untuk menemui Neneknya, di Pendopo.
Di sana ternyata ada Putra Jauhari, Pamannya, yang baru pulang dari mondok di Kawuh Langit, pondok besar terkenal, dimana konon seluruh Kakek Buyutnya pernah berada di sana untuk belajar.
Putra Jauhari pulang mendadak, meski ilmunya belum rampung. Akibat Nyai Karamunting sudah muak dengan kesunyian membentang di Sadulur Umat, pondok pesantren milik mereka yang tak ada lagi santrinya. Wanita itu, ingin mengembalikan sejarah silam. Saat almarhum suaminya pernah membuat Sadulur Umat nyaris menyaingi kepopuleran Kawuh Langit.
Tujuh tahun berlalu, betapa menyedihkan perasaan Nyai Karamunting saat itu. Bathinnya luka. Setiap hari harus melihat kondisi pondok yang suram dan sepi. Belum lagi harus hidup dengan seorang bocah perempuan yang dianggapnya telah menghancurkan dunianya. Mau dibunuh, cucu. Tak dibunuh, hanya membuatnya semakin menumpuk hitungan dosa.
"Lalu apa dosaku?!" teriak Durja.
Ini pertama kalinya dia berteriak. Biasanya, suara Neneknya saja yang terdengar ganas membelah bumi. Membentak ini, memarahi itu. Seakan setiap gerakkannya hanyalah berupa kesalahan. Tak ada yang berani membela, kecuali Bik Lasmiah yang tiba-tiba dipulangkan ke kampungnya secara mendadak siang tadi. Dengan alasan, saudaranya sakit.
Ternyata, itu rencana Nyai Karamunting yang menginginkan Durjana segera dikirim untuk belajar ke Kawuh Langit. Sehingga keberadaan Bik Lasmiah tak dibutuhkan lagi, untuk tetap mampu menjaga jaraknya dengan cucu yang tak disukainya itu.
Durja, sebetulnya tak masalah jika dikirim ke Kawuh Langit. Sebab meraih ilmu adalah impiannya. Namun cara Neneknya yang memisahkan dirinya begitu saja dengan Bik Lasmiah, baginya sangat tidak berperikemanusiaan. Tanpa pelukan selamat tinggal, wanita itu disuruh pulang kampung, meninggalkan anak asuhnya yang dimomong sejak bayi merah. Air mata wanita tua itu, adalah air mata Durja. Kesedihan pengasuh itu, adalah luka yang menganga di jantungnya.
Bik Lasmiah, bagi Durja adalah Ibu. Wanita itulah yang memberikan segenap kasih sayang untuknya, ketika Nenek yang mestinya mengurusnya dengan penuh kasih, malah menganggapnya seperti duri dalam daging.
Lalu prihal kejadian tujuh tahun lalu itu akhirnya diumbar, dari mulut Nyai Karamunting yang pedas tajam, dan bibir Paman Putra Jauhari yang lentur sinis, mirip mulut perempuan penggunjing.
Mentari, Ibu kandungnya, adalah anak kedua pasangan Kyai Muchsin dan Nyai Karamunting. Sementara anak pertamanya adalah Haidir, lalu anak ketiga Putra Jauhari dan anak keempat adalah Kinarsih. Sayang, Kinarsih meninggal karena sakit saat masih balita. Sehingga Mentari, kemudian menjadi anak perempuan satu-satunya yang begitu disayang dan dimanja.
Saat Kakaknya Haidir memilih menikah muda, Kyai Muchsin tak keberatan. Namun ketika Mentari mulai banyak dipinang orang, pria itu justru banyak menolak lamaran. Muchsin, tak ingin anak gadis tersayangnya asal pilih suami. Ada ketentuan khusus untuk menikah dengan anak perempuannya. Harapan Kyai, Mentari dapat dilamar pria sholih, Hafizd Qur'an, ahli hadist, mapan, sekaligus juga pemilik pesantren yang sama besarnya seperti Sadulur Umat.
Namun takdir berkata lain. Gadis belia yang cantik jelita itu, malah jatuh ke pelukan Arjuna, pria begajulan anak seorang pejabat pemerintah di Jakarta.
Berawal manis seperti kisah film romantis. Arjuna yang sering membuat ulah, akhirnya dikirim orangtuanya ke Sadulur Umat di Desa Kasepuhan. Dengan harapan, pemuda itu bisa insyaf jika belajar agama di pondok. Tapi ternyata, Arjuna yang liar malah menggoda anak Kyai. Menjebaknya dengan rayuan maut pada pertemuan rahasia menghanyutkan di pinggir hutan.
Mentari yang lugu, malah mengenal gairah terlarang di antara rimbunan pohon besar berlumut, tepat di atas tumpukkan padat daun-daun rontok kering. Terpukau pasrah pada geliat rangsangan yang begitu nakal dan kasar. Membuatnya nikmat memejamkan mata, teriring lenguhan bergelora yang menyibakkan rambut kemaluan berkeringat basah.
Dan itu terjadi berkali-kali. Tanpa ada orang yang sempat menyadari.
Kyai Muchsin, terlalu banyak berkeliling untuk berdakwah. Sementara Nyai Karamunting, terlalu sibuk menikmati statusnya sebagai istri Kyai yang sangat dihormati. Haidir baru menikah dan fokus membantu Abinya untuk makin memajukan Sadulur Umat. Sementara Putra Jauhari, saat itu masih remaja tanggung yang sibuk sekolah umum dan menuntaskan hafalan Juz ke-5.
Para santri sebelumnya juga tak begitu yakin, jika Arjuna yang sering terang-terangan menggoda anak guru besar mereka, bakal mendapat gayung bersambut. Lebih tepatnya, mereka tak mengira jika Mentari yang terlihat sholihah akan semudah itu berserah pasrah.
Meski ada yang curiga sekalipun, tak bakal Kyai Muchsin percaya. Itulah kenyataannya!
Ustadz Sorta dan seorang santri dari Kawuh Langit, saat pernah mengantar surat dari Kyai Labib untuk Kyai Muchsin, sebetulnya pernah melihat hal yang tidak beres di pinggiran Hutan Pandan Guring. Sepeda mereka yang sempat melewati tempat itu, membuat mereka melihat sepasang muda-mudi sedang ganas berciuman, lalu berlari riang sambil bergandengan mesra memasuki hutan.
"Astaghfirullah… itu Diajeng Mentari kan, Goka?" tanya Ustadz Sorta, sambil menghentikan sepedanya dengan gemetar.
Gokari Kusin, santri yang duduk di belakang sepedanya langsung mengangguk, dan ikut turun dari sepeda itu dengan takut.
"Iya, Ustadz. Itu Non Mentari. Anaknya Kyai Muchsin" sahut Goka lirih.
Goka sangat mengenali Mentari. Mereka barengan waktu pertama masuk di Sadulur Umat, istilahnya satu tingkatan ilmu saat itu. Sikap Mentari yang pemalu dan lembut juga diketahuinya selama bertahun-tahun mondok. Namun apa yang dia lihat bersama Ustadz Sorta baru saja tadi, jelas orang yang sama, meski dengan kepribadian berbeda. Goka bergidik ngeri, tak menyangka Mentari bisa berciuman seganas itu dengan seorang pemuda.
Saat berada di Sadulur Umat dan bertemu Haidir, Ustadz Sorta sempat bertanya tentang keberadaan adiknya itu. Haidir segera bertanya pada Nyai Karamunting dan para santriwati, namun mereka mengaku tak melihat Mentari.
"Mungkin ke rumah tetangga, dia lagi senang rujakan sekarang. Kebetulan pohon mangga tetangga kita sedang banyak buahnya…" kata Nyai Karamunting, seraya lanjut berjalan tergesa menyambut kedatangan orangtua santri dari Jakarta.
"Itu Pak Ardiansyah, pejabat dari Jakarta. Anaknya Si Arjuna dititip nyantri di sini" kata Haidir, pada Ustadz Sorta dan Goka.
"Lho, kok Arjuna juga nggak ada ya? Kemana itu anak. Orangtuanya jauh-jauh datang dari Jakarta ini…" Nyai Karamunting tampak kembali tergesa lewat, diikuti dua orang santri yang mengaku tak kunjung menemukan Arjuna.
"Sebentar,ya" kata Haidir, memohon izin untuk menemui keluarga pejabat di sudut lain pendopo.
Sorta hanya saling pandang dengan Goka, keduanya merasa gelisah. Sampai usai sholat ashar, pemuda bernama Arjuna itu tak kunjung ditemukan. Begitu pula dengan Mentari, tak kunjung kelihatan.
Sorta dan Goka bergegas pamit, sebab harus kembali ke Kawuh Langit, di Kapanjahan. Jarak tempuh Kesepuhan dan Kapanjahan lumayan jauh, hampir satu jam jika naik sepeda.
"Kenapa tak menginap?" tanya Haidir, pada Sorta yang merupakan rekan sesama santri waktu sama-sama mencari ilmu di Kawuh Langit itu.
"Isya ada zikir bersama dengan Kyai Tumenggung dari Kabagusan. Makanya Kyai Labib berkirim surat, biar Kyai Muchsin mengisi datang besok. Soalnya Kyai Temenggung menginap dua hari di pondok" sahut Sorta.
"Waduh, sahabat Abi waktu di Kawuh Langit beliau"
"Sama seperti kita kan Haidir?"
"Betul-betul… semoga kita semua kelak akan menjadi Kyai besar semua"
"Aamiin Ya Allah"
Saat Sorta dan Goka sedang menuntun sepeda ke luar pondok, seorang pemuda tampan tampak bergegas masuk gerbang dengan gayanya yang cuek dan sangat tidak sopan. Sedikitpun dia tidak menoleh kepada Sorta dan Goka, meski tepat berpapasan dengan mereka.
"Seperti pemuda yang menggandeng Diajeng Mentari masuk hutan" bisik Sorta.
Goka mengangguk,"Bajunya sama, posturnya serupa. Persis, Ustadz"
Sorta dan Goka makin gelisah, saat melihat Mentari berlarian dari jalanan menuju pohon mangga di sebelah rumah yang tepat berada di sebelah pesantren.
"Assalamuaikum Diajeng!" sapa Sorta, sambil menyerahkan sepedanya pada Goka. Dia lalu bergegas menghampiri gadis yang sedang mengumpulkan mangga tetangganya yang terjatuh itu.
Mentari tersentak kaget, hingga mangga di tangannya terlepas jatuh.
"Wa… wa'alaikum salam, Kakang Ustadz" sahut Mentari. Dia juga tersenyum dan melambai pada bekas teman nyantrinya,"Hai, Goka!"
"Dari mana tadi, Diajeng? Saya lihat tampak berlarian menuju kemari" tanya Sorta, sambil membantu Mentari mengumpulkan mangga.
Mentari tersenyum gugup,"Dari… dari rumah teman!"
"Ini lagi ngumpulin mangga?"
"I-iya! Kakang mau?"
Sorta menggeleng, dia memandangi baju dan kerudung Mentari yang banyak melekat tanah kotor dan daun kering. Mendadak dia kembali ingat sosok muda-mudi yang berlarian memasuki hutan. Keduanya berpakaian putih, sama persis seperti yang dipakai Mentari dan pemuda dari kota yang nyantri di Sadulur Umat tadi.
"Kakang pamit dulu, takut kemalaman sampai ke Kawuh Langit"
Mentari mengangguk,"Baik, Kakang. Salam hormat untuk Kyai Labib, dan keluarga besar di sana"
"Baik, Diajeng. Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Sorta lanjut mengendarai sepedanya dalam diam, sediam Goka yang turut gelisah. Mereka ngeri menduga-duga. Juga takut untuk membiarkan, jika prasangka mereka ternyata benar.
Namun setiba di Kawuh Langit, Sorta dan Goka akhirnya sepakat mengungkapkan hal itu kepada Kyai Labib. Sesuatu yang membuat ulama itu menjadi tak henti untuk beristighfar dan lanjut termenung sedih.
Esoknya, Muchsin datang usai berdakwah di Labuhan. Ceritanya tentang jama'ah berjumlah ribuan yang hadir untuk mendengar ceramahnya, suara yang penuh kebanggaan seakan terdengar begitu gegap gempita.
"Katanya Kang, itu ceramah terbesar sepanjang sejarah wilayah Labuhan. Kyai-kyai yang datang selama ini, paling hanya didatangi ratusan umat. Sampeyan berdua juga pernah ke Labuhan, toh? Cuma ratusan kan yang hadir? Tidak sebanyakku toh? Haha…"
Kyai Labib dan Kyai Tumenggung cuma mengangguk-angguk sambil tersenyum. Meski hati mereka, sangat gelisah dengan tingkat kesombongan yang dipamerkan sesama saudara seperguruan tersebut.
Walau mereka akui, Kyai Muchsin memang sangat terkenal sekarang. Ceramahnya lucu dan seru, serta memang sedang sangat digemari masyarakat yang haus hiburan berselimut dakwah. Satu hari, dia bisa berkeliling di tujuh tempat berbeda. Jadwal ceramahnya bahkan padat hingga dua tahun ke depan. Muchsin, telah melampaui kepopuleran Labib, Kakak seperguruannya, dan Tumenggung, sahabatnya.
Pondok Pesantrennya Sadulur Umat juga padat oleh santri yang berharap bisa belajar agama dengan Kyai terkenal itu. Meski untuk Kawuh Langit, Sadulur Umat masih sulit sejajar, namun mereka jelas meninggalkan kesejajaran dengan Ponpes Kuning Wetan di Kebagusan milik Tumenggung.
"Kau selalu padat berdakwah di banyak wilayah. Bagaimana dengan Sadulur Umat?" tanya Labib.
"Tak masalah, ada Haidir. Juga ada istriku Kang, Diajeng Karamunting"
Kyai Labib mengangguk pada Tumenggung dan menghela nafas, lalu beliau memberi kode Muchsin untuk mengikutinya meninggalkan Kyai Tumenggung, yang tampak memahami jika keduanya memang harus pergi untuk membicarakan hal pribadi. Meski sahabat sejak masih nyantri, beliau tidak ingin ikut campur.
Labib, adalah seniornya, beliau adalah anak Kyai Abdullah, Cicit dari Kyai Khalik pendiri Kawuh Langit. Tumenggung meski keturunan bangsawan, sangat menghormati hal tersebut.Sejak belia, keluarganya mengirimnya ke Kawuh Langit, pesantren besar yang melegenda sejak zaman Belanda. Pesantren yang dianggap terbaik, karena banyak melahirkan ulama besar.
Di Kawuh langit inilah, dirinya bertemu Muchsin, anak Kyai Asrojar, pendiri Pesantren Sadulur Umat. Mereka bersahabat sangat erat dulu, namun mulai merenggang sejak nama Muchsin semakin berkibar. Gaya pidatonya yang renyah, lucu dan seru, dianggap menampilkan sensasi baru dalam upaya menyedot jama'ah. Sayang, semakin terkenal, sikap sombongnya juga semakin melebar. Bahkan tak jarang, Muchsin kerap merasa lebih hebat dari Labib, apalagi Tumenggung.
"Bagaimana dengan keadaan putrimu, Mentari?" tanya Kyai Labib, saat mereka telah berdiri di hadapan kolam jernih yang berisi lotus dan berbagai ikan hias.
Kyai Muchsin memandangi pohon mangga yang tumbuh tak jauh dari kolam. Buahnya bergelantungan dan begitu ranum.Sangat memesona.
Dia teringat dengan anak perempuan kesayangannya yang cantik mengkal. Pijar indah mata gadis belia itu, jelas milik Karamunting, gadis tercantik pada masanya yang jatuh kepelukannya dalam proses lamaran keluarga. Hampir semua kecantikan istrinya turun ke wujud Mentari.
Gaung kecantikan putrinya, bahkan sampai ke seberang pulau. Sehingga banyak sekali yang datang, berharap bisa mempersunting gadis rupawan anak Kyai kondang. Namun Muchsin menolak secara halus semuanya. Dia merasa belum ada calon yang cocok untuk anak tercintanya itu.
Tapi hari itu, dia sedikit curiga dengan Kyai Labib yang mengajaknya bicara empat mata tentang Mentari nan jelita. Ada apa ini? Apakah Kyai Labib ingin mengajak besanan? Sebab beliau memiliki dua anak lelaki, Al Bayan dan Basya'an. Kalau si bungsu Basya'an masih kuliah di Kairo, Mesir. Lalu, apakah justru Kakaknya, si Al Bayan?
Al Bayan dan Mentari, telah saling mengenal saat masih sama-sama belajar di Kawuh Langit. Usia Bayan, berbeda 7 tahun dari Mentari. Pemuda tampan itu sepulang belajar dari Kairo, kini sibuk membantu Abinya di Kawuh Langit, sambil mengembangkan bisnis kerajinan kaligrafi milik keluarganya.
Bayan, dipastikan adalah bakal penerus Kyai Labib untuk memimpin Kawuh Langit kelak. Tak terbayang jika Kawuh Langit dan Sadulur Umat mendadak besanan. Ini bakal jadi sejarah besar.
Mendadak, bibir Kyai Muchsin melebar, membuat kumisnya bergerak-gerak saat melirik Kyai Labib.
"Mentari baik, Kakang. Sangat baik. Dia semakin cantik dan sholehah. Lalu, bagaimana dengan Al Bayan? Apakah anak muda kesayangan kita itu berminat ingin meminang?"
Kyai Labib terperangah. Dia mendadak kebingungan.
"Maksud Dik Muchsin?"
Kyai Muchsin tertawa renyah, dia menatap langit dengan gembira.
"Kakang, sudahlah. Jangan berbelit-belit. Kita ini satu keluarga. Katakan saja terus terang. Apa adanya. Toh, anak-anak juga sudah pada besar. Sudah pantas untuk dinikahkan bukan?"
Kyai Labib mengangguk,"Ya. Maksud saya itu. Terutama untuk Mentari. Alangkah lebih baiknya untuk cepat dinikahkan…"
"Nah, sudah saya duga! Saya juga ingin seperti itu, Kang. Dipercepat. Bila perlu, secepat-cepatnya!"
"Jadi, sampeyan sudah paham toh, tentang… kondisi Mentari?"
"Yo, paham! Banyak yang melamar dia, Kakang. Tapi saya pilih-pilih calon menantu. Wong saya Kyai besar, terkenal… ya, nggak bakal sembarangan toh? Minimal ya, yang levelnya setara ananda Al Bayan. Pemuda hebat! Bibit, bebet dan bobotnya mantap kelihatan. Jaminan!"
"Al Bayan tidak sehebat itu, Dik Muchsin"
"Ya, kan tak ada yang sempurna. Makanya harus cepat disandingkan segera. Level Al Bayan itu cocok dengan gadis sekelas Mentari. Sama-sama sholih dan sholihah, keturunan para Kyai besar semua, haha…"
Kyai Muchsin makin riang tertawa, merasa begitu bahagia dengan pembicaraan siang itu. Namun sebaliknya dengan Kyai Labib.
"Mungkin Marisah tak sehebat Mentari, dia bukan anak Kyai. Tetapi Al Bayan sudah meminta saya meminang gadis itu" kata Kyai Labib, sambil memandang Kyai Muchsin.
"Ma-marisah?!"
Kyai Labib tersenyum,"Anak petani dari Desa Cihumbar, perbatasan Pawang-Tunggal Roso. Dulu dia nyantri juga di sini, kakak seniornya Mentari juga. Sudah Hafidzah…"
Kyai Muchsin mengangguk lesu, namun dia masih teringat Basya'an yang berbeda usia tiga tahun saja dengan putrinya. Masih ada harapan, pikirnya.
"Oh, kalau bukan untuk Bayan. Apakah Mentari akan dijodohkan dengan Basya'an, Kakang?"
Kyai Labib mengernyitkan dahi, lalu menggeleng sedih.
"Saya tidak sedang ingin menjodohkan anak-anak kita, Dik Muchsin. Saya justru ingin membahas hubungan Mentari dengan pemuda lain. Sebaiknya sebelum terlanjur, percepat saja pernikahan mereka. Karena
kemarin, Sorta dan Goka melihat Mentari berlarian ke dalam Hutan Pandan Guring bersama seorang pemuda. Mereka… maaf, berciuman, lalu berlari sambil bergandengan. Sorta dan Goka bersumpah di bawah Al Qur'an tentang ini…"
Kyai Muchsin mendadak melotot, rahangnya seakan tajam menonjol. Memperlihatkan urat-urat besar di wajahnya yang mulai kasar memerah.
"Biadab! Mana Sorta dan Goka?! Kenapa mereka tega memfitnah Mentari? Derajat saja beda! Kok anak petani upahan berani seperti ini? Dan sampeyan sebagai Kyai besar kok gampang percaya?!"
"Saya juga tidak percaya. Sebab itu, saya berulang kali minta mereka bersumpah dan mengulang kronologi cerita"
"Oh, ya?"
"Saya tak ada maksud untuk mempermalukan. Saya justru ingin kita bersama-sama sebagai satu keluarga bisa menuntaskan masalah ini. Mentari bagi saya, adalah anak juga. Terjadi sesuatu kekeliruan padanya, maka akan jadi aib Kawuh Langit juga. Bagaimanapun, Mentari pernah nyantri di sini sama seperti Kakek buyutnya!"
Kyai Muchsin mencibir sinis, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pongah.
"Apa maksud sampeyan dengan ini, Kakang? Menciptakan fitnahan untuk Mentari, hanya dari mulut dua begundal licik yang gemar m******t lantai Kawuh Langit demi bisa belajar di sini dengan gratis? Ataukah ini sengaja ditiupkan, karena sampeyan iri dengan aktivitas dakwah saya yang jauh lebih maju dan berkembang dari sampeyan?"
"Dik Muchsin!"
"Lalu apa, Kakang? Kenyataannya kan memang benar? Sebesar dan sehebat apapun Kawuh Langit, tak ada satupun Kyainya yang pernah masuk tivi, ada nggak yang punya acara dakwah khusus yang ditunggu masyarakat di TVRI setiap minggu? Jadwal dakwah banyak, beritanya selalu masuk koran ibukota,temenan sama pejabat dan artis. Bahkan ikut main film! Cuma saya, Kyai Muchsin dari Sadulur Umat, adik junior sampeyan waktu nyantri di Kawuh Langit. Sebenarnya sampeyan cuma iri,toh?"
"Astaghfirullah Dik, kamu jangan begitu…"
"Kalau tidak begitu, mari begini. Kalau memang mereka bilang Mentari berzina di Pandan Guring, coba sebutkan siapa pemudanya!"
Kyai Labib menatap tajam ke arah Kyai Muchsin, bibirnya bergetar menahan amarah.
"Santrimu sendiri. Anak pejabat dari kota. Kalau tidak percaya, cari dan selidiki sendiri tentang itu!"
Pohon mangga di depan mereka mendadak mulai bergoyang ditiup angin, merontokkan daun-daun yang mulai mengering. Terjun bebas ke permukaan kolam, membuat ikan-ikan terpaksa ganas menghindar.
Langkah kaki Kyai Muchsin, seakan berdentam-dentum melewati lantai kayu licin coklat itu. Ditepisnya tangan Kyai Tumenggung, yang mencoba menahan kepergiannya. Semua santri Kawuh Langit yang melihatnya memasuki area parkiran, bergegas mencoba mengejar demi berharap dapat rebutan mencium tangan Kyai terkenal tersebut.
Namun Muchsin mendorong kasar mereka semua dengan marah, sambil cepat memasuki mobil Toyota Corolla DX. Jenis mobil yang baru diluncurkan pada Maret 1980 itu, malah telah bisa dipergunakan Muchsin jelang akhir tahun. Mobil keluaran anyar. Semua berkat kebaikan hati seorang pejabat yang akhirnya bisa sukses pindah tugas ke lahan basah, usai mendadak sowan ke Sadulur Umat demi "minta petunjuk" darinya.
Otomatis, Muchsin adalah Kyai terkaya saat itu. Tak ada saingan. Mobil keluaran baru, pesantren makin bagus dan dia juga makin ngetop. Tetapi tingkah angkuhnya hari itu, membuat segala kehebatan yang dimilikinya saat itu seakan runtuh.
Mobil coklat yang menggunakan mesin 1.300 cc berpenggerak roda belakang itu, dipaksanya
berpacu menderu, meninggalkan asap dan debu yang berterbangan ke segala arah, meninggalkan jejak pencemaran udara.
"Mana Mentari?" teriak Muchsin, saat melihat Karamunting keluar dari kamarnya.
"Ada di kamar kita. Dia kurang sehat, sedang diare…" jawab istrinya.
Muchsin menerobos kamar, lalu melihat Mentari sedang bergelung di atas tempat tidur orangtuanya.
"Mentari, Abi mau bertanya! Apa benar kau ada hubungan asmara dengan Si Arjuna, santri anak pejabat kota itu?"
Pertanyaan Muchsin, seperti hantaman palu di kepala gadis belia itu. Mendadak, dia seperti terpaku, mengeras beku. Selimut yang menutupi tubuhnya seakan tak mampu menyembunyikan rasa takut itu. Dia seakan menggigil dalam palung keputusasaan.
"Jawab Mentari!" bentak Muchsin.
"A-abi… Abi ngomong apa? Mentari, Mentari bingung…"
"Kau bisa jawab tidak?"
"Abi kenapa menuduh Mentari?!" teriak Mentari merajuk.
Rajukan Mentari, adalah sengatan bagi Karamunting yang langsung mendorong suaminya untuk menjauhi anaknya.
"Anakmu sedang sakit, kenapa Kakang malah tega memfitnah begini? Jangankan Mentari, saya juga bingung.
Lagian, urusan apa Mentari dengan Arjuna? Terlihat bersama juga tidak pernah!"
Muchsin menghela nafas lega. Dia merasa jiwanya mulai bangkit lagi usai merasa dipermalukan oleh Kyai Labib di Kawuh Langit tadi.
"Bukan Kakang yang memfitnah, tapi Kyai Labib dari Kawuh Langit. Hanya berdasarkan laporan k**i dari Sorta dan Goka yang datang ke Sadulur Umat kemarin. Katanya mereka melihat Arjuna dan Mentari berciuman dan bergandengan menuju Hutan Pandan Guring…"
"Astaghfirullah!" Karamunting menutup mulutnya, lalu memandangi Mentari yang seakan makin dalam terbenam di dalam kasur.
"Itulah Diajeng, kesuksesan Kakang di bidang dakwah, malah menimbulkan sikap iri dan dengki dari sesama Kyai"
Karamunting langsung memeluk erat suaminya,"Sabar ya Kakang. Inilah suka duka dalam berdakwah. Banyak orang iri…"
Muchsin balas memeluk istrinya, lalu menoleh dengan sedih pada Mentari.
"Maafkan Abi ya, Mentari. Abi tahu kamu tidak akan sebodoh itu. Abi yakin, kamu akan mampu menjaga kehormatanmu…"
Mentari tak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya yang mulai basah. Tangannya gemetar menarik selimut sampai ke kepala, untuk menutupi perasaan kalutnya yang makin membuncah.
Bagaimana bisa Kakang Sorta dan Goka melihatnya bersama Arjuna kemarin? Pantas tatapan mata Sorta begitu lain, saat melihatnya sedang mengumpulkan mangga di halaman tetangga. Benarkah itu karena curiga?
"Tak bakal ada yang curiga, ayolah…"
Bujukkan lembut pemuda tampan dengan tubuh gagah perkasa itu, seakan membuat jantung Mentari kencang berdebar. Itulah awal mula mereka senang berlari kencang menuju Hutan Pandan Guring, menikmati gairah rahasia yang bergelora.
Mentari sangat lemah untuk berjuang menolak perangkap berbisa itu. Namun kiriman surat-surat cinta rahasia penuh gombalan romansa, membuat lonjakkan riang yang berpendar pada serangkum hasrat di dalam d**a: dia ingin mencoba!
Mencoba bagaimana bisa menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Mencoba untuk melakukan hal terlarang namun manis.
Pagutan liar di antara semak belukar, seakan menyalakan api yang membara.
"Aku merasa panas!" bisik Arjuna, sambil melepas kemejanya.
Mentari yang masih memegangi bibirnya yang ranum basah akibat keganasan serangan bibir Arjuna, tampak menunduk sambil tersipu malu. Wajahnya memerah, sementara tubuhnya bergetar hebat.
"Bukankah kau juga merasa panas?" bisik Arjuna, yang perlahan mulai melepas kerudung putih Mentari.
Rambut hitam Mentari, tampak terlihat. Tergelung manis, memamerkan lehernya yang putih jenjang. Jantung Arjuna turun naik, saat usai melemparkan kerudung Mentari, lalu kedua tangannya mendorong tubuh itu dengan kuat, hingga terhempas di tanah.
"Jangaaan…" Mentari memohon, separuh otaknya ternyata masih berjalan.
Berbeda dengan Arjuna. Otak pemuda itu telah terlanjur diangkut setan. Kebuasan nafsunya mengalahkan kejernihan untuk berpikir. Bahkan mampu menggoyang-goyang semak belukar di dalam hutan dengan ganas.
Seekor ular tampak tiba-tiba beringas melintas, membuat Mentari menjerit takut.
"Ada ulaaarrr…"
Namun Arjuna makin menekan kedua pundak kekasihnya itu dengan kasar.
"Kau tenang saja, Mentari. Nanti juga kau akan menyukai ular itu!"
Arjuna, sudah sangat berpengalaman dalam urusan wanita. Entah berapa gadis yang sudah diperawani hingga hamil, sehingga kedua orangtuanya menggiring b******n itu ke pesantren. Namun seperti kucing yang dimasukkan kandang namun diberi ikan segar, Arjuna justru menikmati "hukuman" orangtuanya.
Sebetulnya, Mentari bukanlah tipe gadis idamannya. Meski di desanya, jelas dia paling cantik. Apalagi dia anak Kyai terkenal. Namun baginya, Mentari kurang binal. Kerlingan nakalnya di sela kajian, tak cepat terbalas. Butuh berlembar-lembar surat cinta untuk menundukkan gadis itu. Membuat uangnya habis harus menyogok seorang santri agar mau mengantarkan rayuan mautnya itu.
Setelah suratnya berbalas, Arjuna mulai menjebak Mentari untuk bisa diajak diam-diam b******a di dalam hutan. Sekali dua kali, akhirnya ketagihan. Berbulan-bulan mereka melakukan pertemuan rahasia itu di antara rimbunan semak dan rapatnya barisan pepohonan Ki Tenjo (anisoptera costata).
Pohon besar yang ketinggiannya mampu mencapai 65 meter dengan diameter hampir 1,5 meter tersebut, selama ini hanya menyaksikan keliaran binatang hutan saja. Tetapi sejak Arjuna dan Mentari senang berpesta mabuk asmara di Pandan Guring, barisan Ki Tenjo akhirnya jadi mampu melihat kesamaan jenis selera manusia dan binatang dalam urusan s*****t.
"Sekarang kita selalu b******a, tanpa ada gangguan seminggu menstruasi selama berbulan-bulan. Ini hal aneh…" terdengar suara Arjuna yang nampak gusar.
Mentari yang baru selesai mengancingkan bajunya, langsung memeluk Arjuna dari belakang. Menikmati punggung basah pemuda itu yang lengket oleh keringat, sisa kedahsyatan pertarungan nafsu mereka tadi.
"Bukankah kau jadi malah senang, sayang? Kita kan jadi bisa ke hutan setiap hari?"
Arjuna melepaskan pelukan kekasihnya, lalu bergegas memakai kemeja putihnya.
"Sejak kapan kamu tidak menstruasi?"
"Ehm… sekitar tiga bulan ini. Mungkin cuma telat biasa. Dulu aku waktu masih SD juga begitu"
"Emang kau sudah berhubungan s**s sejak SD?"
"Arjuna! Kau menyakiti aku…" rajuk Mentari.
Ssrrrreeeekkkkk!!
Mentari dan Arjuna berpandangan. Sesuatu berkelebat cepat di antara rimbunan belukar. Sosoknya seperti seorang perempuan.
"Arjuna, takuuut…" Mentari kembali memeluk Arjuna dengan erat.
Peristiwa seperti melihat sosok wanita yang mengintip dan kemudian berlarian ke dalam hutan, sudah sering terjadi jika mereka b******a di tempat itu. Mentari benar-benar ngeri dibuatnya.Namun tak ada tempat lain untuk aman b******a, selain tempat itu.
"Junaa… apakah itu benar setan hutan ini?"
"Alah!" Arjuna mengibaskan tangannya. Dia lalu membuka dompetnya, dan menaruh beberapa uang kertas dan logam di atas tanah.
Itulah kebiasaan Arjuna, jika mereka barusan diintip "Setan" Pandan Guring. Dia pasti akan meninggalkan uang yang benar-benar hilang jika esok harinya mereka kembali datang. Entah siapa yang mengambilnya.
Namun menurut Arjuna, uang itu memang sebagai sesajen, agar setan di tempat itu tidak marah. Mentari tidak bisa protes atas kebiasaan aneh Arjuna itu, sejauh mereka tetap aman dan lancar b******a.
"Junaaaaa…"
"Sudah, jangan manja! Kita harus cepat pulang, sebab kedua orangtuaku berjanji untuk datang sekarang"
"Tapi bantu aku ambil kedondong hutan dulu, aku mau rujakan. Bosan rujakan dengan mangga Mbah Darmi melulu!"
Arjuna hanya melengos, lalu dia bergerak cepat meninggalkan Mentari untuk menerobos ke luar hutan. Dia tak menghiraukan jeritan dan panggilan Mentari yang jatuh bangun mengejarnya.