Mentari mengangguk, sebelum menunduk takut. Dia pamit meninggalkan meja makan dengan bingung, dan tambah bingung lagi saat sempat mendengar suara Abinya saat dia sudah berada di depan pintu ruang makan.
"Sepertinya Arjuna bakal cepat menikah dengan perempuan yang dijodohkan orangtuanya. Ya, berkurang satu santri kita. Sangat disayangkan memang. Apalagi orangtua Arjuna ini yang paling banyak memberi sumbangan uang untuk pondok…"
Bumi seakan mendadak berputar. Mentari terhuyung-huyung memegangi tiang. Kakinya begitu lemas namun bergetar, lanjut kepalanya mendadak pusing. Lalu dengan terhuyung-huyung, dia mencoba melangkah menjauh lewat kebun belakang, menuju rumah tetangga.
Mbah Darmi, akhirnya cuma bisa mengusap pundak Mentari dengan minyak bawang. Sementara Mentari, malah sibuk menggigit mangga muda dalam diam. Sesekali, dia mencocol mangga hijau itu ke dalam cobek yang penuh ulekan cabai dan sejumput garam.
Sudah hampir empat bulan ini, Mentari bertingkah seperti itu. Dulu awalnya, malah sering muntah dan mual-mual. Tak ada yang mencurigai hal itu, kecuali Mbah Darmi.
Wanita berusia lebih dari 70 tahun itu hidup sendiri. Tak pernah menikah seumur hidupnya. Konon, karena dia pernah patah hati jadi tak tertarik untuk mengenal lelaki lagi. Namun untuk urusan masalah kewanitaan, Si Mbah jadi pakarnya. Dia sejak remaja membantu ibunya yang dukun beranak itu,sehingga dia paham tentang wanita hamil, keguguran atau mau melahirkan.
Mbah Darmi tahu, ada sesuatu yang tak beres dari Mentari. Sejak anak tetangganya itu begitu sering memunguti mangga di depan rumahnya. Terkadang dia membawa kedondong hutan, atau memetik belimbing wuluh dan babal di belakang rumah Mbah Darmi. Mentari sejak kecil akrab dengan Si Mbah, tapi baru kali itu Mbah Darmi melihat ada hal berbeda dari anak tetanggnya.
Mau bertanya, takut tersinggung. Mau menuduh, tapi Mbah Darmi juga tak pernah melihat Mentari bersama pria. Namun saat Mbah Darmi bisa mengusap bagian punggung dan pinggang gadis itu, mendadak dia seperti tersengat listrik.
"Apakah menstruasi Den Ayu lancar?" tanyanya gugup.
Mentari yang sedang menggerus cabai dan garam langsung menggeleng.
"Kayak pas SD dulu, Mbah. Dapat menstruasi kelas enam, baru mens lagi kelas dua SMP"
"Sudah berapa lama terlambat sekarang?"
"Empat bulan"