Siapa?

1711 Kata

Pagi harinya dalam suasana ujian. Aku memaksakan keadaan. Sebab, jika tidak hadir hari ini, berarti akan mengikuti ujian susulan. Bagiku, itu sama saja dengan masuk ke dalam jurang. Sebab, aku kembali berada di dalam situasi tertekan seorang diri. Kali ini, otakku sangat lamban di dalam berpikir. Seperti bocah pemalas dan hanya ingin makan permen atau coklat di ujung lemari makan saja. Ditambah lagi mata yang masih terasa berat dan kantuk. Untungnya, Adam sempat membuatku tertidur pulas, meski hanya sesaat. Ternyata, paksaannya terhadapku tadi subuh, sangat berpengaruh banyak. Dia benar-benar baik dan bersedia menemaniku hingga mata ini terpejam. Jika bukan karena dia, mungkin aku tidak akan tidur hingga detik ini. Apalagi jika aku mengingat pelukannya itu. Ya Ampun, benar-benar han

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN