Di batas lelah yang setia menciumi gundah di dalam alurnya. Aku terperosok jauh ke jurang terdalam. Di seberang sana, tampak ada jalan keluarnya. Tetapi sayangnya, telah menunggu setumpuk granat yang siap meledak dan menghancurkanku. Tidak ada tempat untuk pulang, tidak ada rumah untuk kembali. Rasanya, ingin sekali menggapai mimpi indah malam ini. Lalu, pasrah pada ujung takdir Ilahi. Aku benar-benar lelah, Tuhan. Bahkan tubuh ini mengeluh di dalam ketidaksadaran pikiran. Alangkah malangnya nasib yang sudah disurat kan takdir untukku. Sendiri, itulah jalan hidupku. Suara lagu masa kanak-kanak, kembali terdengar rimbun di telingaku. Disambut semilir angin yang baru saja menyapa dedaunan dan pohon tua di samping rumah. Aku dapat merasakannya, kepala ini tergeletak manja di antara kedua

