"Non, saya kapok. Nggak lagi-lagi urusan beginian," kata tukang ojek setelah melewati halaman luas dikelilingi aneka bunga yang beralaskan tanah merah. "Minta ampun, Non. Saya masih punya tanggungan anak istri di rumah."
"Bapak ini, seperti ada apa aja," keluhku seraya memperhatikan laki-laki itu dari belakang. Dia tidak mungkin berbohong, sebab bulu-bulu halus di sekitar kuduknya pun masih berdiri.
"Serem, Non. Apalagi saat hampir magrib tadi. Anginnya sayup-sayup gitu, nggak lama ada yang nyapa. Ya Allah, Non. Ampun dah ah ... ."
"Siapa, Pak?"
"Itu, Non. Badannya tinggi guedeee banget. Hitam, berbulu, bagian bawah matanya merah. Dia thu kayak yang sedang marah sama saya. Padahal saya nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk di bawah pohon pulai saja." Tukang ojek tersebut sampai tidak sanggup lagi memegang setir motornya. "Kalau nggak mikir tanggung jawab, saya pasti sudah kabur tadi. Mana pas dekat Non ada perempuan pakai pakaian Jawa gitu, kemben. Aduuuh, Gusti."
"Sudah, Pak. Sudah, tenang dulu! Sebaiknya fokus aja membawa motor ini! Daripada terjadi sesuatu yang tidak baik kepada kita," pintaku sambil menepuk pelan pundak tukang ojek tersebut.
"Iya, Non. Tapi besok-besok, jangan cari saya lagi ya! Saya enggak kuat, sumpah." Tukang ojek tersebut, terus saja mengomel di dalam ketakutannya.
"Iya, Pak. Maaf."
"Sejak tadi saja, kalau ndak mikirin harus beli beras sama susunya untuk anak, ya enggak mungkin saya mau. Selain itu, kasihan sama Non nya juga. Sepertinya sangat penting dan mendesak, tapi ternyata yo malah gini," sesalnya terdengar jelas di telingaku.
"Maaf ya, Pak!" pintaku sekali lagi dengan suara memohon.
"Terus tadi itu, Mbak. Ada tukang kebun yang nyapa saya. Dia bilang, kalau mbah dukun ini sudah nggak ada sejak lama. Sekitar satu bulan lebih."
"Apa, Pak?" Aku sangat kaget kali ini, sebab si mbah terlihat begitu luwes dan biasa saja dalam bersikap.
"Semenjak beliau meninggal dunia, tempat ini nggak ada yang ngurus sama sekali. Soalnya, si mbah tidak memiliki anak ataupun keturunan (Penerus)," beber tukang ojek tersebut.
Semua perkataan tukang ojek ini, memperjelas keadaan yang aku lihat ketika berada di dalam pendopo dan ruangan terbuka, ketika asik berbincang-bincang dengan si mbah tadi. Ternyata, mereka yang berada di dalam sama sudah tiada.
Sekitar pukul 19.45 WIB, aku tiba di kediaman. Sepanjang jalan menuju lorong, aku melihat banyak orang-orang dan rombongan polisi yang menyerbu kediaman bos besar, di mana Ida bekerja.
Penasaran, aku pun memutuskan untuk singgah dan bertanya. Kebetulan, saat itu aku tidak melihat orang tua Ida dan Idanya sendiri.
"Pak, makasih untuk bantuannya. Ini ongkosnya, semoga bisa memenuhi kebutuhan Bapak," ujarku pada tukang ojek yang sudah meriang sejak tadi.
Kali ini, aku memberikan uang lebih dari cukup untuknya. Aku pun merasa tidak sampai hati, jika harus membiarkan beliau sakit, kekurangan, serta ketakutan gara-gara memenuhi permintaanku.
"Makasih banyak ya, Non. Saya tak permisi dulu!"
"Silakan, Pak." Aku menunggunya pergi, lalu memutuskan untuk mendekati pagar rumah besar milik bos di mana Ida bekerja.
"Maaf, Pak. Ada apa ini?" tanyaku pada salah satu warga yang tampak antusias sejak tadi.
"Ini loh, Nora. Ada berita kehilangan dan sekarang sedang dicari tahu," jawabnya yang tampak juga tidak memahami situasi di dalam sana.
'Kehilangan? Ah, aku yakin bukan Ida yang melakukannya. Paling, pencurian biasa. Wajar saja, rumah ini terlalu mencolok.' Kataku tanpa suara.
Setelah pikiranku mengambil kesimpulan sendiri, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Rasanya lelah dan tulang-tulang di sekujur tubuhku remuk tanpa sisa.
Mungkin, semua ini karena aku bersinggungan dengan makhluk tak kasat mata sejak tadi. Apalagi, si mbah sempat menepuk pundakku beberapa kali.
Aku menundukkan kepala, seraya menggosok leher bagian belakang. Rasanya, ada angin dingin yang melintas secara sengaja dan memintaku untuk menoleh ke belakang.
Tanpa pikir panjang, aku pun melakukannya. Pada saat yang bersamaan, aku melihat sosok ida menatap ke arahku sambil memaksakan senyumnya. Saat ini, bukan hanya wajahnya saja yang pucat pasi, tetapi bibirnya pun tidak tampak berdarah lagi.
"Ida? Dan kenapa dia tidak juga mengganti pakaiannya?" gumamku tanpa suara.
Ketika mata kami bertemu pada kejauhan, aku melihat ia membalik badan dan bergerak lamban ke arah samping taman yang dihiasi dengan ornamen berbentuk burung gagak besar, serta goa buatan.
Rasanya, air mancur yang keluar dari bagian paling atas goa tersebut, begitu dekat dengan telingaku. Seakan-akan, air tersebut berada di sisi samping telingaku.
"Ida!" pekikku dalam seru.
Tak lama, seorang petugas yang berwajib, menatapku sambil mengernyitkan dahinya. Saat itu, aku melangkah ke dalam pagar besar berwarna putih keemasan tanpa bertanya kepada siapa pun.
Beberapa diantara para polisi pun menahan kedua lenganku dengan kuat, tapi aku bersikeras untuk masuk hanya demi mengikuti arah langkah sabahat yang sudah menemani beberapa waktu terakhir ini.
"Minggir, Pak!" pintaku yang masih belum mengerti tentang apa pun. Aku menatap laki-laki muda berusia sekitar 25 tahun di hadapanku. "Maaf, Pak. Aku hanya ingin menemui Ida saja," ujarku sekali lagi.
"Ida?" Polisi muda tersebut mengulang perkataanku.
Aku mengangguk yakin, "Iya, Pak. Ida. Dia adalah sahabatku dan aku melihatnya di sana. Wajahnya sangat pucat, mungkin dia sakit. Aku sangat khawatir," jelasku sungguh-sungguh.
"Biarkan dia masuk!" titah laki-laki tua berwajah sangar.
"Siap, Komandan." Polisi muda melepaskanku dan menggiring langkahku.
Aku pun menatapnya karena merasa dicurigai dan diikuti. Tetapi pada detik itu, ia tersenyum dan sikapnya berhasil menepis pikiran tidak nyaman di dalam hatiku.
"Silakan!" katanya masih sambil tersenyum.
"Makasih."
Aku berjalan cepat ke arah Ida agar tidak kehilangan jejaknya. Kemudian disusul oleh sang komandan, serta dua orang petugas yang mengenakan seragam putih-putih, dengan sarung tangan plastik yang menutupi telapaknya.
Aku menjadi tidak enak hati. Sepertinya ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi, tidak mungkin mereka akan mencelakaiku. Apalagi di luar sana, banyak warga yang menyaksikan kejadian saat ini.
Namun, sekali lagi, pikiranku teralihkan pada Ida yang tampak sekilas di ujung mataku. Dengan sigap, aku mengejarnya yang sekarang ingin memberi arah petunjuk kepadaku tentang sesuatu yang tidak aku pahami.
"Ida!" panggilku sambil berjalan setengah berlari dan mengintip. "Ida, tunggu!" Langkahku semakin cepat.
Sementara, yang lainnya terus mengikuti dan suara runtuhnya air dari tempat yang tinggi, terus saja memenuhi serta menyakiti rongga telingaku.
"Ida, jangan membuatku bingung!" pintaku hampir menangis. "Hari ini, aku lelah sekali," keluhku manja, yang memperlihatkan bahwa Ida adalah tempatku untuk berbagi.
Entah bagaimana, seluruh tubuhku rasanya seperti diinjak atau ditindih oleh sesuatu yang besar dan berat. Bahkan tiba-tiba saja, dadaku terasa nyeri dan sesak.
Ida berhenti tepat di belakang bangunan goa tersebut. Sebagian tubuh bagian depannya masih tampak jelas olehku. Sedangkan punggungnya, berada di balik goa.
"Kamu kenapa?" tanyaku sambil melanjutkan langkah yang semakin berat.
"Tolong aku, Nora!"
"Iya, pasti. Katakan saja!" Aku tersenyum dengan wajah yang terasa kebasan. Seperti terkena sengat lebah dalam jumlah banyak.
Ida mengangkat tangan kirinya, seolah tubuhnya menempel di belakang goa dan ia ingin aku menariknya. Dengan cepat, aku maju mendekati sahabatku untuk membantu.
Tapi pada saat yang bersamaan, seluruh tubuhku rasanya tersedot ke dalam situasi yang tidak aku mengerti.
'Tidak, Tuan. Jangan ganggu saya! Di sini, saya hanya ingin bekerja.' Suara Ida saat menolak keinginan majikannya (Dalam melayani hawa nafsu laki-laki b***t tersebut) terdengar kuat. 'Tolong jangan ganggu saya!' mohonnya sekali lagi, seraya melipat kedua tangan dengan tubuh yang membungkuk.
Ida bergetar hebat, ia semakin tersudut dan ketakutan. Tapi, benar-benar tidak bisa lari dan ia memutuskan untuk melawan.
Ida bergerak cepat ke arah dapur, lalu ia menarik pisau yang selama ini digunakan untuk memasak dan bekerja, dijadikan alat melindungi diri. Bagi Ida, kehormatannya sebagai wanita, adalah hal yang paling utama.
Ia tidak memiliki harta, maupun benda di atas dunia ini. Jadi, Ida ingin mempertahankan harga dirinya dengan cara apa pun.
'Jangan maju atau saya akan berbuat nekat!' ancam Ida sambil mengarahkan ujung pisau ke arah majikannya.
'Saya punya semuanya untukmu. Uang, perhiasan, pakaian, minuman dan makanan, apa saja yang kamu inginkan. Jadilah gadis penurut!' Laki-laki tersebut bergerak cepat ke arah Ida. Ia tampak sangat ingin mencengangkan sahabatku tersebut.
'Tidak!' Lagi-lagi Ida berteriak dan menolak. Tetapi laki-laki itu terlihat semakin bersemangat.
Hingga tamparan panas berhasil memutar tubuh mungil Ida, lalu terjatuh. Dengan sigap, laki-laki berukuran tubuh dua kali lipat daripada Ida, menekan tubuh sahabatku yang sudah tampak melemah.
Namun Ida terus menjangkau pisau panjang dan besar yang biasa ia gunakan untuk memotong daging.
Layangan pisau pertama, berhasil menyayat manis tepat di sisi kiri leher majikan Ida tersebut.
Berang, laki-laki tersebut merebut pisaunya dan menghantam kepala Ida dengan ujung s*****a tajam itu, hingga dahi sahabatku tertancap sempurna oleh ujung pisau tersebut.
's****n, mampus!' pekik laki-laki itu terdengar begitu emosional. 'Habis kamu!' sambungnya, lalu pukulan beruntun bersarang di wajah serta dadaa Ida.
Seketika, Ida kehilangan nyawanya. Ia meregang nyawa, di tempat selama ini ia menyambung napas untuk bertahan hidup dan mengobati ayahnya.
Sadar akan kesalahannya, laki-laki k**i itu menarik tubuh Ida hingga ke sisi belakang goa di mana sosok sahabatku itu berdiri, saat ini. Di belakang bangunan estetik tersebut, ia mengurung jasad Ida yang selalu basah akibat air yang terus mengalir.
"Ida!" pekikku dengan kedua kaki yang telah lunglai. Lututku seakan tidak bersendi, lalu melemah dan terjatuh begitu saja, di atas lantai kasar berbatu alam berwarna putih.
"Idaaa!" Kemudian disambut dengan air mata dan kemarahanku. "kejaaam! Ibliiis!" pekikku dan rasanya tubuh ini menjadi ringan.
"Sabar, Nak! Sabar!" pinta seseorang sambil memegang pundakku. "Kami baru mendapat laporannya dan sedang mencari keberadaan korban." Komandan menepuk-nepuk ringan punggungku.
"Aku tahu di mana Ida," ratapku dengan hati yang kian terasa berat.
Sayangnya, tubuhku masih belum dapat digerakkan dengan sempurna. Aku benar-benar mengutuk laki-laki iblis tersebut, hingga berniat untuk menghisap darah dan menghabisinya hingga kering.
Dia adalah manusia yang paling aku benci di dalam hidupku. Jika aku tidak menghabisinya, maka aku akan menderita seumur hidup. Itulah rasa yang aku alami detik ini.
"Bantu dia yuk! Mari!" bujuk komandan setelah membiarkanmu menangis cukup lama.
"Di mana laki-laki itu, Pak?" tanyaku dengan suara yang parau.
"Dia ada di penjara. Sedang di proses," ujarnya singkat. Tampaknya laki-laki yang satu ini, mengerti perasaanku.
"Jika hukum tidak bisa mengurung dan memberikannya sangsi setimpal, maka tangan inilah yang akan mencabiknya," kataku seraya membuka genggaman kedua tangan.
Namun, sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti, dari mana asalnya kalimat-kalimat menakutkan yang keluar dari bibirku saat ini.
"Mari saya bantu?!" ajak komandan tersebut sekali lagi.
Aku pun berdiri di atas kedua kaki yang bergetar hebat. Kemudian berjalan ke arah belakang goa dan mengatakan bahwa, Ida ada di dalam sana, terperangkap dan tersiksa.
Dunia seakan tidak pernah berpihak pada hati yang suci. Bagi orang-orang besar dan memiliki segalanya, mempermainkan nyawa orang lain, hanya seperti ketika ia tengah bertaruh.
Menang atau kalah, sama sekali tidak berpengaruh kepadanya. Ia hanya mencari kesenangan di dalam cahaya mata yang dipenuhi ketakutan.
Saat ini, aku masih dapat mengingat dan melihat, bagaimana laki-laki itu berusaha merenggut kesucian sahabatku. Lalu seperti apa Ida bertahan di dalam tekanan antara kematian atau rada malu sepanjang umurnya.
Dia memilih tidak menyerah, melawan dengan semua yang ia punya, serta bertahan di dalam ketakutan. Dia adalah contoh yang hebat di dalam hidupku.
'Tuhan, kenapa aku harus merasakan sakit seperti ini, sekali lagi? Aku tidak mampu, aku tidak kuat. Rasanya, seluruh tubuhku runtuh tak bertulang.
Bersambung.