"Mom! Teriak Yuna dari dalam kamar sambil terus mengetuk pintu tanpa henti. Membiarkan tangannya terluka akibat terlalu keras memukul pintu yang terbuat dari kayu tebal dan tidak mungkin bisa terbuka, sekalipun Yuna memukulnya sampai berdarah. "Mom! Buka!" Teriaknya sambil menangis. "Aku mohon." Tapi Maira tidak peduli. Ia mengabaikan teriakan Yuna dan memilih untuk menulikan telinganya. Di hari yang sama, dua gadis tengah menangisi nasibnya masing-masing. Yuna dan Kia. Mereka sama-sama menangis, meratapi apa yang terjadi padanya hari ini. Terutama Kia, gadis itu tidak berhenti menangis, tidak sadarkan diri dan begitu terus sampai akhirnya Kia harus mendapatkan perawatan akibat kondisinya terlalu lemah. "Mars, Ayah kenapa nggak bangun-bangun." Kia menoleh dan mendapati Mars ten

