Pujian-pujian dari beberapa orang yang mengenalnya tidak lantas membuat suasana hati Mars membaik. Kekecewaan sudah terlalu besar dirasakannya hingga dua piala yang kini ada di tangannya tidak lebih dari sekedar dua benda sampah yang terbuat dari plastik. "Mars," Panggil Laras. "Makan dulu, Nak." Laras menghampiri Mars yang kini ada di dalam kamarnya. "Kamu belum makan malam. Ayo," Ajak Laras. Tapi Mars masih tidak bergeming, ia lebih fokus menatap layar ponselnya dan bermain game. "Mars dengar Ibu, kan?" Mars menoleh tapi masih diam. "Ayo makan." Kali ini Mars menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa? Nggak lapar?" Laras menatap Mars dengan seksama. Laras tau Mars sedang merasakan kekecewaan yang sangat besar. Laras sangat mengerti. "Mars marah?" "Mars boleh marah sama Ibu

