"Sakit ya?" Mars tidak bereaksi apapun, tapi Yuna meringis berulang kali padahal ia sendiri yang mengobati luka di wajah hingga telapak tangan Mars. "Nggak." Jawab Mars ketus. "Kamu sekolah dimana Mars?" Tanya Yuna, setelah ia membersihkan luka-luka di wajah dan tangan Mars. "Jangan dulu pergi, baru aja kita ketemu." Cegah Yuna. "Kamu nggak pernah balas pesan, tiba-tiba nomor kamu juga nggak aktif." Yuna mengelap tangannya dari sisa-sisa darah Mars. "Aku nyariin kamu kemana-mana Mars, taunya malah ketemu di gang sempit tadi." Mars hanya menggumam pelan. "Kan, aku pernah bilang, dimanapun Mars berada aku pasti bisa menemukan." Mars menoleh dengan tatapan datar seperti biasa. "Tiga tahun," Gumamnya pelan. "Kamu ngumpetnya kejauhan Mars, jadi aku nggak bisa buru-buru nemuin ka

