Episode 40

4170 Kata
Berawal dari kebencian Kringgg” bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk masuk ke kelas, hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Namaku Dana Syahputra, biasanya orang memanggilku Dana. Aku baru masuk SMA N di Bandung, sebenarnya aku tinggal di Jakarta tapi aku ikut ayahku ke Bandung karena urusan kerja. Karena aku baru kali ini sekolah di Bandung jadi aku agak canggung. “Hai, boleh duduk disini gak?” Tanya salah satu siswa yang juga baru masuk SMA ini. “Oh, iya silahkan” jawabku yang masih malu-malu. “Oh ya, namaku Adzam, namamu siapa?” sapa sekaligus tanyanya. “Namaku Dana” jawabku. Hanya sampai disitu perbincangan kami karena 2 anggota OSIS masuk ke dalam kelas. Dengan ramah anggota-anggota OSIS itu memperkenalkan diri mereka. “Hai nama kakak Stefanny dari kelas XI-1” sapa salah satu anggota OSIS itu “kalau nama kakak Sakha dari kelas XI-5” sahut anggota OSIS lainnya. Saat tiba waktu pelajaran agama tiba, kami diperintahkan untuk ke masjid sekolah. Saat aku berjalan aku menabrak seorang siswi yang sedang melepaskan sepatu. “Ih, bengong terus sih asal nabrak orang aja” marahnya, selepas itu pun dia langsung pergi, dalam hati ku berkata “idih jutek amat nih orang”. Setelah 3 hari masa orientasi selesai wali kelasku masuk ke kelas untuk perkenalan, menentukan struktur kelas, dan tempat duduk siswa. Setelah perkenalan dan menentukan struktur kelas ditentukanlah tempat duduk siswa, ternyata Adzam dipindahkan dan digantikan dengan siswi tadi yang kutabrak. “ya elah lo lagi lo lagi” katanya yang jutek itu. Aku yang diam tak bersuara hanya bergumam dalam hati “yaelah emang gue mau duduk ama lo” akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan “oh ya, nama gue Dana, nama lo siapa?” tanyaku “ih kepo banget lo mau tau aja nama gue” jawabnya, aku hanya terdiam dan tidak menghiraukannya. Di saat jam istirahat si cewek jutek itu membawa minuman dan dia kepeleset dan menumpahkan minumannya bajuku, dan kali ini aku tidak hanya diam “aduh lo itu gimana sih kepeleset pake numpahin minuman segala” marahku. “Eh gue juga ga sengaja kali numpahin, mana ada sih orang yang mau kepeleset, lo bukannya bantuin malah ngomel-ngomel” sahutnya dengan nada tinggi kepadaku “yee kan lo yang numpahin, ngapain gue bantuin lo, bukannya minta maaf malah ngoceh ga jelas” sahutku sedikit jengkel. Di saat itu pun Adzam dengan tiba-tiba datang “Dan kamu ngapain, kok tadi aku lihat kamu kayak marah-marah gitu?” Tanya Adzam “tuh dia noh numpahin minuman malah ngomel bukannya minta maaf” kataku “udahlah kalo berantem terus entar kalian berdua malah masuk BK loh, ya udah mendingan pada minta maaf” katanya. “ya udah deh gue minta maaf” kata si cewek jutek itu “iya gue juga minta maaf ya” kataku “nah gitu donk ya udah yuk pada masuk kelas” sahut Adzam. Di keesokan harinya ada pelajaran olahraga dan diperintahkan ke lapangan, dan materi pada hari itu tentang basket. Pada saat praktek basket timku melawan tim si cewek jutek itu, secara tidak sengaja aku tersandung salah satu siswa hingga kakiku terluka. Aku langsung dibawa ke UKS, bukan anggota PMR yang menanganiku karena ada tour dari sekolah tapi si cewek jutek itu. “sebentar ya aku ambil obat merah dulu” katanya. Dengan perlahan dia mengobati kakiku yang masih mengeluarkan darah, “maaf ya agak sakit sedikit soalnya lukanya lumayan parah, ini harus diperban” katanya “kok lo bisa ngobatin sih?” tanyaku yang agak kepo “di SMP kan gue anggota PMR” jawabnya yang masih memerban kakiku. “oh iya ngomong-ngomong nama lo siapa kita kan belum kenalan” tanyaku. “nama gue Alya” jawabnya dengan lembut. Dalam hatiku berkata “ternyata ni cewek baik juga ya”. Semenjak hari itu kami tambah akrab dan akur, tidak seperti dulu yang masih jutek-jutekan. Dan yang dulunya biasanya manggil lo gue sekarang jadi aku kamu. Tapi tidak lama kemudian dia ternyata sakit dan gak masuk sekolah selama 1 minggu, ketika dia masuk aku langsung ngepoin dia. “Kok seminggu ini kamu gak masuk Al, kamu sakit apa?” tanyaku. “Aku kena cacar Dan” jawabnya. “lh kok udah masuk sekolah emang udah gak sakit?” Tanyaku lagi. “Tenang udah gak kok, kalo kelamaan aku takut ada yang ngangenin aku” jawabnya dengan nada agak nyindir. aku yang hanya tersenyum karena tersipu malu. Aku setiap hari jadi memikirkan dia, karena dia selalu ada bersamaku aku jadi berfiikir apa aku suka sama dia? Aku hanya tersenyum hingga Adzam datang dan menegurku yang sedang melamun. “Dan dari tadi kok dilihat-lihat kayaknya senyum-senyum aja nih lagi mikirin siapa sih? Lagi mikirin si Alya yah” tanya Adzam “eh, gak kok” jawabku singkat. “alah Dan jangan bohong deh aku tau kamu pasti lagi mikirin Alya kan? Kamu suka ya sama dia?” Tanya Adzam yang penuh dengan kepo. “Iya sih aku lagi mikirin Alya, kayaknya aku suka deh sama dia, gimana enggak dia itu baik, cantik, pinter” jawabku jujur. “Ya udah nyatain aja perasaan kamu ke dia pasti dia juga suka sama kamu” usulnya. “Iya deh Dzam besok aku coba doain ya Dzam” pintaku “iya tenang aja” jawabnya. Di esok harinya aku mencoba menemui Alya, aku coba ajak dia berbincang terlebih dahulu, agak-agak nyindir. “oh ya Al kita kayaknya kita semakin hari semakin deket aja ya, padahal kan dulu kita suka berantem” kataku yang mengawali perbincangan “iya Dan padahal dulu kamu itu jutek loh hehehe” sahutnya dengan tertawa. “Al, kayaknya aku punya perasaan deh ke kamu” kataku “maksud kamu apa Dan” Tanyanya yang agak bingung “ya perasaan suka, aku itu suka sama kamu, aku mau kita lebih dari teman, kamu mau kan jadi pacar aku?” Tanyaku yang agak gugup “sebenarnya aku juga punya rasa yang sama ke kamu, dan aku mau kok jadi pacar kamu” jawab Alya sambil tersenyum “serius Al?” tanyaku yang masih agak gak percaya “iya Dan aku mau jadi pacar kamu” jawab Alya, dan ternyata Adzam nguping dari belakang dan mengejutkan kami berdua “cie cie jadian selamat ya” kata Adzam, kami berdua hanya tersipu malu “alah Adzam kamu ini nguing ternyata ada-ada aja kamu” kataku. Dan sampai sekarang aku masih menyayangi Alya. --- Silent love Namaku Perempuan Sejati, semua orang memanggilku Puan, mungkin dulu orangtua memberiku nama itu karena aku anak perempuan satu-satunya, kedua kakakku laki laki, Andhra dan Bryan. Aku sekolah di sebuah SMA yang jaraknya sekitar 6 km dari rumahku, tiap hari aku naik sepeda motor Scoopy turun temurun dari kak Andhra dan kak Bryan. Pagi itu masih terlalu sepi aku sudah sampai di sekolah, terlihat bu kantin masih merapikan jajan dagangannya. Aku masuk kelas 2 biologi 1 bangku pertama tepat di deretan kedua dari kiri. Bangku ini kurasa paling nyaman karena bisa menyerap pelajaran dengan jelas waktu guru menerangkan, tapi risikonya aku harus menjadi murid yang manis tanpa berisik jika tidak ingin dimarahi guru… heemmmm tapi menguntungkan juga, nilai nilaiku lumayan bagus. “Ooh…ooo” aku mendapati setangkai bunga mawar putih di atas bangkuku. “Siapa ya…” belum sempat kutemukan jawabannya, terdengar seseorang dari belakang menyapaku. “Selamat pagi Puan”, dengan senyum lebar aku melihat Dion memandangku, sementara Farel teman sebangku Dion bergayut di pundak Dion sambil mengulum senyum. Aku bergegas menghampiri Dion, dalam hatiku pasti Dion lah yang meletakkan mawar putih itu. “Kamu…” aku setengah berbisik di hadapan Dion sambil menunjukkan mawar putih di tanganku. Dion lagi lagi tersenyum padaku, belum sempat aku mendapatkan jawaban, tiba-tiba bel masuk berbunyi, aku segera berjalan ke arah bangkuku. Sejenak sebelum pak Irwan guru biologi menerangkan bab 3, aku menoleh ke belakang, ya ampun lagi lagi Dion tersenyum padaku, dan kali ini lebih berani, dia memberikan ciuman jauh dengan tangannya. “Maunya apa sih anak itu” gerutuku dalam hati, “kenapa harus dia sih… kenapa bukan…” uupppsss kayaknya aku mulai ngacau. Aku segera membenahi pikiranku yang mulai kemana-mana sebelum ketahuan pak Irwan. Akhirnya selesai juga pelajaran kimia yang rumus rumusnya membuatku semakin pusing. Bel istirahat berbunyi, anak-anak biologi 1 mulai berhamburan ke luar, mungkin cacing cacing di perut mereka mulai bernyanyi, perutku pun mulai unjuk rasa minta diisi, aku bergegas ke luar, belum lagi nyampe di pintu, kembali kudengar suara Dion berbisik tepat di samping telingaku. “Ngebakso yuukkk”, sejenak kuhentikan langkahku, dan melihat ke arah cowok yang berdiri di sampingku. Ku mencoba menenangkan pikiranku, ingin rasanya aku pelototi matanya yang tetap memandangiku, ketika kupalingkan muka dan meneruskan langkahku, tiba-tiba serasa ada sesuatu yang menghentikan langkahku, entah sengaja atau tidak Dion menarik tanganku, seketika itu rasanya aku ingin marah meluapkan kekesalanku, tapi lagi lagi aku tahan amarahku, kali ini Dion mencoba membuat hatiku melupakan kekesalanku, Farel yang dari tadi kulihat masih duduk berdiri menghampiri Dion. Tak pikir Farel akan menegur temannya itu, ternyata dia malah berdiri di samping Dion dan mengembangkan senyumnya yang manis kayak gula Jawa. “Hemmm kenapa bukan dia?”. bisikku dalam hati. Farel bukan Dion, Farel cowok pemalu dan belum pernah aku melihat dia dekat sama cewek, padahal kalau dipikir-pikir banyak juga yang naksir dengan cowok itu, termasuk aku sih… diam diam aku berharap Farel memperhatikan aku, sikap pemalunya itu membuatku penasaran. “Puan…” tiba-tiba suara Dion membuyarkan lamunanku. Aku masih melihat Dion dan Farel berdiri di depanku. “Nanti pulang sekolah sama sama ya” katanya sekali lagi. Tanpa jawaban aku hanya menggelengkan kepalaku, rasanya aku sudah bisa membayangkan pasti Dion akan berusaha mengungkapkan perasaannya. “Puan… Perempuanku…” lagi lagi Dion menggodaku. “Aku traktir kamu es campurnya pak Brewok mau ya…” Dion kembali merayuku, rasanya memang enak siang panas kayak gini minum es campurnya pak Brewok langganan anak anak sepulang sekolah. Aku tetap bertahan tak memberikan jawaban, akhirnya Farel yang dari tadi cuman senyum senyum ikutan bicara. “Aku yang traktir deh” Farel mencoba ikut membantu Dion mengajakku. Sejenak aku terdiam akhirnya bel istirahat pun berakhir. Pelajaran Bahasa Indonesia berjalan dengan tenang, semua siswa sibuk membuat puisi bertema Perjuangan. Akhirnya bel pulang pun berbunyi, aku berharap Dion melupakan tentang ajakannya, namun belum sempat aku beranjak dari tempat dudukku, Dion sudah berdiri di sampingku. “Puan kamu duluan sama Farel ya, nanti aku menyusul” ucap Dion sambil buru buru pergi. “Ada apa dengan anak ini” bisikku pelan. Aku segera beranjak dari dudukku dan berjalan ke luar. Di depan pintu Farel sudah menungguku. Entah mengapa perasaan ini jadi kacau, jadi salting (salah tingkah?), Yang ada di hadapanku bukan Dion, tapi Farel, cowok yang selama ini mengisi lamunanku. Rasanya senang bercampur dag dig dug berjalan di sampingnya, sepanjang perjalanan banyak kebisuan yang menemani kami berdua, sesekali kulihat Farel melindungiku dari banyaknya motor yang lalu lalang. Sesampainya di warung es pak Brewok tak kulihat Dion di sana, menurut Farel Dion harus jemput adiknya dulu di rumah temannya. Dalam hatiku aku berharap Dion tidak datang, biarlah hanya aku dan Farel melewatkan siang ini dengan semangkuk es campur pak Brewok yang menyegarkan tenggorokanku. Sepuluh menit berlalu, masih tak kulihat kedatangan Dion. Kulihat Farel tampak tenang dan sesekali mencuri pandang padaku, dan itu membuat jantungku makin berdebar. Cowok itu sekarang ada di depanku, dengan senyumnya yang khas Farel membidik jauh ke dalam hatiku, entah mengapa perasaan yang ada di hatiku ini sama dengan perasaannya, kuharap demikian. Aku menjadi serba salah di hadapannya, dalam kebisuan itu aku berharap Dion datang dan meramaikan suasana. Namun sampai es campurku mau habis, Dion belum juga terlihat. Dengan alasan takut telat pulang ke rumah, akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku. Farel segera menyusulku setelah terlebih dahulu membayar 2 mangkuk es campur. Sepanjang perjalanan kami tetap membisu, hanya sesekali kami bicara. Entah mengapa bibirku rasanya sulit untuk bicara, apalagi Farel yang memang dasarnya cowok pemalu. Braaaakkk… dan tiba-tiba sebuah sepeda motor nyaris menyerempetku, tanpa kusadari Farel menarik tanganku dan membawaku menepi. Terlihat dia kembali dan memaki pengendara motor yang gak punya aturan itu. Aku masih tertegun melihat kejadian itu, Farel ternyata begitu melindungiku. “Makasih ya” bisikku begitu melihat Farel datang menghampiriku. “Kamu gak apa apa” Farel mencoba menanyaiku, aku lihat ada kekhawatiran mendalam di matanya. Farel menawarkan mengantarku ke rumah, bagaimana bisa kutolak, kesempatan ini yang selalu kuimpikan bisa bersama dengan cowok pemalu itu, meski aku bisa membayangkan banyak kebisuan yang akan terjadi, namun detak jantung ini menjadi irama kebisuan kami. Kami akhirnya memutuskan naik becak saja yang lebih santai dan tentunya lebih romantis donggg. Heemmmm siang yang panas seakan tidak terasa panas, hatiku terasa damai bersamanya. Sesekali mata kami beradu, dan itu membuat kami semakin membisu, entahlah hanya hati kami yang saling bicara. Sampai akhirnya sampailah aku di g**g masuk rumahku, aku minta berhenti di situ dan berjalan ke rumah. Mungkinkah selama perjalanan pulang ke rumahnya, Farel juga akan memikirkan siang yang kami berdua lalui hari ini… semoga… Pagi yang tidak biasanya, mendung menggantung di langit, aku segera bergegas berangkat sekolah setelah menyelesaikan sarapan nasi goreng kornet kesukaanku, mamaku paling tahu kesukaanku dan nasi goreng kornet bikinan mamaku menjadi favorit makananmu. Sepuluh menit aku sudah sampai di kelasku, masih sepi, tapi mendung membuatku berangkat lebih awal, takut tiba-tiba hujan. Kulihat tas Farel sudah di atas bangkunya, tapi mana dia…bisikku dalam hati, mungkinkah masih ke kantin. Aku berjalan keluar kelas setelah menaruh tas sekolahku. Baru saja aku keluar kelas, tampak Farel berjalan menuju kelas, begitu melihatku dia bergegas menghampiriku. Aku pura-pura tak memperhatikan kehadirannya. Padahal dalam hatiku ingin sekali aku sapa dia. “Pagi Puan…” sapa Farel dengan senyumnya yang manis, semanis dan secerah pagi ini. Aku pun membalas dengan senyuman kecil, senyum yang tersipu malu. Angin bertiup lembut membelai rambutku dengan perlahan, mengurangi rasa gugup yang ada di hatiku. “Itu Dion” tiba-tiba Farel menunjuk ke arah Dion yang tengah berjalan sambil menenteng tas nya. sejenak mata kami tertuju pada kedatangan Dion. Aku jadi berpikir Dion akan membuat ulah lagi dan menggangguku seperti biasanya. Kuharap Dion tidak akan menggodaku disaat saat seperti ini, saat aku mulai merasakan kehadiran Farel di hatiku. “Hai bro… gimana kemarin” Dion tiba-tiba bertanya sambil menepuk pundak Farel. Heran juga biasanya Dion begitu melihatku seakan tidak peduli dengan yang ada disekitarnya, tapi kali ini dia hanya memberikan senyum padaku tanpa menggangguku sama sekali. Tapi memang lebih baik seperti itu, bukankah ini yang aku inginkan? Bisikku dalam hati. Farel merangkul pundak Dion dan berjalan menjauh lima langkah dari tempatku. Entah apa yang dibicarakan, sangat pelan dan ku tak dapat mendengarkannya. Kemudian mereka kembali ke arahku. Farel melepaskan tangannya dari pundak Dion, seakan memberikan isyarat kepada Dion akhirnya Dion meninggalkan kami berdua, sebelum berlalu Dion tersenyum padaku dan memberikan jempol ke arah Farel. Aku menjadi bingung dengan ulah kedua cowok itu. Bel masuk berbunyi dan aku langkahkan kakiku ke arah kelas dan tiba-tiba serasa tanganku ada yang menarik. Kuhentikan langkahku, Farel menarik tanganku dan menyelipkan surat di jemariku. Aku mencoba mencari tahu penjelasan dari wajah Farel, surat apa itu. Belum sempat aku berpikir, Farel bergegas masuk kelas duluan setelah memberikan surat padaku. Rasa penasaran ingin membuka isi surat itu, sampai akhirnya aku pun bisa mencuri kesempatan untuk membacanya. “Dear Puan…ketika kau membaca surat ini, sebelumnya aku minta maaf telah menyimpan perasaan ini berlama-lama dan tak bisa mengungkapkan kepadamu, mungkin kalau bukan ide Dion aku tak pernah punya keberanian untuk ungkapkan ini. Puan… Perempuan…ku, bisakah aku ungkapkan rasa yang terpendam dalam hatiku ini, rasa yang semakin hari semakin kuat dan slalu ingin bertemu denganmu…, Mungkin ini cinta atau perasaan yang Sulit ku ungkapkan, aku hanya ingin jujur dalam hatiku bahwa aku telah jatuh hati padamu, namun aku tak bisa ungkapkan itu… Biarlah rasa ini tetap tumbuh dan bersemayam di hatiku, hingga tiba saatnya aku bisa ungkapkan dan berterus terang padamu … kuharap perasaan kita sama… rasa yang masih terpendam… diam dan hening, biarlah hati kita yang akan bicara… bahwa ada kamu dalam hatiku, begitupun kuharap hanya ada aku dalam hatimu… cinta gak butuh pengungkapan, Cinta adalah kepercayaan dan kejujuran hati… tunggulah aku jika saatnya tiba, aku kan datang tuk ungkapkan dan menyatukan cinta kita yang terpendam… salam sayang Farel”. Aku memasukkan surat yang k****a dalam tasku. Ku mencoba menoleh kebelakang, dan lagi-lagi mata Farel tengah memandangku. “Rasa ini sama Farel… masih terpendam dalam lubuk hatiku yang terdalam, berharap suatu saat kau akan datang dan mengungkapkan padaku, biarlah sementara cinta ini terpendam dalam hati… mungkin mata kita yang bisa saling isyaratkan bahwa… aku juga sangat menyayangimu…” bisikku dalam hati. Farel tersenyum seakan tahu jawaban isi hatiku, aku pun membalas senyumannya, mungkin hanya aku dan kau yang tahu kita saling menyayangi, dan semoga Tuhan akan merestui cinta kita… dan akan selalu abadi dalam hati kita. Hari yang indah… terima kasih Tuhan telah memberikan cinta yang murni ini, semoga akan selalu terjaga sampai nanti… --- Lupakan dan pergi lah dengan baik-baik Awal pertemuan ku dengan mu, tepat saat pertama kali ku menginjakkan kaki di kota tangerang ini, sampai sekarang ku masih mengenal mu sebagai sesosok kakak dan pria yang hebat, Sungguh aku Kagum terhadap mu. Aku sadar mungkin ini kesalahan dari awal ku mengenal mu karna ku sudah menaruh rasa kagum terhadap mu. Tapi ku tak pernah mengerti tentang arti semua ini,,, Sungguh aku sangat lelah atas sikap mu selama ini terhadap ku. Sudah ku memberanikan diri tuk mencari sebuah satu kepastian,namun hasil nya selalu nihil. Kamu tak pernah membalas ataupun menjawab pertanyaan ku itu. Namun hanya 1 yang ku ingat dari ucapan mu kepada ku, ”ku menyukai mu dan ingin dekat dengan mu karna kamu tidak Neko-Neko”(matre). Banyak orang yang berkata terhadap sikap dan sifat mu ,namun ku tak perduli mereka berkata apa tentang mu,aku tetap menyayangi mu walaupun aku tak tau bagaimana balasan nya terhadap ku… Ku sadar kamu memang sesosok orang yang hemat,Dingin,dan tak ingin berkorban terhadap sesuatu. Namun ku tetap saja tak pernah peduli ,walaupun terkadang sakit saat kau acuhkan. Dan kini baru ku sadar mungkin sikap mu itu hanya untuk sementara dan mungkin saja kau tak pernah mengharapkan ku untuk singgah di kehidupan mu. Ku hanya ingin tau bagaimana perasaan mu terhadap ku? Hanya 1. 1.Kepastian 1.Kejujuran 1.Penjelasan dan 1.Pengorbanan Walaupun ku tak yakin akan hal itu…. Dan kini ku mulai ingin selalu bisa jauh dari bayang-bayang mu di kehidupan ku,,,, Namun Hati ku selalu saja menolak untuk melupakan mu di kehidupan ku,,, Kini Hati ku sudah dingin dan membeku. “Ya Allah tolonglah hamba mu yang tak berdaya ini… Jika memang dia adalah orang yang baik untuk ku,maka dekatkanlah dia dengan ku,,,, Namun jika memang dia orang yang buruk untukku,maka suruhlah dia untuk melupakan ku dan biarkanlah dia pergi dengan baik-baik dari kehidupan ku. Tanpa meninggalkan sedikitpun luka di hati hamba ,,,” Learn more Ku ingin melihat respon kamu terhadap ku,, Jika memang sampai saat ini aku tak bertemu untuk serring dan bercanda dengan mu di saat-saat yang tertentu seperti dulu lagi.., Apa mungkin kamu akan meraskan kehilangan,dan menyesal karna kamu tak sempat untuk menjawab pertanyaan ku itu….!!! Namun ku tak akan pernah untuk menyalahkan mu, Atas sikap mu yang kini menjadi sesosok wanita yang dingin dan sulit untuk membuka hati bagi orang yang ingin lebih dekat dengan ku. Hanya ucapan terima kasih yang bisa ku ucapkan untuk mu,, Atas semua kebaikan mu terhadap ku selama kamu mengenal ku. Semoga kita bisa mengerti satu sama lain …. Dan semoga di suatu saat nanti kita bisa di pertemukan lagi.. Namun jika Allah tak menghendaki nya,semoga kita di berikan dan di pertemukan dengan Jodoh kita yang baik. Teruntuk orang yang menjalin hubungan tanpa status. Cerpen Karangan: Yustiana Dewi Saritan Blog: www.myDiaryQ.blogspot.com e-mail: yustianads[-at-]gmail.com twitter: Nanda Uthie Yds@uthie Yds facebook: Uthieana Yds Talaga,Cikupa.Tangerang ini merupakan cerpen pertama yang ku buat,,, mudah-mudahan kalian semua senang membaca karya pertama ku,, ya walaupun pasti masih banyak sisi yang harus di koreksi dan di perluas lagi dalam pemilahan kata.. maka dari itu saya meminta kritik dan saran setelah kalian membaca cerpen ku…. terima kasih sudah mampir untuk membaca cerpen ku ini…. Salam Semangatzzz…. --- Arti malaikat untuk bintang Sorot matanya berubah saat aku mengatakan maksud ucapanku. Memang berat bagiku untuk menyampaikan pada ayahku bahwa aku ingin bersekolah di kota besar dan meninggalkan desa ini. Tetapi dalam sekejap sorot matanya berubah menjadi seperti semula, dan memperbolehkanku pergi. Setelahnya, ia pun pamit untuk pergi ke sawah, dan meninggalkanku dengan pikiranku. Aku duduk di halaman depan rumahku, menghadap ke sawah jagung milik keluargaku. Desa yang telah bersamaku selama 17 tahun ini, terasa begitu damai. Semilir angin berembus, memainkan rambutku yang semakin panjang. Entah kenapa, semenjak aku menyampaikan keinginanku kepada ayah, semua hal dihadapanku menjadi penuh oleh memori masa kecilku. Aku kembali teringat saat aku pertama kali pergi ke sawah dan terjatuh karena terlalu bersemangat. Atau saat membakar jagung di halaman rumah, dan memandangi bintang yang bertaburan. Atau saat aku berlarian menemui ayah dan ibu, karena dijahili oleh salah satu teman sekolahku, meskipun ayahku hendak pergi. Ayahku yang lembut membelai kepalaku, membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja. Memikirkan semua itu membuat air mataku mengalir, dan langsung kuhapus dengan cepat. Aku bangkit dan masuk ke dalam rumah, mungkin membantu ibu akan menyenangkan. Pada malam harinya, ayah mengajakku pergi. Saat aku bertanya tentang tujuan kami, ia hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanan. Ya, ayahku yang selalu punya hal yang menarik apabila ia merahasiakannya. Aku penasaran dengan tujuan kami. Setelah beberapa waktu, kami pun berhenti di sebuah tempat berumput, tepat di bawah bintang. “Sini, duduklah nak” kata ayahku. Aku mengikutinya sambil terpana melihat langit bertaburkan bintang. Bahkan awan sepertinya enggan menutupi bintang, membiarkannya bersinar. Aku duduk di sebelah ayahku, sambil tetap menatap ke langit. “Gimana langitnya? Bagus tidak?” tanya ayahku. “Ini keren banget Yah, nggak ada awannya sama sekali, keren banget” jawabku. Ayah hanya terkekeh mendengarnya. Ia membiarkanku menikmati pemandangan, sebelum akhirnya berbicara. “Nak, kamu mau tahu kenapa nama kamu itu Alula?” tanya ayahku. Aku pun mengalihkan pandanganku dan menggeleng. Sambil tersenyum ia berkata, “Dulu, waktu Ibumu lagi mengandung, setiap hari dia kesini. Menatap langit yang sama indahnya seperti ini, tak pernah terlewat satu haripun. Dia hanya akan berhenti datang saat hujan turun, karena bintangnya tak terlihat. Karena itulah namamu Alula nak, itu artinya bintang. Karena kami selalu berharap, bahwa kamu akan memancarkan cahaya yang lebih terang dari kami. Dan perihal tadi pagi, tidak perlu kau cemaskan, pegilah dan capai mimpimu. Ayah tidak akan memaksamu untuk tinggal disini lagi, kau bebas menjadi apapun yang kau mau” kata ayahku. Dan tanpa kusadari, air mataku mengalir deras, meskipun sudah susah payah kutahan. Ayah perlahan mengusap air mataku, dan membiarkanku menangis untuk beberapa saat. Malam itu kuhabiskan dengan mengenang masa kecilku bersama ayah, tertawa bersama mengingat hal konyol yang pernah kami lakukan. Lalu membicarakan tentang bintang, alam semesta, dan planet-planet sampai mataku tak lagi kuat untuk bertahan. Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Beberapa hari kemudian, hari yang ditunggu pun tiba. Hari keberangkatanku ke kota. Ayah, Ibu dan beberapa teman sekolah ikut mengantarkanku ke stasiun, karena aku akan pergi menggunakan kereta. Kusalami satu persatu dari mereka. Aku memeluk lama teman-teman dekatku, merasa sedih karena harus berpisah dengan mereka. Lalu aku memeluk Ibuku yang sudah tak bisa menahan tangisnya, melihat anak perempuannya yang akan pergi jauh. “Berjanjilah nak, ketika kau sudah pergi jauh dan menjadi orang hebat, kau akan kembali pulang kesini” ucapnya sambil menangis. Kuanggukan kepalaku, mengukir janji tersebut di kepala. Dan yang terakhir, aku menyalami tangan ayahku. “Jangan khawatirkan kami nak, pergi raih mimpimu, kembalilah saat kau merasa kangen dengan rumah. Kami akan selalu ada disini menunggumu. Semua akan baik-baik saja, dan akan selalu begitu” ucapnya sambil mengelus kepalaku. Sontak aku langsung memeluk ayahku, membuat basah baju ayahku. Sungguh, kata-kata itulah yang membuatku bertahan, membuatku berdiri saat semua orang menjatuhkanku. Aku tak peduli apa kata orang, aku akan menjadi peneliti bintang demi orangtuaku. Demi ayahku yang sudah menunjukkan indahnya langit dan bintang. Demi ibuku yang memberikan pengertian hidup. Aku akan membuat mereka bangga. Maka sejak hari itu, saat aku pergi dari desa kelahiranku, aku belajar sekeras mungkin. Dan lihatlah sekarang, seorang wanita berumur 24 tahun, dan magang di salah satu tempat penelitian bintang terkenal. Aku ingin memberi kejutan untuk orangtuaku, dengan beberapa gambar bintang yang kudapat. Aku yakin mereka akan senang. Aku lantas pergi ke halaman belakang rumah kecil milikku, duduk di salah satu kursi rotan. Aku hendak membaca surat yang baru saja datang, sayangnya tidak tertera alamat pengrimnya. Kubuka amplop tersebut, mengeluarkan kertasnya, dan terkejut melihat tulisan di surat itu. Ini pastilah ditulis oleh Ibu, pikirku. Segera k****a isi surat itu, dan termangu membacanya. Kubiarkan kertas itu melayang jatuh. Angin seperti enggan berembus, burung-burung enggan bernyanyi. Ayahku telah pergi, menjemput janjinya lebih dulu. Dan aku tak ada di sisinya, bersamanya disaat terakhirnya. Awan seperti ikut bersedih, menurunkan hujan deras. Membasahi seluruh tubuhku, aku tak peduli. Rasa sakit di hatiku mengalahkan dingin yang menusukku. Ayahku memang selalu benar, tapi untuk yang satu ini, ia salah besar. Segalanya tak akan pernah baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN