Episode 41

2431 Kata
Mawar virtual Aku dan Rindu duduk di atas batu besar, di kaki gunung tempat favorit kami saat ada hal yang mengganggu. Tempat yang selalu jadi objek pelepas pilu saat aku atau dia sedang diterpa masalah. Dia bilang gunung adalah tempat paling sejuk yang bisa menetralkan hati yang luka. Dia memang benar, gunung punya banyak hal untuk dinikmati, mulai dari anginnya yang membelai rambut, hingga makhluk hidup yang ada di sekitar membuat suara-suara merdu. Kali ini hatinya kembali terluka karena kekasih barunya pergi meninggalkan dia sendirian di stasiun kereta malam itu. “Aku tak pernah menyangka kisah cintaku berakhir dengan hal yang sama seperti dulu. Aku pikir, kali ini kisahku akan berbeda dari sebelumnya, karena menemukan pria yang aku idam-idamkan selama ini. Nyatanya pikiranku salah, pria itu sama seperti pria lainnya yang pernah hidup dalam hatiku” Rindu berusaha menatap langit di sela-sela pohon pinus. Dia terlihat menahan air yang seakan ingin keluar dari kelopak matanya yang bulat. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ini bukan kali pertama dia mengatakan hal itu padaku. Setiap kali dia putus dari kekasihnya kata-kata itu yang selalu dia katakan padaku “tak ada kisah yang sempurna dalam hidup ini. Kecuali, kisah dalam drama korea yang sering kamu tonton. Jika kamu terus menginginkan kisah cintamu sama seperti di drama, maka setiap satu bulan sekali kamu akan mengajakku kesini dan menceritakan hal yang sama.” Rindu, selalu ingin kisah cintanya seperti dalam drama. Mendapatkan pria yang pengertian, berwajah tampan, serta selalu bersikap romantis padanya setiap saat. Rindu anak yang manja, meski umurnya sudah dua puluh tahunan tapi sikapnya masih sama seperti anak tujuh belas tahun. Tak ada pria dewasa yang tahan dengan sikap manjanya itu kecuali aku, temannya sejak SMA yang sudah tidak aneh dengan sikapnya itu. Rindu menatapku dengan mata yang sembab setelah diderai air mata yang sejak satu jam tadi dia tahan “aku tahu. Tapi..” dia menangis sambil menyandarkan kepalanya di atas Pundakku. dia menghentikan kata-katanya itu. “Tapi apa?” “Tapi bisakah aku dapat pria yang aku harapkan. Sekali.. saja. Kenapa tuhan jahat sekali padaku. Padahal, apa susahnya memberikan pria idaman itu padaku sekali saja seumur hidupku. Tidak tampan juga tak masalah, asal mengerti diriku” Dia masih saja menangis, setiap orang yang melintas menatapku sinis, mungkin mereka pikir aku yang menyakiti Rindu. “Bukankah, satu bulan yang lalu pria idaman itu datang padamu?” aku menatap ke arahnya yang sibuk menyeka air matanya dengan tisu. “siapa? Gilang maksud kamu?” “Iya” jawabku singkat. Rindu membenarkan posisi duduknya. Dia duduk dengan tegak sambil menengadahkan kepalanya ke atas “awalnya dia memang seperti tipeku, baik ramah, tampan dan juga pengertian. tapi setelah berpacaran dia tidak seperti Gilang yang aku kenal.” Aku kembali tersenyum mendengar perkataannya “kamu itu hidup di dunia nyata bukan di drama. Jadi cobalah untuk menghadapi dunia yang penuh dengan kejutan.” “Kejutan?” dia menatapku dengan kerutan di dahinya. “Iya kejutan, bukannya gilang yang kamu suka itu pernah jadi pria idaman kamu. Lalu, tiba tiba berubah menjadi gilang yang sebenarnya. Itu bisa disebut kejutan kan?” ucapku, menatap kedua bola matanya yang masih menatapku kebingungan. Beberapa saat kami hanya saling menatap. Dia mungkin tak punya kata-kata lagi untuk menjawab pertanyaanku. “mmm, jadi kita akan terus duduk di sini?” tanyaku mencoba menormalkan suasana aneh yang terjadi antara aku dan dia yang saling menatap. Dia menatap lurus ke depan. Sesekali dia menutup matanya menikmati angin yang berhembus cukup kuat kearahnya “tunggu sebentar lagi. Aku masih menikmati suasana serta anginnya.” Hari ini, angin memang bertiup cukup kencang. tak seperti beberapa bulan lalu saat aku dan dia datang kesini. Beberapa kali aku melihat rambutnya yang panjang berkibar dengan indah. membuatnya semakin terlihat cantik, itu adalah hal yang paling aku suka. melihat wajah sampingnya yang indah saat mendengarkan cerita hubungan dia dengan kekasihnya, meski sebenarnya cerita itu menyakitiku, tapi aku tetap senang masih bisa bertemu dan memberikan bahu untuk bersandar saat dia sedang rapuh. “Fajar. Kamu masih menyukai cinta pertamamu itu?” tanyanya, tanpa menatap ke arahku. Tiba-tiba saja dia menanyakan hal itu. Hal yang tidak pernah lagi dia tanyakan sejak empat tahun lalu saat kami masih sma, saat berumur 18 tahun. Sebenarnya wanita yang aku suka itu adalah rindu. Tapi, dia tidak mengetahui semuanya. Yang dia tahu wanita itu bernama putri, wanita paling populer di sekolah saat itu. “Iya” Aku mengangguk pelan sambil menatap kearah matanya yang tertuju pada sesuatu. “Selama itu? sejak kita kelas tiga sma kamu masih menyukainya? Kenapa kenapa kamu bisa selama itu menyukainya?” kali ini dia mengubah posisi duduknya. Wajahnya kini tepat di sampingku. Dia terlihat sangat antusias ketika menanyakan hal itu. Aku menatap matanya yang berbinar itu “kamu tahu cinta pertama itu sulit dilupakan, terlebih aku masih menyukainya sampai sekarang. Bagiku dia selalu membuatku jatuh cinta setiap kali aku menatapnya.” Rindu mengangguk lalu tersenyum, entah kenapa pipinya memerah, tapi biasanya aku melihat dia tersenyum seperti ini saat dia melihat adegan romantis di sebuah drama favoritnya. Rindu memang wanita yang aneh. Dia bisa tiba-tiba tersenyum setelah menangis seperti itu, tapi itulah kenapa aku menyukainya. “Lalu, kenapa kamu tidak pernah menyatakan perasaan itu jika masih menyukainya?” Aku menarik nafas panjang “waktu yang selalu membuat aku tak bisa mengatakannya.” “Waktu?” “iya waktu, waktunya selalu tidak tepat. ketika aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya dia selalu dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.” Dia memegang wajahku, lalu mengarahkannya tepat di depan wajahnya membuat jantungku berdetak tak beraturan “kamu tahu, Itu hanya alasan kamu saja.” Selama beberapa detik aku terdiam menatap wajahnya yang kini begitu dekat dengan wajahku. Dia selalu melakukan itu ketika aku tak percaya diri. Dia bilang aku hanya akan tersadar dan mulai percaya diri ketika dia melakukan itu. Sejujurnya perkataannya itu benar. Entah kenapa perlakuannya itu bisa membuat aku percaya diri. Aku menggelengkan kepala, lalu melepaskan tangannya dari wajahku “itu bukan sebuah alasan, itu fakta yang aku dapatkan. jika aku mengutarakan perasaanku pada seorang wanita yang sedang tidak baik-baik saja, itu tidak sopan bukan? Lagi pula, kemungkinan aku ditolak oleh dia lebih besar. karena mungkin saja dia berpikir aku tidak bisa mengerti kondisi perasaannya.” “itu kan hanya pikiran dan ketakutan kamu saja, mungkin dia punya pikiran yang berbeda. Mungkin juga dengan mengutarakan perasaan kamu itu membuat dia jadi lebih baik dan mungkin kehadiran kamu itu yang paling baik buat dia.” Aku tak bisa berkata apapun, Rindu memang benar. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang dia rasakan, apa yang akan terjadi jika aku mengatakan perasaanku padanya ketika ada kesempatan? lagi pula, jika aku terus menunggu waktu yang tepat, mungkin dia akan memiliki kekasih baru lagi. Aku membenarkan posisi duduk, mengatur nafas dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perasaanku. Aku membuka ponsel, mencari gambar sebatang bunga mawar, karena hari ini aku tidak merencanakan untuk menyatakan perasaanku kepadanya seperti bulan-bulan lalu, maka hanya itu saja yang aku bisa. Memberikan dia bunga mawar secara virtual. Aku memberikan ponselku padanya dan memperlihatkan setangkai bunga mawar merah memenuhi layar ponsel. “apa ini?” “Itu mawar.” Dia tertawa “iya aku tau ini gambar mawar, tapi untuk apa?” “Rin. sebenarnya aku menyukaimu bukan putri. Aku mengarangnya agar kamu tak curiga. aku selalu mencoba untuk mengungkapkan perasaanku setiap kali kita datang ke tempat ini. Tapi, aku selalu takut rin. Takut membuat kita jauh, takut kamu pergi dan hubungan kita menjadi runyam hanya karena aku jatuh hati padamu. Jadi, hari ini aku mencoba mengungkapkannya seperti katamu dan itulah kenapa aku memberimu bunga mawar virtual itu” aku memejamkan mata. Aku tak berani menatap wajahnya. Aku takut melihat ekspresi wajahnya. Aku juga takut dengan apa yang akan dia ucapkan. “Aku tahu” jawabnya singkat. Jawaban yang tidak pernah aku kira sebelumnya, padahal selama ini aku kira dia percaya aku menyukai putri, lalu kenapa dia mengatakan bahwa dia tahu selama ini aku menyukainya. Aku menatap matanya, tak ada yang bisa aku katakan selain menatapnya dengan wajah bingung. aku tahu semuanya semenjak kamu bilang 4 tahun yang lalu. Awalnya aku menanyai putri karena aku ingin membantu kamu. tapi, saat menanyai putri aku tahu sesuatu. waktu itu kamu bilang beberapa kali pulang bersama putri, tapi Saat aku memberitahu nama fajar nugraha dia tidak mengenalmu sama sekali. itu berarti kamu membohongiku kan? seharusnya jika kamu memang pulang bersamanya, dia pasti tau namamu atau paling tidak nama depanmu kan?” Aku mengangguk pelan “iya itu masuk akal. tapi, seharusnya kamu berpikir aku menyukai perempuan lain selain putri. bukan kamu?” “pada awalnya aku juga berpikir begitu. dulu sewaktu aku meminjam ponselmu. Aku mencari semua kontak wanita di ponselmu, tapi aku tak menemukannya sama sekali selain aku dan ibumu. Tidak mungkin kan kamu menyukai ibumu sendiri?” Saat sma hingga hari ini dia memang sering meminjam ponsel. Aku tidak pernah curiga karena Aku tahu dia itu wanita yang ceroboh dan pelupa. jadi masuk akal jika alasanya meminjam ponselku karena lupa mencharge ponselnya. lagi pula, dia memang sering mengabari orang tuanya lewat ponselku. “tapi mungkin saja aku menyembunyikan wanita itu darimu. jadi seharusnya kamu tidak sepercaya diri itu mengatakan bahwa kamu mengetahui perasaanku” “Iya, itu juga alasan yang masuk akal. tapi aku punya bukti yang lebih kuat daripada itu” dia mengeluarkan sebuah kertas putih bertuliskan kata-kata yang pernah aku tulis sewaktu sma, saat dia pertama kali mengajakku ke tempat ini. Aku memang pria yang senang menulis perjalanan berhargaku di sebuah buku khusus yang selalu kubawa kemana-mana. Entah dari mana dia mendapatkan tulisan itu. yang aku tahu aku tak pernah memberikan tulisan itu padanya. Mawar di atas batu besar Sabtu 14 mei 2016 Hari ini dia membawaku ke tempat favoritnya. Kami duduk di sebuah batu besar, di tempat ini dia selalu tertawa dan terlihat bahagia ketika berada di atas batu besar ini. Hari ini aku membawa mawar, tapi aku tak berani memberikan bunga itu padanya, maka aku simpan di atas batu kesukaannya. Mungkin suatu saat nanti aku bisa memberikan bunga ini serta perasaanku padanya, bukan pada apa yang dia suka. Semoga. Begitulah isi kertas yang dia bawa dari salah satu buku lamaku. “Itu cukup membuat aku percaya kan?” Aku mengangguk, itu cukup kuat sebagai bukti bahwa dia mengetahui siapa wanita yang aku sukai. karena selama ini wanita yang membawaku pergi ke tempat seperti ini hanya rindu tak ada wanita lain selain dirinya. Meski sebenarnya aku merasa malu sekaligus bahagia dia mengetahui perasaanku. Aku diam sejenak berpikir sesuatu yang tak benar di antara kami. jika dia tahu aku menyukainya lalu mengapa dia mencintai pria lain? Apakah dia tidak menyukaiku? Atau bahkan dia sengaja mempermainkanku? “Jika kamu tahu aku menyukaimu kenapa kamu tak menunggu seperti diriku, atau jangan jangan kamu tidak menyukaiku?” aku memberanikan diri bertanya, meski takut sebenarnya. Tapi itu yang terbaik untuk ditanyakan dari pada hanya dipendam dan berakhir dengan aku pikirkan seharian. Dia turun dari atas batu, meski sedikit sulit tapi dia bisa melakukannya sendiri. Bukannya aku tidak gentle sebagai laki-laki, tapi dia memang sudah biasa turun sendiri dan selalu tak ingin kubantu. Aku juga mengikutinya turun mendekatinya agar aku dapat mendengar jawabannya dengan jelas. Dia membersihkan celananya yang agak kotor. “sebenarnya mantanku tak sebanyak apa yang aku ceritakan. Mungkin hanya ada 5 laki-laki yang benar-benar aku terima Perasaannya.” “lalu kenapa kamu mengajakku kesini setiap dua bulan sekali tepat di tanggal 14, jika kekasihmu tidak sebanyak yang selalu kamu katakan. Apalagi kamu selalu menangis setiap kali kita datang kesini” Wajahnya kini terlihat serius, dia menatap batu besar yang ada di belakang kami berdua “kamu tahu aku menangis bukan karena semua laki-laki itu. aku menangis karena kamu!” “aku? Kenapa?” “iya, semua tangisanku itu karena kamu tidak pernah mengatakan perasaanmu itu padaku. selama lima tahun ini aku selalu menyusun rencana untuk bisa menarik simpati darimu. aku pikir kamu akan menyatakan perasaanmu padaku, nyatanya kamu hanya menenangkanku, lalu mengatakan bahwa masih banyak laki-laki yang menyukaiku. Padahal bukan itu maksudku. aku ingin kamu berani mengatakan perasaanmu. itu juga lah alasan aku percaya bahwa laki-laki idamanku itu ada di dunia ini, yaitu kamu.” Aku tak percaya dia mengatakan semua itu. ternyata selama ini dia juga menyukaiku. Jadi selama ini penghalang aku dan dia itu adalah ketakutanku? Bodohnya aku, mungkin jika sejak dulu aku mengatakannya, saat ini dia sudah menjadi kekasihku atau mungkin lebih. “jadi hari ini kita resmi jadi sepasang kekasih?” tanyaku memastikan. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan bersamanya lagi hanya karena ketakutanku seperti dulu. “Tidak” dia menjawab dengan mudahnya, seperti tidak ada beban padahal dia baru saja mengatakan bahwa dia juga menungguku. “kenapa? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu juga menungguku selama ini? Apa aku terlambat? Atau jangan jangan ada laki-laki lain yang kamu sukai saat ini?” sejujurnya aku sangat kecewa dengan jawabanya itu, tapi aku tetap harus mendengar alasannya agar semuanya jelas. “Pertama. aku memang menunggumu selama ini, kedua. kamu tidak terlambat, ketiga. tidak ada laki-laki yang aku suka saat ini.” Aku mengerutkan dahi. Aku semakin tak mengerti ” lalu kenapa kamu menolakku?” Dia memberikan ponselku yang tadi aku berikan padanya untuk memberi sebuah mawar virtual “aku tidak menolak perasaanmu. Aku hanya ingin kamu memberiku bunga mawar asli, bukan mawar virtual, dan satu hal lagi. aku ingin kamu menggendongku sampai ke mobil seperti dalam adegan drama favoritku” ucapnya sambil tersenyum. Aku mengiyakan keinginannya menggendong dia hingga ke mobil. Sepanjang perjalanan menuju ke mobil dia tersenyum. Aku dapat melihat senyumannya dari sudut mataku, meski tidak terlihat jelas tapi, senyuman itu seperti senyuman yang tulus. “Apa kamu senang sekarang?” Dia tak menjawabnya. Dia malah menyandarkan kepalanya ke kepalaku diiringi tubuhnya yang terasa lebih ringan. “Kamu tidur?” tanyaku menghentikan langkah kaki. “sepertinya begitu. Sekarang mungkin aku sedang bermimpi di gendong pria idamanku. Jadi tolong lanjutkan saja perjalanannya, biarkan aku menikmati mimpi.” Ucapannya itu mungkin membuat pipiku memerah. Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakan pipiku menghangat. Aku menurunkan dia secara perlahan dari gendonganku, membuat dia terkejut. “kenapa kamu menurunkanku?” “Aku ingin kamu bangun dari mimpimu” ucapku menatap ke arahnya. “Kenapa? Kamu mau menghancurkan mimpiku?” “Tidak. Malah aku ingin mewujudkannya ke dalam duniamu” Dia tersenyum bahagia, senyumannya itu terlihat sangat manis, lebih manis daripada saat dia tersenyum pada kekasih lamanya. “Aku tak menyangka seorang fajar nugraha yang belum pernah pacaran bisa semanis ini” dia mendekat lalu memelukku erat. Pelukannya terasa hangat, pelukan yang sangat aku impikan selama ini. Pelukan yang mungkin jadi awal hari bahagiaku bersama wanita yang selama ini aku tunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN