Episode 42

4074 Kata
Mis annoying girl Kehidupan SMA terdengar menyenangkan untuk beberapa orang. Iming-iming masa paling indah selama hidup terus disuarakan tiap tahunnya. Orang bilang, pada masa ini remaja akan menemukan cinta sejatinya. Kalimat-kalimat itu masuk dalam hati seseorang, membuatnya sedikit menyingkirkan masa depannya untuk mendapatkan sebuah bukti. Apakah benar? Deru bising knalpot modifikasi menarik perhatian kerumunan murid di area parkir. Seorang pemuda baru saja selesai memarkirkan kuda besinya. Satu deret lurus dengan kendaraan lain. Jemarinya merapihkan rambutnya yang berantakan. Ia terlihat mengesankan dengan jaket ripped jeans, khas anak motor. Namanya Dirgantara, seorang murid di tahun pertama. Siapa yang tidak kenal dengan sosok itu? Namanya melambung tinggi ketika ia berhasil menjadi ketua tim futsal sekolahnya. Ia berhasil mengalahkan jajaran nominasi seniornya. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan Dirgantara jauh di atas rata-rata. Juga, Dirgantara memiliki wajah tampan. “Bisa engga sih jalan lihat-lihat?” Dirgantara menaikkan intonasi suaranya karena marah. Ia baru saja ditabrak gadis setinggi bahunya. Sesaat, mereka menjadi pusat perhatian sepanjang lobi masuk. Apalagi gadis itu diam dan sibuk memungut bukunya yang berserakan di lantai. Mengabaikan hal itu, Dirgantara memilih pergi tanpa berniat membantu. Pemuda itu duduk di bangku paling belakang, dekat dengan jendela. Ia membuang wajahnya ke pemandangan di luar. Kebetulan kelasnya ada di lantai dua. Pagi ini, seminggu setelah masa pengenalan sekolah, tapi Dirgantara belum memiliki seorangpun teman. Sementara di sekelilingnya, teman satu kelasnya sibuk berbincang, entah membicarakan apa. Dalam lamunannya, Dirgantara teringat siapa yang bertanggungjawab atas kedatangannya di sini. Seorang temannya membuat janji sepuluh tahun, atau seperti itu yang ia dengar. Selama sepuluh tahun setelah kelulusan SMP, mereka tidak boleh saling mencari, tidak boleh menghubungi, bahkan tidak boleh melihat sekalipun kebetulan. Dirgantara yakin tidak mampu melakukan itu kalau jarak mereka hanya puluhan kilometer. Ia memutuskan untuk pindah keluar kota. Meninggalkan semua hal yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya, dan menarik diri dari kehidupan. Mungkin itu juga yang menjadikan Dirgantara dianggap sombong. Mereka tidak mengenalnya lebih jauh, tentang apa yang membuatnya seperti ini. Sebuah tangan membantunya merapihkan buku yang berserakan. “Lo gapapa?” Ia hanya menggeleng, yang berarti jawabannya tidak apa-apa. “Gue Sabita. Nama lo siapa?” Gadis yang masih duduk bersimpuh di tanah itu diberi uluran tangan. Di depannya, Sabita berjongkok dengan senyum seakan memberinya kepercayaan. Melindunginya dari menjadi pusat perhatian sekarang. “Arunika.” Ia mulai bangkit dibantu Sabita tanpa Arunika minta. Pertemuan singkat itu membawa mereka pada satu hubungan pertemanan. Dan, ternyata Sabita murid pindahan yang kebetulan satu kelas dengan Arunika. Pantas saja Arunika merasa asing dengan Sabita, memang gadis itu baru saja pindah. “Emangnya bisa ya?” “Bisa dong, sekarang semuanya mungkin terjadi.” Mereka terus berbincang selama berjalan ke kelas. Sabita mengira Arunika adalah gadis culun yang biasanya ditindas seperti di film-film. Asumsinya salah kaprah, Arunika adalah sosok sebaliknya. Ia periang, ramah, juga peduli terhadap orang lain. Hanya saja tadi, ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Ada satu hal yang membuatnya diam dan tatapannya terpaku pada pemuda itu. Bel istirahat membuyarkan lamunan Arunika. Arunika terus melamun selama pelajaran tadi. Semua materi yang dijelaskan sekedar lewat, tidak berhenti bahkan membekas. Kepalanya dipenuhi gambaran pemuda tadi. Harus ia akui, pemuda itu tampan, tapi bukan Arunika namanya kalau sekedar fisik saja membuatnya jatuh cinta. Ada perasaan yang bergejolak dalam hatinya sekarang. Seperti sebuah kebetulan, padahal takdir itu sedang ia alami. Apakah ada sesuatu yang berhasil membuatnya terikat dengan pemuda itu? Kenapa rasanya ia adalah bagian dari pemuda itu? Arunika harus mencari tahu lebih dalam tentang hal ini, sebelum menyita jam tidurnya nanti malam. “Uh, rasanya engga nyaman kalau terus-terusan pakai gue-lo.” Sabita mengeluh di meja kantin, karena gadis di depannya tidak menggunakan panggilan yang sama. Bukan salah Arunika, Sabita memang bukan berasal dari sini. Ia baru saja pindah dari ibu kota. Yang mana di sana mereka menggunakan gue-lo sebagai panggilan. “Aku-kamu terlalu akrab engga sih?” Arunika menggeleng. “Engga sama sekali, kamu bakal dibilang aneh kalau pake gue-lo di sini.” Kata gue-lo dari mulut Arunika terdengar aneh karena aksennya. Ia tidak benar-benar menikmati semangkuk bakso pesanannya. Pemuda itu benar-benar memporak-porandakan pikirannya yang biasa tenang tanpa beban. “Nanti gue, eh, aku coba biar terbiasa.” Anggukan Arunika tanda persetujuan. Sekarang, gadis di depannya malah menatap ke satu arah di belakangnya. Sabita mengikuti pandangannya, apa yang sedang Arunika perhatikan sejak tadi? Di belakang sana hanya ada kerumunan pemuda. Apakah temannya itu jatuh cinta pandangan pertama? “Nyari siapa?” tanya Sabita. “Kayaknya ada yang merhatiin lo.” Bisikan itu membuat Dirgantara langsung mengikuti arah pandang Jonathan. Ia beruntung ada satu orang pindahan dari ibu kota, sama sepertinya. Jadi mereka bisa menggunakan dialek khas ibukota. Dirgantara tidak yakin, tapi yang ia lihat pertama kali adalah gadis yang menabraknya tadi pagi. “Aku pernah sekali ketemu dia waktu ngurus berkas pindahan.” Sabita memejamkan mata, berusaha meningat barangkali tidak sengaja tahu nama pemuda itu. Arunika memasang wajah serius, menunggu dan berharap Sabita ingat nama pemuda itu. Itu memberinya satu kemajuan kenapa Arunika seperti memiliki satu ikatan. “Dir-gan-ta-ra.” Sabita ragu, tapi hanya itu yang berhasil ia ingat. Dirgantara duduk membawa pesanannya ke meja kosong. Setelah menuangkan sambal, ia mulai menjelaskan perlahan sambil mengunyah sarapannya. “Dia cewek yang nabrak gue tadi pagi, mungkin dia mau minta maaf, makanya ngelihatin gue.” Terdengar sombong memang kalimat Dirgantara barusan. “Kamu yakin itu namanya?” Sabita mengangguk. Arunika kembali melanjutkan kegiatan makannya yang kali ini terasa lebih nikmat. Itu juga karena ia sudah tahu nama pemuda yang ia tabrak tadi pagi. Atau haruskah ia meminta maaf? Kalau iya, Arunika bisa melihat name tag pemuda itu. Arunika harus memutuskannya sekarang juga, sebelum pemuda itu pergi. “Eh, mau kemana?” Sabita hanya memperhatikan kemana Arunika melangkah. Temannya itu malah menghampiri pemuda yang ia berikan namanya barusan. Sabita mendesah kesal, ia tidak memiliki keberanian sama seperti Arunika. Selama ini perasaan sukanya terus ia pendam, takut dengan jawaban yang tidak sesuai harapannya. “Dia dateng.” Pemberitahuan Jonathan membuat Dirgantara menghentikan kegiatan makannya. Gadis itu berdiri di samping mejanya, tangannya mengulur yang hanya ia tatap sinis sejauh ini. Dirgantara tidak menjabat tangan mungil gadis itu. Ia terpaku pada ciptaan Tuhan kali ini. Gadis itu benar-benar cantik. Dirgantara memperhatikan penampilan gadis dengan name tag Arunika. Setelah lamunannya buyar, Dirgantara melipat tangannya di depan d**a. “Kenapa? Mau minta maaf?” Gadis itu mengangguk dengan senyum simpulnya. “Bisa, tapi lo bayarin makanan gue.” Jauh dari ekspetasinya berharap gadis itu marah, ternyata Arunika mengiyakannya. “Apa semiskin itu, sampai pesenan kalian harus Arunika yang bayar?” Sabita yang tidak terima ikut campur dalam pembicaraan. “Lo siapa? Seenaknya minta orang lain yang bayar.” Arunika menarik-narik tangan Sabita, memintanya untuk tidak ikut campur urusan ini. Ada harga yang harus dibayar untuk memastikan nama pemuda itu. Sementara kejadian tadi pagi bukan sepenuhnya salah Arunika. Sama-sama tidak sengaja, berarti baik-baik saja, kan? Dirgantara bangkit. Tatapannya tajam ke arah gadis di sebelah Arunika. Sekarang, mereka berempat menjadi pusat perhatian seisi kantin. “Gue juga engga tau lo siapa, jadi urus urusan masing-masing, paham?” Sabita meneguk ludahnya, tatapan itu siap membunuhnya. Ia tidak takut, hanya berusaha menjaga sikapnya sebagai murid pindahan. “Kita pergi aja, yuk!” Ajakan Arunika langsung disetujui Sabita. Sedangkan Dirgantara mendengus kesal. Ia kembali duduk disusul Jonathan. Nafsu makannya hilang seketika. Sekarang pikirannya dipenuhi wajah pemilik nama Arunika. Ia menyukai gadis dengan lesung pipit, dan Arunika memenuhi itu. Dirgantara tidak akan jatuh cinta semudah itu. Sehebat apapun perasaannya nanti, Dirgantara sedang tidak ingin memiliki satu hubungan serius. Ada seseorang yang pasti akan menentangnya secara tegas. Memaksanya meninggalkan masa remaja yang seharusnya indah, menjadi lebih serius. Menyebalkan memang. Hubungannya tidak pernah baik dengan ibunya. Ayahnya juga terus berpindah-pindah mengikuti dimana ia akan dinas selanjutnya. Dirgantara ingin sekali tinggal sendiri. Ia sudah cukup dewasa untuk menghadapi masalah seorang diri. Kalau saja ia mampu melakukannya. Sayangnya, ia tidak cukup mampu untuk itu. “Kenapa sih kamu mau ngelakuin itu? Ada cara lain, Arunika.” Arunika dimarahi habis-habisan oleh teman barunya itu. Sabita merasa keputusan Arunika tadi nanti mengorbankan harga dirinya. Ia tidak habis pikir. Kenapa seorang Arunika yang ramah harus berjuang untuk sekedar dekat dengan Dirgantara yang rumornya dikenal sombong. “Kasih tau aku, kenapa harus dia?” “Aku ngerasa emang dia orangnya.” Sabita menghela napas kasar. Kadang intuisi harus diikuti. Baik untuk sekedar ingin tahu atau memang seperti itu takdirnya. Apapun langkah yang Arunika ambil setelah ini, Sabita tidak bisa berbuat banyak. Tapi ia akan berusaha ada untuk Arunika kalau saja gadis itu butuh bantuannya. Hari-hari berikutnya, Arunika mulai menunggu kedatangan Dirgantara. Ia akan terus menyapa pemuda itu di lobi. Karena pembawaannya yang ramah dan periang, Arunika mulai dikenal. Mereka memanggil Arunika dengan sebutan gadis periang. Tidak masalah untuk Arunika, selama itu tidak berarti buruk, silakan saja. Sudah memasuki bulan ketiga Dirgantara terus disapa gadis itu. Iya, gadis yang tidak sengaja menabraknya. Ia hampir saja gila karena tidak bisa menemukan cara agar namanya tidak terus disebut setiap paginya. Sampai ia menyadari ada jalan lain selain lobi ini. Dirgantara mulai berjalan memutar untuk menghindari Arunika. Satu hari dimana ia berangkat terlambat, lobi sudah sepi. Biasanya, Arunika masih menunggunya di sana. Seminggu terakhir ini ia sengaja datang terlambat, memastikan gadis itu sudah lelah dengan usahanya. Dirgantara bisa bernapas lega walaupun mengorbankan banyak hal. Apapun itu, ia tidak ingin melihat Arunika. “Lo nyariin siapa?” Pertanyaan itu menghentikan pencarian Dirgantara. Ia tidak berhasil menemukan gadis bernama Arunika di sini. Ia juga menyimpan gengsi tinggi untuk tidak menanyakan di kelas mana Arunika tinggal. Atau seperti itulah mereka menyebutnya. Dirgantara menggeleng, mengalihkan Jonathan dengan mengambil bakso dari mangkok pemuda jangkung itu. Hari menjelang sore dengan wajah murung Dirgantara untuk pertama kalinya. Ia gagal menemukan Arunika seminggu ini. Apakah sikapnya terlalu berlebihan terhadap Arunika? Bukankah gadis itu hanya ingin tahu tentang satu hal mengenai dirinya? Ada rasa penyesalan dalam tubuh Drigantara sekarang. Entah kenapa ia harus memiliki perasaan ini sekarang. Dirgantara berjalan lambat menyusuri lobi. Juga baru pertama kalinya ia harus berjalan menundukkan kepala. Ia harap bisa menemukan Arunika. Biar kali ini ia yang meminta maaf atas sikapnya tiga bulan ini. Dan selalu ada hal yang muncul selama gangguan Arunika yang terus menyapanya setiap pagi. “Selamat sore Dirgantara.” Sapaan itu membuatnya mendongak. Itu Arunika yang selama ini ia cari. Gadis itu berdiri di lobi, memamerkan senyum simpul dengan deretan gigi kecilnya. Dirgantara memperhatikan sekelilingnya, mengusap wajahnya kasar berharap ini bukan halusinasi. Manusia bisa saja berhalusinasi karena sesuatu yang mereka rindukan. Bisa saja itu sedang terjadi sekarang, tapi Dirgantara yakin tidak sedang mengalaminya. “Tumben murung, biasanya kelihatan biasa tanpa eksperesi, bisa sedih juga ternyata.” Kalimat itu segera disusul kekehan dari Arunika. Juga Dirgantara yang menemukan kembali senyumnya. Gadis itu menolongnya, membantunya keluar dari kenyataan bahwa ia bisa melakukan dua hal sekaligus. Menikmati masa remajanya, juga fokus pada masa depannya. Dirgantara melangkah cepat meraih tangan Arunika. “Ikuti gue!” Gadis itu tidak banyak bicara. Sepertinya Arunika mengikuti kemauannya yang membawa gadis itu ke bubungan atap gedung sekolah. Di ujung sana, matahari berbagi kehangatan. Memeluk mereka yang sepertinya kehabisan kata-kata untuk menutup hari ini. “Arunika, gue minta maaf kalau sikap gue berlebihan ke lo. Gue engga tau tujuan lo sebenernya nyapa gue tiap pagi. Gue engga tau apa yang lo mau dari gue. Tapi selama tiga bulan itu, ada perasaan yang mulai tumbuh. Gue udah nyari lo buat ngungkapin ini, dan sekarang waktunya. Would you be mine?” Dirgantara baru saja mengungkapkan semuanya. Tiga bulan setelah Arunika berhasil membuat kepalanya dipenuhi oleh gadis itu. “Iya aku maafin.” Arunika menjawab satu pertanyaan diawal. Dirgantara masih menunggu jawaban selanjutnya dari Arunika. Ia tidak mau perasaannya digantungkan oleh orang yang ia sukai. “Buat pertanyaanmu yang terakhir… aku engga ada maksud kalau kamu sampai naruh perasaan buat aku.” Arunika tertunduk, seiring melemahnya tangan Dirgantara yang menggenggamnya. “Aku cuma mau tau namamu, dan sekarang aku udah tau.” “Cuma itu?” tegaskan Dirgantara. Arunika menggeleng. Sejak awal bukan sekedar untuk tahu nama pemuda di depannya sekarang. Arunika memang merasa ia adalah bagian dari Dirgantara. “Yes, i will.” Arunika segera memeluk tubuh Dirgantara sebelum sempat pemuda itu melihat pipinya yang semakin memerah. --- Janji sendyakala Dirgantara melangkah keluar, tepat setelah pintu kereta terbuka dan penumpang dipersilakan turun. Matanya menelisik sekitar, membaca papan penunjuk sekilas sebelum melanjutkan langkah. Kakinya lambat menuruni anak tangga yang membawanya keluar area stasiun. Pemandangan asing menyambutnya dengan puluhan teknologi maju ibukota. “Ojek mas?” Seorang bapak-bapak paruh baya menawarkan jasa miliknya. Aroma parfum menyengat merebak dari jaket lusuhnya. Warna hijaunya mulai luntur termakan waktu. Mungkin bapak itu sudah menawarkan jasa ojeknya lebih dari sepuluh tahun. Dirgantara menggeleng lemah. “Engga pak.” Jawabannya segera membuat bapak itu menjauh. Dari sudut matanya, Dirgantara masih bisa mendapati bapak itu menawarkan jasa ojeknya. Mengabaikan hal itu, Dirgantara meraih ponsel dari saku celananya. Sebuah nomor kembali ia masukkan setelah sekian lama. Ini bukan pertama kalinya Dirgantara mengunjungi ibukota. Sepuluh tahun lalu, ia pernah datang ke sini. Memang waktu yang cukup untuk menumbuhkan jajaran gedung di seberangnya. Sepuluh tahun lalu, di depan sana hanya hamparan tanah kosong dengan hiasan belukar. Waktu terlalu baik, membiarkan tanah kosong itu kembali hidup. Berganti menjadi puluhan gedung yang lantainya terlampau banyak untuk dihitung dengan jari. “Halo?” “Dirga!” Dirgantara yakin suara itu tidak berasal dari teleponnya yang terhubung. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya. Senyumnya merekah sempurna dengan deretan gigi mungil rapi. Dirgantara mematikan ponselnya. Ia segera menghampiri gadis bernama Nirmala itu. “Maaf, udah nunggu lama, ya?” Gadis itu memberinya tatapan bersalah yang tidak perlu. Dirgantara baru sampai, hanya saja tatapannya sudah menerawang lebih jauh. Ia tidak banyak bicara di depan gadis bernama Nirmala itu. Dirgantara tahu, Nirmala jauh lebih cerewet daripada dirinya. “Yuk! Keburu telat.” Nirmala segera mengawali langkah menuju mobil miliknya. Sebuah SUV terparkir tidak jauh dari tempat mereka bertemu. “Kenapa engga parkir di dalem?” Pertanyaan Dirgantara dijawab dengan gelengan cepat oleh gadis itu. Baru saja Dirgantara berasumsi sepuluh tahun merubah Nirmala, ternyata cepat dibantah gadis itu. “Sayang uang parkirnya.” Nirmala duduk di kursi kemudi, memutar kunci pada lubangnya kemudian berangkat. “Kamu tamunya, biar aku yang bawa mobil.” Suara melengking khas seorang Nirmala mengingatkannya pada momen kebersamaan mereka. Gadis itu adalah sosok periang diantara persahabatan mereka. “Aku juga engga ada niatan buat bawa mobil sekarang. Capek.” Dirgantara membuang wajah keluar setelah tidak nyaman dengan tatapan tajam Nirmala. Kemacetan ibu kota adalah hal baru untuk pemuda itu. Menarik diri dari kehidupan luar dan memilih tinggal di pedalaman, tapi masih desa, membuatnya tidak banyak mengikuti perubahan. Dirgantara hanya mengenakan jeans dan sepatu lusuhnya. Sol sepatunya bahkan masih membawa lumpur tipis dari tempatnya tinggal. Tidak ada satupun barang mewah melekat pada tubuhnya. Dirgantara benar-benar bukan Dirgantara. Pemuda itu dikenal sebagai sosok yang hedon, tapi satu kejadian membuatnya harus meninggalkan itu semua. Tidak, Dirgantara masih orang yang terbilang cukup mampu membeli barang mewah. Hanya saja, Dirgantara tidak lagi membutuhkan itu semua. Semua yang pernah menjadi bagian dari dirinya harus ia hapuskan. Setiap barang yang pernah ia kenakan menyimpan bayangan masa lalu. Alasannya, Dirgantara terus dihantui memori masa lalu jika barang-barang itu masih ada di dekatnya. Sudah setengah jam perjalan sejak meninggalkan stasiun pusat. Dan sejak itu juga, langit perlahan diselimuti awan abu-abu yang menghalangi cahaya matahari. Dirgantara cemas, apakah ia mampu melihat senja kalau seperti ini? Dan bagaimana dengan tujuannya kemari kalau mendung pun menjadi alasan tertundanya pertemuan itu. Dirgantara menghela napas berat ketika satu persatu tetes air hujan mengenai kaca depan mobil Nirmala. Gadis itu segera menarik tuas whisper mobil, memberinya sedikit pandangan jalan. Hujan bertambah deras memasuki pertengahan hari. Nirmala tidak bisa mengandalkan pengelihatannya kalau kabut semakin mengurangi jarak pandang. Mereka berhenti di minimarket terdekat, berharap hujan segera reda. “Biar aku belikan kopi buat kamu.” Nirmala hendak keluar, tapi tangan Dirgantara mencegah gadis itu turun. Nirmala mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa pemuda itu menolak minuman yang Nirmala tahu, Dirgantara menyukainya. “Kamu engga biasanya nolak kopi.” “Aku engga minum kopi lagi. Belikan air putih aja.” Nirmala mengangguk, menembus hujan secepat kilat sebelum kuyup. Di depan mesin pendingin, gadis itu menatap refleksi tubuhnya sendiri. Sepuluh tahun hidup di pedalaman mungkin memberi Dirgantara banyak hal baru. Tidak mengherankan kalau pemuda itu mulai menolak kafein untuk tubuhnya. Tangannya meraih sebotol teh kesukaannya, disusul pesanan Dirgantara di tangan lainnya. “Punyamu.” Dirgantara memberinya ucapan terima kasih. Raut wajah Dirgantara memberinya petunjuk kalau pemuda itu menyimpan banyak beban. Sama seperti dirinya, tapi sebisa mungkin Nirmala menyembunyikan itu semua. Ini sepuluh tahun yang mereka nantikan, tidak mungkin ia menyambutnya dengan murung. “Kalau kamu engga siap, kenapa dateng?” Dirgantara menghabiskan botol minuman ukuran sedang dengan sekali tarikan napas. “Siap engga siap, aku harus dateng, Nirmala. Dia pasti udah banyak berubah, dan aku yakin dia masih berharap kita dateng. Bukannya itu juga yang kamu mau, Nirmala?” Dirgantara meraih laci penyimpanan mobil. Sebuah figura menampilkan foto mereka bertiga. “Aku engga akan ngebuang foto itu, karena cuma itu satu-satunya kenangan yang bisa aku abadikan.” Nirmala menjelaskan itu pada Dirgantara. Tangan mungil Nirmala meraih figura itu, kembali memasukkannya ke dalam laci. Sebuah usapan lembut pada tangan Dirgantara ia berikan. “Sampai sekarang, aku masih engga tau kenapa harus nunggu selama itu buat ketemu dia lagi.” “Dia pasti punya alasannya tersendiri. Mungkin dia engga mau kita tau sebelum waktu yang dia tentukan. Apa kamu pernah berusaha buat nyari dia?” Dirgantara menoleh. Nirmala memberikan gelengan lambat. Gadis itu dekat dengan orang yang mereka cari. Jarak Nirmala bahkan bisa membuat mereka bertemu, setidaknya setiap bulan. “Sedeket apapun kita, kita engga boleh berusaha nyari. Bahkan kesempatan buat ketemu secara kebetulan itu engga pernah terjadi sekalipun. Aku rasa dia punya sesuatu yang bener-bener engga mau kita ketahui, Dirga.” Nirmala kembali mengulang kalimat Dirgantara. Mereka mungkin bersahabat, tapi rahasia sepuluh tahun biarlah waktu yang membukanya. Hujan tidak menunjukkan tanda akan reda setelah satu jam mobil terparkir di minimarket. Suhu semakin menurun ketika Nirmala sadar, kemudian mematikan pendingin freon. Langit semakin gelap, sama gelapnya dengan keadaan mobil sekarang. Satu-satunya penerangan mereka sekarang berasal dari lampu interior. Sedikit menghangatkan. “Bahkan manusia seharusnya sudah melakukan banyak hal kalau seperti ini. Apalagi di balik kaca gelap mobil, dan hanya kita berdua.” Kalimat itu membuat Dirgantara meneguk ludahnya. Gadis di sampingnya mulai mengusap-usap lengannya sendiri. Dirgantara tidak membawa banyak pakaian, ia segera menanggalkan jaket miliknya. Lembut, Dirgantara membiarkan jaket itu memeluk Nirmala. Nirmala mengukir senyum diantara sadar dan tidaknya sekarang. Menjelang akhir tahun, bumi memasuki musim penghujan di negara mereka. Sialnya, hidup di tengah-tengah modernisasi malah meminimkan pakaian yang biasa dikenakan. Nirmala, gadis itu hanya mengenakan kaos tipis, selaras dengan jeans pendek di atas lutut. “Aku terlalu polos untuk itu.” Dirgantara melontarkan candaan, tapi intonasinya terlalu datar. Sangat datar, membuat Nirmala mendengus. Ia bukan sosok yang humoris. Orang yang mengenal Dirgantara hanya sebatas pemuda sombong. Mereka tidak mengenalnya cukup jauh. Dirgantara hangat dengan pembuktian jaketnya untuk Nirmala. Benar-benar senyap sekarang. Nirmala hangat dalam tidurnya, sementara Dirgantara sibuk memainkan ponselnya. Dua digit angka, mendekati waktu senja membuatnya terlonjak. Tinggal dua jam lagi sebelum senja. Dirgantara tidak bisa berbuat banyak selain berharap hujan segera reda. Dalam keheningan yang memuncak, Dirgantara merapatkan jemari tangannya di depan d**a. “Tuhan berikan aku kehidupan sepuluh tahun untuk menepati janjiku. Sekarang aku memohon teramat sangat, tunjukan mukjizatmu untuk menepatiku janjiku. Janjiku tidak sekedar bertemu denganmu, tapi lebih dari itu. Aku mohon, Tuhan, buat aku bertemu dengannya.” Sayup kalimat-kalimat itu masuk menembus gendang telinga Nirmala. Ia menggeliat lambat, tidak mau menginterupsi Dirgantara yang berdialog dengan Tuhan. Matanya mengerjap berkali-kali, memastikan kalau itu benar-benar terjadi. Hujan reda. Cahaya matahari mulai menembus awan abu-abu yang perlahan memisahkan diri. “Tuhan berikan kita kesempatan. Hujannya reda, Dirga.” Nirmala menghidupkan mobilnya dan dengan cepat meninggalkan minimarket. Jarak mereka semakin dekat. Seharusnya, waktu yang mereka miliki cukup untuk sampai ke tujuan. Angin lembut mengajak nyiur menari gemulai. Suara deburan ombak menabrak karang hampir meninabobokan mereka. Nirmala menghentikan mobilnya di ujung jalan terdekat menuju pantai. Sejauh mata memandang, hanya hamparan pasir putih dan lautan luas di depan mereka. Satu pemandangan yang tidak lagi Dirgantara nikmati selama hidup di pedalaman. “Apa dia masih tinggal di sini?” Pertanyaan retoris Dirgantara jelas memancing amarah Nirmala. Mereka berdua tidak tahu menahu tentang hal itu bukan? Sepuluh tahun tidak bertemu, tidak saling mencari, tidak berusaha menghubungi, bagaimana bisa Nirmala menjawab pertanyaan Dirgantara? “Baiknya kita langsung ke rumahnya sebelum gelap.” Mereka menyusuri hamparan pantai pasir putih. Sesekali kepiting yang takut terinjak berhamburan masuk ke liang-liang rumah mereka. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah gubukan kecil berdiri di tepian tebing-tebing yang menerobos masuk garis antara daratan dan lautan. “Halo? Apa ada orang di dalam?” Nirmala menahan tawanya mengucapkan kalimat itu. Ia yakin, temannya itu ada di dalam dan berpura-pura tidak tahu. Cukup lama mereka menunggu sampai seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Hal itu membuat mereka terlonjak, tidak mungkin mereka salah gubukan karena hanya ini satu-satunya yang ada di pantai. “Masuklah dulu, biar nenek ceritakan di dalam!” Mereka mengamati bagian dalam gubukan itu. Tidak banyak hal berubah. Mereka masih bisa menemukan foto yang sama seperti di dalam mobil Nirmala. Pada dasarnya, mereka memiliki foto itu. Hanya saja, sudut gubukan itu mulai dipenuhi sarang laba-laba. “Sandyakala cuma menitipkan ini.” Nenek itu memberikan sepucuk kertas usang dengan tulisan yang mulai memudar. Nirmala menyipitkan matanya, berusaha membaca isi surat yang mereka yakin adalah tulisan tangan Sandyakala. Nama gadis yang mereka cari adalah Sandyakala, teman mereka yang membuat janji sepuluh tahun ini. Teruntuk Dirgantara dan Nirmala Maaf membuat kalian menuliskan banyak pertanyaan, mengumpulkan banyak asumsi, mengurangi waktu tidur kalian, membuat sepuluh tahun kalian terasa lama dan benar-benar menjadi sebuah penantian. Aku meminta maaf tidak bisa memberitahukan semuanya pada kalian. Seorang Sandyakala adalah sosok yang tidak bisa berterus terang bukan? Aku tidak sepertimu, Nirmala, tidak bisa menceritakan banyak hal dengan beragam ekspresi. Tidak juga sama sepertimu, Dirgantara, yang tidak peduli pada banyak hal. Sandyakala hanyalah sosok pendamping dalam cerita utama kehidupan kalian. Aku tidak ingin mengubah alur yang dituliskan Tuhan terhadapku. Dalam surat ini, aku ingin kalian mengetahui semuanya. Aku ingin kalian tahu tentang penyakit yang aku idap sejak lama. Dan ketika dokter berperan sebagai Tuhan, memvonis hidupku tidak akan lama, aku mulai menulis surat ini. Kalau surat ini sampai pada kalian, yakinlah aku sudah tidak bisa tertawa, tidak lagi menahan sakit, tidak lagi menunggu untuk bertemu kalian. Karena Sandyakala ada bersama kalian. Berdampingan dengan kalian dari dunia yang lain. Aku abadi sekarang. Sekali lagi aku meminta maaf pada kalian. Sepuluh tahun yang aku harap berakhir dengan kalian melupakanku mungkin gagal. Aku tidak tahu, tapi aku berharap apapun yang terjadi, kalian menemukan surat ini atau tidak, hiduplah sebagaimana seharusnya. Hiduplah seakan-akan nama Sandyakala hanya terbesit dalam ingatan tanpa tahu siapa sosok Sandyakala itu. Aku tidak ingin kalian hidup membawa namaku yang pada akhirnya dituliskan dalam kalender hari dimana aku meninggal. Namaku Sandyakala yang berarti cahaya merah saat senja. Kalian bisa terus menatapku saat senja. Aku akan memeluk kalian saat itu, saat langit menghipnotis manusia dengan keindahannya. Kalian bisa memelukku juga, jauh lebih dekat denganku kalau saja berdiri di atas bukit. Temukan aku di sana, peluk aku, lepaskan semua amarah kalian karena harus menunggu sepulu tahun lamanya. Dituliskan oleh Sandyakala Kalimat terakhir dalam surat membuat mereka tidak kuasa menahan air mata yang menggenang di pelupuk. Nirmala terisak, memeluk Dirgantara yang berpura-pura tegar padahal sama rapuhnya. Sandyakala, temannya itu meninggalkan mereka. Benar-benar meninggalkan mereka dalam keadaan dimana penantian yang mereka pikir berakhir bahagia, malah berkebalikan. “Sandyakala ada di atas bukit, temuilah dia sebelum gelap.” Perintah itu segera mereka penuhi. Mereka naik ke bukit dimana Sandyakala beristirahat dengan tenang. Hanya tumpukan batu menjadi nisan peristirahatan terakhir Sandyakala. Di sekelilingnya, tumbuh subur pohon bunga kamboja. Angin yang tiba-tiba berhembus membawa keharuman bunga itu. “Aku tidak akan pernah memaafkan kebohonganmu, Sandyakala. Kamu membuat sepuluh tahunku sia-sia. Bukan kejutan seperti ini yang aku harapkan.” Dirgantara marah pada seseorang yang tidur di dalam makam ini. “Aku juga tidak akan memaafkanmu, Sandyakala. Kebohonganmu hampir memaksaku bertemu denganmu. Aku akan melompat dari sini kalau saja bukan bersama Dirgantara sebagai permintaan terakhirmu.” Nirmala bangkit setelah mengusap nisan Sandyakala. Ia memeluk erat Dirgantara. Satu harapan terakhir Sandyakala adalah ia ingin melihat Nirmala hidup bersama Dirgantara. “Aku akan memilikimu lebih dari sekedar janjimu pada Sandyakala.” Nirmala mengangguk dalam pelukan Dirgantara. Tugas Sandyakala sudah selesai. Sandyakala abadi dalam kehidupan keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN