Episode 43

3382 Kata
Nenek penunggu sumur tua Minggu malam ini kami bertolak dari surabaya menuju kota jember, seperti biasa, kami akan merenovasi sebuah bangunan yang nantinya akan dibuat sebagai toko ban motor, cuma yang tidak biasa kali ini aku bersama dengan 7 orang temanku yang nantinya sebagian bertugas sebagai tukang bangunan, dan aku sendiri bagian untuk instalasi listriknya. Sampai tujuan masih sangat dinihari, dan kami memutuskan beristirahat di musolla sebuah pom bensin tak jauh dari lokasi pekerjaan untuk sekedar melapas lelah di perjalanan tadi. “Ya alloh ya tuhanku” batinku saat aku sampai di tujuan dan melihat keadaan bangunan itu, bangunan itu sudah sangat tua, lapuk sana sini, daun pintu dan jendela pun sudah banyak yang copot, belum lagi tembok yang mengelupas dan hampir semua dipenuhi lumut dan genting dan plafon juga sudah banyak yang ambrol, kesan seram dan horor sangat terasa di rumah ini, ibaratnya dilewati tikus aja bangunan rumah ini akan rubuh. Learn more Begitu aku dan team masuk, keadaan di dalam bangunan cukup memberi sambutan ke bulu kudukku, seketika tengkukku meremang, dingin, udara lembab, pengap, itu yang aku rasakan, tak kalah seram dengan kondisi di luar bangunan, ada 5 kamar di bangunan ini, 3 di depan dan 2 di belakang termasuk untuk dapur, dan terdapat pekarangan kecil di depan dapur yang sangat rimbun semak belukar dan kamar mandi terpisah dari rumah utama, dan terdapat juga sumur tua disitu. Segera kami mencari kamar yang agak layak dan kami bersihkan untuk tempat istirahat selama bekerja disini, dan untuk menampung peralatan kerja yang kami bawa dari surabaya, dan sebagian teman lain berbagi tugas membersihkan kamar mandi. Tiba malam hari entah kenapa hampir jam 12 malam mataku terus saja tidak bisa aku pejamkan, kutoleh satu persatu temanku, semua sudah nyenyak ditelan empuknya bantal, wajar, mereka capek seharian ini, pandanganku kali ini tertuju ke pintu kamar yang terbuka lebar dan tanpa penghalang apapun, memang sengaja tadi siang kami copot daun pintunya karena sudah sangat lapuk, ada perasaan aneh ketika aku menatapnya, serasa seperti ada yang mengawasiku dari tadi, apa ini mungkin cuma perasaanku saja,, “Ah bodohlah” batinku menenangkan diri, cuma hatiku tak lupa dari doa doa dalam hati, “Ya alloh semoga saja kami diberi kelancaran bekerja”. Hampir 3 hari kami bekerja tanpa mengalami kendala apapun, sampai suatu ketika temanku bilang “Bro, tadi malem denger apa nggak di belakang kaya ada suara wanita menangis” “Nggak tuh bro, aku tidur cepet tadi malam, alaahh, santai saja bro, kita gak ganggu, niat kita kerja, ibadah cari rezeki, cuma jangan lupa doa,,” kataku menenangkan suasana,, “Sumpah, aku yakin deh gak salah denger bro tadi malem,,” timpal temenku, “Ha ha ha, jujur aku juga merasakan ada yang nggak beres di rumah ini bro,, cuma aku simpan aja dalam hati, kadang tiap malam pikiranku selalu was was bila melihat sumur di belakang kamar mandi itu bro, kayak gimana gitu, serem kesannya” jawabku, “Temen temen juga bilang gitu bro, bangunan ini kayaknya memang nggak beres,” temenku berkata lagi. Dan tau nggak, lepas kejadian itu gangguangangguan lebih sering kami alami, tiap malam sering kali kami mendengar suara orang menimba air, kadang mandi, tembok digedor gedor, kadang ada anak anak berlarian kesana kemari, di dapur juga sering kali kami mendengar suara orang kayak memasak, siapa coba? Kami bertujuh di dalam kamar semua, dan lagi rumah ini ditembok tinggi semua pekarangan belakangnya, dan cuma ada satu pintu terbuat dari seng yang sudah karatan, engsel juga udah kayak gak bisa dibuka saking tebalnya karat, dan penampakan penampakan juga hampir semua dari kami pernah mengalami, pokoknya tiap malam tiba kami semua jarang sekali keluar kamar, kalaupun ke kamar mandi kami selalu beramai ramai. Suatu pagi temenku eko bilang “Bro, tau nggak, tadi malem aku melihat ada nenek nenek berdiri di samping sumur, pake kebaya dan jarik, rambutnya putih berantakan, nggak diiket atau digelung kaya nenek nenek umumnya” cerita temenku, “Alaahh gak usah ngarang bro, aku emang penakut, nggak usah kamu takut takuti lagi, aku sudah takut dari awal ha ha” jawab ku, “Sumpaah bro, jelas banget bro, matanya itu melotot menatapku” kata temenku meyakinkanku. Siangnya aku coba cari informasi tentang sejarah rumah ini kepada bapak pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi pekerjaanku, sambil sekalian ngopi, “Iya mas,, pesen apa?” tanya bapak itu ramah, “Kopi aja pak, agak pahit ya” kataku, “Ok mas, siap,” jawab bapak, “Bukannya mas yang kerja di rumah tua itu ya” sambung bapak sambil sibuk membuat kopi pesananku, kebetulan saat itu pas sepi jadi aku leluasa bertanya kepada bapak, “Bapak asli sini pak?” kataku, “Iya mas, saya kelahiran kampung sini, rumah saya selatan tempat mas kerja, ini warung cuma saya sewa aja mas” kata bapak masih ramah sekali. “Oh ya pak, sepertinya rumah itu agak nggak beres ya pak!?,” tanyaku menyelidik, “Gimana ya mas, sebetulnya saya dulu mau kasih tahu tapi nanti takutnya malah mengganggu pekerjaan mas dan kawan kawan,” kata bapak pelan, “Emangnya sejarahnya gimana itu bangunan pak”, tanyaku lagi sambil menghisap rokokku, “Rumah itu sudah 30 tahun kosong, kalaupun disewa paling cuma 4 bulan bertahan, dulunya bagus banget mas rumah itu, orangnya kaya, sampai pada akhirnya sekeluarga meninggal, satu persatu meninggal semuanya tanpa sisa,” cerita bapak, “Kok gitu pak” tanyaku lagi, “Santet mas, dan makhluk kirimannya itu masih di situ sampai sekarang, di sumur mas, berwujud nenek nenek!” “Kenapa kok masih disitu pak” aku semakin penasaran, “Dukun pengirimnya sudah lama meninggal jadi dukun lain tidak bisa mengambilnya mas” kata bapak lagi, “Berarti eko tidak berbohong kepadaku” gumanku dalam hati, “Mas, pesen bapak, jangan lama lama disitu, dua kali penyewa rumah itu pagi segar bugar sore demam tinggi, paginya meninggal, si nenek itu yang paling jahat di rumah itu” ujar bapak, “Astaga” batinku lagi. Malam minggu ini hujan sangat deras, kami bertujuh di teras depan, banyak hal yang kami ceritakan malam ini, sesekali kami tertawa lepas melupakan betapa capeknya seharian ini kami bekerja, tak lupa kopi menambah hangat suasana hujan yang dingin ini, aku masih berfikir tentang perkataan bapak tadi, apakah benar ya sampai segitunya keadaan rumah ini, hampir pagi kami beranjak tidur. “s****n,” gumanku lagi, tiap semua udah pada tidur aku hampir pasti nggak bisa tidur sendirian, belum lagi suasananya habis hujan lagi, dingin, senyap, bikin bulu kuduk berdiri. Sayup sayup pelan aku seperti mendengar sesuatu, tapi apa ya, mungkinkan angin, ah, bukan kayanya, tapi suara apa ya. Pelan tapi pasti suara itu semakin jelas, “Ya tuhan, seperti suara wanita menangis, dan itu dekat banget suaranya, kaya di dapur, aku ambil selimut secepatnya dan aku slubungkan ke kepala sampai kaki, dan suara itu seperti semakin mendekatiku, kurapalkan doa doa sebisaku tapi tak bisa dibohongi saat ini tubuhku menggigil ketakutan, bulu kuduk meremang tegang sekali, sampai saat suara itu berlahan menjauh, menjauh dan menghilang, aku tanpa sadar terlelap tidur. Hampir sebulan kami disini, dan sepertinya kami sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, apalagi sekarang bangunan ini sudah sangat berbeda dengan keadaan sebelum kami renovasi, bersih, tembok baru, atap semua baru, pintu pintu dan jendela baru, dan jalan lorong menuju kamar mandi beserta sumur tua itu hari ini kami tutup dengan tembok dari bangunan utama, dan kami buatkan kamar mandi baru di dalam rumah, biarlah tempat itu sendiri saja, biarkan tidak terjamah manusia lagi, biarlah nanti si nenek tidak merasa terganggu lagi ketika nanti ada penyewa baru yang ingin menggunakan kamar mandi serta sumur tempat tinggalnya. --- Gatot kaca Dahulu kala, tersebutlah kisah tentang sebuah kerajaan bernama Paranggelung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja raksasa bernama Prabu Detya Kala Pracona. Prabu Pracona merupakan raja yang bersifat angkara murka dan memerintah kerajaannya dengan tangan besi. Suatu ketika, timbullah niat Prabu Pracona untuk meminang Dewi Nilutama yang merupakan bidadari cantik yang tinggal di kahyangan. Bersama dengan pasukannya yang terdiri dari ribuan raksasa berbadan besar, Prabu Pracona langsung pergi ke kahyangan. Diceritakan, para dewa-dewi di kahyangan tak sudi jika Prabu Pracona datang untuk meminang Dewi Nilutama. Namun, mereka juga khawatir jika Prabu Pracona dan pasukannya mengamuk di kahyangan dan memporak porandakan kahyangan. Melihat para dewa yang khawatir, Bhatara Siwa akhirnya mengutus Dang Hyang Naradha untuk mencari jagoan para dewa untuk melawan Prabu Pracona yang tak lain jagoan para dewa yang dimaksud itu adalah putera Bimasena dan Raksasi Dimbi yaitu Sang Jabang Tetuka. Kemudian Dang Hyang Naradha berangkat ke Kerajaan Purubhaya untuk menjemput Jabang Tetuka Sementara itu di Kerajaan Purubhaya, Dyah Dimbi yang melihat Dang Hyang Naradha turun ke dunia langsung menyambut kedatangan beliau. Raksasi itu juga senang karena ada dewa yang turun ke kerajaannya. Namun, kebahagiannya itu tak berlangsung lama karena Dang Hyang Naradha memberitahunya kalau kedatangan beliau ke Purubhaya adalah untuk mengambil anaknya untuk bertarung melawan musuh kahyangan. Awalnya, Dyah Dimbi tak rela jika anaknya diambil karena anaknya masih kecil, namun pada akhirnya dia bersedia saat anaknya diambil karena mendengar kalau para dewa akan bertanggung jawab atas keselamatan anaknya. Setelah itu, Jabang Tetuka dan Dang Hyang Naradha pun kembali ke kahyangan untuk menghadang pasukan Prabu Pracona. Diceritakan setibanya di kahyangan, Jabang Tetuka langsung menghadang pasukan Prabu Pracona di depan gerbang kahyangan. Para raksasa yang melihat kalau mereka dihadang oleh seorang bocah pun tak bisa menahan tawa mereka karena mereka beranggapan kalau para dewa sudah gila karena telah membiarkan anak kecil maju ke medan perang. Kemudian Jabang Tetuka pun bertarung dengan pasukan raksasa, namun akhirnya dia pun kewalahan dan dihajar sampai babak belur oleh pasukan raksasa. Melihat Jabang Tetuka kewalahan, Bhatara Siwa akhirnya menyelamatkannya dan kemudian dibawa ke Kawah Jambangan untuk dibuat dewasa secara instan. Tubuh Jabang Tetuka pun dimasukkan ke dalam kawah, lalu para dewa datang dengan membawa pusaka untuk diberikan kepada Jabang Tetuka. Tak lama kemudian, Kawah Jambangan pun bergemuruh dan dari kawah tersebut muncul seorang pemuda gagah, pemuda tersebut tak lain dan tak bukan adalah Jabang Tetuka yang telah dewasa setelah diberikan pusaka oleh para dewa dan sejak saat itu pula, Jabang Tetuka dikenal sebagai Gatotkaca. Kemudian, Gatotkaca pun melesat ke langit dan kemudian menerjang pasukan Prabu Pracona. Dengan kesaktiannya, Gatotkaca banyak membunuh pasukan raksasa Prabu Pracona. Melihat banyak pasukannya yang tewas di tangan Gatotkaca, Prabu Pracona pun akhirnya maju untuk melawan Gatotkaca. Pertarungan antara dua ksatria itu pun berlangsung lama karena mereka berdua sama-sama sakti dan sama-sama kuat. Tak lama kemudian, akhirnya Prabu Pracona pun tewas setelah Gatotkaca memenggal kepalanya tanpa menggunakan s*****a apapun. Melihat rajanya tewas, pasukan raksasa yang masih hidup akhirnya mundur dan dengan demikian kahyangan pun kembali damai. --- Ruang yang berbeda Semburat matahari yang terasa hangat masuk ke ruangan yang gelap itu lewat celah jendela. Andini yang sedari tadi melakukan rutinitas paginya menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Ia baru saja selesai menyiapkan bekal makan siangnya dan bergegas menggunakan kerudung seragam sekolah berwarna jingga. Pagi itu, seperti biasa ia berangkat ke sekolah bersama ibunya. Tampaknya ada sesuatu yang sedang Andini tunggu-tunggu, raut wajahnya berbeda dari hari-hari biasa. Andini menatap gedung sekolah dengan tiga lantai itu sembari tersenyum manis. Hampir dua tahun ia tak menginjakkan kakinya di sana sejak pandemi mulai merajalela. Ia begitu rindu dengan suasana di dalam gedung itu. Canda tawa bersama teman-temannya, belajar tentang hal-hal baru yang luar biasa, serta senyuman dan semangat para guru yang memotivasinya untuk selalu kuat dan semangat dalam menuntut ilmu. Rupanya ini yang Andini tunggu-tunggu, sedari tadi jantungnya berdegup kencang, ia tak sabar bertemu kembali dengan teman-teman dan para guru yang ia rindukan. Gedung dengan tiga lantai itu adalah SMPIT Putri Al-Hanif, sekolah khusus putri yang sangat Andini cintai dan banggakan. Ada begitu banyak kenangan yang telah ia rajut bersama teman-teman dan para gurunya di sana. Suka dan duka yang telah ia lalui selama dua tahun masih terbayang dalam benaknya. Kini Andini berada di ruang kelas yang berbeda, kelas yang akan menjadi akhir dari segala cerita yang akan ia kenang nantinya, dan di dalamnya ada begitu banyak hal yang harus ia hadapi sebelum mengucapkan selamat tinggal kepada adik kelas dan guru-guru di sana. Andini duduk di bangku paling depan. Ia melihat sekeliling ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Sepi dan sunyi. Hanya ada barisan meja dan kursi yang berjajar rapi. “Hmm, yang lain pada belum datang ya?” gumam Andini. Ia melihat ada tas ransel berwarna abu-abu di atas kursi barisan paling belakang. “Ah, rupanya Zahra sudah datang.” Andini berjalan keluar ruangan kelasnya dan mencari Zahra, teman dekatnya sejak di bangku sekolah dasar. Andini masih ingat betul warna tas teman dekatnya itu. “Sepertinya Zahra sedang bersama teman-teman kelas lain di lantai tiga. Apa aku ke atas saja? Ada yang ingin aku tanyakan soal materi pelajaran minggu kemarin.” Andini berjalan menyusuri anak tangga menuju lantai tiga, ia melihat Zahra bersama teman-teman lainnya dari kejauhan. “Zahra!” panggil Andini, ia melambaikan tangannya yang sedang memegang buku bersampul batik berwarna cokelat tua. “Oh, hai Andin! Rupanya kamu sudah datang juga?” jawab Zahra. Teman-teman Andini memang lebih sering memanggilnya ‘Andin’ atau ‘Din’. “Iya, ada yang ingin aku tanyakan tentang materi ini.” ucap Andini sembari menunjukkan buku catatannya. “Maaf ya, teman-teman. Aku ambil Zahranya dulu, hehe.” kata Andini kepada teman-teman Zahra. Mereka hanya tersenyum. Zahra tertawa dan pamit pada teman-temannya. Andini dan Zahra turun ke lantai dua menuju ruang kelas mereka sambil berdiskusi mengenai materi yang sebelumnya Andini tanyakan. “Oh iya, apa kamu sudah mengerjakan tugas ini, Din?” tanya Zahra. Jarinya menunjuk ke arah sebuah kertas yang berisi lis tugas dan penilaian harian kelas mereka. “Hmm, belum. Kalau Zahra gimana?” Andini bertanya balik. “Haha, sama. Aku juga belum menyelesaikan tugas itu. Batas waktunya minggu depan bukan?” tanya Zahra. “Iya, InsyaAllah.” jawab Andini. “Assalamualaikum!” ucap seseorang masuk ke dalam ruang kelas mereka. “Waalaikumussalam.” jawab Zahra sembari menengok ke arah pintu kelasnya. “Waalaikumussalam. Hai, Put!” Andini melambaikan tangan menyambut kehadiran sahabatnya, Putri. Putri pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Andini. “Put! Kamu sudah selesai mengerjakan tugas ini?” tanya Andini pada Putri yang sedang berjalan menuju bangkunya. “Oh, tugas yang itu? Belum, aku baru menyelesaikan tugas untuk hari ini.” jawab Putri. Ia memilih tempat duduk di sebelah Andini. “Sama, aku juga belum. Hamasaah!” kata Andini. Putri tersenyum dan mulai mengeluarkan buku paketnya untuk jam pelajaran pertama. “Aku ke atas dulu ya, aku lupa tadi ada yang ingin aku sampaikan pada Shafia.” ucap Zahra. “Oh, iya. Terima kasih, Zahra! Aku jadi lebih paham tentang materi ini.” jawab Andini sebelum Zahra berjalan keluar ruangan kelas mereka. “Iya, sama-sama!” ucap Zahra, ia mulai berjalan menuju lantai tiga. Andini dan Putri pun berbincang-bincang seperti biasa. Mereka saling bertukar cerita dan berdiskusi mengenai beberapa tugas di kelas mereka. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit pagi. Sebentar lagi pelajaran pertama akan dimulai, ruang kelas Andini pun mulai ramai karena hampir sebagian besar teman satu kelasnya telah datang. Andini memandangi susasana kelas yang ia rindukan sejak lama. Ia tersenyum, pagi itu ia sangat bahagia bisa bertemu, berdiskusi, dan berbincang-bincang kembali secara langsung dengan sahabat dan teman-temannya di sekolah. Bel berbunyi, semua siswi memasuki ruang kelasnya masing-masing. Begitu juga dengan Andini, pelajaran pertama di kelasnya telah dimulai sejak pukul tujuh pagi tadi. Andini menyimak penjelasan guru dengan saksama, ia mengerjakan tugas yang diberikan dengan sungguh-sungguh, dan berusaha sebaik mungkin. Selesai pelajaran terakhir, Andini melihat lis tugas di buku catatan kecilnya itu. Rupanya hampir setiap mata pelajaran yang ia lalui hari ini tercatat dalam lis tugas atau pekerjaan rumah (PR) dan beberapa mata pelajaran lainnya juga tercatat dalam lis penilaian harian. Sebagai sekretaris, Andini selalu membuat dan mengirim pesan mengenai informasi tugas-tugas ataupun penilaian harian di kelasnya. Sebelum merapikan tas untuk pulang ke rumah, Andini menemui guru-gurunya untuk mengonfirmasi materi tugas, batas waktu pengumpulan, ataupun catatan tambahan untuk ditulis di lis yang akan ia bagikan pada teman-temannya di grup kelas. Andini kembali ke lantai dua. Ia membuka pintu kelasnya perlahan, memandangi ruangan kelas yang kembali sepi dan begitu sunyi. Tak ada seorang pun di sana, hanya tas berwarna merah yang masih berada di atas bangku barisan paling depan. Andini tersenyum, ia berjalan menuju tas merah kesayangannya, merapikan seluruh alat tulisnya, dan bergegas ke lantai satu untuk pulang ke rumah bersama ibu tercintanya. “Ah, hampir saja lupa mematikan AC!” gumam Andini. Ia mengamati kembali seluruh sudut ruangan kelas yang sepi itu. “Oke, sip. InsyaAllah nggak ada yang ketinggalan kan?” Andini mengecek barang-barangnya. Ia berjalan keluar dan menutup pintu kelasnya. Mengambil sepatu dari rak yang ada di depan kelas dan berjalan menuju lantai satu. Sampai siang itu Andini masih terlihat baik-baik saja, ia juga merasa bahagia karena hari itu berjalan dengan baik baginya. Sesampainya di rumah, Andini membersihkan diri. Ia mengecek ponselnya dan melihat ada banyak pesan yang masuk. Andini membaca pesan-pesan tersebut satu persatu, mengecek kembali lis tugas sebelumnya, serta membuat lis tugas terbaru, dan membagikannya ke teman-teman yang lain. Ia sadar bahwa ada banyak tugas tambahan yang harus segera diselesaikan. Tapi, besok ada dua mata pelajaran yang akan mengadakan penilaian harian. Bahkan tugas yang harus dikumpulkan siang itu pun Andini belum menyelesaikannya. Sebenarnya, Andini adalah anak yang disiplin. Ia selalu mengerjakan tugas yang ada dengan segera dan mengumpulkannya sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Namun, entah mengapa hari itu semua tugas rasanya menumpuk dalam satu waktu, padahal Andini tak pernah menunda-nunda untuk mengerjakan tugasnya. Kepala Andini mulai pusing, ia belum menyelesaikan tugasnya hari ini, dan belum mengulang pelajaran untuk dua penilaian harian besok. Andini juga mendapat pesan dari ketua kelasnya untuk mengerjakan tugas sekretaris yang kebetulan mendadak dan harus segera diselesaikan. “Kenapa semuanya datang bersamaan? Hiks…” kepala Andini semakin berat, ia menangis, kondisi kesehatannya juga memburuk sejak pelajaran terakhir tadi. Tapi ia tetap berusaha tersenyum dan menyembunyikannya dari orang-orang yang ada di sekolah. Andini berjalan menuju kamar ibunya. Ia menceritakan segala hal pada ibunya. “Sabar ya, Sayang. Allah sedang menguji Andini, Nak. InsyaAllah apa yang Andini hadapi hari ini pasti ada hikmahnya. Ingat, Andini nggak boleh memaksakan diri sendiri ya, Nak.” ibunya tersenyum, mengelus kepala Andini dengan lembut, dan memeluknya. “Iya, Bu. Terima kasih, Bu.” Andini memeluk erat tubuh ibunya. Ia sangat bersyukur mempunyai seorang ibu yang sangat pengertian dan luar biasa. Setelah itu, Andini kembali ke kamar. Ia merasa lebih lega setelah menceritakan kondisi yang sedang ia alami pada ibunya. Ia berwudhu dan berusaha menjernihkan pikirannya agar dapat beraktivitas kembali dengan baik. “Andini, Allah itu nggak pernah membebani hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba itu sendiri. Artinya InsyaAllah Andini sanggup melakukan dan menyelesaikan ini semua! Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk Andini. Ayo semangat!” Andini menyemangati dirinya di depan cermin dengan mata tertutup. Ia membuka matanya, menarik napas, dan menghembuskannya perlahan. Andini menatap wajahnya di cermin dan tersenyum. “Bismillah…” Andini mulai mengerjakan tugas-tugasnya kembali. Ia mendahulukan hal-hal yang harus ia prioritaskan. Hingga akhirnya satu persatu tugas mulai selesai. Ajaibnya, semua orang seperti mengerti keadaan Andini. Saat ia bertanya kepada guru dan berdiskusi dengan teman pun mereka menyemangati Andini. “Put, untuk nomor 12 caranya seperti ini bukan?” tanya Andini pada Putri. Ia mengirim pesan teks dan foto contoh soal beserta pembahasannya yang mirip dengan tugas mereka. “Iya. InsyaAllah benar yang itu, Din.” jawab Putri. “Okee. Syukron, Puputt!” ketik Andini, ia pun mengirim pesan tersebut. “Yap. Semangaat Andinn, syukron juga buat lis tugasnya! Pasti capek dan lama ngetiknya, sekarang juga kita kan lagi banyak tugas… Pokoknya semangat terus ya, Dinn.” jawab Putri. Andini terharu, padahal ia tak pernah menceritakan kondisinya saat itu kepada siapapun selain ibunya. Andini bersyukur mempunyai sahabat yang baik seperti Putri. “Alhamdulillah, selesai semua!” Andini berdiri dari tempat duduknya, ia bersyukur dapat mengumpulkan seluruh tugasnya dengan baik dan tepat waktu. Matahari mulai tenggelam, Andini melihat ke arah jendela kamarnya. Langit di luar begitu indah. Ia tersenyum, hatinya merasa begitu lega. Ia menengok memandangi tas merah kesayangannya. Andini tak sabar bertemu dengan teman-teman dan para gurunya esok hari, ia sangat bersyukur mempunyai keluarga, guru, dan teman-teman yang selalu mendukungnya. Hari itu ia belajar, bahwa apapun itu tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya, dan Allah tahu bagaimana kesanggupan hambanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN