Episode 44

4186 Kata
Sang pencabut nyawa Angir berderai menyapu jubah hitam dan juga rambutku. Sayap hitamku kukepakkan dan melayang di udara. Tak berapa lama aku sampai juga di sebuah hotel yang dikatakan oleh seorang malaikat, ia adalah seniorku. Sebelum itu aku akan memperkenalkan namaku dulu, namaku adalah Isra; aku adalah Malaikat Pencabut Nyawa. Saat ini aku ditugaskan untuk mencabut nyawa seorang pel*cur yang ada di kamar hotel ‘105’. Badanku menembus dinding kamar yang kutuju. Kulihat dua manusia berlain jenis, dengan sangat nikmat bersenang-senang di atas ranjang. Desahan dari mulut pel*cur itu keluar dengan manja. Cukup sudahlah, aku harus melaksanakan tugasku. Pertama kali yang kulakukan adalah; masuk ke raga wanita penghibur itu, dan kuputuskan semua urat yang ada di tubuhnya. Kemudian akupun menarik nyawanya mulai dari kaki hingga seterusnya. Wanita itu meronta-ronta kesakitan. Sementara pria yang ada di sampingnya panik. Setelah itu kulihat arwah wanita itu melayang dan kutuntun menuju neraka. — Aku melihat seorang anak berusia 10 tahunan itu dengan semangat menuju tempatnya mengaji. Sebelum itu ia menyalami tangan kedua orangtuanya. Aku sangat salut padanya. Tuhan memerintahku untuk mencabut nyawanya. Sebenarnya aku sayang mencabut generasi muda yang penuh iman ini; namun ini adalah perintah Tuhan, jadi aku tidak dapat membantah. Anak kecil tersebut berjalan dengan tenang. Seperti biasa, akupun masuk ke raga anak itu dan memutuskan semua urat di dalam tubuhnya. Kemudian aku menarik nyawa anak itu dari ubun-ubunya dengan sangat pelan. Arwah anak itu melayang di udara, setelah itu akupun menuntunnya untuk menghadapi Sang Maha Kuasa. — Dua orang pasangan itu sangat asik b******u mesra di bawah pohon yang rindang. Laki-laki dan perempuan itu menyatukan bibirnya dan memainkannya. Aku seperti biasa, aku melihat semua itu. Sekarang aku akan mencabut nyawa seorang laki laki dari pasangan ini. Akupun mencabut nyawanya dengan sabitkuku ini. Kutarik nyawanya dari tangan hingga selesai. Mungkin ini hanyalah sebuah aksara tak berharga, namun kuharah kalian dapat memetik hikmahnya. Salam dariku untuk kalian. ---- The apple of mu eye Pemuda berambut cepak itu duduk di bubungan atap gedung sekolah. Tatapannya kosong ke bawah, mengamati lalu lalang siswa yang baru datang. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menikmati awal harinya seperti ini. Terus mengabaikan dering alarm ponsel dari sakunya. Jam tangannya menunjuk angka tujuh lebih sepuluh. Masih ada dua puluh menit lagi. “Mereka bilang kamu di sini.” Panggilan itu membuat Dirgantara terlonjak, menatap pada sosok gadis yang berdiri beberapa kaki di sebelahnya. “Maaf aku terlambat.” Dua tangannya masih disembunyikan dibalik saku sweaternya, tapi terlihat mengepal kuat. “Duduk dulu!” Dirgantara membersihkan tempat di sebelahnya. Tatapannya sekarang menjauh ke arah langit dimana matahari merangkak naik. “Mataharinya indah ya, Arunika. Sama seperti namamu.” Dirgantara melirik Arunika yang memasang senyum simpul, menampilkan lesung pipitnya. “Aku kira, Dirgantara cuma laki-laki dingin, ternyata bisa gombal juga.” Arunika tertawa setelahnya, disusul Dirgantara. “Dua tahun lalu, kamu cuma Dirgantara yang sombong, yang bahkan engga mau sekedar membalas sapaanku.” Matanya mungkin bertemu dengan Dirgantara, tapi jauh di sana, Arunika mengingat pertemuan pertama mereka. Dirgantara. Namanya tersebar luas ke seluruh angkatan SMA. Siapa yang tidak kenal dengan ketua tim futsal itu? Tampan, baik hati, juga pintar dalam akademik. Kemudian namanya semakin dibicarakan ketika tersebar rumor ia dekat dengan Arunika. Seorang gadis periang di sekolah, kekanakan, tapi juga sosok yang peduli terhadap orang lain. Entah bagaimana caranya, Arunika berhasil melunakan Dirgantara. Gadis itu mengajarkan banyak hal baru untuk seorang Dirgantara. Bagaimana caranya menyapa, membalas sapaan, sekedar berbalas senyum atau mengangguk sopan. Dirgantara sebagai sosok dingin perlahan hangat untuk teman-temannya. Semua orang berharap pasangan itu bersama selamanya. Hal itu juga yang diharapkan Dirgantara. Perasaannya benar-benar terpaku pada gadis mungil di sebelahnya. Dirgantara tidak bisa menarasikan betapa cantiknya Arunika. Rambut pendeknya yang dikucir satu, bubuhan poni, senyumnya, juga binar bola mata biru milik gadis itu. “Dua tahun lalu, Arunika cuma perempuan periang, dan ramah. Bisa bucin juga ternyata,” balas Dirgantara tak mau kalah. Arunika, Dirgantara baru tahu nama gadis itu tiga bulan setelah muak terus diganggu. Selama tiga bulan itu juga, Dirgantara berjalan memutar, berharap tidak bertemu Arunika yang selalu menunggunya di gerbang utama. Dirgantara tidak munafik. Tiga bulan itu berhasil membuatnya jatuh cinta dengan gadis yang belum ia ketahui namanya. Hari dimana ia tahu nama gadis itu adalah Arunika, Dirgantara membawanya ke tempat ini. Di bubungan atap gedung sekolah ini, Dirgantara mengungkapkan perasaannya. Beruntung, jawabannya adalah yang ia harapkan. “Kamu yang bikin aku bucin,” tegasnya. Mereka kembali tertawa setelahnya, sebelum bel masuk menyadarkan mereka bahwa sedang berada di sekolah. “Yuk, masuk! Bakal ada pemberitahuan buat acara kali ini, kan?” Dirgantara hanya mengangguk, berdiri lebih dulu dan menggandeng tangan Arunika yang sama mungilnya. Sesaat, mereka menjadi pusat perhatian seisi sekolah. Sungguh pasangan yang tepat di akhir kehidupan mereka sebagai siswa SMA. Tinggal menunggu kelulusan dan masa kuliah, mereka bisa hidup bersama selamanya. Tapi mungkin, takdir sedang senang mempermainkan mereka. Dering telepon bergema setelah Arunika masuk ke kelas. Dirgantara menjauh, memastikan tempatnya cukup sepi untuk menerima panggilan itu. Pagi ini, Dirgantara kembali ditelepon ibunya, memberitahunya untuk segera meninggalkan Arunika. “Dirgantara!” Suara lantang itu berhasil memekakan telinga Dirgantara. Ia tahu ibunya marah kalau Dirgantara terus dekat dengan Arunika. Ibunya terus melontarkan kalimat-kalimat yang berhasil membuat lukanya kembali terbuka. “Kamu jangan jadi anak pembangkang! Apa perempuan itu lebih penting dari masa depan kamu? Jangan sia-siakan beasiswa yang kamu dapat, Dirgantara! Tinggalkan perempuan itu atau kamu pergi dari rumah!” Setelahnya hanya bunyi ‘tut-tut’ yang terdengar. Dirgantara tidak menangis sepenuhnya. Ia cukup kuat menahan sakit hatinya pagi ini. Ibunya mungkin benar perihal pendidikan itu, tapi apakah harus mengorbankan perasaannya? Dirgantara juga tidak siap melihat gadis periang itu menjadi gadis pemurung. Masa lalu Arunika, ia tahu semuanya. Meninggalkan Arunika berarti membawa gadis itu kembali dalam belenggu masa lalunya. Dirgantara menepuk dadanya kuat-kuat, berharap memberinya ketegaran lebih. Pelupuknya yang penuh air mata ia seka, menyisakan merah pada bola matanya. Setelah satu hirupan napas dalam, Dirgantara berlalu, meninggalkan kamar mandi tempatnya mengangkat telepon. Sayangnya, tidak sepenuhnya pembicaraannya menjadi rahasia. “Lo bakal ninggalin Arunika gitu aja?” Sesosok jangkung berdiri tepat di luar kamar mandi. Dirgantara tahu itu Jonathan, teman satu kelasnya. Sekarang, semua rahasianya diketahui Jonathan, penjaga gawang tim futsalnya. “Kenapa engga lo coba buat ngasih tau dia sebelum pergi?” “Gue engga bisa, Jo.” Dirgantara tertunduk pada kelemahannya tidak bisa memberitahukan hal ini ke Arunika. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napasnya dalam-dalam. “Gue engga bisa lihat Arunika sedih lagi.” Satu cengkeraman kuat menusuk kerah seragamnya. Tatapan Jonathan siap membunuh Dirgantara saat ini juga. Jonathan mendengus, membuang napas kasar ke arah lain. “Jadi lo pikir Arunika bakal seneng kalau dia engga tau? Lo bukan Dirga yang gue kenal. Dirga yang gue kenal bisa ngambil keputusan!” Cengkeraman itu perlahan melemah. Jonathan meminta Dirgantara untuk kembali memikirkan jawabannya. Dirgantara marah. Ia marah pada semua orang, marah pada Tuhan, marah pada Jonathan, marah pada Arunika yang tidak tahu menahu soal apapun. Dirgantara kembali menjadi Dirgantara dua tahun lalu. Ia menjadi sosok yang sombong, menjadi sentimen terhadap orang lain, menjadi Dirgantara yang individualis. Dirgantara tidak munafik, ia merindukan Arunika yang sudah tidak ia temui dua bulan terakhir. Sering kali, Dirgantara mendapati Arunika menunggunya di gerbang utama. Ia kembali memutar, sama seperti tiga bulan pertama Arunika terus menyapanya. Nomor Arunika di kontaknya juga tidak ada, semua yang berkaitan dengan Arunika ia hapuskan. Mau bagaimana lagi? Dirgantara tidak ingin Arunika tahu soal ini. Jahat bukan, Dirgantara? Ia bahkan tidak memikirkan perasaan Arunika yang pasti sedang mencemaskannya. Sore ini, entah kesekian kalinya Dirgantara masih menemukan Arunika menunggunya di gerbang sepulang sekolah. Gadis itu terlihat semakin tidak terurus. Rambutnya yang biasa rapi dikucir, sekarang diurai berantakan. Senyum yang biasa ia lontarkan perlahan hilang. Tatapannya kosong, mencari-cari keberadaan Dirgantara yang bersembunyi. Arunika berulang kali mencari Dirgantara di kelasnya, tapi hasilnya nihil. Dan selama itu juga, Arunika diberikan banyak alasan kenapa tidak bisa bertemu Dirgantara. Beberapa mengatakan Dirgantara sibuk dengan futsalnya, Arunika bisa terima. Kemudian alasan lain, Dirgantara sedang dipanggil guru, Arunika bisa menerimanya. Putus asa, Arunika hanya bisa berharap bertemu Dirgantara di sini, di gerbang utama setelah pulang sekolah. Dirgantara terdiam. Siapa yang memutuskan ini baik untuk mereka berdua? Bukankah ini memperburuk keadaan? Dirgantara merasa bersalah atas perubahan Arunika. Ia yakin Arunika kembali terbelenggu kehidupan masa lalunya, karena Dirgantara. Dirgantara memang marah, tapi tidak seharusnya memperburuk keadaan. Pikirannya terus melayang kemana langkah selanjutnya pergi. Tentang Arunika, pendidikannya, masa depannya. Semua. Sebelum meninggal, ayahnya pernah mengatakan, “Laki-laki harus memilih jalannya sendiri. Tidak terpaku pada ucapan orang lain, dan pandangan orang lain. Kalau itu baik menurutmu, lakukanlah, tapi bukan berarti mengabaikan saran orang lain.” Apakah ini saat yang tepat memberitahukan semuanya pada Arunika? Apakah Arunika siap menerima semua keputusannya? Dirgantara menghela napas, mengusap wajahnya sekasar mungkin. Sore ini, mau tidak mau, siap tidak siap, Dirgantara harus menyampaikan semuanya. Termasuk alasannya menghilang dua bulan ini. “Arunika?” Kata yang menyebut nama gadis itu berhasil membuat Arunika menoleh. Tatapannya teduh, tidak menyiratkan amarah apapun pada Dirgantara. Senyumnya mengembang sempurna, masih dengan lesung pipit sebagai ukiran indah pada wajah Arunika. Secara tidak sadar, hal itu juga berhasil mengembangkan senyum Dirgantara. “Dirgantara,” ucapnya dengan suara parau. Arunika ingin sekali menangis, memeluk erat tubuh pemuda di depannya, tapi tidak mampu. Kakinya terlalu kaku untuk melangkah, ia sangat bahagia. Bisa kembali melihat sosok yang cintai berdiri dekat dengannya. Pelupuk matanya mulai dipenuhi air mata, Arunika tidak kuasa menahan semua perasaannya yang selama ini ia pendam. Dengan gerakan cepat, Dirgantara membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. “Arunika, aku minta maaf.” Diam, membiarkan mereka menikmati suasana hangat sore ini. Membiarkan Arunika melampiaskan semua perasaannya. Gadis terus menangis, membasahi sedikit demi sedikit seragam putih yang Dirgantara kenakan. Terasa gelengan lembut Arunika pada tubuhnya. Dirgantara benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri setelah ini. Ia pernah berjanji tidak akan membuat Arunika menangis, tapi kenyataannya, Dirgantara sendiri yang membuat Arunika meneteskan air mata. “Bukan salahmu, Dirga. Keputusan masih ada di tanganmu. Aku tau, masa depanmu lebih penting daripada aku.” Arunika melepas pelukannya. Dengan ibu jarinya sendiri, ia menyeka air mata agar tidak lagi membasahi pipinya. Gadis itu menatap lekat Dirgantara di hadapannya. Sebuah senyum ia berikan pertanda Arunika baik-baik saja. “Kamu kejar masa depanmu, Dirga. Aku…” “Kamu tau dari siapa?” Pertanyaan itu memotong kalimat Arunika selanjutnya. Hanya ada satu yang Dirgantara tahu tentang rahasianya. Dirgantara tidak mau gegabah dan menuduh Jonathan tanpa bukti. Mungkin Jonathan marah padanya. Pada keputusan yang ia ambil untuk membiarkan Arunika melupakannya selama dua bulan, tapi gagal. Dirgantara meraih lembut tangan Arunika. Ia ingin Arunika memberitahunya siapa yang membocorkan hal ini pada orang yang ia cintai. Matanya penuh keyakinan, apapun yang terjadi, Dirgantara tidak akan melakukan apapun pada orang itu. Dirgantara hanya ingin tahu, kenapa orang itu begitu jahat membuat Arunika mendengar kebenaran, selain dari mulutnya sendiri. Arunika kembali menggeleng. “Engga penting siapa yang ngasih tahu, Dirga.” “Penting! Kenapa kamu engga mau ngasih tau aku?” “Dirga, aku mohon, pilih masa depan kamu! Lupain aku! Aku engga mau jadi alasan penghalang masa depanmu. Aku engga mau itu, Dirga.” Arunika kembali menteskan sisa air matanya. Pipinya mulai terasa lengket. Ia tidak bisa lagi terisak. Arunika menatap Dirgantara sekali lagi, memastikan pemuda itu sudah memutuskan jawabannya. “Aku mohon.” Dirgantara tertunduk. Ia kembali teringat ucapan ayahnya. Apakah kali ini ia harus memutuskan salah satu? Dirgantara sendiri tidak tahu pilihan mana yang paling tepat. Merelakan seseorang yang ia cintai, atau masa depannya yang sudah pasti? Dirgantara terjebak diantara pilihan itu. Ia menghirup napas dalam, menatap gadis mungil di depannya yang sudah menunggu keputusannya. “Arunika, aku minta maaf. Aku belum bisa jadi seseorang yang selalu ada buat kamu. Aku belum bisa megang janjiku buat engga bikin kamu nangis. Aku minta maaf, Arunika.” Suara parau Dirgantara terasa menebas perasaan Arunika sekarang. Ia tahu yang dirasakan Dirgantara, karena dulu, Arunika merasakan yang sama. “Biar bagaimanapun, Arunika adalah bagian dari Dirgantara, iya, kan?” Celetuk Arunika tiba-tiba. “Bukannya arti namamu itu segala sesuatu yang ada di bumi sampai ke luar angkasa? Sementara aku, Arunika, cahaya matahari yang baru saja terbit. Sejauh apapun kita, aku masih bagian dari kamu. Percayalah, Dirga.” Dirgantara masih merasa pilihannya salah. Untuk kali ini saja, Dirgantara ingin melangkah pada pilihan yang dipaksa, kemudian akan kembali pada pilihannya, Arunika. Arunika sudah menjadi pilihannnya sejak pertama mereka bertemu. Dirgantara menaruh harapan, masa depan, semua keinginannya pada Arunika. Karena itu ia berharap bisa bersama dengan Arunika. Kali ini, Arunika memeluk Dirgantara erat. Memberinya perpisahan membekas yang ia harap tidak akan dilupakan Dirgantara. Arunika mencintainya, lebih dari siapapun yang ia miliki sekarang. Kalaupun bukan Dirgantara orangnya, Arunika tetap bahagia. Ia pernah menjadi prioritas seorang Dirgantara dalam hidupnya. “Kalapun bukan kamu, aku harap kamu masih mau ketemu aku sepuluh tahun lagi. Di tempat pertama kali kamu ngungkapin perasaanmu. Janji?” Arunika membisikan kalimat itu tepat di telinga Dirgantara. Suaranya mulai kembali, hatinya mulai mengikhlaskan kepergian Dirgantara. “Aku janji.” Dirgantara mengatakan itu dengan sepenuh hati. Dirgantara akan mengambil kesempatan sepuluh tahun mendatang. Ia berharap, Arunika masih memiliki perasaan yang sama. --- Mis annoying girl Kehidupan SMA terdengar menyenangkan untuk beberapa orang. Iming-iming masa paling indah selama hidup terus disuarakan tiap tahunnya. Orang bilang, pada masa ini remaja akan menemukan cinta sejatinya. Kalimat-kalimat itu masuk dalam hati seseorang, membuatnya sedikit menyingkirkan masa depannya untuk mendapatkan sebuah bukti. Apakah benar? Deru bising knalpot modifikasi menarik perhatian kerumunan murid di area parkir. Seorang pemuda baru saja selesai memarkirkan kuda besinya. Satu deret lurus dengan kendaraan lain. Jemarinya merapihkan rambutnya yang berantakan. Ia terlihat mengesankan dengan jaket ripped jeans, khas anak motor. Namanya Dirgantara, seorang murid di tahun pertama. Siapa yang tidak kenal dengan sosok itu? Namanya melambung tinggi ketika ia berhasil menjadi ketua tim futsal sekolahnya. Ia berhasil mengalahkan jajaran nominasi seniornya. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan Dirgantara jauh di atas rata-rata. Juga, Dirgantara memiliki wajah tampan. “Bisa engga sih jalan lihat-lihat?” Dirgantara menaikkan intonasi suaranya karena marah. Ia baru saja ditabrak gadis setinggi bahunya. Sesaat, mereka menjadi pusat perhatian sepanjang lobi masuk. Apalagi gadis itu diam dan sibuk memungut bukunya yang berserakan di lantai. Mengabaikan hal itu, Dirgantara memilih pergi tanpa berniat membantu. Pemuda itu duduk di bangku paling belakang, dekat dengan jendela. Ia membuang wajahnya ke pemandangan di luar. Kebetulan kelasnya ada di lantai dua. Pagi ini, seminggu setelah masa pengenalan sekolah, tapi Dirgantara belum memiliki seorangpun teman. Sementara di sekelilingnya, teman satu kelasnya sibuk berbincang, entah membicarakan apa. Dalam lamunannya, Dirgantara teringat siapa yang bertanggungjawab atas kedatangannya di sini. Seorang temannya membuat janji sepuluh tahun, atau seperti itu yang ia dengar. Selama sepuluh tahun setelah kelulusan SMP, mereka tidak boleh saling mencari, tidak boleh menghubungi, bahkan tidak boleh melihat sekalipun kebetulan. Dirgantara yakin tidak mampu melakukan itu kalau jarak mereka hanya puluhan kilometer. Ia memutuskan untuk pindah keluar kota. Meninggalkan semua hal yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya, dan menarik diri dari kehidupan. Mungkin itu juga yang menjadikan Dirgantara dianggap sombong. Mereka tidak mengenalnya lebih jauh, tentang apa yang membuatnya seperti ini. Sebuah tangan membantunya merapihkan buku yang berserakan. “Lo gapapa?” Ia hanya menggeleng, yang berarti jawabannya tidak apa-apa. “Gue Sabita. Nama lo siapa?” Gadis yang masih duduk bersimpuh di tanah itu diberi uluran tangan. Di depannya, Sabita berjongkok dengan senyum seakan memberinya kepercayaan. Melindunginya dari menjadi pusat perhatian sekarang. “Arunika.” Ia mulai bangkit dibantu Sabita tanpa Arunika minta. Pertemuan singkat itu membawa mereka pada satu hubungan pertemanan. Dan, ternyata Sabita murid pindahan yang kebetulan satu kelas dengan Arunika. Pantas saja Arunika merasa asing dengan Sabita, memang gadis itu baru saja pindah. “Emangnya bisa ya?” “Bisa dong, sekarang semuanya mungkin terjadi.” Mereka terus berbincang selama berjalan ke kelas. Sabita mengira Arunika adalah gadis culun yang biasanya ditindas seperti di film-film. Asumsinya salah kaprah, Arunika adalah sosok sebaliknya. Ia periang, ramah, juga peduli terhadap orang lain. Hanya saja tadi, ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Ada satu hal yang membuatnya diam dan tatapannya terpaku pada pemuda itu. Bel istirahat membuyarkan lamunan Arunika. Arunika terus melamun selama pelajaran tadi. Semua materi yang dijelaskan sekedar lewat, tidak berhenti bahkan membekas. Kepalanya dipenuhi gambaran pemuda tadi. Harus ia akui, pemuda itu tampan, tapi bukan Arunika namanya kalau sekedar fisik saja membuatnya jatuh cinta. Ada perasaan yang bergejolak dalam hatinya sekarang. Seperti sebuah kebetulan, padahal takdir itu sedang ia alami. Apakah ada sesuatu yang berhasil membuatnya terikat dengan pemuda itu? Kenapa rasanya ia adalah bagian dari pemuda itu? Arunika harus mencari tahu lebih dalam tentang hal ini, sebelum menyita jam tidurnya nanti malam. “Uh, rasanya engga nyaman kalau terus-terusan pakai gue-lo.” Sabita mengeluh di meja kantin, karena gadis di depannya tidak menggunakan panggilan yang sama. Bukan salah Arunika, Sabita memang bukan berasal dari sini. Ia baru saja pindah dari ibu kota. Yang mana di sana mereka menggunakan gue-lo sebagai panggilan. “Aku-kamu terlalu akrab engga sih?” Arunika menggeleng. “Engga sama sekali, kamu bakal dibilang aneh kalau pake gue-lo di sini.” Kata gue-lo dari mulut Arunika terdengar aneh karena aksennya. Ia tidak benar-benar menikmati semangkuk bakso pesanannya. Pemuda itu benar-benar memporak-porandakan pikirannya yang biasa tenang tanpa beban. “Nanti gue, eh, aku coba biar terbiasa.” Anggukan Arunika tanda persetujuan. Sekarang, gadis di depannya malah menatap ke satu arah di belakangnya. Sabita mengikuti pandangannya, apa yang sedang Arunika perhatikan sejak tadi? Di belakang sana hanya ada kerumunan pemuda. Apakah temannya itu jatuh cinta pandangan pertama? “Nyari siapa?” tanya Sabita. “Kayaknya ada yang merhatiin lo.” Bisikan itu membuat Dirgantara langsung mengikuti arah pandang Jonathan. Ia beruntung ada satu orang pindahan dari ibu kota, sama sepertinya. Jadi mereka bisa menggunakan dialek khas ibukota. Dirgantara tidak yakin, tapi yang ia lihat pertama kali adalah gadis yang menabraknya tadi pagi. “Aku pernah sekali ketemu dia waktu ngurus berkas pindahan.” Sabita memejamkan mata, berusaha meningat barangkali tidak sengaja tahu nama pemuda itu. Arunika memasang wajah serius, menunggu dan berharap Sabita ingat nama pemuda itu. Itu memberinya satu kemajuan kenapa Arunika seperti memiliki satu ikatan. “Dir-gan-ta-ra.” Sabita ragu, tapi hanya itu yang berhasil ia ingat. Dirgantara duduk membawa pesanannya ke meja kosong. Setelah menuangkan sambal, ia mulai menjelaskan perlahan sambil mengunyah sarapannya. “Dia cewek yang nabrak gue tadi pagi, mungkin dia mau minta maaf, makanya ngelihatin gue.” Terdengar sombong memang kalimat Dirgantara barusan. “Kamu yakin itu namanya?” Sabita mengangguk. Arunika kembali melanjutkan kegiatan makannya yang kali ini terasa lebih nikmat. Itu juga karena ia sudah tahu nama pemuda yang ia tabrak tadi pagi. Atau haruskah ia meminta maaf? Kalau iya, Arunika bisa melihat name tag pemuda itu. Arunika harus memutuskannya sekarang juga, sebelum pemuda itu pergi. “Eh, mau kemana?” Sabita hanya memperhatikan kemana Arunika melangkah. Temannya itu malah menghampiri pemuda yang ia berikan namanya barusan. Sabita mendesah kesal, ia tidak memiliki keberanian sama seperti Arunika. Selama ini perasaan sukanya terus ia pendam, takut dengan jawaban yang tidak sesuai harapannya. “Dia dateng.” Pemberitahuan Jonathan membuat Dirgantara menghentikan kegiatan makannya. Gadis itu berdiri di samping mejanya, tangannya mengulur yang hanya ia tatap sinis sejauh ini. Dirgantara tidak menjabat tangan mungil gadis itu. Ia terpaku pada ciptaan Tuhan kali ini. Gadis itu benar-benar cantik. Dirgantara memperhatikan penampilan gadis dengan name tag Arunika. Setelah lamunannya buyar, Dirgantara melipat tangannya di depan d**a. “Kenapa? Mau minta maaf?” Gadis itu mengangguk dengan senyum simpulnya. “Bisa, tapi lo bayarin makanan gue.” Jauh dari ekspetasinya berharap gadis itu marah, ternyata Arunika mengiyakannya. “Apa semiskin itu, sampai pesenan kalian harus Arunika yang bayar?” Sabita yang tidak terima ikut campur dalam pembicaraan. “Lo siapa? Seenaknya minta orang lain yang bayar.” Arunika menarik-narik tangan Sabita, memintanya untuk tidak ikut campur urusan ini. Ada harga yang harus dibayar untuk memastikan nama pemuda itu. Sementara kejadian tadi pagi bukan sepenuhnya salah Arunika. Sama-sama tidak sengaja, berarti baik-baik saja, kan? Dirgantara bangkit. Tatapannya tajam ke arah gadis di sebelah Arunika. Sekarang, mereka berempat menjadi pusat perhatian seisi kantin. “Gue juga engga tau lo siapa, jadi urus urusan masing-masing, paham?” Sabita meneguk ludahnya, tatapan itu siap membunuhnya. Ia tidak takut, hanya berusaha menjaga sikapnya sebagai murid pindahan. “Kita pergi aja, yuk!” Ajakan Arunika langsung disetujui Sabita. Sedangkan Dirgantara mendengus kesal. Ia kembali duduk disusul Jonathan. Nafsu makannya hilang seketika. Sekarang pikirannya dipenuhi wajah pemilik nama Arunika. Ia menyukai gadis dengan lesung pipit, dan Arunika memenuhi itu. Dirgantara tidak akan jatuh cinta semudah itu. Sehebat apapun perasaannya nanti, Dirgantara sedang tidak ingin memiliki satu hubungan serius. Ada seseorang yang pasti akan menentangnya secara tegas. Memaksanya meninggalkan masa remaja yang seharusnya indah, menjadi lebih serius. Menyebalkan memang. Hubungannya tidak pernah baik dengan ibunya. Ayahnya juga terus berpindah-pindah mengikuti dimana ia akan dinas selanjutnya. Dirgantara ingin sekali tinggal sendiri. Ia sudah cukup dewasa untuk menghadapi masalah seorang diri. Kalau saja ia mampu melakukannya. Sayangnya, ia tidak cukup mampu untuk itu. “Kenapa sih kamu mau ngelakuin itu? Ada cara lain, Arunika.” Arunika dimarahi habis-habisan oleh teman barunya itu. Sabita merasa keputusan Arunika tadi nanti mengorbankan harga dirinya. Ia tidak habis pikir. Kenapa seorang Arunika yang ramah harus berjuang untuk sekedar dekat dengan Dirgantara yang rumornya dikenal sombong. “Kasih tau aku, kenapa harus dia?” “Aku ngerasa emang dia orangnya.” Sabita menghela napas kasar. Kadang intuisi harus diikuti. Baik untuk sekedar ingin tahu atau memang seperti itu takdirnya. Apapun langkah yang Arunika ambil setelah ini, Sabita tidak bisa berbuat banyak. Tapi ia akan berusaha ada untuk Arunika kalau saja gadis itu butuh bantuannya. Hari-hari berikutnya, Arunika mulai menunggu kedatangan Dirgantara. Ia akan terus menyapa pemuda itu di lobi. Karena pembawaannya yang ramah dan periang, Arunika mulai dikenal. Mereka memanggil Arunika dengan sebutan gadis periang. Tidak masalah untuk Arunika, selama itu tidak berarti buruk, silakan saja. Sudah memasuki bulan ketiga Dirgantara terus disapa gadis itu. Iya, gadis yang tidak sengaja menabraknya. Ia hampir saja gila karena tidak bisa menemukan cara agar namanya tidak terus disebut setiap paginya. Sampai ia menyadari ada jalan lain selain lobi ini. Dirgantara mulai berjalan memutar untuk menghindari Arunika. Satu hari dimana ia berangkat terlambat, lobi sudah sepi. Biasanya, Arunika masih menunggunya di sana. Seminggu terakhir ini ia sengaja datang terlambat, memastikan gadis itu sudah lelah dengan usahanya. Dirgantara bisa bernapas lega walaupun mengorbankan banyak hal. Apapun itu, ia tidak ingin melihat Arunika. “Lo nyariin siapa?” Pertanyaan itu menghentikan pencarian Dirgantara. Ia tidak berhasil menemukan gadis bernama Arunika di sini. Ia juga menyimpan gengsi tinggi untuk tidak menanyakan di kelas mana Arunika tinggal. Atau seperti itulah mereka menyebutnya. Dirgantara menggeleng, mengalihkan Jonathan dengan mengambil bakso dari mangkok pemuda jangkung itu. Hari menjelang sore dengan wajah murung Dirgantara untuk pertama kalinya. Ia gagal menemukan Arunika seminggu ini. Apakah sikapnya terlalu berlebihan terhadap Arunika? Bukankah gadis itu hanya ingin tahu tentang satu hal mengenai dirinya? Ada rasa penyesalan dalam tubuh Drigantara sekarang. Entah kenapa ia harus memiliki perasaan ini sekarang. Dirgantara berjalan lambat menyusuri lobi. Juga baru pertama kalinya ia harus berjalan menundukkan kepala. Ia harap bisa menemukan Arunika. Biar kali ini ia yang meminta maaf atas sikapnya tiga bulan ini. Dan selalu ada hal yang muncul selama gangguan Arunika yang terus menyapanya setiap pagi. “Selamat sore Dirgantara.” Sapaan itu membuatnya mendongak. Itu Arunika yang selama ini ia cari. Gadis itu berdiri di lobi, memamerkan senyum simpul dengan deretan gigi kecilnya. Dirgantara memperhatikan sekelilingnya, mengusap wajahnya kasar berharap ini bukan halusinasi. Manusia bisa saja berhalusinasi karena sesuatu yang mereka rindukan. Bisa saja itu sedang terjadi sekarang, tapi Dirgantara yakin tidak sedang mengalaminya. “Tumben murung, biasanya kelihatan biasa tanpa eksperesi, bisa sedih juga ternyata.” Kalimat itu segera disusul kekehan dari Arunika. Juga Dirgantara yang menemukan kembali senyumnya. Gadis itu menolongnya, membantunya keluar dari kenyataan bahwa ia bisa melakukan dua hal sekaligus. Menikmati masa remajanya, juga fokus pada masa depannya. Dirgantara melangkah cepat meraih tangan Arunika. “Ikuti gue!” Gadis itu tidak banyak bicara. Sepertinya Arunika mengikuti kemauannya yang membawa gadis itu ke bubungan atap gedung sekolah. Di ujung sana, matahari berbagi kehangatan. Memeluk mereka yang sepertinya kehabisan kata-kata untuk menutup hari ini. “Arunika, gue minta maaf kalau sikap gue berlebihan ke lo. Gue engga tau tujuan lo sebenernya nyapa gue tiap pagi. Gue engga tau apa yang lo mau dari gue. Tapi selama tiga bulan itu, ada perasaan yang mulai tumbuh. Gue udah nyari lo buat ngungkapin ini, dan sekarang waktunya. Would you be mine?” Dirgantara baru saja mengungkapkan semuanya. Tiga bulan setelah Arunika berhasil membuat kepalanya dipenuhi oleh gadis itu. “Iya aku maafin.” Arunika menjawab satu pertanyaan diawal. Dirgantara masih menunggu jawaban selanjutnya dari Arunika. Ia tidak mau perasaannya digantungkan oleh orang yang ia sukai. “Buat pertanyaanmu yang terakhir… aku engga ada maksud kalau kamu sampai naruh perasaan buat aku.” Arunika tertunduk, seiring melemahnya tangan Dirgantara yang menggenggamnya. “Aku cuma mau tau namamu, dan sekarang aku udah tau.” “Cuma itu?” tegaskan Dirgantara. Arunika menggeleng. Sejak awal bukan sekedar untuk tahu nama pemuda di depannya sekarang. Arunika memang merasa ia adalah bagian dari Dirgantara. “Yes, i will.” Arunika segera memeluk tubuh Dirgantara sebelum sempat pemuda itu melihat pipinya yang semakin memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN