Episode 38

3685 Kata
Mimpi? Bukan ini nyata Riel, seorang remaja berumur sekitar 17 tahun yang tinggal di sebuah kota cukup besar, menjalani kehidupan SMA nya dengan normal seperti kebanyakan orang di sebuah sekolah yang cukup terkenal akan sistem pendidikannya. Banyak anak yang dapat masuk perguruan tinggi impiannya. Banyak juga yang sudah menentukan pilihannya sejak awal masuk. Namun, tidak untuk Riel yang sampai saat ini masih belum menentukan pilihannya. Suatu hari saat temannya, Rian bertanya padanya “Ri, Ntar kamu mau kuliah dimana?” “Gatau.” “Lah, kok gak tau? Memangnya mau ambil penjurusan apa? Sekarang kita ini kelas 11 loh, udah semester 2 juga.” Sahut Cecep yang berada di sebelah Rian. “Santai saja, nanti pasti ketemu kok.” Sahut Ucup yang juga ada disana. Mereka berempat sudah lama saling kenal dan sering kumpul bersama saat jam istirahat di sekolah. Mereka berada di kelas yang berbeda, kecuali Rian dan Riel yang berada dalam satu kelas. Beberapa hari ini Riel terus kepikiran oleh apa yang dikatakan teman-temannya pada hari itu. Saat jam istirahat, Riel masih duduk di bangkunya dan termenung. “Nanti mau kuliah dimana ya? Ambil jurusan apa ya? Semua bertanya seperti itu termasuk orangtua juga.” Katanya dalam hati. Rian yang saat itu juga ada di dalam kelas kebingungan saat melihat Riel. “Kao mikirin apaan sih? Kok ekspresimu aneh gitu? Mikirin cewek? Aduhh.” Kata Rian. “Gak. Emangnya ekspresiku aneh ya?” “Ya, ada apaan sih?” “Masih bingung ntar mau kuliah ambil penjurusan apaan.” “Ohh, coba aja mulai dari sesuatu yang kamu suka.” “Hmm, tapi apaan ya.” Riel bingung. “Kalau belum ada ya cari dulu yang kamu suka itu apaan, nanti bisa aja ketemu secara tiba-tiba. Kamu kan ada punya PC, manfaatin aja.” Sambung Rian. Sesampainya di rumah, Riel kembali merenung “Hmm, sesuatu yang disuka.” Riel memikirkannya sambil memutari kamarnya. “Biasanya sih aku sering buat animasi gitu di PC kalau lagi gak ada kerjaan.” Beberapa hari telah berlalu, Riel terus melanjutkan membuat animasinya jika ada waktu luang dan dia juga menikmati saat-saat membuatnya, menurutnya itu cukup seru. Baru saja Riel menyelesaikan animasinya, Rian, Cecep dan Ucup dateng ke rumahnya untuk bermain. Karena hari ini malam minggu, mereka biasanya menginap di rumah Riel. “Oi Ri, kamu lagi ngapain tu?” Kata Cecep. Riel menoleh ke arah teman-temannya “Ohh ternyata kalian, nih baru aja selesai buat animasi gitu. Gak ada kerjaan abisan.” “Wahh animasi, keliatannya keren tuh. Boleh kita tonton gak?” Sambung Ucup. “Boleh, jelek tapi, buatnya masih asal-asalan.” Ucup, Rian dan Cecep terkejut setelah menonton video animasi yang dibuat Riel ternyata hasilnya lumayan bagus walaupun dibuatnya dengan asal-asalan. Riel senang karena karyanya dipuji. Kemuadian, Rian menyarankan untuk menambahkan efek suara dari videonya tersebut agar dapat terlihat lebih bagus lagi. Dan kemudian mereka mencari dan membuat efek suara untuk videonya bersama-sama. Mereka mengerjakannya sampai larut malam dan sampai ketiduran. Keesokan paginya mereka langsung pulang ke rumah. Riel melanjutkan mencari sound untuk videonya sendiri, karena kemarin hanya kebanyakan bermain saja. Dan pada siang harinya. “Yosh, akhirnya aku selesai ngedit videonya. Tapi setelah ini diapain ya? Teman-teman udah pada pulang.” Kemudian Riel disuruh oleh teman-temannya untuk membagikan video tersebut di youtube agar mereka bisa menonton video tersebut. Riel kemudian terpikir sesuatu “Kenapa harus di youtube? Ah sudahlah, aku upload saja dulu.” Sambil menunggu uploadnya selesai, Riel tiduran sejenak di kasurnya. Beberapa saat kemuadian. “Videonya sudah selesai diupload belum ya?” kata Riel sambil berjalan ke arah komputernya. Riel melihat seperti ada notifikasi di komputernya. “SELAMAT!! Video anda telah mencapai 100.000 views lebih. Silahkan tulis secara lengkap biodata anda di bawah ini agar hadiah dapat lebih cepat diproses. Terimakasih karena telah berpartisipasi di YouTube.” “Ha?? Apa-apaan ini? Banyak banget yang nonton videoku” Kemudian Cecep menelepon Riel “Ri, link video yang kamu kasih ke kita itu video buatanmu itu kan? Kok bisa banyak gitu yang nontonnya??” Tanya Cecep sambil kebingungan “Gak tau, barusan aku cek komputer udah muncul notifikasi dari youtube nya” Teman-teman Riel hanya bisa terheran-heran setelah melihat video Riel yang baru diupload sudah banyak yang nonton. Dan Riel merasa sangat senang karena videonya banyak yang menonton. Kemudian Riel melihat berbagai komentar orang-orang yang diberikan di videonya itu. Banyak yang mengatakan bahwa videonya keren, bagus, dan banyak juga yang meminta Riel untuk membuat video baru lagi. Riel menjadi sangat senang dan menjadi bersemangat untuk membuat video baru lagi, walaupun ada beberapa juga komentar yang jelek. Tapi itu tidak membuat semangat Riel membuat video jadi turun. Keesokan harinya saat jam istirahat di ia dipanggil oleh seorang perempuan. Dia adalah perempuan yang cukup terkenal di sekolah, dia juga adalah seorang youtuber yang biasanya membuat video cover lagu. Namun, sepertinya Riel tidak mengenalnya. “Kamu Riel Tama yang buat video animasi di youtube itu kan? Boleh minta bantuannya gak? Namaku Alisha” Tanya gadis itu. “Iya benar itu aku. Bantuan apa?” “Tolong bantu edit videoku dong. Aku sering upload video cover lagu gitu di youtube, tapi hasil editannya masih kurang bagus.” “Ohh gitu, boleh kok.” “Ini alamat emailku. Terimakasih ya, nanti aku kabari lagi.” Rian, Ucup dan Cecep yang melihat Riel berbicara dengan gadis itu terkejut. Mereka heran kenapa Riel bisa tidak mengetahui tentang gadis cantik itu. Saat sudah di rumah Riel dikirimin video lewat emailnya oleh Alisha. Alisha sangat berterima kasih kepada Riel yang sudah membantu mengedit videonya menjadi lebih bagus. Kemudian, Alisha juga meminta Riel untuk mengajarinya mengedit video. Sejak saat itu mereka menjadi semakin dekat dan sering berkolaborasi dalam membuat videonya. Teman-temannya juga merasa senang karena sepertinya Riel sudah menemukan apa yang akan ia tuju kedepannya. Dan Riel sudah memutuskan bahwa kuliah nanti ia akan mengambil jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) atau sering juga disebut Desain Grafis. Beberapa hari telah berlalu. Saat ini Riel sedang pergi jalan-jalan bersama Alisha, sekalian untuk mencari inspirasi buat videonya nanti. Saat sedang bejalan tiba-tiba Riel tersandung dan jatuh. Saat sudah bangun, tiba-tiba ia sudah berada di kamar rumahnya dan saat ia melihat ke arah jendela, sepertinya hari sudah mulai gelap. “Barusan itu mimpi? Tapi mimpi apaan ya? Seingetku tadi lagi jalan bareng cewek trus tiba-tiba jatuh. Tunggu. Cewek? Emangnya ada cewek yang mau jalan bareng aku?” Ternyata semua hal yang telah ia lalui tadi hanyalah mimpi dan Riel juga sudah lupa tadi itu dia mimpi seperti apa. “Oh iya, barusan kan aku ada upload video” Ia berjalan ke arah komputernya. Setelah itu ia memberikan link videonya kepada teman-temannya. Beberapa saat kemudian ia tersadar bahwa yang menonton videonya sudah lebih dari 500 orang dan beberapa komentar positif. Salah satunya ada gadis yang bernama Alisha juga di kolom komentar, gadis yang ada di mimpi Riel. Ia ingin meminta bantuan Riel dan ingin menemuinya saat jam istirahat di sekolah. “Alisha? Perasaan aku pernah dengar namanya. Tunggu dulu. Sepertinya hal ini pernah terjadi deh sebelumnya.” Tanyanya dalam hati sambil kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. --- Kebahagiaan Bruuk! Kulempar tasku begitu sampai rumah. Hari ini capek sekali. Ini hari Selasa, hari pertama MOPD. Masa Orientasi Peserta Didik Baru. Kemarin aku harus tidur sampai jam sebelas malam gara-gara harus menyiapkan bahan-bahan yang dipakai untuk MOPD hari ini. Menyebalkan gak? Apalagi otakku harus tetap bertahan padahal, mataku udah beratnya minta ampun. Tadi, ada materi tentang bela Negara. Tahu kan bela Negara? Itu lho pelajaran PKn yang paling membosankan. Jujur, aku memang gak terlalu suka tentang PKn. Selain gurunya dulu di SMP galak dan disiplin, aku juga lemah di bidang itu. Yah, aku berharap waktu di SMA gak begitu. Ngomong-ngomong, pulang dari sekolah aku lapar. Maklum, tadi pagi harus cepat-cepat biar gak terlambat. Aku buka tudung saji, lumayan ada sayur asem sama sambel. Ahh, kenyang. Sekarang pergi ke rumah Bella aja deh, lagian rumah sepi. Kukeluarkan motor dari bagasi dan segera menuju ke rumah Bella. Tok… Tok… Tok… Gak ada jawaban? Tok… Tok… Tok… “Eh, Angel masuk deh, Bella lagi di kamar, katanya baru ada eksperimen,” kata Kak Dina. Sepupunya Bella. “Dia buat eksperimen lagi, Kak?” tanyaku. Bella kan jago IPA. Kak Dina cuma mengangkat bahu dan masuk ke kamarnya, menyalakan musik di komputernya keras-keras. Aku berjalan pelan menuju kamar Bella. “Bella,” ternyata memang bener dia lagi eksperimen. “Eh, Angel. Sini masuk aja aku cuma lagi meneliti rumah itu lho, yang ditempati sama anak seumuran kita sendirian. Gak tahu sih alasan yang pasti apa yang jelas aku penasaran banget pengen masuk ke rumah itu. Gimana kalu kita ajak satu geng masuk? Sekalian main itu lho, apa yang berani atau jujur, trot? Eh apa sih?” tanyanya sambil garuk-garuk kepala. “Ngakunya ibumu orang LA, masa ngomong truth or dare aja gak bisa?” “Iya maaf, maksudnya kan itu. Eum, jadi gimana gak apa-apa kan kita coba masuk ke sana, sekalian main truth or dare?” “Boleh. Aku sih tergantung Kevin sama Jordy aja, Bells. Ah, udah deh aku itu ngantuk karena TNI tadi ngomongnya banyak banget. Aku boleh kan numpang tidur sebentar?” “Terserah kamu aja deh. Aku tetep mau hubungi Kevin sama Jordy, pasti dengan paksaan, terror, ancaman, pasti mau. Hahaha. Aku merasa orang jahat sekarang. Angel kamu ikut kan? Angel? Eh, udah tidur dia. Ya udah telpon Kevin dulu deh” Bella mengambil handphonenya dan mencari nama Kevin. “Kev? Aku punya rencana. Pokoknya kamu harus ikut awas kalu kamu gak ikut,” astaga maksa amat. Sekarang jam setengah lima sore. Kami sudah mulai persiapan masuk ke dalam. Tapi ya karena kami bukan geng yang berani pada setiap hal, jadi terpaksa main dorong-dorongan. “Jor, kamu deh yang masuk duluan ntar ditemeni sama Angel,” ucap Kevin sambil mendorong. “Heh, apa-apaan sih? Apa maksudmu dorong-dorong sampe segitunya? Pake nama Angel segala lagi,” kata Jordy sewot. Aku cuma menjulurkan lidah. Akhirnya kami berfikir siapa yang harus masuk duluan. Hmm, karena aku pemberani, jadi aku maju satu langkah. Aku pun tersenyum bangga. Eh, teman-teman gengku malah menatapku dengan pandangan s***s. Aku cuma nyengir lalu mendorong Kevin untuk masuk. Dan seperti biasa gak ada yang mau masuk. “Hey, kenapa kalian ada di rumahku? Ini bukan tempat umum! Cepet pergi!” sang pemilik rumah datang langsung ngusir kami. “Maaf, Ren. Aku yang ajak mereka. Karena aku penasaran rumahmu sepi terus dan aku lihat tiap hari kamu aja yang di sini. Emangnya kita gak boleh bertamu sebentar?” Bella beranikan diri bicara, padahal suasana hatinya pasti takut banget. “Apa bertamu? Bella! Kamu itu gak boleh sembarangan ajak orang lain ke sini! Lagian belum lebaran aja udah bertamu. THR juga belum dikasih. Udah sana minggir aku mau tidur,” ih, sumpah kasarnya terlalu rendah. Kami berempat langsung berpandangan. Terus mau kapan? Pasti Bella masih akan terus maksa, neror dan ngancam untuk tetap mengintai rumah itu. Akhirnya dengan senyum ancaman dari Bella, kami bertiga cuma bisa mengangguk pasrah. Rencananya besok siang kami bakal ke sini lagi. Nah, sekarang pulang deh. Ahh, enaknya tidur di kasur empuk kamar. Nyaman. Aku jadi berfikir lagi tentang truth or dare. Ya, aku sering baca dan browsing tentang ini. Memang game ini kan yang harus sabar dan sangat jujur. Kalau aja aku disuruh pilih mungkin aku akan bilang kalau aku suka ngoleksi barbie. Hehehe. Tiba-tiba handphoneku bunyi. Lho, telpon dari Jordy? “Iya, Jordy kenapa? Tumben nelpon?” “Eh, Angel besok kamu mau traktir aku kan?” “Hah? Apaan maksudnya?” “Besok bayarkan aku angkot ya? Uangku gak terlalu banyak besok. Ya udah sampe besok siang. Bye,” Apa-apaan sih? Habiskan pulsa aja, padahal aku itu kalau pulsa harus pelit, hemat dan irit banget. Misalnya aja tinggal lima ribu gitu, kakakku mau coba telpon, walaupun sama operatornya kadang aja aku minjem kan. Tapi, harus beberapa menit, yang jelas gak sampai setengah jam. Itu sudah melanggar hak pulsaku. Tahu kan sekarang apa-apa mahal, BBM naik, telur naik. Dan yang biasanya kalau kucingku makan itu kan dikasih ikan pindang kalau habis baru telur. Yang biasanya telurnya satu, sekarang harus setengah atau satu telur untuk makan tiga kali. Dulu sih pernah ada sms dari TimSom BBM, katanya bilang keluhannya apa. Aku sih gak bales, bukan masalah pulsa, memangnya kalau semua sms langsung turun semua harganya? Nyatanya sudah pada demo, protes, gak ada kemajuan tuh. Lho? Kok aku jadi ngomong soal ini? MOPD hari kedua lebih asyik dari kemarin. Paling gak kali ini banyak video yang ditampilkan dan materinya gak terlalu buat ngantuk. Karena besok ada pensi, jadi hari ini kelasku latihan. Aku kelas sepuluh enam. Kelas yang mungkin bisa dibilang ramai dan kita sendiri menyebutnya kelas rusak. Nyatanya waktu nyanyi Indonesia raya, yang ketawa cukup banyak, walau mungkin biangnya aku sih. Nah, jadi hari ini aku pulangnya agak telat dari kemarin. Lagian segengku kan satu sekolah. Kebetulan Jordy itu masuk aksel, beda dua tahun sama aku. Tapi, memang sih dia itu dewasa banget. Artinya lebih dewasa dibanding aku. Mungkin itu yang buat aku suka dia. Hehehe. Kemarin katanya habis pulang sekolah mau langsung ke sana jadi kita semua sudah bawa baju ganti dari rumah. Akhirnya kita sampai di rumah Bella. Keadaan rumah itu masih sepi, mungkin Reno belum pulang dari sekolah. Setelah menyusun rencana yang matang, kita sepakat masuk dari belakang rumah. Jadi, nanti kita main truth or dare dari situ dan siapa yang kena harus masuk duluan. Kecuali dia pilih jujur. “Oke, kita udah siap semua? Ayo, jalan,” Dengan jalan mirip PBB, kita menuju rumah Reno. Kevin udah bawa botol kosong bekas air mineral untuk diputar. Huft, detik-detik botol akan diputar terasa mendebarkan. Apalagi kelihatan temen-temen gengku keringetan semua. Aduh, jangan aku yang pertama, aku malu kalau harus bilang masih suka koleksi barbie. Botol diputar 360 derajat. Berhenti tepat di depan Kevin. Kevin langsung salting dilihat teman-temannya. “A.. a.. aku pilih jujur,” katanya. Kita semua menatap tajam dengar pengakuannya. ”Sebenernya, aku kadang masih ngompol,” Tawa kami langsung menggelak. Jordy ketawa sampai nangis. Aku ketawa sambil mukul tanah, sedangkan Bella ketawa keras. Saat ini kita bertiga sukses buat Kevin memerah dan malu berat. Yang bener? Anak umur enam belas tahun masih ngompol? Terlalu lucu banget. Kevin langsung tutup mukanya pakai tangan, sementara kita belum bisa berhenti ketawa. “Udah, kasihan Kevin, ayo dilanjutkan aku yang puter ya?” kataku. Kedua kalinya hati kami berdebar. Siapa yang kena? Botol berhenti tepat di aku. Semua mata langsung memandang ke arahku. Aduh, milih apaan coba? Masa aku harus milih jujur kalu aku masih suka ngoleksi barbie? Malu ah. Tapi, kalau pilih berani jangan-jangan aku harus masuk ke rumahnya Reno? Wah, tambah berdebar nih. Semua melihatku dengan mata penasaran. “Gini aja deh, tujuan kita ke sini kan mau masuk ke rumah ini kan? Terus kenapa mainnya sekarang?” ucapku. Bella mangut-mangut. “Oh, jadi Angel pilih berani. Oke, silahkan Angel kamu masuk duluan,” kata Bella. Seraya mendorongku keras. Hatiku makin dag dig dug. “Kok aku sendiri sih? Kan takut. Walaupun aku malaikat, tapi kan aku juga manusia,” “Nama kamu aja Angel. Makanya apa-apa dianggap susah,” Karena aku gak mau masuk sendiri, kita sepakat masuk berempat. Waktu di dalem, suasana senyap. Di dalem gak ada lampu. Senter aja gak kebawa. Kita tetep masuk walaupun hati kami berdebar terus. Kita berpencar, aku sama Jordy, Kevin sama Bella. Aku masuk ke ruang keluarga. Gak ada apa-apa, cuma ada kursi, TV, meja, remote, handphone, sama radio. Dan tempatnya super berantakan. Mungkin kemarin habis tawuran. “Ih, apaan nih berantakan banget. Kayak habis ditabrak kapal titanic aja,” kata Jordy. Hu maniak film deh. “Padahal tawuran kan ada artinya, kok bisa begini?” “Tawuran itu kan ada dari dua kata, tawu sama ran. Tawu itu tahu, kalau ran itu lari. Jadi begitu tahu ada musuh ya lari. Tapi, kalau ini begitu tahu ada musuh berani kalah,” “Ah, iya. Eh, itu ada benda apaan itu? Kok ada ekornya? Lho? Waa!! Tikus!!” teriak Jordy kaget. Ih, padahal aku juga jijik sama tikus. Jordy loncat dan lari ke sofa. Aku yang lihat cuma geleng-geleng kepala. Pencarianku berterus, akhirnya kita sampai di kamar tidur. Ini malah lebih parah. Sumpah belum pernah aku lihat ruangan sebersih ini. Spreinya bersih gak ada kotoran. Lantai juga bersih. Lalat pun masuk pasti akan kepleset dulu. Terus coba naik lagi, jatuh lagi, dan akhirnya menyerah. Bau wangi mawar aja tercium. Ruangannya mirip hotel. Jordy yang masih gemetaran, nyusul aku di belakang. Dia langsung duduk di kasur sambil tarik sarung. Mirip orang lagi pos kamling. Sedangkan aku mulai lihat-lihat isi lemarinya. Lemarinya rapi kok. Bajunya aja impor semua. Ada yang dari pasar sebelah, dari toko depan, ada kok yang paling jauh di belakang rumah ini, belok kanan, terus lurus aja jangan nabrak, belok kiri, ada perempatan maju terus, ada pertigaan belok kanan. Nah, di situ ada tokonya. Tapi, agak mahal sih antara tiga ribu rupiah sampai lima ratus ribu. Dan di lemari ini banyak yang harganya lima ribuan. Cocok untuk remaja kere. Sementara aku masih cari barang-barang yang kemungkinan besar bisa aku ambil untuk isi kamar, Bella sama Kevin baru ada di dapur. Baru saja mereka ingat pelajaran di SMP tentang hidup manusia yang akan datang. Katanya Kevin kalau pisau touch screen pasti enak. Lumayan bisa motong-motong lurus dan rapi. Biasa gak bakat chef itu begitu. Bella malah lebih parah. Selang gas yang dikira tali raffia diinjak-injak sampai bau gasnya menyengat. Arena berbahaya dilewati, mereka menuju ke ruang makan. Di atas mejanya banyak buah sama minuman. Muncul kan ide cemerlang mereka. Satu persatu diambil. Lumayan buat dijual lagi. Ditinggikan harganya. Huh, otak bisnis. Kami berempat mulai berjalan lagi. Berjalan keluar. Apalagi kalau gak nyelesaikan permainan troth or dare lagi. Aku sama Kevin sudah muter, dan kebetulan kita yang kena. Gantian Bella yang muter. Dag dig dug lagi hati kami. Tep! Botol berhenti. Menuju ke arahku lagi! Ih, apaan sih ni botol, naksir ya? Semua mata menuju ke arahku. Mungkin memang saat yang tepat untuk bilang bahwa, posisi barbie sudah tidak aman lagi di rak kamar. “Aku jujur ya, kalau aku masih suka koleksi barbie,” semua mata memandangku. Semua muka pada merah nahan ketawa. Aku nunduk malu. Akhirnya ketawa keras kedengar juga. Mukaku kepiting rebus. Jordy ketawa sampai nagis lagi. Kevin sambil mukul-mukul punggung Jordy, jadi Jordy ketawa sambil mengaduh. Bella ketawa ngikik. Semenit kemudian Bella berhenti ketawa. “Johnny Deep aja koleksi barbie kok, jadi agak waras juga sih,” semua mangut-mangut. “Puter lagi, puter lagi,” kata Jordy. Gantian Bella yang muter. Aku jadi dag dig dug berkali-kali lagi karena gak mau botol naksir aku lagi. Dan ternyata, botol mengarah ke Bella. Kita semua tersenyum bahagia. Lakon dari ini semua akhirnya terpilih. “Jujur ya, kalau sebenernya aku itu anak pungutan dari jalan,” ucapnya sedih. Kami kaget. Masa sih? Aku menenangkan Bella yang mulai terisak. Jordy sama Kevin saling pandang. Sejurus kemudian Bella mengeluarkan tertawaan mautnya. Weh, kita dibohongi! Langsung aja kita bertiga mulai kejar Bella yang sudah lari ke mana-mana. Tiba-tiba dia nabrak Reno. Kita kaget. Reno pasang muka curiga. Kami berempat langsung pamit pulang. “Heh! Sini kalian semua! Gak sopan ya? Udah berani masuk rumah orang tanpa ijin, dibilangin belum dapet THR masih aja nekat,” ucap Reno kasar. Matanya melotot ke arah kita. Mukanya merah marah. Mungkin rumahnya memang pribadi rahasia buat dia. Kita semua gak berani natap matanya. Akhirnya Kevin angkat bicara, setelah beberapa dorongan ke dia. “Ren, maafkan kita semua ya? Kita Cuma mau tahu aja rumah kamu itu kenapa selalu sepi. Ternyata di dalem kaya habis dihantam kapal tita..” Jordy langsung menjitak kepala Kevin. Bella nginjak kakinya, dan aku tampar pipinya. “Apa, tita-tita? Maksudmu rumahku itu habis dihantam kapal titanic? Emangnya segitu kotornya rumahku di mata kalian? Memangnya kalian tahu kenapa bisa terjadi?” muka Reno tambah merah karena kecewa. Mungkin rumahnya mengandung makna tersendiri. Reno menunduk mulai cerita. Katanya dia punya saudara kembar yang pisah lama. Namanya Rena. Iya, cewek. Karena orangtua mereka cerai, mereka berdua sepakat buat rumah ini. Dengan dana yang terbatas akhirnya setengah tahun rumah ini jadi. Pakau usaha juga dong. Lima tahun hidup bersama, Rena mulai jenuh, katanya bosan gak ada hiburan. Makanya dia pergi waktu Reno belum pulang dari kerja. Di surat katanya Rena bakal balik kalu dia sudah sukses. Tapi, sudah lebih dari setengah tahun, Rena gak kelihatan. “Makanya, rumahku mengandung rahasia banyak yang orang lain gak boleh tahu. Termasuk ruang keluargaku yang kotor, kamarku yang bersih, dan ruang makanku yang banyak makanan,” Bella sama Kevin langsung tersedak. Mereka sudah ambil makanan Reno dan rusak selang gas Reno. Untung Reno gak curiga apa yang terjadi. Ah, aku jadi kasihan lihat Reno. Em, seandainya aja sekarang Rena ada mungkin Reno gak kesepian. Tiba-tiba ada bola nyasar di kepalaku. Aduh, siapa sih. Lho? Gedubrak! Aduh, badanku sakit semua. “Heh! Mau ngorok sampe kapan? Ini udah jam berapa!” kata Mama sambil menepuk pantatku. “Lho? Kok bangun sih, Ma? Ini udah MOPD ketiga ya?” ucapku bingung. “Boro-boro, ini baru pertama. Kamu ngelindur ya? Cepet sana mandi terus berangkat. Ini MOPD pertama gak boleh telat!” Lho? Aku mimpi atau gimana sih? Ah, mungkin mimpi kali ya? Tapi, mana mungkin sih? Masa mimpi? Gak ah! Tapi, dari pada kelamaan mikir, mending langsung mandi. Jam tujuh kurang aku udah siap mau berangkat. Selangkah aku maju, banyak teman-temanku yang datang dan bilang “HAPPY BIRTHDAY”. Oh iya ini ultahku yang ke enam belas. Astaga, kenapa aku bisa lupa? Terus kok aku bisa ada di kasur kamar? “Kok tadi aku bisa di kasur kamar?” “Tadi, kita semua sepakat buat surprise buat kamu. Pas kamu kena bola kan udah agak pusing tuh, nah terus aku kasih kamu bius deh. Pingsan kamunya sampe sekarang. Makanya ini surprise buat kamu. Seru kan?” “Oh,” Hari ini seru banget. Teman-temanku ingat ultahku. Dan surprise ini yang paling berkesan buat aku. Selain sudah dibohongi, dapet petualangan seru lagi. “Eh, tapi itu obat bius dari mana?” “Hehehe… Bekas praktik IPA. Untuk bius marmut,” “Hah! Bekas monyongnya marmut dong? Huek,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN