Alasan untuk bahagia
Jadi, dia kerja di sini? Tanya seorang laki-laki dalam hatinya sambil memegang kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya sekarang. Ia tersenyum, lalu melihat kertasnya lagi. Dan.. semua ini berakhir dengan manis, lalu lelaki tersenyum sambil membayangkan senyuman seorang wanita yang amat ia cintai.
—
Langit tak lagi menampakkan keindahannya dalam senja. Kini, ia beralih menjadi malam yang menakutkan. Namun, bintang-bintang tengah berkedip untuk menunjukkan eksistensinya sebagai cahaya kecil namun begitu stabil. Tak mengiraukan kedipan bintang di atas sana, seorang gadis berlari setengah terengah menuju sebuah tempat. Sesekali, ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia sadar, berhenti tak akan membawanya pada tempat yang ia tuju, ia harus tetap berlari. setelah sekian menit ia berlari, tibalah di tempat yang sudah menjadi fokus dalam pikirannya.
“Red Cafe.. bener kan?” tanyanya pada diri sendiri ketika membaca papan yang tergantung di depan pintu. “Oke, ini pasti bener.” Ia meyakinkan dirinya sendiri lalu membuka pintu. Selangkah ia menapakkan kakinya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan orang yang akan ditemuinya sudah datang atau belum. Namun, tak seorang pun yang ada di sana adalah orang yang dia maksud. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Refleks, dia menekan tombol answer pada ponselnya itu.
“Halo.. Kamu di mana… Oh kamu telat… Oke kalo gitu aku pesen dulu ya?” tut. Percakapan singkat namun mampu memberikan kepastian untuk gadis itu. Oke, let’s serve me barista! Katanya dalam hati, lalu ia berlari menuju tempat pemesanan.
“Ada yang bisa saya bantu?” kalimat klasik waiters ketika seorang pelanggan menghampirinya.
“Latte panas satu.” Jawabnya tanpa berpikir panjang.
“Baik, latte satu. Ada tambahan?”
“Itu dulu aja deh.” Kata gadis itu lalu pergi menuju kursi kosong dekat jendela. Sedikit namun pasti, air bervolume kecil turun dari langit berarakan. Suasana menjadi lebih romantis di tengah ia menunggu kopinya datang.
Tiga puluh menit telah berjalan, namun kopinya masih belum sampai di mejanya.
“Ah, si Sultan pake acara ngaret gini sih.” Keluhnya sebal. Ia memang tak suka menunggu, namun, ia tahu bahwa sahabatnya satu ini bukan seseorang yang tak bertanggung jawab membiarkannya menunggu lama. “Si Sultan ngaret, si Latte ngaret juga.” Keluhnya yang menyadari kopi yang ia pesan tak kunjung datang.
Hanyut dalam kesebalan menunggu sahabatnya, Sultan, sedikit terobati dengan kedatangan latte yang di antar oleh seorang waiters. “Maaf mbak, karena sedang ramai, jadinya banyak pesanan dan lama.” Kata seorang laki-laki yang berlabel ‘barista’ di bajunya.
“Oke mas, never mind.” Kata gadis itu sambil membenarkan posisi duduknya agar nyaman meminum lattenya. “Makasih ya mas.” Kata gadis itu menoleh ke arah sang barista. Ini kan matanya.. gadis itu terkejut. Ia yakin, ia mengenal tatapan itu dengan baik. Dalam sedetik, pandangan keduanya saling bertautan. Menyadari bahwa saling mengenal satu sama lain, sang barista memulai pembicaraan, “Kamu.. Sharon kan?” katanya gugup.
“Iya. Kamu.. Tera kan? Wah kamu jadi barista sekarang?” kata gadis itu sambil tersenyum menutupi kegugupannya.
“Hahaha, iya. Sesuai dengan passionku. You know kan? Udah lama ya nggak ketemu. Sekitar.. sembilan tahun.” kata Tera dengan senyum maskulinnya. Dalam ‘sesi’ keterkejutan di antara mereka berdua, Sultan datang dengan tergesa-gesa. “Sori Shar, aku masih benerin desain yang kamu pesen kemarin.” Kata Sultan menjelaskan alasan keterlambatannya. Melihat keanehan sikap antara Sharon dengan si barista, Tera, Sultan mengambil sikap. “Mas, espresso satu.” Pesan Sultan. “Baik mas.” Jawab Tera singkat.
“Sultan! Ah, kamu ini.” Rengek Sharon sambil melipat tangannya.
“Kenapa Shar? Eh kalo desain interiornya gini gimana? Ngg.. sebentar laptopku masih loading.” Kata Sultan tanpa dosa, tanpa memperhatikan raut muka Sharon.
“Sultan, plis.” Kata Sharon lalu meminggirkan laptop yang ada di depan Sultan. “Kamu tahu, siapa barista tadi?” tanya Sharon dengan mimik wajah serius.
“Emangnya siapa sih, Sharon? Penting ya buat kamu?” kata Sultan dengan menopangkan dagunya, berpura-berpura memperhatikan.
“Itu Tera, Tan! Remember, who was he?” tukas Sharon penuh gejolak.
“Oh ya?” Sultan menoleh ke kanan dan ke kiri. “Dia kan cinta pertamamu? Ciye..” Sultan menggoda.
“Aku pingin ngobrol sama dia..” harap Sharon.
“Kalo ditakdirin ngobrol, pasti kamu akan ada waktu ngobrol, tenang aja. Eh selesein dulu nih kerjaanmu. Pernikahan kakakmu udah hitungan minggu nih.” kata Sultan membenarkan kembali posisi laptopnya yang ‘terpinggirkan’. Dengan mukan manyun, Sharon menuruti saran dari sahabatnya itu.
Diskusi memang menyenangkan. Itu pula yang dirasakan oleh kedua sahabat yang sedang saling bertukar pikiran untuk menghasilkan sesuatu yang mufakat. Tanpa menyadari, waktu telah berlari begitu kencang.
“Deal ya? Pake desain ini?” tanya Sultan memastikan.
“Yep! Warnanya udah pas. Huft. Akhirnya selesai juga.” Kata Sharon lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Sebentar.” Izin Sultan untuk meninggalkan Sharon sejenak. Sultan menuju kasir untuk menyelesaikan ‘urusannya’ lalu kembali.
“Kamu traktir?” tanya Sharon. Sultan hanya mengangguk.
“Saya Tera, ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba seorang lelaki menghampiri meja Sharon dan Sultan.
“Iya mas, duduk aja di sini. Mas shiftnya sudah selesai kan?” kata Sultan.
“Nggg. Iya mas, ada apa ya?” tanya Tera sedikit ragu.
“Mas kenal dengan teman saya ini kan? Ayo ngobrol dulu. Temen saya ini ingin sekali ngobrol dengan mas.” Rayu Sultan menarik tangan Tera untuk duduk di samping Sharon. Sharon yang mulai mengerti situasi, tersenyum. “Ayo ngobrol dulu Ter!” ajak Sharon.
“Jadi, kalian kenal sejak kapan?” tanya Sultan mencairkan suasana.
“Kami kenal waktu SD, mas.” Jawab Tera.
“Nggak usah panggil dia mas Ter! Dia itu temenku, sahabatku dari SMP.” Kata Sharon sambil tertawa. Tera tersenyum, itu menandakan bahwa dia mulai mampu mencair dengan suasana.
Tera dan Sharon berbincang begitu nyaman tanpa memperdulikan Sultan yang begitu fokus dengan laptopnya. Perbincangan mereka berdua benar-benar membawa mereka pada titik di mana mereka menemukan kembali satu keping yang hilang bersama waktu. Mereka tersenyum puas, bahwa kenyataannya, keping yang hilang itu kini mereka temukan kembali.
Hujan mulai reda, Sharon sadar ini sudah sangat larut malam. “Ter, pamit dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi, aku sms nanti.” Kata Sharon tersenyum, sambil menarik tangan Sultan untuk pulang. Tera hanya mengangguk sambil tersenyum. Sultan dan Sharon berjalan keluar dari kafe.
“Cinta pertama.. akan selalu membekas. Bahkan sampai sekarang.” Gumam Sharon, namun terdengar oleh Sultan. “Tan, aku pulang naik taksi aja ya? Kayaknya aku mau ke rumahnya Desti deh.” Kata Sharon. “Yakin? Ya udah hati-hati.” jawab Sultan singkat dan menatap Sharon yang masuk ke dalam taksi. Tanpa pikir panjang, Sultan menyalakan motornya dan meninggalkan kafe itu, Kafe yang ia cari selama ini.
—
“Jadi, kamu udah mempertemukan mereka berdua?” Tanya seorang lelaki tua berjas putih.
“Iya dok, dan sepertinya mereka berdua memang.. masih saling memiliki rasa.” Kata Sultan menunduk.
“Oke, sekarang keputusanmu gimana? Kapan mau kemo? Ingat Sultan, kanker otak itu nggak main-main. Dan hidup ini..”
“Stop dok.” Perintah Sultan. Dengan wajah yang kecewa namun puas, ia mengatakan, “Saya tidak perlu hidup lagi kan dok? Saya cuma ingin membahagiakan orang yang membahagiakan saya saja. Walaupun, saya bukan alasan dia untuk bahagia.”
“Dengan kamu kemo, kamu bisa membuat orang tuamu tenang di alam sana.” Sanggah sang Dokter.
“Tidak dok, saya ingin menikmati hidup ini terakhir ini sebagai orang yang tidak mengonsumsi obat. Saya akan tetap kontrol, jika memang sudah terlalu gawat, saya ingin meninggal di sini.” Jawab Sultan sambil tersenyum, lalu ia berdiri. Tak sampai ia memegang engsel pintu, Sultan terjatuh. Ia pingsan.
Dokter itu membuka pintu dan berkata pada seorang suster, “Siapkan kamar untuk Sultan.”
—
“Dok, bagaimana perkembangan Sultan?” tanya Sharon sedikit panik. “Kok raut mukanya takut gitu? Dia baik-baik aja kok mbak, detak jantungnya sudah normal.”
Kelelahan Sharon menunggu selama sepuluh bulan terbayar sudah. Saat membuka kamar Sultan, ia sudah mendapati Sultan membuka mata. “Sultan.. aku sayang sama kamu.. plis jangan tinggalin aku lagi.” Kata Sharon memegang tangan Sultan. “Tera… gi..mana.. Dia… kan.. cin…ta per…. ta.. ma… mu?” tanya Sultan terbata-bata. Sharon memeluk tangan Sultan lalu berkata, “Sultan, hubunganku sama Tera tidak seperti yang aku bayangkan. Sembilan tahun tidak bertemu sudah mengubah banyak hal. Bukan dia yang aku cari, kamu yang aku butuhin.. kamu alasan aku buat bahagia. Kamu harus sadar itu.” Sultan tersenyum lemah, dan ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memiliki alasan untuk bahagia, begitu juga dia.. sebagai alasan untuk seseorang bahagia.
---
Melihat Bulan Menggantikan Sunset
Badan yang kurus kering, mengenakan baju biru yang kusut dan celana panjang dengan rambut yang sudah memutih dan mata yang sipit, sendu memandang ke arah lautan. Seolah ini adalah pandangan terindah yang pernah ia lihat. Tubuh yang kerontang ini seolah menjadi saksi bahwa kerasnya kehidupan ini, dan tidak perlu dukun canggih buat menerka apa yang sudah dilaluinya.
Senja hari ini terlihat cerah walaupun Langit yang biru tanpa awan, matahari dalam perjalanannya menuju peraduannya, bergerak dekat ke lautan. Angin sepoi-sepoi yang menerbangkan poni serta burung yang terbang rendah sedang memperhatikan kawanan ikan. Dengan sekali lompatan, sang ikan pun menemui ajalnya.
Sejauh matanya memandang, hanya terlihat birunya lautan. Seolah tanpa ujung. Seakan semua arah yang ada di bumi, tertuju pada lautan ini. Dia bahkan tidak pernah mengira jika di balik lautan ini, mungkin ada daratan, bisa saja ada kehidupan. Yah! Dia tidak tahu itu. Yang dia tahu kerasnya kehidupan ini membuat semua hal yang ada di dunia ini tidak lagi pantas untuk dipikirkan.
Bahkan di usia senja ini dia tak tahu apa tujuan hidupnya. Mengapa dia harus berlama-lama di bumi yang munafik ini? Apa tuhan begitu mencintainya hingga dia tak ingin memanggil si tua bangka ini?
Apa yang di dadanya mungkin lebih bergejolak dari pada ombak di lautan ini. Bahkan rasa sakit yang dipendamnya bisa jadi lebih dalam dari lautan nan biru ini. Sakit yang begitu menyiksa akibat ulah kejamnya dunia. Seolah seluruh bumi dan isinya menentang kehadirannya, seakan dia tidak pantas untuk merasakan bahagia.
Semua rasa sakit itu dipendam pada sebuah kotak yang ada di dalam hatinya. Disimpan sedemikian rupa. Dia tidak ingin membuangnya. Tidak! Itu dia anggap sebagai medali kesuksesan atas pertarungan dia melawan dunia yang kejam ini.
Dia tidak ingin melihat kembali ke dalam kotak penderitaan itu, tapi rasa sakitnya masih terasa hingga sekarang, menjalar ke seluruh tubuh, membuat nuansa galau yang bisa meneteskan air mata.
Tersisa hanya derita. Derita yang dihasilkan dari masa muda yang bodoh dan naif. Bukan dia tidak pernah bahagia. Dia pernah. Semula sangat indah bagaikan sebuah taman penuh bunga. Semula semua berjalan sesuai rencana. Hingga ketidakadilan merenggut kebahagiannya.
Dia masih ingat rasa bahagia itu, bahagia yang dulu pernah dirasakannya. Sangat mengingatnya, seolah kejadiannya baru terjadi kemarin:
Seorang pemuda bersetelan rapi sepertinya berumur tiga puluhan dengan baju kemeja dan jas hitam dan rambut yang licin yang disisir ke samping sedang berlari kecil di trotoar jalan. Terlihat seperti dia sedang buru-buru sedang mengejar sesuatu
“Ya tuhan, apa aku akan terlambat?”
Dia terus berlari hingga sampai di halte. Sambil melirik ke kiri dan ke kanan terlihat sedang menanti bus. Beruntungnya bus yang dia tunggu datang lebih awal. Tidak berpikir panjang, dia langsung naik dan duduk di kursi paling depan.
Dia merapikan jasnya, sambil sedikit tersenyum. Meletakkan tasnya di pangkuan seolah tas ini adalah harta paling berharga. Pandangannya mengarah ke luar jendela, dan melihat gedung-gedung tinggi berlalu dengan sangat cepat di karenakan laju bus ini. Sesekali dia memperhatikan manusia yang lewat dan berpikir, apa mereka tidak tahu jika hari ini adalah hari terbaikku? Dengan bibir yang masih tersenyum, dia merasakan dewi keberuntungan berada tepat di sampingnya.
Lamumannya buyar dikarenakan bunyi dari handphonenya. Telepon masuk dari seseorang yang sangat berharga baginya di kehidupannya
“Halo sayang, apa ada masalah?”
“Hm, tidak. Aku hanya ingin menghubungimu sebelum kau meeting dengan atasanmu. Bagaimana perasaanmu?”
“Yah. Sedikit gelisah, tapi dengan porsi bahagia hehe.” Katanya sambil membenarkan rambutnya.
“Aku harap semua berjalan sesuai rencana, aku ingin ketemu setelah kau pulang kerja. Boleh?”
“Oh, tentu saja. Aku akan menjemputmu di kantormu jam lima sore, gimana?”
“Boleh. Aku akan menunggumu. Ya sudah semangat ya sayang. Aku tutup telfon dulu. Bye.”
“Maksih ya, bye.”
Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah baginya, mungkin hari yang akan dia kenang selamanya. Jika semua sesuai rencana? Dia akan naik jabatan di kantor tempatnya bekerja.
Sudah 8 tahun dia menjabat sebagai ketua Divisi dan dikarenakan jasanya yang membuat perusahaan untung, akhirnya dia akan diangkat menjadi Manager. Ah! Manager? Kata yang begitu indah didengar. Begitu mewah. Hal itu akan membuat strata kehidupannya naik di manapun. Untuk itulah dia berpakaian sangat rapi hari ini. Untuk menghormati hari bersejarahnya ini.
Dia terus saja melihat ke luar jendela, dan sekarang terlihat sangat gelisah.
“Ya tuhan, semoga saja tidak terlambat.”
Bus berhenti di depan kantornya. Dan dia bergegas turun, berjalan lebih cepat dari seharusnya. Pertama dia akan menemui anggotanya terlebih dahulu. Anggota yang ikut ambil peran dalam kenaikan jabatannya. Dia tidak akan bisa seperti ini jika bukan karena mereka.
Ruangan sangat kaku dan agak terlihat suram, hanya ada lima orang di dalam yang sedang sibuk di depan komputer sedang mengerjakan sesuatu.
“Rey mana?” Tanyanya bingung
“Hm dia tadi dipanggil ke ruangan Direktur pak” jawab salah satu anggotanya.
“Oh, iya. Saya harus segera ke sana juga. Ya sudah semangat ya.” Dia berkata sambil berlalu.
Dengan langkah yang penuh harapan, dia lalu berjalan ke kantor Direktur. Dia melihat orang dengan tatapan yang datar dan penuh tanda tanya tertuju ke arahnya
“Mengapa mereka menatapku?”
Dia sampai ke depan ruangan Direksi, lalu membuka pintu dan melangkah masuk. Sudah banyak orang di sana.
Apa harus seramai ini?”
Dia juga melihat Rey, salah satu anggotanya, yang juga ikut ambil peran dalam kesuksesannya. Rey tersenyum ke arahnya. Sebagian orang yang ada disini terlihat asing baginya. Dia belum pernah melihat mereka sebelumnya.
“Eh, silahkan masuk, kami sudah menunggumu” Pak Islan sang Direktur mempersilahkanku.
“Maaf pak, tadi agak sedikit macet.” Dia lalu berjalan mendekat.
“Tidak apa-apa, kami baru saja mulai”
“Mulai tanpaku?” Pikirku dalam hati.
“Jadi gini. Saya tidak akan bertele-tele. Saya akan bicara langsung pada poinnya. Sebelumnya saya minta maaf. Apa yang akan saya bicarakan ini mungkin akan membuatmu patah hati. Tapi saya harus mengataknnya…”
Aku didera perasaan yang kurang nyaman. Sepertinya aku tahu apa yang akan dia katakan.
“…ada sedikit kesalah pahaman dalam penilaian kemarin, kau memang sangat berjasa pada penjualan bulan lalu. Maka dari itu kami memutuskan untuk menghadiahimu kenaikan jabatan. Tapi sepertinya para Direksi punya pendapat lain. Bukannya kau, tapi mereka malah mempertimbangkan Rey untuk posisi Manager. Jadi maka dari itu…”
Dia tak lagi mempedulikan sisanya. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja didengarnya. Seolah ada seseuatu yang runtuh dari dalam jiwanya.
“…tapi para direksi sangat berterima kasih atas usahamu.”
Sepertinya pak Islan sudah selesai bicara.
“Oh! Oke! Seharusnya saya tahu jika hal ini akan terjadi. Tapi tidak mengapa, saya akan menerimanya sepenuh hati. Karena ini sudah keputusan dari direksi. Apa yang bisa saya lakuakan lagi.” Nada bicaranya sedikit gemetar.
“Jadi, sepertinya saya sudah tidak punya keperluan lagi di sini. Kalau begitu saya pamit.”
Dengan langkah kecewa, dan tidak lagi mempedulikan sekitar. Dia melangkah ke luar, membuka pintu dan berharap ingin cepat keluar dari tempat ini. Tapi tiba-tiba Rey memanggilnya
“Pak, saya ingin minta maaf, saya sama sekali tidak tahu jika ini akan terjadi.”
“Benarkah?” Ada sedikit nada emosi pada suaranya.
“Saya benar-benar tidak tahu pak, saya tiba-tiba saja dipanggil keruangan…”
“Oh! Ayolah, kita sudah 8 tahun kerja bersama, aku sudah cukup mengenalmu untuk tahu jika kau berbohong padaku. Apa kau pikir aku bodoh? Dasimu memberitahukan segalanya, sepatumu yang licin juga, dan kau tidak biasanya memakai baju serapi ini. Kau hanya memakai jas jika ada acara-acara resmi. Kau sudah tahu. Sejak awal kau tahu. Kau sudah mempersiapkan semuanya. Karena kau tahu jika hari ini adalah hari penting bagimu.” Emosinya sudah tidak bisa lagi ditahan.
“Saya… ini tidak seperti itu…” Rey berkata terbata-bata.
“Yah! Seharusnya kau bangga. Sebenarnya aku tidak merasa dikhianati. Tidak. Dari awal aku masuk ke ruangan itu, aku sudah bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi. Orang-orang yang di ruangan itu. Mereka kenalan ayahmu?”
“Maafkan saya pak, saya sebenarnya tidak menginginkannya, tapi ayah saya memaksa, dia mengatakan jika ini adalah kesempatan emas untuk saya.”
“Yah well, apa kau tidak pernah berfikir jika ini juga akan menjadi kesempatan emas bagiku? Kau merebut kesempatan orang lain, dan merubahnya jadi kesempatan bagimu. Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri.” Dia berkata dan pergi meninggalkan Rey.
Dia ingin menghajarnya, melayangkan tinju padanya. Dia sangat ingin melakukannya. Tapi tidak ada gunanya, yang terjadi sudah terjadi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Vonis sudah dijatuhkan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk merubahnya. Ayah Rey termasuk orang yang berpengaruh pada perusahaan ini. Dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Dia tahu betul. Jadi percuma baginya jika harus protes. Karena semua akan kembali kepada keputusan ayahnya.
Dia berjalan keluar dengan emosi yang masih tertahan. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Dimanapun lebih baik asal jangan di sini.
Dia lalu menelepon kekasihnya, dan mengajak ketemu lebih awal dari waktu yang sudah dijanjikan.
Mereka bertemu di sebuah taman, dan duduk di kursi dekat patung yang mengeluarkan air dari teko yang dibawanya. Dia menceritakan semuanya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Dengan wajah yang masih memerah dikarenakan marah.
“Sudahlah, anggap saja bukan rezekimu. Kau tidak bisa melawan takdir tuhan.” Kekasihnya mencoba menghibur.
“Dari awal itu sudah rezekiku. Hingga dia mengandalkan koneksinya dan merebutnya dariku. Kau tahu jika posisi itu sangat berharga bagiku? Itu adalah harapanku untuk hidup yang lebih baik, agar bisa menikah denganmu.” Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya, dan ia tidak bisa lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahannya.
“Aku tahu, tapi apa yang bisa kau lakukan? Tidak ada kan? Kau harus ikhlas, tuhan pasti memberikan hikmahnya.”
“Tuhan tidak memberiku apa-apa selain omong kosong ini.”
Dia menatap mata kekasihnya dalam-dalam mencoba mencari ketenangan, tapi tetap tidak ia temukan. Hatinya remuk, harapannya hancur hanya karena anak orang kaya itu merebut apa yang awalnya jadi miliknya.
“Sayang aku mau ke toilet sebentar, aku segera kembali.”
“Baiklah.”
Tiba-tiba handphone kekasihnya berbunyi. Dia melihat sebuah pesan dari orangtuanya. Sekilas dia melihat ada namanya pada pesan itu, dia lantas membuka pesan itu dan mulai membacanya.
“Bagaimana? Apa dia mendapatkan jabatan itu? Sebaiknya dia mendapatkannya. Karena jika tidak, maka dia harus melupakan impian untuk menikahimu. Ibu tidak akan membiarkan kau menikahi pria dengan gaji pas-pasan. Dia tidak akan membuatmu bahagia.”
Setelah seharian di taman, mereka memutuskan untuk segera pulang, karena hari juga sudah mulai senja. Mereka berjalan menikmati sore cerah ini. Bergandengan tangan. Hingga mereka sampai ke rumah pria ini. Dengan tatapan penuh arti, pria ini memandang wanita yang ada di depannya, harapan yang tersisa, karena satu harapan sudah menghilang.
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?”
“Tidak. Memangnya apa?” Kata wanita ini sedikit bingung.
“Aku membaca pesan dari ibumu. Sepertinya dia benar. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia. Sebaiknya kita tidak bertemu lagi.” Pria itu mengatakannya dengan sangat mantap dan yakin tanpa keraguan.
Seketika wajah wanita ini menjadi sendu, dan air matanya mengalir
“Aku begitu mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu.”
“Apa kau pikir aku mau? Tidak. Tapi ibumu benar. Dan dia memiliki hak untuk melakukannya.” Pria itu berkata dengan menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita yang dicintainya ini.
“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Tidak mengapa, kau hanya perlu menemukan seorang pria yang bisa membuatmu bahagia, dan mereka masih banyak di bumi ini.” Pria ini berkata dengan hati penuh luka.
Pikirannya kembali ke tempat semula. Kini matahati sudah terbenam dan di gantikan dengan Bulan yang indah. Terang. Cahayanya menyinari seluruh lautan. Dan matanya masih memandang ke arah sana. Kaku, terdiam dan tak tahu harus melakukan apa. Ketidakadilan hidup membuatnya harus menjadi seperti ini. Dia sudah memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu. Dia tidak akan bisa bekerja di tempat dimana semua kerja kerasnya tidak diharhai. Saat ini, dia hanya pemuda tua yang masih melajang. Dan tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana, menghabiskan sisa tuanya di tempat itu. Hingga hari dimana dia harus pergi tanpa rasa bersalah. Dia masih menunggu hari itu tiba.