Episode 36

2643 Kata
Eunoina Akwayan Hari ini ribuan tetes air membasahi bumi, sedikit demi sedikit memaksa awan untuk menangis. Suara halusnya mesin bernyanyi dengan untaian suara yang gemercik seperti alunan nada yang saling bersautan. Kegelapan mulai datang menghampiri bersamaan dengan bulan dan bintang akan terus menemani perjalanan malam ini. Perjalananku hari ini menuju satu kota di Pulau Jawa, lebih tepatnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Perkenalkan namaku Renjana Syafazea Nazeera, aku bisa dipanggil Zea atau Zeera. Dari kecil aku senang sekali bertraveling dan berwisata dengan keluarga atau dengan teman sekolah. Aku lahir di Bandung, 06 Juli 2003. Aku anak ke 2 dari 3 bersaudara, ayahku seorang pengusaha tangguh dan ibuku adalah seorang pengajar hebat di salah satu sekolah terfavorit. Kereta besar ini melaju cukup cepat di hamparan jalan lurus dengan lampu yang terang di setiap sisi kanan dan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 11.53 WIB, kami akhirnya sampai di tempat tujuan dengan selamat. Aku turun dari bus dengan membawa tas berwarna kelam baja. “Zeaaaa…” Ucap seorang wanita dengan paras yang menawan menghampiriku. Ternyata dia sahabat masa kecilku Yera. Noera Kinantan Sidney teman sekelas dan sahabatku. “Apaa raa?…” jawabku. Percakapan singkat didepan pintu masuk karena harus bergegas menuju tempat istirahat yang telah disediakan. Hal yang paling beruntung adalah satu kamar dengan sahabat kecilku. Tak terasa waktu berjalan malam telah berlalu. Pagi ini aku sarapan bersama Yera dan teman teman teman yang lain, setelah itu kami menaiki mesin besar yang biasa disebut bus. Tiba-tiba Yera bercerita padaku, tentang apa yang ingin ia tanyakan akhir-akhir ini, dia bertanya kepadaku. “Zea, kamu tau Cayl selalu nanya ke aku, kamu punya pacar apa belum”, terus aku jawab aja. “Belum gapapa kan zee?” Pertanyaan Yera sangat membingungkan. Aku berdiam diri sejenak lalu menceritakan apa yang aku rasakan pada beberapa hari yang lalu di kelas. “Aku ngerasa dia selalu aja ngeliat aku, padahal kan aku ga deket sama si Cayl itu.” Tak lama setelah itu, aku tersandung kemudian datang seorang pria bertubuh tinggi dan cukup tampan menghampiriku. “Nih jam tangan kamu zea. Makanya kalo jalan sambil ngobrol perhatikan dong langkah kamu.” Ucapnya sambil menggerutu. Dia langsung pergi. Ya, benar sekali itu Caylen Nuraga Dayyan. Seorang remaja pria yang tadi diceritakan Yera. Sepertinya dia menarik. Hal yang paling membahagiakan adalah aku Renjana Syafazea Nazeera berfoto berdua dengan remaja bertubuh tinggi bernama Caylen Nuraga Dayyan. Namun, saat berada di Candi Borobudur Cayl menghilang, semua orang sibuk mencari hingga malam gelap dan tidak ada satu pun pengunjung yang datang. Semua siswa diwajibkan untuk berdiam diri dan berdoa di bus masing-masing. Aku memaksa untuk turun dan mencari temanku. Tak lama dari itu terlihat dia sedang berlari kearahku dengan senang. Katanya dia menemukan hal yang paling dia tunggu dari kunjungan ini, aku diajaknya berjalan menuju salah satu tangga. Terkejut aku melihat cahaya dan seorang laki laki yang gagah perkasa membawa kami melihat keadaan candi ini pada masa lalu. Begitu indah dan megahnya candi ini, kami disuguhkan dengan berbagai macam buah dan makanan khas jaman dulu. Semuanya terasa nikmat dan lezat. Aku dan Cayl menikmati keindahan dengan berjalan berkeliling Yogyakarta di masa lampau. Kami menaiki sebuah kereta yang indah dengan kuda putih didepannya. Senang sekali rasanya tidak pernah terbayangkan olehku, duduk berdua dengannya. Lalu setelah hari menjelang gelap dan terlihat senja mulai datang dengan indah, aku berteriak-teriak karena ketakutan. Dan benar sekali dugaanku, ternyata delman yang tadi bukan kuda ternyata harimau yang ingin memangsa kami. Dan kusir yang mengendarainya adalah sesosok pria bertubuh tinggi dan berwarna hitam dan bermata merah. Aku dan Cayl berlari sambil ketakutan hingga belasan kilometer. Aku sudah merasa lelah dan ingin beristirahat. Bredd!! Suara kepalaku terbentur batu. Cayl membangunkanku lalu dia menggendongku, kami berlari kembali dengan keadaan yang sangat mencengkam akhirnya ada sebuah gubuk tua yang cukup terang. Dengan rasa sakit ini kakiku berjalan karena tidak enak hati dengan Cayl. Cayl mengajakku beristirahat, dengan tangan yang bergandengan, suara langkah kami seperti diiringi lantunan gamelan yang merdu. Aku menengok ke belakang ternyata harimau itu masih mengincar kami. Sosok itu terus mengikuti arahnya empat pasang kaki sambil berdengus. Kami sempat tak sadar waktu itu. Aku yang sangat takut seraya meminta pertolongan sekeras mungkin, lalu apa yang terjadi? Aku tersiram air karena teriakanku. Maaf aku hanya bermimpi, kejadian yang sebenarnya adalah aku baru terbangun setelah dicipratkan air dingin oleh Yera. Jahat sekali memang tega membangunkan sahabatnya yang sedang tertidur. Kali ini sunguhan bus sekolah sampai di hamparan rumput biru dengan ombak yang bernyanyi di tepi Pantai. Pantai Wediombo adalah sebuah pantai yang berada di Desa Jepitu, Girisubo, Gunungkidul di dekat Pantai Siung, berjarak 80 km dari kota Yogyakarta. Pantai tersebut meliputi sebuah teluk yang dikelilingi pegunungan batu karang dan pasir putih. Di tengah laut, batu karang tampak menonjol. Angin membelai rambut indah sari. Indah sekali, semua orang berkeliling dan berfoto dengan pose membelakangi lautan yang luas. Aku dan Yera berfoto di bibir Pantai dengan tersenyum gembira. Setelah itu kami menulis nama di atas pasir dengan tangan sebagai pena. Hal yang cukup membuat hidupku berkesan, melihat surga dunia dengan sahabatku Yera. Tak lupa kami juga memanfaatkan waktu untuk lebih nyaman snorkeling di bibir pantai, tak ada salahnya juga untuk menikmatinya karena pemandangan bawah di bibir pantainya juga menarik. Terlebih lagi terdapat sebuah laguna di dekat pantai yang pemandangannya juga menarik untuk snorkeling di sana sekaligus bersantai. Yera dan aku terbahak-bahak karena melihat salah satu teman kami Asha Litani Tavisha, dia dilemparkan ke tepi laut oleh Gy dan tiga pria lainya. Aku melamun mendengarkan lirih bisikan angin yang masuk ke telinga. Alih-alih Cayl mendatangiku mengajak untuk berfoto berdua, aku tersipu malu mengiyakan ajakan Cayl. Cayl bertanya kepadaku dihadapan teman-teman. “Zea suka aku ga?” terlihat sedikit malu. Aku terkesiap mendengarnya, sampai sampai aku tertegun. Sangat bingung sekali jantungku berdegup kencang. “Lumayan.” Ucapku dengan nada pelan. Dia tersenyum lalu menggandeng tanganku dan berfoto layaknya sepasang kekasih yang bahagia. Mengerling kamera dengan senyuman yang tampak sangat indah. Sahabatku Yera malah terkekeh-kekeh melihat kami berfoto. Beberapa jam setelah kejadian itu, Caylen Nuraga Dayyan mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dan aku mengiyakan Cayl. Aku, Cayl, Yera dan Gy makan malam di meja makan yang sama. Lagi-lagi rinai berlomba mencapai tanah. Angin malam ini menggoda membelai rambut dan wajahku. Aku diselimuti jaket Cayl sepanjang malam. Study tour yang sangat berkesan di masa SMA. Hal yang hebat tentang pertemanan ialah mereka membawa energi baru ke dalam jiwamu, karena menghabiskan waktu hari ini untuk mengeluh terhadap hari kemarin tak akan membuat hari esok lebih baik. -- Anak jambu putih Hari yang mempesona untuk menghadapi berbagai tugas. Itulah awal dari perkenalanku dengan anak ini, yang tak terkira padaku tentang indahnya berbicara layaknya teman sejati. Yang awalnya hanya bertanya, “Dimana kamu tinggal?” membuatku sadar bahwa ini hanya sekadar ocehan biasa. Tetapi dia menganggap ocehan ini bukan sekadar alunan tak bermelodi yang membuatnya tak pernah bosan untuk bertanya lagi. Dia sangat polos, jarang sekali berkata, bergaul dengan sesamanya, maupun tidak mempedulikan hal yang menurut teman-temannya asik. Dibalik polosnya tersebut, ia begitu takut dengan lantunan kata tak bermakna, meski banyak yang telah memberi pukulan mentah pada tubuh kecil dia. dari nama yang diberikan oleh ibundanya membuatku ingin sekali melindunginya dari pukulan mentah maupun lantunan kata tak bermakna. Aku tahu, dia selalu memendam perasaannya. Bilamana dia tahu tentang balas dendam, mungkin dia bisa menjadi pahlawan di kelas ini, dimana fakta, ungkapan rasa dan kenyataan berubah menjadi ketentraman. Tetapi ternyata aku salah, menurut dia hal itu hanyalah angin yang berhembus. Dia tak merasa seperti keinginan anak remaja jaman sekarang, yang menginginkan kendaraan untuk bermain atau menghilangkan penat selama menimba ilmu di sini, ia jua tak menginginkan berbagai macam alat komunikasi yang mewah, itu semua hanya keinginan yang payah baginya. Dia hanya merasa anak remaja di bawah pantau orangtua. Dia suka tertawa, meski hari-harinya sulit dilalui. Ada satu hal yang selalu kuingat, yaitu ketika teman-temannya membully habis-habisan, dia masih tersenyum bahkan tertawa di hadapan guru maupun teman yang tidak senang padanya. Memang menurutku, dia harus membalas apa yang sudah mereka lakukan. Namun tak demikian baginya. Senyum ataupun tawa sudah cukup untuk membuatnya bahagia meski keadaan amat pahit baginya. Suatu hari, ia tak memiliki sepeser pun uang untuk membeli makanan ringan. Aku turut penasaran apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Oh, tak dinyana. Pikirannya yang cerdas menuntun untuk melakukan hal yang sederhana sekali. Ia menawarkan tangannya untuk membantu menyelesaikan tugas temannya, dan ia pun berhasil mendapatkan hasil jerih payahnya. Ia menggunakan uangnya dengan sederhana, membeli 3 bungkus makanan ringan. Satu untuk dirinya sendiri dan dua untuk temannya yang tak membawa uang saku. Tak terkira olehku, ternyata masih banyak kebaikan-kebaikan yang tersimpan di dalam dirinya. Ia melakukan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya, meski mereka menganggap ia hanyalah tak pantas. Benar, dia lebih dari cukup dan dia tak pernah sombong akan itu. Semua itu seperti layak jambu putih, yang sederhana namun khasiat. Dan hanya khayalan bagiku untuk dekat dengannya. Itu cuma pantas temannya yang berlagak punya segalanya namun kelakuan sangatlah tidak memprinsipkan orangtua. Dan memprihatinkan ketika perkataan dari orang tua yang seharusnya disimpan hanya dijadikan omong kosong di tempat menimba ilmu. Dan layaknya jambu putih, yang murah namun khasiat. Itu pantas bagi dia, yang berawal sederhana tetapi punya kelakuan baik yang penuh kasih sayang orangtua. dan dia tidak bertindak hal bodoh karena perkataan orangtua disimpan untuk dijadikan semangat menimba ilmu. -- Cerita cinta omegle Salah satu jejaring sosial yang cukup terkenl yaitu omegle, salah satu jejaring sosial yang digunakan untuk cahating dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia termasuk indonesia. Di sini saya akan menceritakan tentang seorang gadis yang sangat polos, gadis ini panggil saja kinara (nama samaran). Dia adalah anak berusia 13 menjelang 14 tahun. Saat sehabis acara di sekolahan nya dia sempatkan diri untuk berkumpul dengan teman teman sebaya nya, walaupun dia gadis yang polos dia cukup ceria di sekolahnya, teman teman nya senang bergaul dengannya. Saat sedang berkumpul dan bercanda, salah satu temannya membuka situs jejaring sosial yang bernama omegle. Saat itu lah dia mulai chating di omegle. Di sini lah dia bertemu dengan dua laki laki yang berbeda usia dengannya. Simak ya ceritanya… Setelah pulang dari rumah temannya, esok harinya dia mencoba meniru temannya untuk chating di omegle, berbagai orang telah ditemui olehnya mulai dari orang jepang, korea, UK, A.S, U.S.A dan berbagai negara lainnya termasuk indonesia. Akses untuk chating dengan orang lain ini telah diacak oleh komputer jadi tinggal klik start langsung terhubung dengan orang lain yang sedang chating juga. Saat kinara sedang bermain omegle dan mencari teman chating dia bertemu dengan seorang laki-laki asal indonesia yang berbeda 7 tahun dengan dia alias berumur 20 tahun. Pemuda ini wajahnya lumayan tampan dan kinara sendiri berani bohong bahwa dia sekarang berumur 19 tahun agar bisa dekat dengan si pemuda yang bernama yuka (nama samaran). Setelah kenal di omegle mereka saling tukar pin BB alhasil kinara berhasil bisa dekat dengan yuka (pemuda tampan tersebut). Setelah berkenalan hampir 1 bulan mereka bertengkar karena hal sempele yang gak jelas apanya.. yuka merasa kesal dengan sikap kinara yanng seperti sekarang akhirnya yuka pergi gitu aja dari kehidupan kinara, kinara sangat sedih bahkan menangis dengan memeluk boneka kesayangannya selama hampir 1 jam lamanya. Setelah beberapa hari dia mencoba untuk melakukan hal yang sama yaitu chating dengan harapan bertemu yuka lagi dan meminta maaf dengan semua yang dia lakukan kepada yuka. Tetapi usahanya sia-sia karena dia tidak bertemu dengan yuka lagi. Dia berfikir dan berusaha untuk move on dari kenyataan bahwa dia gak bisa ngelupain yuka, sampai saat ini. Untuk kesekian kalinya kinara mencoba menghibur diri dengan memulai chating di omegle lagi, dan masih berharap bertemu dengan yuka di omegle. Tetapi bukannya bertemu dengan yuka dia bertemu dengan orang yang care sama dia, dia fikir laki laki ini bisa bantu dia untuk move on dari yuka. Semua yang kinara jalanin sama yuka di omegle ditumpahin semua ke laki laki berumur 17 tahun yang bernama Ardy (nama samaran). Sebelum bertemu dengan ardy dia sempat bertemu dengan yuka, dia sangat terkejut dengan apa yang dia alamin saat itu spontan dia langsung nangis liat wajahnya yuka di omegle, tatapi yuka langsung ngestop chating an sama kinara di omegle, mungkin karena dia gak sadar kalo itu adalah kinara. -- Break Tentang mencintai dengan tulus, bukan berati cinta yang lain meminta pamrih. Namun, ini cerderung kepada mengikhlaskan cinta yang tumbuh untuk kamu pangkas dan tanami lagi dengan cinta yang lain. — “Senja yang indah,” gumamnya lalu tersenyum tipis. “Bagaimana?” “emm…” “Biar kutebak, mereka masih belum percaya padaku,” ucap pria jangkung di sampingnya lalu bangkit. “Bukan hanya itu, mereka berniat menjauhkanku darimu,” gadis manis berbaju jaket hitam kotak-kotak ini berdiri di sampingnya. Untuk sesaat mata mereka saling bertemu, hanya beberapa detik lalu mereka kembali menatap semburat oranye yang mulai berganti menghitam. — ‘Butuhkah rasa cinta didasari atas sebuah alasan? Alasan yang kau namai dengan rasa sayang dan peduli? Untuk siapa? Apa harus mereka sempurna? Seperti yang orang ingin lihat saat kalian bersanding berdua? Ataukah yang membuatmu nyaman walau orang memandangnya sebelah mata?’ Pertanyaan sekaligus pernyataan yang selalu memutar-mutar di pikirannya.. Dinda menutup buku yang ia baca, belakangan ini ia sulit berkonsentrasi terlebih karena rencana orangtuanya untuk menyekolahkan Dinda ke Eropa. Bukan tanpa alasan mereka mengirim Dinda ke sana, tentu agar putri semata wayangnya ini jauh dari Tomi, kekasih hati Dinda. Alasan yang cukup masuk diakal, ini dikarenakan rentang usia Dinda dan Tomi yang terpaut 10 tahun.H al itu membuat orangtua Dinda tak setuju melihat anaknya berpacaran dengan Tomi, terlebih lagi karena profesinya sebagai Designer pakaian. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dan sesekali memejamkan matanya untuk mengingat moment-moment manis dirinya bersama Tomi. “Sebuah kenangan itu ada untuk diingat, tentang nanti akan selalu teringat. Aku tak bisa menjaminnya, karena kemampuan ingatan manusia itu terbatas.” Dinda meringkuk sambil memeluk bantal berbentuk bintang, melihat jam yang ada di dindingnya menunjukan pukul 9 malam lalu ia tertidur. — Cahaya remang-remang di pojok sana, hanya berbekal pencahayaan dari lampu di atas meja pria itu berkutat dengan kertas dan pensil 2B nya. Terlihat seperti sketsa yang sedang ia buat, sketsa sebuah gaun pernikahan yang sangat indah. Dengan usaha yang cukup keras ia pertebal bagian-bagian tertentu dan membuat shading sehingga sketsa yang ia buat nampak begitu indah. “Sedikit lagi,” ucapnya sambil tersenyum sumringah. Perlahan ia menghela napas panjang lalu menyandarkan dirinya, menarik otot-otot yang tadinya mengeras agar sedikit lentur.. Tomi kelihatan bersusah payah kali ini. Minggu pagi. Dan sepagi ini sudah ada orang yang bertamu ke rumah Dinda.. Bel berbunyi untuk ketiga kalinya saat Ibu Dinda berhenti melangkahkan kakinya di depan pintu. “Siapa?” ucapnya saat pintu setengah terbuka. “Ini saya.” “Kamu toh, untuk apa kesini?” Tampang masam terpasang di raut wajah ibu Dinda saat mengetahui jika tamu itu adalah Tomi. “Ijinkan saya bertemu Dinda,” Tomi memelas. “Untuk apa lagi?” “Saya tahu tante tak akan merestui hubungan kami berdua, bahkan tak akan pernah, tapi ijinkan saya untuk bertemu dia sebelum Dinda pergi dari jauh. Saya janji ini untuk terakhir kalinya.” “Tapi, untuk apa saya menuruti permintaan kamu?” “Mungkin ini tak ada untungnya untuk tante, tapi tolong.” Sejenak ibu Dinda berpikir, memandang Tomi lalu menjawab, “Oke, hanya sepuluh menit.” Tomi tersenyum. Ia duduk di teras dan tak beberapa lama Dinda keluar menghampirinya. “Senekad itu?” Dinda duduk di sampingnya. “Ia, seperti sikap kekanak-kanakanmu yang selalu bertindak nekad dan ceroboh.” “Maaf,” Dinda tertunduk lesu. “Untuk apa?” “Keadaan yang buat kamu seperti ini, dan waktu yang tidak ditentukan itu memberikan kesempatan untuk kamu tidak menunggu, mungkin.” “Aku juga tidak memintamu untuk terus bertahan, karena kadang yang kita anggap tepat itu bukan pilihan yang benar,” Tomi merangkul bahunya. Ia menyodorkan sebuah Sketch Book bersampul biru yang dililit pita merah pada Dinda. “Sudah sepuluh menit, sesuai janji. Sebaiknya kamu segera masuk,” Tomi bangkit lalu melangkahkan kakinya keluar gerbang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN