Korban Drama Wasiat Sore itu, di taman bunga ujung jalan kota. “Kenapa?” dia mengernyitkan kening. “Di dunia ini sudah terlalu banyak perempuan yang menangis karena sakit hati. Jadi, aku tak ingin menambahi jumlahnya.” kedengarannya memang aneh, tapi itulah yang kuucapkan saat Dian menyerahkan kotak berwarna merah berisi cincin kala itu. “Apakah kamu berpikir aku akan menyakitimu Dek??” kulihat wajah lawan bicaraku itu memerah dan menatap tajam ke arahku. Sementara, aku masih dengan sikapku, biasa saja, dengan wajah datar. “Aku tidak bilang seperti itu.” rasa-rasanya aku ingin segera berlari menjauhinya, air yang sejak tadi bersorak di kantung mata sepertinya tidak bisa ditahan lagi. Maafkan aku Dian. “Baik, jika itu maumu. Aku tidak bisa memaksa, semoga kamu bertemu orang yang lebih

