Seratus delapan

1643 Kata

Apapun yang ada di kepala Santi, tidak berpengaruh bagi Akira. Dia sudah memutuskan menceritakan semuanya dari pada harus memendam dan Santi juga tahu dari orang lain. Itu bukanlah sesuatu yang baik. Karena bisa saja dia salah paham nantinya. "San, ngapain?" Tanya Akira, "Oh, eh, saya lapar mbak. Gak ada makanan, saya buka kulkas, kebetulan ada ini," menunjukkan nugget dan sosis. "Kamu mau buat nasi goreng? Kayanya nasi masih ada San, cocok untuk kita berdua" sujar Akira. Santi yang merasa bahwa Akira memberikan penawaran pun mengangguk. "Sebentar ya mbak, saya buat dulu" katanya. Akira pun duduk sambil memperhatikan Santi. "Kamu itu masih muda lho San, masih kuliah juga. Kenapa mau bekerja? Kuliah kamu gak keganggu?" Tanya Akira. Santi yang merasa ditanyai oleh Akira, melirik sebenta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN