Akira terdiam, ia benar-benar tak mengerti dengan maksud perkataan Rian. Ia mencoba untuk mencerna dan mencerna ucapan Rian, berulang kali ia berusaha untuk memahami, namun tak kunjung ia mendapatkan pengertian.Akira menatap Rian seolah bertanya maksud dari perkataannya, namun sayangnya, ia sama sekali tak mendapatkan jawaban. Rian justru lebih memilih menunggu Akira untuk menanyakan langsung jika tidak mengerti atau memberi komentar jika Akira mengerti maksud perkataannya itu. Pada akhirnya, yang tidak tau akan tetap berusaha mencari tahu untuk mendapatkan jawaban.
“Aku tidak mengerti maksud perkataan mu” ucap Akira.
Rian menarik napas dalam, ia tidak tau harus dari mana memulai apa yang ingin ia bicarakan kepada Akira.
Rian meraih botol minuman yang ada di hadapannya, di teguknya minuman itu hingga habis, lalu ia kembali menghela napas dalam dan membuangnya dengan perlahan.
“Aku bingung harus memulainya dari mana, aku tau kau tidak akan peduli dengan hal ini, tapi aku berharap kau mau mendengarnya. Mungkin dengan mengatakan segalanya kepada mu, aku bisa merasa lega dan merasa sebagian beban ku telah ku bagi pada mu” ucap Rian memulai. “Jujur, aku tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan hanya sekedar teman, aku tidak begitu menginginkannya. Meski sebenarnya aku memiliki banyak teman wanita, tapi sedikitpun aku merasa tidak memiliki keterbukaan terhadap mereka. Jadi aku pikir, kamu mau menjadi wanita pertama yang akan mendengarkan keluh kesah ku. Aku tidak akan meminta mu untuk membantu ku mencari solusi atau bahkan memaksa mu untuk selalu merespon. Cukup dengan mendengarkan ku saat mengucapkannya, aku sudah merasa lega, setidaknya aku tidak bicara dengan patung atau mungkin dengan batu” lanjut Rian lagi.
“Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, luapkan saja segalanya di sini, aku siap mendengarkannya. Jika memang sekiranya kamu membutuhkan bantuan, aku siap membatu sebisa ku” jawab Akira.
“Aku hanya merasa bingung Akira, di saat aku merasa nyaman dengan seseorang, seseorang yang baru saja aku kenal, tiba-tiba aku harus di hadapkan dengan masalah besar” ucap Rian.
“Masalah besar? Apa yang terjadi? Apakah ibu mu tidak menyetujui hubungan kalian? Atau ibu mu tiba-tiba kejang saat mendengarnya?” tanya Akira.
“Kau ini sangat lucu, tapi sebenarnya aku bingung untuk menyimpulkannya, apakah kau lucu atau mungkin sangat menyebalkan. Aku bicara dengan serius tapi kamu menanggapinya dengan candaan, tapi aku senang, setidaknya kau berusaha untuk menghibur ku” ucap Rian sambil tertawa kecil.
“Hei, aku serius, aku sedang tidak menghibur mu. Kau mengatakan sedang terjadi masalah besar saat kau merasa nyaman dengan seorang wanita, aku hanya menebak masalah besar apa yang terjadi. Atau mungkin, ibu mu tidak setuju karena kamu menyukai…” Akira menggantung kalimatnya, karena ia yakin, tanpa mengucapkannya, Rian pasti mengerti maksud pembicaraannya itu.
“Aku masih normal Akira, aku tidak seperti pria lain yang menggoda om-om seperti di luar sana.” Kata Rian sambil terkekeh.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Akira.
Akira mengambil salah satu makanan ringan yang ada di meja, ia juga meneguk minuman yang ada di hadapannya sambil mendengarkan Rian dengan serius seolah Rian adalah layar lebar yang akan menampilkan tayangan menegangkan.
“Saat aku merasa nyaman dengan wanita yang aku katakan, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita yang baru saat itu aku temui, dan…” Rian tak mampu melanjutkan kalimatnya, membuat Akira menatapnya sambil menunggu Rian menyelesaikan kalimat yang menggantung itu.
“Dan…?” tanya Akira penasaran.
Dan kami akan segera menikah” lanjut Rian dengan terpaksa.
Akira terkejut saat mendengar kalimat Rian yang terakhir, kini ia mulai berasumsi sendiri dengan pemikiran-pemikirannya yang tak bisa ia kendalikan.
“What? Menikah? Kamu nggak salah menikah dengan orang yang baru saja kamu kenal? Aku saja yang sudah mengenal Tristan bertahun-tahun, tidak memiliki pemikiran untuk menikah dengan Tristan, apalagi yang baru saja bertemu? Atau jangan-jangan, kamu di jodohkan ya oleh kedua orangtua kamu?” tebak Akira.
“Justru itu, mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini” ucap Rian.
“Aduh, kenapa aku jadi pusing ya? Kenapa tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saja? Kenapa harus muter-muter seolah kamu ini mamang angkot yang sedang mencari penumpang? Sebaiknya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dengan begitu aku bisa memberikan pendapat, siapa tau pendapat ku bisa membantu” ucap Akira.
Rian mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Akira, mendengar semua penuturan Rian, Akira membulatkan mata tak percaya dengan apa yang menimpa bosnya saat ini. Ia benar-benar tak percaya kalau hal kecil yang Rian lakukan bisa berakibat sepatal ini, bahkan berdampak untuk hidupnya selamanya.
“Apa kau sudah memikirkannya dengan matang? Kau harus ingat, menikah itu bukan sebuah permainan. Menikahlah dengan orang yang benar-benar ingin kau nikahi, jangan asal menikah yang ujungnya akan membuat mu menyesal.” Protes Akira.
“Aku juga tau itu, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kedua orangtua ku juga menyetujuinya karena mereka tau kalau aku tidak memiliki kekasih, di tambah lagi sudah sejak lama mereka meminta ku untuksegera menikah karena ingin menimang cucu” ucap Rian.
Akira terdiam sejenak, ia mulai memikirkan apa yang akan ia katakan kepada bosnya ini.
‘Jika di hadapkan dengan situasi ini, aku juga tidak akan mau menikah dengan orang yang baru saja aku kenal. Menikah itu bukan sehari atau dua hari, tapi seumur hidup. Tapi aku juga tidak mungkin mengecewakan kedua orangtua ku, apalagi mengecewakan orang yang sudah meninggal. Sungguh sangat tidak mungkin’ batin Akira.
“Semua keputusan ada di tangan kamu, dan kamu berhak memilih mana yang terbaik untuk kamu. Tidak mungkin ada kata mencoba dalam hal ini, karena menikah tidak untuk di coba-coba dahulu seperti pacaran. Tapi kalau menurut ku sih, tidak ada salahnya mengikuti apa kata orangtua, karena pilihan orangtua itu pasti akan menjadi yang terbaik untuk anaknya. Dan besar kemungkinan kalau kita membahagiakan kedua orangtua, membahagiakan orang lain apalagi itu adalah permintaan terakhir orang tersebut, percaya deh sama aku, pasti kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan” ucap Akira.
“Aku bingung sama kamu Ra, sebenarnya kamu setuju kalau aku menikah atau tidak? Sebelumnya kamu sedikit berteriak karena tidak terima dengan keputusan ku untuk menikahi wanita itu, tapi sekarang kamu seolah menyuruh ku untuk menikah dengan wanita itu. Jadi aku harus memilih yang mana? Menikah dengan wanita itu atau tidak?” tanya Rian heran.
Akira terdiam, ia juga bingung harus mengatakan apa.
“Itu hanya jawaban saat aku emosi saja, dan ini adalah jawaban setelah aku bisa menenangkan pikiran ku. Jadi sebaiknya terima saja permintaan ibu Widia itu, dengan begitu kamu bisa membahagiakan kedua orangtua mu, membahagiakan ibu Widia, dan juga bisa membahagiakan Widia. Percaya pada ku, dengan melakukan itu, kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan” ucap Akira dengan tenang.
“Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?” tanya Rian.
“Kenapa aku merasa tertekan ya? Yang akan menikah siapa yang di suruh milih siapa? Aku hanya memberi saran, dan semua kembali lagi kepada kamu, kalau kamu mau mengikuti apa yang aku katakan tidak apa-apa, kalau kau tidak ingin melakukannya dan mengambil pilihan sendiri juga tidak apa-apa. Dari awal aku sudah bilang, semua keputusan ada di tangan kamu” ucap Akira.
“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu katakan, aku akan menikah dengan wanita itu sesuai dengan apa yang kamu katakan, dan aku berharap apa yang kamu katakan tentang diri ku bisa menjadi kenyataan” ucap Akira.
“Eh tunggu… tunggu. Kenapa kamu malah mengikuti semua yang aku katakan? kamu berhak memilih, nggak harus melakukan seperti yang aku katakan. atau jangan-jangan kamu sengaja ya, kalau kamu tidak bahagia dan rumah tangga kamu tidak baik, kamu akan menyalahkan aku karena aku menyarankan mu untuk menikah dengan Widia?” tebak Akira.
“Tidak, ini adalah pilihan ku, dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Jadi apapun yang akan terjadi kedepannya, aku tidak akan pernah menyalahkan mu” ucap Rian.
“Baguslah, aku lega mendengarnya. Jangan sampai kau mencari ku dan meminta ku untuk bertanggung jawab atas semua ini, karena yang seharusnya bertanggung jawab itu kamu, karena semua yang akan terjadi pada mu, itu sesuai dengan pilihan mu”.
“Doakan saja, semoga pilihan ku yang awalnya adalah pilihan mu tidak membuat ku menyesal” ucap Rian sambil tersenyum kepada Akira, sementara Akira hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Sejenak mereka terdiam, menikmati makanan ringan yang ada di meja dan sesekali meneguk minumannya. Seketika Akira teringat kepada Tristan, bahkan hingga saat ini, mereka belum pernah berduaan seperti yang ia lakukan dengan Rian saat ini. Belum pernah membicarakan sesuatu yang serius, bahkan belum pernah saling bercerita tentang beban pikiran masig-masing dengan tenang seperti saat ini. Akira kembali mengangkat suara setelah mereka dia beberapa menit, ia sama sekali tidak menginginkan keheningan yang justru akan membuatnya memikirkan yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Tristan.
“Oh iya, siapa wanita yang kamu sebutkan yang bisa membuat mu nyaman saat pertama kali bertemu?”.