Tidak ada. Rasa sakitnya tidak ada, aku membuka mata dan langsung melihat tangan Vio diam di dekat wajahku. Tangan Andre lebih dulu menghentikan laju tangannya. Andre menghempaskan tangan itu dengan kasar, menatap Vio dengan tatapan yang akan membuat siapapun tahu kalau laki-laki ini tidaklah senang. "Kamu mau menampar dia di depan aku? Apa aku tidak salah?" Nada tidak percaya Andre membuat aku menatap Vio dengan bingung. "Karena dia kamu berubah, jadi jangan salahkan aku kalau aku mulai menyakiti dia. Dia hadir di antara kita Andre!" Vio berteriak di depan kami, membuat aku mengeratkan genggaman di kemeja Andre. Andre tertawa, tawa yang tidak senang tentu saja. "Mulut kamu benar-benar butuh di berikan pelajaran. Kamu benar, karena Luna aku berubah. Karena Luna aku yakin kalau kamu mem

