Chapter 5

788 Kata
Andre membukakan aku pintu mobilnya yang membuat aku merasa di perlakukan seperti seorang ratu tapi aku menahan diri. Tahu kalau Andre melakukan itu hanya demi sebuah tanggung jawab. "Kau yang memilih cincin untuk kita." Putus Andre yang membuat aku berhenti berjalan. Aku menatap pria itu yang baru saja menutup pintu mobilnya. "Aku? Kenapa?" Tanyaku beruntun. Andre mengangkat bahunya dengan santai. "Karena aku ingin melihat seperti apa cincin yang di inginkan calon istriku." Jawabnya enteng tanpa tahu akibat yang dia timbulkan di jantungku. Belum sempat aku membantah keinginannya, Andre sudah lebih dulu meraih lengan atasku dan membawa aku masuk ke dalam toko emas itu. Aku menghela nafas pasrah. Kami berdiri di depan kaca dimana banyak sekali perhiasan berjejer di dalam kaca itu. Membuat mataku penuh dengan kebahagiaan. Hanya dengan menatap cincin itu aku membayangkan tangan Andre yang akan menyematkannya. "Apa kau sudah menjatuhkan pilihanmu?" Pertanyaan Andre membuat aku mengangguk tanpa menatapnya. Mataku terfokus kearah satu cincin yang begitu menarik perhatianku. Andre memanggil pramuniaga dan memintanya untuk mengambil cincin yang aku inginkan. "Yang ini mba?" Tanya pramuniaga yang langsung aku angguki dengan antusias. Pramuniaga itu memberikan aku cincin berwarna putih pipih dengan mata hitam, sangat mirip dengan mata Andre. Membuat aku menatap Andre yang nampak bingung mendapatkan tatapanku. "Aku suka yang ini." Ujarku tanpa bisa menyembunyikan rasa semangatku. Tiba-tiba saja duniaku beku saat Andre mengacak rambutku yang aku kuncir kuda. "Itu indah. Pilihan yang sempurna." Pujinya tulus lagi-lagi tanpa peduli dengan detak jantungku yang bertabuh. "Mas. Apakah ada pasangannya?" Tanya Andre pada sang pramuniaga tanpa sadar dengan kebekuanku. "Ya. Itu cincin pasangan." Jawab pramuniaga itu. Andre mengangguk. "Baiklah, kami ambil sepasang. Tidak perlu di bungkus." "Kamu yakin? Kamu suka?" Andre menatapku. "Sudah kukatakan, kita akan memakai apapun yang menjadi pilihanmu." Andre mengedipkan matanya kearahku. Huh. Pramuniaga itu sudah memberikan Andre kotak cincin. Yang langsung di buka Andre dan mengeluarkan cincin yang menjadi pilihanku. "Kemarikan tanganmu." Pintanya yang membuat aku melongo. "Luna. Tanganmu." Ujarnya lagi yang membuat aku langsung mengulurkan tanganku. Andre memasangkan cincin itu dengan pelan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak, momen ini entah kenapa terasa begitu indah. Melihat bagaimana cincin itu melingkar indah di jari manisku. "Andre." Suara itu membuat aku menarik tanganku hingga pegangan Andre terlepas. Tapi cincin itu memang sudah melingkar sempurna di jemariku. Andre telah berbalik dan aku bisa melihat ketegangan di bahu Andre. Itu Vio. Gadis yang membuat Andre terluka. Gadis yang dengan telaknya meninggalkan Andre dan memutuskan menikah dengan temannya. Gadis yang sering di ceritakan mba Dea. Gadis yang membuat aku membencinya bahkan sebelum aku bertemu dengannya dan hanya melihat wajahnya lewat figur foto yang pernah di berikan mba Dea. Dialah gadis itu. Sekarang tengah berdiri dengan tatapan nanar dan tangan yang melingkar pada lengan pria lain yang aku yakini adalah calon suaminya. "Sakti." Sapa Andre kepada pria itu. "Kalian juga ingin memilih cincin di sini?" Tanya Andre dengan ketenangan yang membuat aku salut. "Juga?" Gadis yang sungguh aku yakini bernama Vio itu membeo. Mendengar kata itu dengan nada tidak terima. "Cincin yang indah." Pujian itu hadir dari pria yang ada di samping Vio. Yang di sebut Andre bernama sakti. "Kalian akan menikah?" Tanya pria itu lagi tidak peduli dengan rasa tidak terima di hati gadis di sebelahnya. "Begitulah." Jawab Andre seadaanya. Andre langsung meraih pergelangan tanganku. "Kami duluan Sakti. Aku akan mengirimkan undangannya nanti." Andre langsung membawa aku pergi. Aku melihat tangan Vio sempat ingin meraih Andre tapi Sakti lebih cepat mencegahnya. Membuat aku bingung dengan apa yang tengah terjadi di antara mereka. Andre membukakan aku pintu mobil dan membawa aku masuk. Menutup pintu mobil Andre juga ikut masuk ke balik kemudi. Langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aku juga diam. Tidak ingin membahas apapun tentang gadis itu. *** "Pertemuannya besok. Aku akan meminta supir mami menjemputmu. Kita akan bertemu di sana." Ucap Andre saat kami sudah sampai di depan rumahku. "Baik." Jawabku seadanya tanpa mengatakan apapun lagi. Aku membuka sabuk pengaman dan meraih pintu mobil tapi tangan Andre lebih dulu meraih bahuku membuat aku berbalik kearahnya. "Kamu belum memakaikan aku cincinnya." Ujarnya yang membuat aku bisa melihat tangannya yang tengah memegang cincin itu. Aku menatap Andre sebentar dan pria itu mengangguk. Ku ambil cincin yang dia sodorkan lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya. Tangan kami terlihat sangat pas. Aku rasanya terharu melihat ini. Saat Andre tiba-tiba membubuhkan ciuman di keningku, aku membeku. Remasan tanganku menguat. "Sampai jumpa besok. Luna." Ujarnya dengan nada tenang seperti biasa. Aku mengangguk kaku dan langsung keluar dari mobil. Kali ini aku tidak menunggu mobilnya menghilang tapi langsung berlari ke dalam rumah dengan d**a berdetak kencang dan kepala yang terus memutar kejadian barusan dengan penuh semangat. Andre mencium keningku. Betapa aku tidak akan pernah memikirkan hal itu seminggu yang lalu tapi kali ini. Ini benar-benar kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku terus saja memikirkan ciuman Andre bahkan saat malam menjelang. Kesenangan yang tampak begitu nyata ini tiba-tiba di rusak dengan kehadiran sebuah pesan di layar ponselku. Dari Vio dan dia meminta bertemu. Apa yang dia inginkan hingga ingin bertemu?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN