Aku turun dari kursi tinggi itu, mendatangi Nathan yang kini masih menatap gerak-gerik ku. Aku tahu Nathan tahu jawaban atas apapun pertanyaan tentang kami dan hubungan terlarang yang coba di tawarkan Nathan. Nathan harusnya sadar kalau dia tidak sepantasnya meminta perasaanku saat dengan nyata Papa mengirimnya lima tahu lamanya untuk jauh dariku, agar bisa menghilangkan perasaan haram itu. "Apa alasan kamu sampai Papa memberi izin kamu untuk kembali Nathan?" Pertanyaan itu aku ajukan saat aku sudah ada di depan Nathan. Nathan menatap aku sejenak dan langsung mengalihkan tatapannya yang membuat aku yakin kalau apapun itu pasti tidak akan pernah baik untuk ku dengar. "Aku akan mengantar kamu pulang." Nathan berucap sendu membuat aku langsung memegang lengannya agar mau menatap aku. Tapi

