Berselang tiga hari dari hari pertunangan, hari pernikahan yang Vita nantikan tiba.
Rumah di dekor sedemikian rupa membuat ruang tamu menjadi mewah dan megah, bangku dan meja berjejer siap menyambut tamu undangan, makanan prasmanan yang siap mengisi perut para tamu. Semua persiapan tersusun sangat rapi. tamu undangan mulai berdatangan,tinggal menunggu sang ratu keluar menuju singgasana akad.
Sang raja sehari sudah tiba bersama dua permaisurinya. Terlihat Sarah sang istri pertama di dampingi orang tuanya, begitu juga dengan Dona istri kedua di dampingi kedua orang tuanya ikut menyaksikan suami tersayang meminang gadis kecil mungil, tentu dengan harapan mendapat momongan.
Tak berapa lama, sang ratu sehari keluar dari kamar rias dengan gaun sederhana tapi terlihat mewah dan menawan berjalan berlengak-lenggok menambah kesan sexi diiringi sang ibu menuju singgasana membuat mata Fadli tak berkedip terus memandang sang gadis kecil yang akan menjadi istri ketiganya.
Ingin rasanya Fadli memangsa gadis dihadapannya.Pandangannya tidak bisa berpaling sedikitpun,perasaannya semakin mengebu-gebu ingin segera melempar gadis itu ke kasur.
"Sabar mas...sebentar lagi dia akan menjadi milikmu." ucapan Sarah seakan tau apa yang dirasakan Fadli.
Seketika itu Fadli terdiam tidak memandang ke arah Vita lagi. Dia langsung tersadar harus menjaga hati kedua istrinya yang menyaksikan pernikahannya.
"Bagaimana? sudah siap semua?" tanya penghulu yang sudah hadir dan menempati tempat tepat di depan pengantin.
"siap pak" jawab mereka serentak.
Ayah Vita sebagai wali nikah mengulurkan tangannya kepada calon menantu.
"Anada Fadli Surya Brata saya nikahkan engkau dengan putri saya Vita Maharani binti Jaman dengan seperangkat alat sholat dan emas seratus gram di bayar tunai." kata pak jaman yang mengakhiri dengan mengeratkan jabat tangannya.
"Saya terima nikahnya Dita Maharani binti jaman dengan mas kawin tersebut tunai."jawab Fadli tegas dan lugas.
"Bagaimana saksi?"
Sah
Sah
Sah
Lantunan doa terdengar mengiringi lancarnya akad.
Senyum bahagia terpancar dari wajah Vita. tanpa ragu Vita meraih tangan Fadli dan mencium punggung tangan itu. Fadli pun membalas dengan mencium kening Vita untuk pertama kalinya.
Tidak ada kesedihan yang terpancar dari kedua istri Fadli yang melihat hal itu. Mereka rela berbagi suami dan ikut bahagia di pernikahan ini.
Kini tiba Fadli dan Vita menempati panggung pernikahan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Yang pertama kali mengucapkan selamat dan menyalami mereka adalah Sarah istri pertama Fadli.
"Selamat ya mas,aku ikut bahagia kalau kamu bahagia." wanita itu berucap seperti tak ada kesedihan sedikitpun.
" Makasih sayang, aku mencintaimu" jawab Fadli
"Aku juga mencintaimu mas.
Vita yang mendengar ucapan mereka tak merasa kecewa karena ia sadar dengan menjadi istri ketiga ia harus siap berbagi suami.
"Selamat ya Vita, kamu sekarang udah jadi istri mas Fadli."
" Terimakasih mbak, aku akan banyak belajar dari mbak Sarah." jawab Vita memeluk Sarah.
Sarah hanya menjawab dengan senyuman dan melepas pelukan Vita memberi kesempatan yang lain untuk memberikan selamat.
"Selamat ya mas, Aku berharap ini pernikahan terakhir kamu"
"Iya sayang, aku juga berharap begitu terima kasih, aku mencintaimu."
Seketika Dona memeluk Fadli tanpa ia sadari air mata yang ia tahan dari tadi mengalir dengan deras.
Saat bibir bicara ikhlas melepas sang suami menikah lagi tapi hati tidak bisa berbohong rasa sakit dan kecewa itu pasti ada dan Dona tidak bisa menyembunyikan itu seperti Sarah yang selalu tegar dan kuat di depan suaminya.
"Maafkan aku." kata Fadli dan Dona langsung menyeka air matanya dan melepas pelukannya dari Fadli.
"Aku juga mencintaimu mas." jawab Dona berganti memeluk Vita dan mengucapkan selamat kepadanya.
"Selamat Vita,aku harap kamu bisa menuruti keinginan mas Fadli"
"Aku akan berusaha mbak."jawab Vita.
Dona langsung pergi ke kamarnya.dia tidak bisa ikut menyelesaikan acara ini.ia tak kuasa ingin menangis sekeras-kerasnya untuk menutupi rasa sakit dan kecewa di hatinya.
Saat berlari menuju kamar, Dona mendengar seseorang menangis di kamar Sarah. perlahan Dona membuka pintu kamar dan melihat Sarah menangis di sana.
Dona mendekati Sarah dan memeluknya dengan erat.
"Sabar mbak, ini sangat menyakitkan tapi kita harus berusaha ikhlas mbak biar mas Fadli bisa memiliki keturunan dan kita harus tau diri itu." ucap Dona menguatkan Sarah.
"Aku akan terus berusaha,tapi apa aku salah menangis untuk kali ini saja?"
"Tidak salah mbak, saya juga merasakan apa yang mbak Sarah rasa, biar bagaimanapun aku juga istri Mas Fadli mbak, Aku tau yang mbak Sarah rasakan."ucap Dona.
"Aku bahkan tidak sekuat dan setegar mbak Sarah di depan Mas Fadli aku tadi nangis mbak,hati ini tidak bisa berbohong." tambah Dona yang semakin terisak.
Perempuan yang Sabar dan tegar di depan suaminya hebat dan kuat melepas suaminya menikah lagi itu ternyata hanya wanita biasa yang tak rela berbagi suami meskipun bibir mereka bicara "Rela dan Ikhlas".
.
.
.
Maaf ya baru up?jangan lupa tinggalkan jejak???