Hari Pertunangan
Hari ini adalah hari yang sangat Vita nanti sebelum hari pernikahan. Mendapat restu sang ibu dan mendapat restu dari kedua istri Fadli adalah hal yang sangat membanggakan untuk Vita.
Setidaknya dia bukan perebut laki orang alias Pelakor, meski menjadi istri ke tiga orang kaya.
Di sisi lain Vita merindukan sang ayah meski di hati Vita masih ada luka,kecewa atas penghianatan ayahnya, dia berharap sang ayah bisa ada di hari bahagianya nanti, tapi apa sang ayah mau datang di saat hubungan mereka tidak baik?, masalah yang belum terselesaikan antara dirinya dengan sang ayah membuat Vita enggan menghubungi sang ayah untuk membahas penikahannya nanti.
Vita tidak mengetahui kalau sang ibu sudah memberi tahu sang ayah kalau putri mereka akan menikah.Dan Pak jaman sudah sepakat dengan Bu ana akan datang di hari pertunangan putrinya nanti.
Hari sudah menjelang sore, di rumah Vita sudah banyak orang mondar mandir,sibuk dengan tugas masing-masing mempersiapkan untuk acara pertunangan nanti,acara nanti akan di mulai jam 7 malam. Vita sangat berharap acara pertunangan ini berjalan dengan lancar karena acara ini pertama bagi Vita.
Vita ingin malam nanti pertunangannya berkesan seperti yang dia harapkan.
Kini mata Vita tertuju pada seseorang yang baru datang, orang yang tidak asing bagi Vita, orang yang Vita rindukan, yang sangat Vita harapkan untuk hadir di acaranya nanti kini sudah datang meski hubungan mereka kurang baik. ya... dia ayah Vita, Pak Jaman.
Vita terlihat mematung dengan menatap sang ayah saat sang ayah mendekati Vita. Vita tidak mau menyapa Pak jaman dahulu. Hatinya terlalu egois untuk menyapa seorang ayah yang berkhianat.
Tapi tidak dengan Pak Jaman, dengan rendah hati Pak jaman mendekat dan menyapa putri kesayangannya. meskipun masih ada perasaan tak enak karena masalah kemarin, tapi Pak jaman berusaha melupakan kejadian kemarin karena dia juga merasa bersalah dengan kejadian yang dia alami.
" assalamualaikum putri ayah." sapa Pak Jaman seolah hubungan mereka baik-baik saja.
"wa'alaikumsalam."
"Putri ayah udah besar ya... udah mau nikah aja?"
Vita hanya menatap dengan diam.
"Bisa-bisanya ayah bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa."batin Vita.
"Ayah minta maaf ya atas semua yang udah terjadi,ayah salah." kata ayah kemudian.
"iya tidak apa yah, nasi telah menjadi bubur." jawab Vita ketus.
"Vita kenapa kamu mau jadi istri ketiga?"
"mungkin ini sudah takdirku untuk jadi istri ketiga, tapi setidaknya aku sudah mendapatkan restu dari kedua istri mas Fadli, tidak menikah secara diam-diam seperti yang ayah lakukan."
"Iya... maafkan ayah." jawab Pak Jaman pelan.
"sudahlah ayah, tidak perlu kita bahas lagi. Aku berharap ayah bisa merestui pernikahan Vita dan mau menjadi wali Vita nanti. Biar bagaimanapun Vita tetap anak ayah kan?"kata Vita dengan memegang tangan sang ayah.
"Iya Vita, ayah akan melakukannya untukmu."
Vita yang mendengar jawaban sang ayah langsung memeluk erat ayah.
Kerinduan kehadiran sang ayah yang dia rindukan kini hadir di dekatnya dalam pelukan. Rasa kecewa,marah,dendam,sakit hati karena sang ayah seakan hilang oleh kehangatan pelukan seorang ayah.
Langit sudah terlihat gelap dan bintang sudah mulai bermunculan menghiasi indahnya langit malam. Acara pertunangan Vita akan segera di mulai. Vita sudah siap dengan baju kebanggaannya yang dia persiapkan kemarin.
Di ruang tamu terlihat banyak tamu berdatangan. Vita ditemani sang ibu berjalan ke ruang tamu, banyak mata melihat ke arah Vita dan ada juga bisik-bisik yang membuat Vita geram dengan mereka.
"cantik-cantik kok mau ya jadi istri ketiga." ucap salah satu tamu yang hadir di pertunangan ini.
"Pasti karena harta, lagian lakinya terlihat tua, kaya ayah sama anak itu." timpal salah satu ibu yang disebelahnya.
Rasanya Vita ingin menutup mulut mereka satu per satu tapi Vita tidak ingin merusak acara hari ini.
Terlihat Fadli melihat ke arah Vita,Terpesona? Ya. mungkin itu yang dirasakan Fadli melihat gadis kecil,mungil yang akan dia nikahi.
Fadli juga mendengar pembicaraan buruk terhadapnya.
"Gak usah kamu pikirin pembicaraan orang-orang yang gak penting, mereka tidak kasih makan kita, yang penting kita bahagia". bisik Fadli membuat Vita geli dan hanya di jawab dengan anggukan.
Disebelah Fadli juga terlihat kedua istri Fadli berdampingan. mereka tersenyum ke arah Vita dan Vita juga membalas dengan senyuman.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya man teman??