Seminggu berlalu....
Kini vita dan keluarga sudah berada di kota Jakarta. vita senang bisa selalu kumpul dengan keluarga,tapi vita juga bingung apakah dia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru di kota.
"apakah aku bisa nyaman di sini..?apakah aku akan banyak teman seperti di desa...?apakah keluargaku akan bahagia di sini...?" banyak pertanyaan terbesit di lamunan vita.
"vita...ada apa...? kok melamun..?" tanya ibu yang memperhatikan vita.
"em...tidak bu... tidak ada apa-apa kok bu" jawab vita yang tersadar dari lamunannya.
" ayo kamu istirahat dulu..." kata ibu ana.
"iya bu." jawab vita.
Satu bulan berlalu. vita sudah terbiasa dengan lingkungan barunya. vita juga sudah menemukan sekolah yang tepat dan dekat dari rumah.
pagi-pagi saat vita bangun tidur terdengar keributan ayah dan ibunya. vita pun tidak berani keluar kamar,dia hanya mendengar pertengkaran ayah dan ibunya.
"Kenapa ayah seperti ini..? apa benar yang aku dengar tadi..? apa benar ayah mempunyai keluarga lain..?" Terdengar suara ibu yang memberondong pertanyaan kepada ayah.
Vita pun seketika meneteskan air mata,dan langsung keluar mendekati suara keributan ibu dan ayahnya.
" Ayah apa yang aku dengar tadi benar...? Apa benar ayah mempunyai keluarga lain...? Kenapa ayah....kenapa ayah seperti ini...?"tanya vita yang sudah berlinang air mata.
"Ayah bisa jelaskan semua vita.!" jawab ayah.
"Ayo jelaskan ayah!!" seru vita.
"Ayah khilaf...ayah minta maaf" jawab ayah.
"Apa..!!! Ayah khilaf,ayah tak memikirkan perasaanku, perasaan ibu!!"
Vita yang sudah tidak tahan dengan pernyataan ayah pun kembali ke kamar menangis sejadinya.
Ibu ana juga hanya bisa menangis dan menangis.
Keluarga yang bahagia dan selalu di banggakan kini hancur dengan penghianatan.
"Ya Allah....kenapa seperti ini?
Kenapa ayah tega..?
Kenapa ayah berkhianat..?
Di sana kita di desa keluarga ini bahagia, tak ada pertengkaran ayah dan ibu.
Tapi....
Setelah di sini,kenapa ayah seperti ini?
Kenapa ya allah... " Seru vita yang diiringi tangisan.
Ibu ana dan ayah hanya terdiam, Saat mendengar seruan vita ayah langsung pergi meninggalkan rumah tanpa kata.
Ibu ana menuju kamar vita.
" Vita apa ibu boleh masuk...?"tanya ibu ana sambil mengetuk pintu.
" Masuk bu " jawab vita.
Bu ana masuk dan langsung memeluk vita.
"Maafkan ibu..ibu tidak bisa menyembunyikan semua ini, ibu sudah tak sanggup berpura-pura seperti kemarin kemarin, ibu sudah tidak kuat dengan ayah" jelas bu ana.
"Ibu tidak bersalah,ayah yang berkhianat,Ayah tidak bisa menjaga keluarga kita"
Ibu ana hanya menjawab dengan anggukan.
" Jika benar ayah punya keluarga lain,kenapa ibu masih bertahan,ibu harus tegas!!,kita bisa hidup tanpa ayah,Vita tidak bisa melihat ibu seperti ini."ucap vita yang terus saja menangis.
"Ibu harus bertahan vita,setidaknya sampai kamu lulus nanti" jelas ibu.
"Kenapa bu...kenapa harus menunggu sampai vita lulus,vita tidak mau ibu seperti ini. Mulai besok vita sudah tidak mau sekolah lagi!, vita tidak kuat melihat ibu terluka!!,Buat apa vita sekolah tapi ibu menanggung sakit seperti ini.Kalau saja kita tidak pindah ke kota,mungkin tidak akan seperti ini, Mungkin ayah tidak akan bekhianat, Mungkin keluarga kita masih utuh dan bahagia.
Ibu tidak boleh bertahan dalam luka. Ibu harus bahagia seperti sewaktu kita di desa. Ibu tidak perlu mempertahankan ayah yang sudah jelas mengkhianati ibu.
Ibu juga berhak bahagia, Ibu tidak boleh larut dalam luka ini." Bicara vita panjang lebar dengan melepas pelukan bu ana dan menyeka air mata bu ana.
"Kita harus kuat ya nak,Ibu juga tidak mau melihat vita sedih seperti ini. Ibu juga pengen keluarga kita bahagia seperti dulu,Tapi ibu sudah tidak kuat nak...Apa yang harus ibu lakukan?"
"Apa kita kembali ke desa saja bu,? Setidaknya di desa kita masih punya tempat tinggal."
"Beri ibu waktu untuk memikirkan semua ya nak." jawab ibu sambil berjalan keluar dari kamar vita.
Di kamar ibu ana.....
Bu ana duduk terdiam di tepi ranjang. Dia masih termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi?.
"Apa benar kata vita,aku harus balik ke desa? tapi di desa aku sudah tidak bekerja."
"Bagaimana dengan ayah?. Apa dia sudah tak memikirkan keluarga ini...?"
Tentu saja dia tak akan mempedulikan keluarga ini. Dia memang lelaki jahat yang pernah aku kenal.
Di saat aku meninggalkan pekerjaanku, di saat aku mengikuti kemauan dia, dia malah seperti ini.
Dasar laki laki tak punya hati. Sudah punya anak istri masih saja kurang.
Memikirkan tingkah laku suaminya hanya membuat amarahnya memuncak.