"Maafkan vita bu,vita harus pergi."
Ponsel ibu ana bergetar,dan membaca pesan dari putrinya.
Seketika ibu ana melakukan panggilan kepada vita tapi nihil,vita sudah lebih cepat mematikan ponselnya.
Bu ana pun beralih panggilan ke suaminya. Berharap suaminya bisa membantu mencari putrinya.
Saat panggilan itu terhubung,betapa terkejutnya bu ana, suara wanita yang ada dalam panggilan itu.
"halo.." suara wanita itu.
"Ini siapa...? Di mana suami saya?" seru bu ana.
" saya istri mas jaman, mas jaman lagi main sama anak anak." jawab wanita itu.
"Bisakah saya bicara dengan suami saya?"
Bu ana menahan amarah,meninggikan suaranya dan menekan kata " suami saya".
"Mas jaman gak bisa diganggu, dia baru datang hari ini."
Bak di sambar peti, bu ana dengan cepat mematikan telponnya.
Bu ana seperti tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Putri kesayangan yang dibanggakan pergi entah kemana, suami bisa bisanya pergi ke rumah wanita lain.
Tapi bu ana tak menyerah, dia harus mencari putrinya. Dia tau vita sangat terpukul dengan masalah ini.
Bu ana pergi ke rumah teman- teman vita. Dari satu rumah dan berpindah ke rumah lain, tetap saja bu ana belum menemukan putrinya.
Hari menjelang petang, bu ana memutuskan pulang. Dia berjanji akan mencari vita lagi besok jika ia belum pulang, karena di rumah masih ada dua anak yang menunggu bu ana pulang.
****
Di tempat lain....
Vita mengikuti temannya (Diana) pergi ke tempat yang bisa menenangkan pikirannya.
Vita tak tau tempat yang di datangi adalah Club malam. ia hanya menuruti kata teman yang baru dia kenal.
"Apa aku harus ke tempat ini untuk menenangkan pikiranku?"
"Tentu saja. Di sini kita bersenang senang, dan bisa melupakan masalah yang kamu hadapi."jawab Diana sambil mengambil minuman untuk vita.
"ayo minum vita."
Vita yang polos tak tau minuman beralkohol. Langsung saja meminum minuman yang diberi Diana.
Vita tak tau minuman itu akan membuatnya pusing sampai mabuk. Dia hanya menuruti teman yang baru dia kenal.
Hari sudah larut malam,kondisi Vita sangat memprihatinkan,bicara ngelantur, berdiri terjatuh, apalagi berjalan,beberapa kali vita sampai terjatuh.
Diana yang tak tega bergegas mengantar Vita pulang. meski Diana sadar itu semua ulahnya,tapi tidak ada penyesalan di hati Diana, karena Diana sering melakukan hal itu.
Setelah sampai rumah Vita, Diana menjatuhkan badan vita di bangku teras, lalu mengetuk pintu rumah dan bergegas pergi begitu saja.
Terlihat ibu ana bergegas membukakan pintu.Dan betapa terkejutnya bu ana melihat putri kesayangannya bicara ngelantur dan sangat bau alkohol.
Bu ana sangat marah,tapi ia masih bisa menahan amarahnya.ia tau bagaimana perasaan putrinya.
"Vita apa yang kamu lakukan..?kenapa kamu seperti ini?" tanya bu ana dengan air mata yang telah membasahi pipi.
"Ayah macam apa yang tega kepadaku,ayah macam apa..." kata yang terus saja diucap Vita.
"Udah Nak tak usah kamu pikirkan ayahmu,ayo kita masuk."kata ibu sambil memapah vita ke dalam rumah.
Setelah mengantar Vita ke kamar dan menyuruh istirahat terdengar ketokan pintu dari luar, Bu ana segera membukanya, dan ternyata yang datang adalah suaminya.
Suami Bu ana pulang bukan seorang diri tapi membawa wanita yang seumuran dengan bu ana dan anak kecil, hasil perselingkuhannya.
" Bu,,ini Sari. Dia akan tinggal bersama kita."
Bu ana mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya menampar wanita itu, ingin segera mengusirnya. Tapi bu ana masih menahan amarahnya.
"Baik lah jika wanita ini tinggal di sini mulai besok pagi aku dan anak anak akan kembali ke desa, kamu bisa bersenang- senang bersamanya di sini, aku gak akan mengganggumu."
"Akan aku urus anak- anakku, segera kamu urus surat cerai kita, aku tak mau dimadu!!. kata bu ana segera masuk ke kamar dengan berurai air mata."
Pak jaman dan Sari mengikuti Bu ana, ikut masuk ke kamar yang biasa di tempati pak jaman dan Bu ana.
"Apa ini? kenapa kalian ikut masuk ke kamar ini? ini kamar aku, kalian pergi dari sini!!" bentak bu ana yang geram dengan tingkah sang suami.
" Ibu... ini kan rumah yang kontak ayah, ibu dan sari kan istri ayah semua, jadi kita bisa tinggal di kamar ini bersama." kata pak jaman seperti tak merasa bersalah.
"Aku gak mau satu kamar dengan wanita jalang ini, dia sudah merusak kebahagiaanku dan keluargaku!" kata bu ana.
"Maafkan ayah bu, ayah juga mencintainya." kata kata pak jaman yang semakin membuat bu ana semakin naik darah.