Part 3

939 Kata
"Pagi ini suasana seakan mengerti dengan isi hatiku. mendung yen menyimpan banyak air hujan yang segera tumpah membasahi daratan. Seperti pikiranku entah lari kemana menyimpan dan berusaha tidak menumpahkan air mata ini lagi." gumam bu ana dalam hati sambil beberes pakaian yang akan ia bawa pulang ke desa. "Kamu benar mau balik ke desa?" tanya sari. "Iya...sekarang kamu bisa berbahagia dengan suamiku."jawab Ana sinis. "Terima kasih, memang itu yang aku harapkan." kata Sari sambil tertawa kegirangan. "Dasar wanita jalang tak tau malu!! " kata Bu ana. "Sudah bu jangan dengarkan jalang seperti dia, gak laku bisanya ngambil laki orang!!" sahut Vita dengan nada tinggi. Plaakkk... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Vita. "jaga bicara kamu Vita!!" bentak pak jaman setelah melepas tamparan di pipi Vita. " Ooo... Sekarang begini perlakuan ayah kepadaku?" jawab Vita. " Apa ayah mengajarimu bicara kasar kepada orang yang lebih tua?! atau ibumu yang mengajari kamu bicara seperti itu?!!" kata Pak Jaman dengan meninggikan suaranya. "Buat apa aku harus menghargai orang tua gak tau diri seperti dia (sambil menunjuk kearah Sari), dia hanya jalang yang menghancurkan keluarga ini, ayah tak perlu melibatkan ibu dalam bicaraku, itu kata yang aku pelajari dari ayah b******n sepertimu." kata Vita dengan isak tangis. "Sudah Vita, Ayo kita berangkat, tidak ada gunanya kamu marah-marah di sini." sahut bu Ana dan menarik tangan Vita pergi. Pak jaman hanya melihat kepergian istri dan ketiga anaknya. Sari melihat hal itu sangat bahagia, tidak ada perasaan bersalah di hatinya. "Sayang terima kasih sudah membela aku di depan anak kamu, aku sangat mencintaimu." kata Sari manja di depan pak jaman. "Iya sayang, aku juga mencintaimu." jawab pak jaman dengan setengah sadar memikirkan yang baru terjadi. "Tidak usah mikirin mereka sayang, di sini ada aku dan anak kita. aku yakin kita juga akan bahagia. ceraikan saja istrimu." kata Sari mempengaruhi. Pak jaman hanya diam tak menjawab lagi. *** Bu Ana dan 3 anaknya pergi ke terminal bus terdekat mencari bus menuju kampung halamannya. "Sudah vita, kamu jangan nangis terus, itu hanya akan melukai hati ibu." kata bu ana menasehati. "iya bu, maafkan vita."jawab vita menyeka air matanya. Perjalanan dari Jakarta ke desa membutuhkan waktu 5 sampai 6 jam menggunakan bus. selama perjalanan mereka gunakan untuk istirahat, tapi tidak dengan Vita. handphone yang ia bawa dari tadi bergetar tiada henti membuatnya mau tak mau harus menjawab. Panggilan itu dari seseorang yang lebih tua di bawah orang tuanya yang Vita kenal dari sosial media. Dia adalah Fadli. Pria dewasa beristri dua dan ingin menjadikan Vita si gadis kecil itu istri ketiganya. Fadli bisa mengambil hati Vita disaat vita banyak masalah dengan menghibur dan merayu dengan rayuan gombal pria dewasa yang membuat Vita luluh. Setelah kejadian di Club bersama Diana, Vita sudah tidak menganggap Diana sahabatnya lagi. Vita sekarang memilih menumpahkan keluh kesahnya pada laki-laki dewasa dan beristri itu. Saat percakapan mereka terputus bu ana mendengar sedikit pembicaraan mereka bertanya pada vita: "Dari siapa?" tanya bu ana. "Dari Mas Fadli bu, pria yang aku ceritakan kemarin." "Dia kan pria beristri??" "iya bu, tapi aku nyaman dengan dia mau mendengar semua keluh kesah aku." "Apa kamu juga mau menjadi istri ke tiga nya?." tanya bu ana heran. " Aku tidak tau bu, jika kedua istri mas Fadli menyetujui akan aku pikirkan bu." " Tapi kamu masih sangat muda Vita!." "Mas Fadli tidak mempermasalahkan usiaku bu dan yang terpenting jika aku menikah dan mendapat restu ibu juga kedua istri mas Fadli, aku juga bisa membantu perekonomian keluarga kita bu." jawab Vita. " Apa ini semua karena harta Fadli?" tanya bu ana lagi. "Aku juga tidak tau bu, aku sangat marah melihat ayah membawa perempuan ke keluarga kita, karena dengan cara zina dan tanpa izin ibu, ayah memperistri perempuan itu." "Lalu kenapa kamu mau diperistri lelaki yang sudah beristri?" pangkas bu ana. " Aku pun juga tidak tau bu, Vita nyaman dengan Mas Fadli."jawab Vita. " tapi aku akan minta izin dulu sama kedua istri Mas Fadli bu, setidaknya aku tidak zina sebelum menikah dengan pria beristri."tambah Vita. "Apa ibu bisa pegang kata-kata kamu,?kamu harus janji tidak akan berzina sebelum ada ijin dari kedua istri Fadli?" tanya Bu ana. " iya bu, Vita janji. Apa ibu merestui?" tanya Vita. "iya.. ibu akan menyetujui apa saja yang menurutmu itu terbaik untuk diri kamu Vita." jawab ibu "Bagaimana dengan ibu dan ayah?" "ibu tetap ingin cerai dari ayah, ibu tidak terima dengan perzinaan ayah yang menghasilkan anak kecil itu!" "Apa ibu benci dengan lelaki yang mempunyai istri lebih dari satu?" tanya Vita lagi. "Tidak... Jika lelaki itu meminta ijin kepada istri sebelum menikah lagi, setidaknya lelaki itu jujur dan terbuka pada istri pertama sebelum menikah dengan istri keduanya, meskipun itu menyakitkan tapi lelaki itu bisa jujur dan terbuka." jawab Bu Ana yang membuat Vita tidak bisa bertanya lagi seperti kehabisan kata-kata. "Tapi sayang sekali jujur dan terbuka itu tidak ada di sifat ayah kamu, jika dia ingin mencari istri lagi seharusnya dia bicara dulu dengan ibu, mungkin ibu akan memikirkannya atau mencarikan istri yang baik untuk ayah kamu. bukan berzina sampai punya anak baru membawanya kehadapan ibu". lanjut Bu Ana. "Jika ayah tidak mau menceraikan ibu, apa yang akan ibu lakukan? apa ibu akan menerimanya sebagai madu ibu?" tanya Vita ragu. " Ibu akan tetap minta ayah menceraikan ibu, karena ayah sudah berzina. biarkan ayah besenang-senang dengan wanita itu. Ibu yakin dia bukan perempuan baik-baik." kata Bu ana. "Apa ibu tau sesuatu tentang wanita itu?" tanya Vita curiga. "Sudah Vita, istirahatlah. gak usah kamu pikirkan masalah ini lagi. kita akan mulai bahagia hidup di desa lagi." " Iya bu." Besok bolehkan bu,Vita ke rumah mas Fadli ketemu kedua istrinya?" "boleh.... persiapkan dirimu baik-baik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN