Vita
Pagi ini cuaca sangat cerah seperti cuaca yang menanti kepulangan aku kembali ke desa. Desa dimana beberapa bulan lalu aku tempati bersama ayah,ibu juga kedua adik-adikku dalam keluarga bahagia.
Tapi tidak lagi untuk saat ini, aku pulang ke desa tanpa seorang ayah. Sedih itu pasti, tapi aku harus berusaha menghilangkan rasa sedih ini.
Cuaca cerah,aku juga harus ceria tak boleh ada rasa sedih hari ini, apalagi hari ini Mas Fadli kemari dan akan membawaku ke rumahnya yang ia tempati bersama kedua istrinya.
Aku harus mempersiapkan mental dan pikiranku. Jika menjadi istri ke tiga akan membuatku lebih baik, maka aku akan ikhlas menjalankannya.
Aku harus siap menerima lamaran mas Fadli kalau kedua istrinya merestui, kalaupun mereka tak merestui aku juga harus ikhlas meninggalkan Mas Fadli.
Mungkin ini sudah takdirku. usiaku yang masih sangat muda, ibu dan ayahku akan berpisah,dan aku akan menjadi istri ke tiga dari lelaki dewasa yang belum lama aku kenal.
Aku harus bersiap sebelum Mas Fadli datang.
****
Ibu Ana
Aku tidak tau apa yang dipikirkan putriku, menjadi istri pertama saja tak mudah, bagaimana dia mau jadi istri ke tiga.
Apa dia bisa?
Bagaimana kalau istri pertama dan kedua Fadli tidak merestui?
Apa Vita bisa menerima dan meninggalkan Fadli?
Sejak pembicaraan aku dengan Vita kemarin aku lebih memikirkan putriku daripada suamiku.
Tidak ada gunanya lagi aku memikirkan lelaki yang menyakiti hatiku dan anak-anakku.
Keputusanku untuk bercerai sudah bulat. Aku tidak terima dengan penghianatan ini. Semoga mas jaman berbesar hati dan bisa mengurusnya. Jika tidak aku harus mengurusnya sendiri,tapi bagaimana dengan biayanya?.
Sekarang saja aku hanya pengangguran yang harus menghidupi ketiga anak-anakku. Aku juga harus mempersiapkan biaya pernikahan Vita nanti. tidak mungkin aku lepas tangan dan menyerahkan biaya pernikahan Vita ke Fadli,mau ditaruh dimana mukaku.
Apa lagi Fadli sudah punya dua istri. Aku harus bergerak cepat. Aku akan menghubungi mas jaman, Bagaimanapun mas jaman tetap ayah kandung Vita. dia juga berhak tau keadaan Vita apalagi di pernikahan Vita nanti harus ada wali nikah ayah kandungnya.
Segera aku ambil ponsel ku dan ku hubungi mas Jaman. Sekali...dua kali...tidak ada jawaban. Aku masih mencoba sekali lagi, kalau masih tak ada jawaban mungkin aku akan menghubunginya lagi nanti.
"Hallo.." terdengar suara perempuan itu.
" Apa mas Jaman ada?" jawabku.
"Ada apa kau mencari suamiku? bukankah kau sudah tak mau lagi dengannya, atau kamu sudah berubah pikiran?" suara perempuan itu membuatku naik darah.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan mas Jaman!
Berikan ponselnya ke mas Jaman." jawabku dengan nada sedikit tinggi.
"Jangan kamu cari suamiku lagi, Mas Jaman akan bahagia denganku." suara ini membuatku semakin geram.
" Siapa yang telpon?" tanya seseorang dibalik sebrang telpon ini. suara yang aku kenal ,itu mas jaman.
"Halo..."suara Mas Jaman.
"Mas ada yang ingin aku bicarakan? apa kamu ada waktu?" tanyaku pelan.
"Ada apa? Aku belum mau jika harus membicarakan perceraian kita!".
"Ini soal Vita, kemarin ada seseorang yang ingin melamar putri kita. Apa mas jaman bisa ikut mengurusnya. Bagaimanpun Vita kan anak kamu, meskipun kemarin hubungan kalian tidak enak tapi Vita kan tanggung jawab kamu sebagai ayahnya mas." jawabku lirih dan mata ini berkaca-kaca, ingin menumpahkan air yang tak bisa terbendung.
"Iya besok aku ke desa,kita bicarakan ini bersama." suara mas Jaman.
"Baik mas, terima kasih." ucapan terakhir sebelum aku matikan telpon sebelum dia mendengar suara tangisan aku.
Perempuan itu selalu menghalangi komunikasi aku dengan mas Jaman. Pantas saja Vita memanggilnya perempuan "jalang".
Aku tidak akan memisahkan mas jaman dengan anak-anakku. anakku juga anak mas jaman, meskipun aku berpisah nanti aku akan menjalin komunikasi baik dengannya.
Hatiku terlalu sakit dengan penghianatan ini. aku tidak bisa menerima mas Jaman sebagai suamiku lagi,tapi dia akan tetap aku terima sebagai ayah anak anakku. Dan perempuan itu,dia tidak boleh menghalangi komunikasi mas jaman dengan anak-anakku.
Hari ini Vita akan minta restu kepada istri-istri Fadli,semoga semua lancar dan mereka merestuinya, meskipun aku tau pasti hati mereka sangat sakit.
Aku akan membantu Vita bersiap, setidaknya aku bisa melupakan sebentar rasa sedihku pada mas jaman.