Licik Sekali

1038 Kata
Akulah Istri Gendutmu Dulu 4 Licik Sekali Dengan lantang kuteriakkan kalimat itu, sementara sepasang sampah itu, hanya bisa melongo dan kaget melihat pintu kamar depan terbuka dan aku berdiri dengan berkacak pinggang. "Loh, Dek! Kok kamu bisa berada di sini?" Mas Ferdi tampak kaget sekali. Kini, kedua sampah itu berlomba membenahi pakaian mereka yang sudah berantakan tadi. Melihat dari kamera pengintai sudah menjijikkan, ternyata melihat langsung mereka berdua malah ingin membuat aku muntah saja. "Ya iyalah. Ini, 'kan, rumahku! Dan, aku tak sudi jika sampah-sampah seperti kalian berada di rumahku ini! Sudah sana cepat pergi, dan tunggu saja surat perceraian akan segera datang ke rumah orang tuamu, Mas! Lekas pergi, sebelum kupanggil polisi atau petugas keamanan, karena kalian telah berbuat m***m di rumahku!" Kuteriakkan dengan lantang kata-kata itu, sembari melotot dan menampakkan wajah garangku, karena aku tak ingin terlihat lemah di mata mereka. Padahal, dalam hati ini menangis darah, hancur sehancur-hancurnya. "Tapi-tapi bukankah kamu tadi bilang jika saat ini sedang berada di rumahnya Dita? Lalu ... Kamu kok bisa tahu sih jika saat ini kami berdua sedang berada di sini?" Wajah suamiku dan perempuan berambut merah itu nampak kaget sekali memang. "Jika selama ini kamu udah merasa pintar, maka nyatanya aku ini lebih pintar dari kamu, Mas!" jawabku sambil menunjuk sebuah kamera tersembunyi yang ada di atas lemari,"sekarang cepat angkat kaki dari rumahku!" Sesaat keduanya melihat arah tanganku menunjuk, namun kemudian raut wajah Mas Ferdi pun berubah. "Hahaha ... apa kamu bilang? Mau mengusirku dari sini?!" Suatu hal yang tak kuduga, Mas Ferdi tiba-tiba tertawa mengejek dan mendekatiku, sepertinya dia menantangku. Ah ... ada apa ini? Kenapa jauh dari ekspektasiku tadi? "Ya...tentu saja! Ini rumahku, hasil kerja kerasku, dan juga hasil dari penjualan warisan orangtuaku! Sedangkan kamu hanya numpang saja selama ini! Alias benalu yang nggak tahu diri!" Tak mau kalah, aku pun kembali menunjukkan taringku. Enak saja, aku pemilik segalanya, kenapa jadi dia tambah yang sombong? "Hahaha... truk gandeng, justru yang nggak tahu diri itu kamu! Numpang, nggak bisa ngelayani suami, dan kini malah sok jadi bos! Sekarang juga pergi dari rumahku!" Mata Mas Ferdi melotot penuh ke arahku, bahkan dengan lantanganya dia berucap ini rumahnya. Mungkin otaknya sudah tidak lagi waras, sama seperti nafsu dan pikirannya yang tak beda dengan hewan. "Rumahmu? Halo Bapak Ferdi Irawan yang terhormat! Apa Bapak sudah amnesia? Atau malah mungkin sudah kehilangan akal? Sampai bisa bilang jika ini rumahmu? Dasar nggak tahu diri! Sudah sana cepat angkat kaki dari sini, jangan lupa bawa juga wanita menjijikkan ini!" ucapku sengit. Mendengar ucapanku itu, Mas Ferdi bukanya takut, tapi malah tertawa. Dengan tanpa basa-basi kini dia malah memeluk perempuan selingkuhannya itu. "Kubilang pergi sekarang juga! Jangan kotori rumahku dengan perbuatan haram kalian!" sengitku lagi yang jijik dengan perbuatan mereka. "Santi, sebelum kamu teriak seperti itu, harusnya kamu malu, karena rumah ini sekarang adalah milikku. Dan tentu saja aku bisa berbuat apapun semauku, termasuk membawa pulang pacarku yang cantik dan seksi ini," ucap Mas Ferdi sembari mencium pipi wanita itu. "Kurang ajar kamu, Mas! Aku akan laporkan kalian sekarang juga ke kantor polisi!" Kali ini aku rasanya sudah hilang kesabaran, sekarang juga aku akan menelepon polisi saja. Agar segera menyeret sampah ini pergi dari rumahku. "Mau telepon polisi? Silakan, tapi pasti kamu lah yang akan diseret keluar dari sini. Karena, kamu telah mengusik ketenangan di rumahku. Dan, mulai saat ini, Santi Aprilianti, kutalak kamu dengan tidak hormat!" Aku yang akan menelepon, langsung menghentikan niatku karena ucapan Mas Ferdi itu. "Apa kamu lupa? Jika kamu telah memberikan rumah dan pabrik itu padaku? Dan, dengan suka rela tanpa paksaan, kamu sendiri yang mengatas namakan semua sertifikat atas namaku! Nah, coba ingat-ingat dahulu itu! Setelahnya, cepat pergi dari sini! Muak aku melihat perempuan jelek, gendut dan mandul sepertimu!" Sesaat aku terdiam, sambil mencerna dan mengingat-ingat kembali dengan ucapan itu. Astaghfirullahaladzim...kenapa aku bisa lupa dan sebodoh ini? Ya, tepatnya satu tahun yang lalu, aku memang menyerahkan kepemilikan rumah dan juga pabrik ini kepada Mas Ferdi. "Hahaha ... bagaimana kamu sudah ingat?!" Bentakan Mas Ferdi itu, langsung membuyarkan lamunanku. Dan memang rasanya kini tak pantas bagiku untuk tetap di sini, karena secara sah memang sudah menjadi miliknya. Pintar dan licik sekali dia. "Ngapain masih diam saja? Cepat angkat kaki dari rumah ini! Sekarang juga! Sebelum aku memanggil satpam kompleks untuk menyeretmu keluar!" ucap Mas Ferdi dengan mata membulat sempurna. "Sudah, sana cepat pergi! Dasar perempuan gendut nggak tahu malu. Udah di talak kok masih aja di sini. Nggak tahu diri! Sudah, sana cepat pergi jijik aku lihat buntalan kentut mandul sepertimu! Hahaha." Bak luka disiram garam, ucapan dari selingkuhan Mas Ferdi itu, benar-benar sakit hati ini. Dengan langkah gontai akhirnya aku pun pergi dari rumah ini. Rumah yang sesungguhnya adalah milikku, tetapi kini telah berubah kepemilikan pada si penghianat ini. "Jangan pernah kembali lagi ke rumah mewahku ini, gendut! Malu-maluin saja!" Mas Ferdi kembali berteriak dengan lantang, jahat sekali. Sejak awal menikah, Mas Ferdi adalah seorang penjual pakaian di sebuah pasar, sedangkan saat itu aku adalah seorang supervisor di sebuah perusahaan asing. Entah mengapa aku saat itu sangat tertarik pada Mas Ferdi, yang notabene pendapatannya lebih kecil dariku. Setahun menikah, usaha Mas Ferdi gulung tikar dan malah meninggalkan banyak hutang, karena juga pasar tempat dia berjualan sempat kebakaran saat itu. Sejak saat itu, dia jadi seperti depresi dan tak mau ķerja lagi. Dan, aku dengan ikhlas bekerja untuk menghidupi keluarga. Hingga kemudian kami bisa memiliki rumah besar dan sebuah home industri kecil-kecilan. Semua adalah hasil kerja kerasku selama enam tahun dan ditambah dengan menjual tanah warisan orangtuaku. Dua tahun yang lalu, aku memang menyerahkan semuanya pada Mas Ferdi agar dia memiliki lagi rasa percaya diri, dan bermartabat lagi di mata teman-temannya. Dan, hasilnya dia kembali semangat bekerja. Tepat setahun yang lalu, Mas Ferdi memintaku *resign*, karena pabrik pakaian milik kami semakin maju, dan juga karena ingin memiliki momongan segera. Sejak tak bekerja, entah kenapa badanku makin melar saja, dan dia pun tak lagi memperbolehkanku berdandan. Setelah apa yang kuberikan, dan setelah semua kemauannya kuturuti, kini malah dia berkhianat padaku. Sungguh sakit rasanya hati ini. Kini, aku tak tahu harus kemana, karena aku juga sebatang kara di dunia ini. Atau mungkin lebih baik aku bunuh diri saja? Kurasa itu akan lebih baik, agar aku tak lagi merasakan sakit hati ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN