Akulah Istri Gendutmu Dulu 5
Salah Pilih
Haruskah kini aku menyesali semua yang telah terjadi? Jika dulu, aku tak menerima lamarannya, dan menerima lamaran pria lain yang saat itu juga ingin meminangku, mungkin aku tak akan pernah merasakan kesakitan ini.
Bersamaan dengan lamaran Mas Ferdi, dulu ada juga pria lain yang ingin melamarku, Adi namanya. Adi adalah teman kerja satu kantorku, dan sudah sejak lama kami bersahabat. Sebenarnya, aku sudah tahu jika dia menyukaiku, namun dia tak pernah berani menyatakannya.
Hingga, kemudian aku bertemu dengan Mas Ferdi, dia adalah sosok laki-laki yang bergerak cepat dan pintar mengambil hatiku. Tiga bulan kami berkenalan, dia langsung berani melamarku.
Flashback On
"Santi ... aku ingin ngomong sesuatu sama kamu," ucap Adi saat kami makan siang.
"Dih, mau ngomong apaan sih, kok pakai tanya segala!"
Kubelalakan mata, berpura-pura marah padanya. Dua tahun lebih kami bersahabat dan bekerja di tempat yang sama, rasanya sudah tak perlu lagi ada rasa sungkan.
"Tapi, kamu janji nggak bakal marah ya." Adi kembali berucap dengan malu-malu.
"Hahaha ... kamu habis kejedot tembok di mana sih? Kok beda banget hari ini? Biasanya juga ceplas-ceplos semaumu kok!" ucapku sambil melempar kepalanya dengan tisu.
Beberapa saat Adi hanya terdiam dan aku pun melanjutkan makan siangku. Tiba-tiba, Adi menggenggam tanganku, dan menariknya.
"Santi... maukah kau menikah denganku?"
Kali ini, wajah Adi terlihat amat serius, dan matanya berbinar. Gegas kutarik tanganku, dan kemudian menatapnya tajam.
"Di... kamu nyadar nggak sih baru saja ngomong apa? Jangan mengerjaiku lagi ya, aku nanti akan ngambek loh," ucapku penuh selidik.
Melihat rona wajahnya, sebenarnya aku sudah tahu jika saat ini dia serius. Namun, aku masih takut jika tiba-tiba Adi hanya akan mengerjaiku saja. Karena di kantor ini dia terkenal sangat jahil orangnya.
"Kali ini, aku benar-benar serius, Santi. Sebenarnya, sudah sejak lama aku memendam rasa ini padamu. Namun, tak ada keberanian untuk menyatakannya. Kini, keberanian itu baru terkumpul, dan aku benar-benar ingin kita tak hanya sekedar menjadi sahabat." Adi kembali menunjukkan wajah serius.
"Di ... menikah itu bukan pekara main-main, jadi aku mohon kali ini jangan bercanda!" ucapku lebih keras namun masih dengan tersenyyum.
"Demi Allah, Santi. Aku tak sedang main-main atau pun bercanda, aku mengatakan apa yang ada di dalam hatiku selama ini. Tolong, terimalah cintaku dan menikahlah denganku. Aku janji akan membuatmu bahagia dengan segenap kemampuanku," ucapnya penuh harap.
Sesungguhnya, aku amat percaya jika Adi sangat mencintai dan menyayangiku. Namun, saat ini aku sedang dekat dengan Mas Ferdi, meski kata cinta tak pernah terucap diantara kami, tapi kami sangat dekat, layaknya orang pacaran.
"Di ... apakah aku boleh minta waktu hingga besok? Jujur aku sangat bingung, kamu tahu sendiri kan, saat ini aku sedang dekat dengan Mas Ferdi ?" bujukku sambil tersenyum.
Beberapa saat Adi hanya terdiam, kemudian dia tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam.
"Yah, sebenarnya aku tahu saat ini kamu dekat dengan Ferdi, tapi kalian hanya berteman bukan? Sama dengan hubungan saat ini denganku, jadi kukira aku ingin mencuri start dari Ferdi, hahaha ... baiklah, aku akan menunggu jawabanmu hingga besok."
"Terima kasih banyak atas pengertiannya ya, Di. Aku tahu kamu orangnya amat tulus kok. Besok, ingatkan aku ya jika aku lupa," ucapku sambil mencubit lengannya.
"Siap! Besok aku menunggu jawabanmu, apapun itu, katakan dengan jujur. Dan, apapun jawabanmu nantinya, akan kuterima dengan senang hati. Yang penting bisa melihatmu bahagia, sebenarnya itu sudah cukup bagiku."
***
[Dek, kamu lagi repot atau nggak?]
Tepat pukul tiga sore, kuterima sebuah pesan chat dari Mas Ferdi. Dan, hal itu tentu saja membuatku amat bahagia. Meski pun saat ini sedang ada berkas yang harus lekas kuselesaiakan, maka berbalas pesan dengan Mas Ferdi adalah hal yang pertama harus kulakukan.
[Ah ... nggak kok, Mas. Ini lagi nyantai aja, kerjaan sudah beres, hanya tinggal nunggu waktu pulang saja ini.] Balasku cepat.
Nampak Mas Ferdi juga langsung membaca pesanku, dan kini terlihat dia sedang mengetikkan pesan.
[Kalau begitu, bolehkah jika sekarang aku menelepon? Ada hal penting yang sangat ingin kukatakan.]
Setelah membaca balasan chat dari Mas Ferdi itu, aku pun segera berlari ke toilet. Tentu saja, hal ini kulakukan agar bisa puas menerima telepon dari Mas Ferdi, pujaan hatiku.
[Boleh banget dong, Mas. Silahkan telepon, aku ingin tahu hal penting itu, Mas.] Balasku ketika telah sampai di toilet.
Tak sampai satu menit setelah membaca chatku itu, Mas Ferdi pun langsung menghubungiku. Tentu saja aku pun langsung menerimanya.
"Dek ... aku langsung to the point aja ya," ucap Mas Ferdi, membuka obrolan melalui sambungan telepon.
"Iya, Mas ... langsung ucapkan saja, jangan bikin aku penasaran gini dong! Hehehe...," jawabku sambil tersenyum.
Saat ini, aku sungguh berharap jika Mas Ferdi akan menembakku, hingga kami bisa benar-benar punya status sebagai pasangan kekasih.
"Aku ... ingin menikahimu, Dek!" ucap Mas Ferdi singkat.
Rasanya, saat ini aku bagai mendapat seribu karung durian runtuh. Tak terkira rasanya perasaanku saat ini. Karena ternyata ini lebih dari ekspektasiku.
"Mau, Mas. Aku sungguh sangat mau menikah denganmu!" Spontan aku menjawab dengan hari berbunga.
"Alhamdulillah ya Allah ... aku sangat bahagia mendengar hal ini, Dek. Kalau begitu, secepatnya kita akan menikah. Aku berjanji, tak akan pernah membuatmu terluka, aku akan menjadikanmu ratu dan kita akan menjadi pasangan yang serasi."
Dari suaranya, saat ini sepertinya dia amat bahagia. Tak jauh dari perasaanku saat ini. Biarlah meski lamaran ini hanya melalui telepon, aku masih tetap amat bahagia rasanya.
"Amiiin ... aku sungguh bahagia akan menghabiskan sisa hidupku denganmu," jawabku mantap.
"Kita akan menjadi pasangan yang amat berbahagia di dunia ini. Sudah dulu ya, Dek. Aku akan mempersiapkan segalanya, kurang dari sebulan, kita akan resmi menjadi suami istri."
"Baik, Mas."
Kebahagiaan ini rasanya amat membuncah, namun aku kembali ingat dengan pinangan yang diiucapkan Adi dua hari yang lalu. Tanpa berpikir panjang lagi, segera ku kirim chat pada Adi, meski kita berada dalam satu ruangan kantor.
[Di, mohon maaf aku tak bisa menerima pinanganmu, karena aku baru saja menerima lamaran dari Mas Ferdi. Maaf ya, kamu tahu 'kan jika rasa cinta itu tak bisa dipaksakan? Kudoakan kamu bisa dapat yang lebih baik dariku.]
Tanpa membalas chat dariku, Adi berdiri dan menoleh padaku. Seulas senyum ditujukan padaku sambil mengacungkan kedua jempolnya. Tak tahu apa yang dimaksudkan oleh Adi itu. Tetapi, itu tak jadi pikiranku, yang penting saat ini hatiku sedang berbahagia, setelah mendapat pinangan dari Mas Ferdi.
Flashback Off