“Ah, lega sekali, Dandy.” Dinda menghela napas lega saat berada di dalam mobil, duduk berdampingan dengan Dandy di bagian belakang mobil. Mereka yang baru saja berhasil ke luar gedung acara pernikahan yang dipenuhi banyak kendaraan. Dandy meraih tangan Dinda dan meremasnya lembut. “Aku padahal sudah menunggu sindiran-sindiran dari mereka tentang kita, tapi tak ada satupun yang menyinggung. Aku sudah menyusun kata-kata untuk membalas seandainya mereka mencemooh. Hm … semua ramah kepada kita, Dinda. Edith sangat ramah tadi.” “Kita doakan dia bahagia. Aku bisa menilai bahwa Amrin adalah sosok yang sangat bertanggungjawab.” “Ya, semoga Edith tidak berulah lagi.” Dinda menggamit lengan Dandy, merasa tenang dan nyaman. Tiba-tiba ponsel Dandy berbunyi. “Iya, Oma?” “Dandy. Kamu sudah seles

