•••
Malam ini dengan pakaian Waiters nya Catalina berdiri mendengar arahan dari wanita itu, Ayumi wajahnya nampak anggun terbilang walau usianya sudah menginjak angka empat puluhan. Si Supervisor yang terkenal Tegas dan galak itu. Beberapa jam mengadakan briefing ke semua Crew, Rasa pegal terasa begitu kakinya menumpu sepatu hak tinggi yang Catalina kenakan.
Berulang kali Catalina membenarkan letak rok miliknya, yang sayangnya semakin lama selalu naik dengan sendiri sempat risih tapi bagaimana lagi mereka semua menganggap hal ini adalah biasa baginya. Baju yang dirinya kenakan menang standar dari perusahaan ini, bahkan memang memenuhi SOP. Hanya saja karena dirinya memiliki tubuh yang jakun dengan kaki Jenjangnya nampak membuat pakaian yang dikenakannya terlalu pas di tubuhnya.
Ayumi mengakhiri sesi Briefing nya, semua Crew kembali ke tugas nya masing-masing. Malam ini kursi pelanggan nampak ramai, para Waiters sibuk berjalan ke sana kemari untuk mengantarkan pesanan mereka.
mendengar instruksi dari bagian Dapur, Catalina membawa nampan berisikan pesanan pelanggannya. semua orang mengamati cara berjalannya yang seolah kaku dan sedikit dipaksakan untuk tenang, walau kaki jenjangnya itu seolah menjadi tontonan menarik saat ini.
meja 5
"Terimakasih" Ujar perempuan bergaun merah maroon itu, wajahnya Cantik nampak familiar di ingatan Catalina.
sedang sang lelaki di depannya menampilkan ekspresi dingin, sedingin Gunung es yang berada di Antartika. Catalina mengabaikan mereka berdua, memilih melenggang pergi mengambilnya pesanan milik pelanggan lainnya.
•••
"kenapa diam? sayang..." tanya Adeline. perempuan itu, menatap nya bingung. Andreas menggelengkan kepalanya, beberapa menit lalu gadis itu mengantarkan Pesanan nya, untuk kali pertamanya mereka dipertemukan di kesempatan yang berbeda.
ada setitik perasaan yang dirasakan Andreas, perutnya melilit sedangkan jantung nampak berpacu membuat tubuhnya melemas.
"Entah mengapa malam ini kamu nampak terlihat cantik, seakan aku Laki-laki paling beruntung mendapatkan kan mu., Mari bersulang. untuk hari istimewa ini" Tuturnya.
Adeline mengangkat gelasnya dengan elegan, bibir merahnya nampak tersenyum menatap Andreas didepannya.
~
"Kau saja yang mengantarkan nya Cat, Dia pelanggan tetap di restoran ini. aku selalu kesulitan mengabaikan ucapan tajamnya" tutur Serin. Rekannya itu menyerahkan nampannya. sedang Catalina menerimanya berjalan menuju ke salah satu meja laki-laki parubaya itu
sedikit terkejut, tidak hanya ada Laki-laki itu. dirinya mendapati Jodi dan dua Wanita disampingnya, Catalina tahu betul siapa wanita itu.
"Silahkan..." ujarnya setelah meletakkan Sepasang sendok dengan hati-hati. Laki-laki tua itu dengan cepat menahan tangannya.
sedang tangan Kanannya meremas area belakang nya lancang, Catalina gadis itu berteriak shock. tubuhnya gemetat dan refleks menjatuhkan nampannya itu asal. Tangannya yang gemetar menampar pipi laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan Karyawan baru!" tegur Jodi. laki-laki itu menatap pemandangan didepannya dengan bingung, begitu semua mata menatap gadis itu kasihan.
"Dasar Perempuan gampangan"
"Tapi suami Ibu yang lancang pada saya, Apa karena saya seorang Waiters dengan mudahnya suami ibu melakukan pelecehan pada saya?" ujarnya dengan suara yang bergetar.
drama itu kembali dimulai, ketika laki-laki parubaya itu menunjuk wajahnya dengan jemari telunjuk nya.
"Asal Kau tahu saya hanya ingin mengambil sapu tangan yang terjatuh, Apakah kau sengaja ingin menjatuhkan harga diri saya?" ujarnya tenang.
"Dasar Perempuan Binal! Cih!" sang istri yang tak terima menampar keras pipi wanita di depannya, Tubuhnya yang gemetar semakin membuatnya Tremor. matanya lurus menatap wanita bersanggul modern di depannya dengan datar.
"Cepat kembali dan bicarakan dengan Supervisor!" tutur Jodi , dengan cepat Laki-laki parubaya itu menenangkan rekan bisnisnya. sedangkan kedua mata pasang laki-laki di meja sana menatap nya tajam, tangannya terkepal memperlihatkan otot-otot nya.
~
"Kau di pecat Cat? Astaga..." ujar Erica. wajahnya memerah hembusan napasnya sesak.
"ya.. aku akan mencari pekerjaan sesuai bidang dan minat ku, sudah cukup aku dilecehkan dari tempat itu" tuturnya menata barang-barangnya.
"secepat itu? Jakarta Luas dan kau tak punya siapapun disini" lirihnya.
"Lebih baik dari pada aku disini, adakah hak ku tetap tinggal disini. atau aku harus bergabung dengan pekerjaan mu saat ini?" ujar nya tersenyum miris.
"Bukan seperti itu Cat, Kau gadis baik-baik tak sepatutnya kau bekerja seperti ku" elaknya.
"lalu bagaimana dengan ketiga temanku?" Catalina menutup matanya. pikirannya kalut.
"tenangkan dirimu, aku keluar panggil aku jika kau membutuhkan bantuan!" tuturnya berlalu.
Catalina merebahkan tubuhnya, matanya masih mengamati langit-langit itu dengan sendu. kejadian itu berputar, dari pelecehan, penganiayaan dan berakhir pemecatan. satu yang membuatnya kecewa, dia tahu betul siapa wanita di sisi Jodi. dia Tahu siapa wanita itu.
wanita yang melahirkan sekaligus yang Mentelantarkan nya. Dan untuk kali pertamanya dirinya dikecewakan oleh orang yang paling dirinya Tunggu.
"Mama!"
lirihnya memukul dadanya yang berdenyut perih.
•••
"Aku akan terus Menanam saham ke Perusahaan mu, asal Kau harus membuat gadis itu Menderita" Ujar Antonio.
Jodi terdiam seketika, wajahnya kembali pias mendengar kata-kata rekan kerjanya itu.
"t-tapi Tuan?"
"kenapa kau takut Jodi? bawah lah gadis itu ke rumah Bordir mu. Jika kau masih enggan makan berakhirlah perusahaan yang kau banggakan itu, tanpa suntikan modal dari ku kau bukan apa-apa saat ini" tungakas nya. dengan tatapan sinis.
Jodi terdiam, Melihat gadis itu untuk pertama kali membuat perasaan iba itu muncul tapi perusahaan nya lebih utama dari dirinya bahkan gadis itu.
"K-kau akan membawanya pergi?" Tanya Luzi, wanita itu berlari menuruni tangga mengejar langkah suaminya yang berjalan tergesa-gesa.
"Diam Luzi! Jangan pernah ikut Campur urusan Ku" teriaknya menghempaskan Jemari wanita itu.
"Jika Kau masih tetap pergi dan membawa gadis itu pergi, Ben dan Isabel akan aku bawa pergi" ancamnya. berlarian menaiki tangga menuju kamar kedua anaknya.
"sialan Kau!! Sekali kau membawa mereka aku akan menghancurkan gadis itu Luzi!" teriak Jodi, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Diam dan ikuti perintah Ku, atau anak mu itu akan hancur ditangan ku" gertaknya. Luzi diam menatap nya sendu.
"aku tahu Luzi siapa gadis itu, Tanpa Kau bilang aku bisa menilai siapa Dia. Kau sangat mirip dengannya" Ujarnya Terkekeh dan berlalu.
Luzi akan kalah jika melawan Jodi, Laki-laki parubaya itu memiliki kekuasaan. yang dengan mudah berlaku se-enaknya.
•••
"maka malam yang kacau" lesunya meninggalkan restoran itu.
Andreas mengelus pipinya begitu keduanya tiba di dalam mobil miliknya, dipandang nya lama wajah Adeline tapi selang beberapa detik ingatan gadis beberapa jam lalu membuat lamunannya buyar, bayangannya seolah berputar mengejek Andreas yang pengecut. Tidak menolong dan membela gadis itu, seolah-olah dirinya tengah menikmati sajian drama penuh intrik didalamnya.
Andreas tak buta, dirinya hapal betul setiap langkah dan gerak gerik gadis itu, Bahkan matanya menyaksikan saat laki-laki kurang ajar itu mendaratkan tangannya kebagian sensitif gadis itu. Andreas mencengkeram erat setirnya, batinnya selalu mengolok-olok dirinya yang pecundang.
bersambung....