•••
Jakarta memang bukan kota yang tepat untuk ditinggali, selain memiliki berbagai macam intrik di dalamnya. Kota megah itu seolah-olah menawarkan kemudahan dan kesenangan di dalamnya, siapa yang tak tergiur hingga mereka terjebak dan terikat di dalamnya. Sayangnya semuanya nestapa, yang semakin lama semakin membuatnya muak namun sulit untuk meninggalkan nya. Kata orang-orang yang mungkin sudah lelah dengan segala hal yang berbau dari kota ini.
Meski demikian, Catalina gadis manis itu masih terus bangkit, menegakan kepala nya. Lima belas menit yang lalu dirinya meninggalkan Panti asuhan, tempat yang memberikan dirinya perlindungan dan tempat dirinya dipertemukan dengan beberapa teman dekatnya. Nena, Julia, Mawar dan beberapa teman lainnya duduk dibelakang nya, seolah tengah merasakan lelahnya perjalanan yang cukup memakan waktu mereka tertidur lelap.
"Apakah masih lama pak?" Tanya Catalina, Pada sang supir. Lelaki Tua itu menoleh kearah Kaca bagian depan mobil yang dikendarai nya.
"Beberapa menit lagi Non" jawabnya.
Pandangan Mata Catalina kini teralihkan ke penjuru jalanan melalui jendela samping. Perlahan mobil itu bergerak menuju rumah megah bercat putih itu, halamannya yang luas lengkap dengan tanaman yang terawat membuat rumah itu nampak elegan. mereka turun dari Mobil, disambut dengan hangat oleh beberapa pelayan dari rumah ini.
"Silahkan masuk Non, Sudah di tunggu tuan di dalam" Titahnya. Catalina terdiam sesaat sebelum Mawar bergerak lebih dulu darinya.
Jodi menyambut mereka dengan binar kagum, lelaki berjas keabuan itu menatap mereka satu persatu dan tatapannya berakhir pada Catalina.
" Saya Jodi Hermawan. silahkan duduk, sebentar lagi Akan ada orang pesuruh saya yang akan mengantarkan kalian ke Mes Karyawan, Jangan sungkan minum dan Makanlah hidangan didepan Kalian" titahnya meninggalkan mereka yang masih terdiam ditempat.
sepeninggal laki-laki parubaya itu, pandangan Catalina tertuju pada keseluruhan ornamen di sekitar ruangan ini. Kristal itu nampak mahal, bertengker rapi ditengah langit langit ruangan ini. sejenak matanya tak sengaja menatap Pigura berukuran besar itu, nampak terlihat sepasang suami istri dan dua anaknya tersenyum bahagia.
Catalina cukup terenyuh, pandangan matanya sedikit kabur sebelum rintik air mata itu jatuh membasahi pipi miliknya. sempat Nena melihatnya tapi buru-buru Gadis itu hapus secara kasar.
"Aku tahu perasaan Mu,bukankah Keluarga seperti itu nampak didambakan kita yang besar tanpa kasih sayang keluarga?" ujar Nena.
kedua matanya tak lepas dari pigura yang dilihatnya.
"Jangan bersedih Catalina, Aku akan ada disisi mu selama kau mau" tuturnya.
•••
Penghuni Tempat ini nampak sedikit aneh kesan pertama saat sang supir menurunkan mereka di tempat itu, Mes karyawan di tinggali banyak karyawan muda berpenampilan menarik. salah satu dari mereka berdandan tebal, yang sekarang ini menandai tetangga nya saat ini.
setelah membereskan Perlengkapannya, Catalina merebahkan tubuhnya pada kasur miliknya. perlahan ketukan pintu terdengar dengan cepat ia bangkit membukanya dan sedikit terkejut melihat perempuan itu berdiri di depannya, rambutnya sedikit berantakan dengan singlet dan Hotpants yang dikenakan nya.
"Kau penghuni Kamar baru ini? Ah selamat datang, perkenalkan Saya Erica" ujar perempuan berpakaian mini itu. Catalina menganggukkan kepala, walau sedikit canggung menerima uluran tangan perempuan itu.
"masuklah akan aku buatkan teh hangat, untuk mu" tuturnya. Erica masuk kedalam kamarnya, Reaksi yang berlawanan dengan otaknya.
"Terimakasih"
ucapnya menerima segelas teh hangat yang nampak sedikit mengepul, Catalina duduk dihadapannya menatap Erica Yang asik dengan teh buatannya.
"Sudah berapa lama tinggal disini Erica? Apakah mereka sama bekerja di Perusahaan milik Pak Jodi?"
"Ya aku sudah berpuluh tahun bekerja dengannya, Mereka bekerja dengan Pak Jodi, Hanya saja berbeda profesi sama halnya dengan ku. Berapa umur mu saat ini?"
"Dua puluh lima, dan kau?"
"Dua puluh Enam, Satu pesan untuk ku pertahankan pekerjaan mu. Ditempat ini kau akan tahu sekejam apa dunia kerja sesungguhnya, Kau sepatutnya bersyukur dari pada aku" lirihnya.
"maksud mu?"
"Jodi itu pembual, pembohong dan tidak segan-segan bertindak semaunya. jika kau ketahuan melakukan kesalahan. Kau bisa berakibat Fatal. Kau tahu dimana teman-teman mu sekarang?" Tanya Erica. sejenak Catalina menelan ludahnya serat,
memang beberapa jam lalu dirinya terpisah dengan Tiga temannya, laki-laki bertubuh tegap itu memisahkan mereka berempat dengan alibi gedung ini kehabisan sudah kehabisan kamar.
"Asal kau tahu, tiga teman mu masuk ke jebakan Pria b*****h itu, Kau tahu tempat bordir. mereka membawa nya ke sana!" tuturnya.
"Kau bohong kan?"
"mana mungkin aku bohong, Kau bisa tanyakan Tante Velin Yang suatu saat akan datang menjenguk anak buahnya di lantai sebelah... kurasa sekian pertemuan kita, aku pamit sampai bertemu selanjutnya" tutupnya.
" Erica...Jika kau bertemu dengannya, bisakah Kabari aku. Aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja" Titahnya.
Perempuan itu tersenyum, sebelum pergi meninggalkan nya.
•••
Wajah Luzi memerah begitu mendengar percakapan Antonio dan Jodi suaminya, dirinya tidak habis pikir isi otak suaminya itu. Terlebih menyangkut dunia Prostitusi yang melibatkan gadis Panti itu, dimana letak hati dan nuraninya terlebih dirinya memiliki anak perempuan.
Luzi tak tahu dimana anak sulungnya dengan Heru dimasa lampau, apakah gadis itu baik-baik saja setelah berpuluh tahun dirinya titipkan dengan saudara jauhnya. apakah dia hidup nyaman seperti dirinya, yang dirinya ingat Caca nampak baik baik saja tinggal dengan Sekar Sepupunya.
Setelah beberapa tahun tidak jumpa dengan Sekar, Luzi tidak tahu keberadaan nya saat ini. kadang kalanya perasaan bersalah muncul ketika mengingat kejadian itu.
"Sudah aku bilang, Jangan pernah terlibat dengan Ku!" Cerca Jodi. laki-laki itu marah begitu Luzi membantah ucapannya.
"Kau... Kau gila Jodi!" Teriaknya tak terima.
"Kau yang Gila, Cih!!! berlagak menjadi wanita baik-baik yang sayang nya Mentelantarkan anak perempuan mu dengan Heru!" Gertaknya.
"Apa!! aku tahu bukan isi otak busuk Mu itu, bertahun-tahun Kau menyembunyikan status mu dariku. kau pikir aku tak tahu! Ingat Luzi, Kau hanyalah Istri diatas kertas ku, Jangan pernah bermain-main dengan Ku Heru tak bisa membantu mu lagi, Kau ingat Mantan suami miskin mu itu tidak akan pernah membantu mu lagi!" lirihnya. menjauh.
Luzi terdiam, tubuhnya gemetar menahan amarah.
"Sialan!!" kesalnya. Menatap punggung tegap Jodi yang perlahan menjauh.
"Tolong antar aku ketempat biasa!" ujarnya. Dengan cekatan Luzi mematikan panggilannya, Kuku nya yang cantik nampak saling menusuk telapak tangan nya.
Luzi mengepal, Menahan rasa amarah yang semakin membuat Napas nya sesak
•••
[ Aku akan menjemputmu Malam ini, Berdandan lah yang Cantik. ada kado istimewa dari ku sayang]
pesan itu berhasil Andreas kirim, bisa dirinya bayangkan Semerah apa pipi gadisnya itu. Andreas kembali berkutat pada dokumen di hadapan nya, Jadwalnya hari ini sangat padat dan dirinya harus menyelesaikan nya secepat mungkin.
Bersambung...