DUA

1015 Kata
setelah Accident laki-laki arogan dan sombong itu, Mood Nena sedikit berantakan tak hanya gadis itu Catalina pun terkena imbasnya. Belum lagi teguran dari Rahayu seolah arang yang mencoreng wajah manisnya, sudah cukup hari ini mereka lalui dengan perasaan sukar. Mandi dengan air hangat dan berbaring di ranjang sedikit membuat refleks tubuhnya. malam ini suasana sedikit lebih cerah, langit nampak ramai dipenuhi bintang yang memantulkan cahayanya menembus bumi, senyuman itu terbit begitu saja saat ingatannya itu muncul layaknya Roll Kaset yang diputar hingga menghasilkan potongan-potongan gambar berwarna. Irish matanya mendadak beralih sendu, mengingat dulu kenangan itu nampak manis, berbanding dengan saat Sekarang Catalina tidak mengetahui dimana Keberadaan orang tuanya. apakah mereka sudah bahagia dengan kehidupan barunya? atau bahkan bernasib sama seperti dirinya. "Belum masuk? Istirahatlah Kamu pasti Capek" tegur Rahayu, mengamati gadis yang tengah bersandar pada kursi. Catalina menoleh sejenak, sebelum pandangan nya beralih pada jemarinya yang saling bertaut. kebiasaan gadis itu ketika mengalami kegelisahan. "ya... Ibu tidak masuk juga?" ujarnya bangkit. Rahayu menahan napas sesaat, sebelum membuangnya kasar. "Tentu. Tapi Ada suatu hal yang ingin Ibu bicarakan pada Mu" tuturnya. Catalina yang semula beranjak kembali ke tempat duduknya. "Ibu mendapatkan kabar baik, untuk Kamu dan beberapa Anak-anak lainnya" Catalina masih diam, menunggu ucapan Rahayu. Jantung nya mendadak berdetak cepat, pikiran nya berkelana seolah teringat perkataan Rahayu dan laki-laki itu tadi pagi. "Ada tawaran pekerjaan untuk Kamu dan anak-anak. Pak Jodi kebetulan memiliki perusahaan yang membutuhkan Karyawan, Kau bisa ikut dengannya" tuturnya. Catalina menganggukkan kepala ya, meski dirinya sedikit tak rela meninggalkan tempat ini. "Jika Ibu mengizinkan nya maka saya bersedia, Tapi..." Ucapannya sempat terhenti. sebelum dirinya mulai memberanikan diri menatap kedua mata Rahayu. "Bolehkah saya mengajak Nena, Dia sudah saya anggap saudara saya Bu" timpalnya. "Tentu, Istirahatlah besok kalian harus segera berkemas. Ibu tidak bermaksud meminta kalian untuk cepat-cepat meninggalkan Panti ini, Ibu hanya ingin kalian meraih mimpi kalian. Karena Ibu kalian seolah terkurung di tempat tak layak ini" lirihnya. Catalina memeluknya dan mengusap bahunya pelan. "Tidak Bu... Kami sangat berterimakasih kepada Ibu, yang Mau dan Sudi menampung Kami sampai dewasa. Kebaikan Ibu tak akan pernah kami lupakan" Rahayu tersenyum sendu. ••• "kita akan meninggalkan tempat ini Catalina? Seperti mimpi!" ucapnya tak percaya. "untuk apa aku berbohong, berkemas lah. Aku ingin istirahat, setelah menguras emosi karena laki-laki arogan itu tenaga ku seolah di kuras habis" lirihnya. Nena masih diam di pojokan kamarnya, Wajah gadis itu antara segan dan bahagia. "kau tahu, Dia anak dari Pemilik Tech corporation selain masih muda dia sangat terkenal di Media masa" tutur Julia. gadis itu menunjukan majalah yang dirinya simpan di lemari pakaiannya. "Dia hanya Anak dari Pemilik perusahaan itu, bukan yang mendirikan nya aku rasa itu hal biasa di lingkungan orang-orang elite" sanggah Mawar. Gadis itu bangkit dengan mimik tak suka. "Kau terlalu menunjukan rasa tidak suka mu Mawar, apakah Kau pernah bertemu dengannya dan di tolak saat hendak meminta Foto?" tanya Julia. kedua matanya memincing kearah Mawar, sang empu yang ditatap nya hanya diam dengan mengibaskan tangannya. "sudah lah, aku tak ingin membicarakan orang itu. Jadi bagaimana Kalian akan ikut ke Perusahaan laki-laki parubaya itu?" ucapnya, Mawar merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar yang nampak menguning. "tentunya... akan terasa seperti beban jika harus berada disini, lagi pula kita sudah dewasa jika harus hidup dengan dibiayai Panti." Nena diam memperhatikan ucapan Catalina, sejenak suasana kembali hening ketika salah satu dari mereka bersiap untuk tidur. ••• Hari yang melelahkan setelah pertemuan penting bersama klien, dan harus berakhir dengan acara yang dirinya pikir terlalu membuang-buang waktunya. setelah memarkirkan kendaraannya beberapa menit lalu Andreas memilih melewati ruang keluarga begitu saja, tanpa ada sapaan dan senyuman seperti biasanya. Karena ayahnya Samuel Mardian dirinya harus mendatangi tempat itu, langkah kaki tergesa-gesah nya kini berakhir pada undakan tangga. suara bariton laki-laki tua itu menelisik ke gendang telinganya, sekejap dirinya membalikan badannya menatap laki-laki itu kesal. "Apalagi Yah, Aku bahkan sudah menuruti permintaan mu. menggantikan dirimu menghadiri Acara amal pencitraan yang sayangnya terlalu membuang-buang waktuku" ujarnya. Samuel membuang napas beratnya. selain keras kepala, anak bungsunya itu sulit diatur dan memiliki sifat pendendam. "Ya tentu masih ada banyak hal yang harus kau lakukan, termasuk untuk menghadiri acara amal-amal seperti itu akan menjadi rutinitas harian Mu nak. Jika kau menolak tak apa, masih banyak kakak Ipar mu yang akan siap menggantikan jabatan mu" tegasnya. Dengan disertai candaan di setiap kalimat nya. Terlihat mimik Andreas mengeras, dirinya sudah benar-benar muak. Mengabaikan semua orang yang menganggapnya lancang laki-laki itu memilih abai, melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya. "Apakah kita jodohkan saja Andreas dengan perempuan lain, tentunya lebih baik dari Adeline. Seperti nya Gadis itu membawa perilaku buruk untuk Andreas" Tutur Maria. wanita itu menatap punggung anaknya prihatin. "Kita pikirkan nanti, masih banyak yang harus kita pikirkan selain perjodohan itu" tutur Laki-laki tua itu, Samuel melenggang meninggalkan nya. "Ish-Ish kenapa anak dan Ayah sama saja" keluhnya, mengekor dibelakang suaminya. ~ [ Apa harimu terlalu menyenangkan. Hingga Kau terlalu lama menjawab panggilan ku] ujar suara dari seberang sana, setelah melepaskan kemeja dan sepatutnya Andreas langsung mendapatkan satu panggilan dari gadis itu, siapa yang tak beruntung jika bisa berkencan dengan artis yang namanya terkenal saat ini. Selain namanya Tengah naik daun, Adeline Sudiarta berparas cantik dan menawan, siapa saja yang tak akan tergila-gila dengannya. "Aku sibuk hari ini, Apakah hari mu menyenangkan sayang? ayolah maafkan aku?" ujarnya lembut. [Sepertinya terlalu buruk, karena Kau melupakan sesuatu seperti biasanya. Hari ini Anniversary kita yang ke lima tahun, kau tak mengucapkan nya?] sejenak laki laki itu membisu, menyugar rambut berantakan miliknya. Sebelum menghembuskan napas beratnya. "Ya aku minta maaf, hari ini pula pikiran ku tengah kacau. lusa aku berjanji akan mengajak mu ke ke tempat favorit kita sayang" tuturnya hati-hati. [Baiklah aku tunggu janji mu, selamat malam sayang] tutupnya sepihak. Terlalu sibuk dengan obrolannya bersama sang kekasih, Andreas sampai lupa akan dirinya. Laki-laki itu bergegas menuju toilet kamar nya, mandi dengan air hangat setidaknya menjernihkan pikirannya saat ini. Belum sempat langkah kakinya menuju shower, Sejenak matanya berpusat pada cermin di hadapannya, laki-laki itu tampan dan mapan mengapa banyak gadis-gadis yang menjauh darinya. selain Adeline mantan-mantan nya bisa dihitung jari. pikirnya dalam hati bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN