"Nda, ma-afin, Adek. Hiks... Hiks... Adek salah," aku sesenggukan di bawah. Sedangkan Bunda masih duduk di kursi ruang tamu, setelah kepergian Mas Sam sepuluh menit yang lalu. Semuanya sudah terbongkar, kebohonganku menyakiti Bunda. Bundaku tersayang sudah aku buat menangis karena kecewa. Aku anak yang tidak tahu diri. "Nda, hiks hiks." Aku memeluk kaki Bunda, bahkan saat ini Bunda tidak mau melihatku. Kesalahanku memang sangat fatal. Aku belum melepaskan pelukanku pada kaki Bunda, dan Bunda juga belum menunjukkan respon untukku. Aku takut Bunda akan mengusirku dari rumah. Hiks.. hiks.. aku masih terus menangis, entah sudah berapa liter air mata yang keluar dari mataku. Rasanya tidak ada habisnya, aku sudah menangis sejak siang di rumah Mas Sam tadi. "Bunda kecewa sama kamu, Dek. Adek

