"Sayang, bangun, Dek. Hiks.. hiks.. maafin Bunda, Nak." Tangisan Bunda nampak pilu, beliau sedang menunggui Dina yang belum sadar. Beliau sebenarnya sudah merasa heran dengan putrinya yang tidak keluar kamar sejak tadi pagi. Awalnya ia tidak ambil pusing, tapi hingga sore hari Dina belum juga keluar. Apalagi ia tidak melihat nasi dan lauk berkurang waktu makan siang. Membuat Bunda khawatir, ia pun menggedor pintu dan memanggil nama putrinya. Ia pun membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Bunda di serang rasa khawatir yang mendalam, beliau melihat putrinya mengerang kesakitan lalu tidak sadarkan diri. Saking paniknya, Bunda meminta bantuan tetangganya tanpa menggunakan alas kaki. Yang beliau pikirkan hanya bagaimana agar dirinya cepat sampai di rumah tetangganya dan meminta bantuan.

