SaD–9

1170 Kata
“Dina pamit, Nda.” Pamitku pada Bunda pagi ini. Yah, hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Di mana semua akan dimulai hari ini, entah dengan happy ending or sad ending. Bunda mengusap air mata di sudut mata jernihnya, “iya. Adek hati-hati di sana ya. Jangan lupa sholatnya, makannya, juga sering hubungi Bunda.” Aku langsung memeluk Bunda erat, Bundaku, cintaku sekarang sedang menangis. Menangisi anaknya yang pembohong. Bunda, maafin Adek. Aku tak kuasa menahan tangis, dosaku banyak! “Ssttt, adek jangan nangis. Udah, nanti keburu panas lho.” Bunda melepas pelukanku, tangan lentiknya mengusap air mataku. Bunda memang the best! **** "Kamu mau diam di sana terus?" Tanya pria itu–em suamiku. Yah, satu jam yang lalu kami baru saja melangsungkan pernikahan siri dan diam-diam di rumah ini. Rumah mewah yang ternyata akan menjadi tempat tinggal kami. Pernikahan hanya di hadiri penghulu dan saksi, tidak ada pihak keluarga sama sekali. Aku menoleh ke arah sumber suara, dia–Samuel Adidaya suamiku. Memakai setelan jas hitam, kemeja putih, dan celana dasar hitam sedang menatapnya dalam. Dia sendiri memakai kebaya putih dengan jilbab senada, omong-omong soal kebaya Dina jadi mengingat sesuatu. ~"Cepat, ganti bajumu!" Titah Samuel dengan memberikan paper bag padaku, mereknya mantab euy–GF. Aku yang manut pun menurut saja, mengambil paper bag dari tangan Samuel. Sebelum memakai, aku melihat dulu model apa baju yang Samuel sodorkan. "Aku gak mau pake warna putih, mau warna biru!" Tolakku melihat kebaya berwarna putih. Aku mau warna favoritku–biru. Sam berdecak sebal, "pakai saja apa adanya. Sudah tidak ada waktu lagi, lagian apa bedanya dengan ini?" "Jelas beda! Biru dan putih!" "Kenapa kamu repot sekali, sih? Kenapa tidak bilang dari kemarin." Protesnya sebal, lah dia nanya aja nggak. "Kamunya gak nanya aku." "Ck! Pakai apa adanya, atau tidak usah pakai baju sekalin!" Ujarnya lalu pergi keluar dari kamar. Huh, menyebalkan! Kamu saja yang gak pakai baju! Mau tak mau aku pun berganti pakaian dengan kebaya putih pilihannya, tidak buruk juga. Seleranya bagus! Aku jadi cantik, hihi.~ Kami saat ini sedang berada di ruang baca, tempat favoritku. Aku hobby membaca! Membaca adalah hal wajib setiap hari. Dan sudah melekat sejak kecil, kebiasaan burukku selalu membaca sambil tiduran. Tapi itu posisi favorit, ada rasa nikmatnya tersendiri. "Apa melamun menjadi hobymu?" Tanyanya lagi yang tidak mendapat respon sedikitpun dariku. Ya iyalah, wong aku liatin wajah tampannya, hihi. Wah, aku kayaknya berubah jadi cewek genit ini! "Ehm," aku berdehem untuk mengurangi rasa canggungku. "Ayo ke kamar," ajak ku mendahuluinya. Jangan berpikir buruk ya, aku mengajaknya ke kamar untuk istirahat. Istirahat yang sebenarnya, bukan yang boongan. "Em, aku panggil kamu, apa?" Tanyaku padanya setelah kami sama-sama sudah bersih sehabis mandi. Aku duduk di ranjang dengn tubuh bersandar di kepala ranjang, dia di sebelahku–rebahan. Dia menoleh ke arahku, seperti sedang berpikir juga. Bukan aku tidak kreatif dengan tidak bisa memberi nama panggilan khusus untuknya. Tapi, aku takut nanti gak pas di hatinya. Wajahnya kan agak bule-bule gitu. "Terserah kamu, asal jangan nama." Aku berpikir sejenak, karena aku orang Jawa apa aku panggil Mas, aja? Ide yang bagus, "Mas gimana?" "Boleh, tidak terlalu buruk. Sudah, aku mau tidur. Bangunkan aku jam satu," ujarnya dengan mata yang sudah terpejam erat. Tangan kirinya berada di atas dahi, sedang tangan kanannya berada di perut sixpack nya–mungkin. Kan aku belum pernah liat, ini baru perkiraan saja. Kalau kalian kira kenapa aku biasa saja dengan-nya, maksudnya tidak ada rasa was-was atau canggung. Itu salah! Aku merasakan itu semua, tapi sekuat tenaga aku tutupi. Aku memang pendiam, tidak akan mulai pembicaraan jika tidak diajak terlebih dahulu. Aku juga sudah berbaur dengan teman baru, tapi aku akan menjadi gadis crewet dan menyebalkan dengan orang-orang terdekatku. Seperti Bunda dan Yuna. Saat bersama Sam–em Mas Sam, aku merasa nyaman dan hal itu membautku bersikap biasa saja. Dia memang dingin, tapi perhatian kecilnya membautku mudah berbaur dengannya dan sifatnya. Yah, meskipun aku belum paham dengan sifat aslinya, tapi sampai detik ini dia teman bicara yang enak meski menyebalkan. Ah, sudah dulu ya. Aku capek, aku ingin istirahat sebentar! **** "Dek, bangun. Hey, bangun." Tepukan lembut di pipiku mengusik tidur nyenyakku. Siapa sih, yang ganggu mimpi indahku? "Hey, bangun. Sholat dulu," orang itu masih berusaha membangunkan ku. Ini pasti Bunda, "em Nda. Nanti, masih ngantuk." Aku menarik selimut tebal yang menyelimuti tubuhku agar lebih ke atas, sampai ke batas leher. Aku masih belum ingin tidur ini berakhir, rasa-rasanya ini tidur ternyeyak setelah seminggu lamanya susah tidur. Cup. "Bangun, atau Mas cium lagi ini." Sebentar, suaranya beda. Laki-laki! Dan apa tadi, dia mencium bibirku! Bunda, anakmu ternodai. Aku mengakhiri acara tidurku untuk melihat siapa yang berani mencium bibirku. "Nyenyak tidurnya?" Pertanyaan yang ku dengar setelah membuka mataku. Wajah yang sebelum tidur tadi aku lihat, kini berada tepat di hadapanku. Posisinya yang merunduk membuat wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajahku. Apa pria ini yang sedari tadi memabangunkanku? Kalau iya, larilah kau ke rawa-rawa! "Engh, jam berapa?" Biarlah aku tutupi rasa maluku dengan mengucek mata dan bertanya perihal jam. Ku dengar dia mendengus kasar, "jam dua kurang. Dan kamu belum sholat Dzuhur," infonya dengan wajah datar. Dan apa katanya tadi, jam dua kurang? Ya Allah, berapa jam aku tidur tadi. Seingatku aku berbaring di ranjang pukul setengah sebelas, ya Allah sampek ketinggalan sholatnya "Ma-af, soalnya aku capek. Jadi enak tidurnya," ujarku meringis. “Cepat, sholat dulu.” Aku beranjak dari ranjang empuk yang membautku terlelap dengan nyenyak. Kasur mahal. Tak sampai dua puluh menit aku sudah selesai dengan acara sholat dan setelahnya. Kini perutku yang harus diisi dengan asupan bergizi. Laper banget! Rumah modern ini memiliki dua lantai, lantai bawa berisi satu kamar utama–yang aku tempati, dapur, ruang tamu, ruang makan, dan ruang keluarga, ruang kerja dan ruang baca. Sedang di lantai atas ada lima kamar, satu ruang santai, dan ruang olahraga. Aku yang sebelum masuk ke kamar utama tadi dibuat terkagum-kagum dengan rumah besar nan mewah ini. Ukuran kamarku dengan walk in closet di kamar utama saja lebih besar walk in closetnya! Entah berapa uang yang ia habiskan untuk membangun rumah ini. **** “Em, Mas. Apa yang Mas lakukan?” Tanyaku sembari menjauhkan tubuhku dari kukungannya. Oh Allah, dia benar-benar menakutkan dengan seringai di bibir merahnya. Malam ini cuaca dingin, AC juga menyala. Tapi kenapa aku merasa gerah? Mas Sam terkekeh kecil, “aku ingin istriku malam ini. Apa salah?” Astaghfirullah! Aku lupa! Aku sudah menjadi istri dan tentu saja hal seperti ini akan terjadi. Tapi apa harus? Kami hanya menikah siri dan diam-diam. Aku belingsatan sendiri, “em-anu.” Duh, mau ngomong apa aku ini! Cup. Cup. Cup. Tiga kecupan mendarat di pipi sebelah kiriku, mengalirkan rasa aneh dalam tubuhku. Dia orang pertama yang menciumiku! Aku harus apa? Oke, jangan panik! Tenang. Aku pasti bisa! “Mas, ki-kita kan hanya menikah siri. Ja-“ “Kamu takut aku tinggalkan?” tanyanya memotong kalimatku. Dan mengenai pertanyaannya, tentu saja! Perempuan mana yang mau ditinggalkan oleh suaminya kelak. Kecuali maut yang memisahkan. Aku mengangguk, meski pernikahan penuh drama, aku tidak pernah main-main dengan ikatan suci ini. “Iya. Aku takut.” Membayangkan aku jadi janda muda membuatku bergidik. Aku tidak mau! Mas Sam tersenyum hangat, tangan kekarnya mengusap rambutku–yah, aku sudah tidak memakai hijab sejak tadi. “Kamu tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu.” Aku menatap mata abu-abunya dalam, tidak ada kebohongan. Apa ia memang serius? Apa aku harus percaya? Saat aku sedang sibuk berperang dengan pikiranku, sesuatu yang basah mendarat di dahiku. Dan sesuatu yang harus terjadi, terjadilah malam ini. Ini rahasiaku ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN