Pagi ini aku terbangun dari tidurku dengan suasana yang berbeda. Biasanya suara khas Bunda menjadi suara yang kudengar pertama kali. Tapi mulai pagi ini, bukan suara Bunda melainkan wajah tampan milik Mas Sam menjadi latar baru ketika mataku terbuka. Aku yang menyetel alarm semalam tidak mendengarnya sama sekali, kegiatan “itu” yang mempengaruhi. Ya, semalam kami melakukan “itu” entah sampai jam berapa. Yang aku tahu, Mas Sam melakukannya berkali-kali. Kalau mengingat itu, aku jadi malu sendiri. Pengen gak usah inget, tapi dasar otakku gak bisa diajak kompromi, kepikiran terus!
Saat ini aku sedang memasak untuk sarapan yang terlambat, yah sekarang sudah pukul setengah sembilan. Sehabis sholat subuh tadi aku tidur memutuskan untuk tidur lagi, badanku remuk semua. Jadilahaku bangun pukul delapan, begitupun Mas Sam yang menyusulku tidur. Ini perdana untukku memasakkan suamiku, hihi. Kemarin siang dan semalam kami–maksudnya Mas Sam memesan makanan lewat aplikasi online. Jadilah pagi ini aku baru merasakan dapur luas nan mewah di rumah ini. Aku hanya memasak nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, tapi punyaku telur dadar. Aku tidak terlalu suka telur mata sapi. Saat aku membuka kulkas mencari bahan masakan, ternyata hanya ada lima butir telur alias kulkas kosong! Baiklah, tugas istri sudah menanti. Belanja kebutuhan sehari-hari! Aku tidak sabar pergi ke pasar dan memilih bahan masakan sendiri.
Aku menghidangkan dua piring nasi goreng di meja ruang makan yang hanya bersekat tembok setinggi pahaku. Hanya butuh waktu sebentar untuk membuat nasi goreng, bumbu siap jadilah yang mempercepat, hihi. Tak lupa aku menyiapkan air putih, juga secangkir teh hangat untuk Mas Sam. Kemarin katanya, dia pecinta teh akut, tiada hati tanpa teh. Jadi, aku buatkan saja. Kalau aku sih lebih suka s**u coklat hangat, hm membayangkannya aku jadi pengen. Tapi sayang, hanya ada teh milik Mas Sam di lemari kecil di dapur.
“Mas, sarapan dulu!” panggilku di depan pintu ruang kerjanya. Sehabis mandi tadi, ia langsung mengurung diri di ruang kerja. Meskipun cuti, ia tetap memeriksa berkas yang memerlukan tanda tangannya.
Aku masih ragu untuk masuk, karena takut mengganggu privasinya. Meskipun aku merasa nyaman dengannya, bukan berarti aku akan bersikap seperti saat bersama Bunda dan Yuna. Aku butuh memahami sifatnya dulu, baru berulah hehe. Apalagi kami baru semalam berada di dalam rumah yang sama.
Beberapa detik kemudian, wajahnya sudah terlihat dari pintu yang ia buka. Pagi ini ia nampak lebih segar dan–tampan. “Oke, aku mau ke kamar mandi dulu.” Ujarnya setelah itu menghilang di balik pintu lagi. Yah, di ruang kerjanya ada kamar mandi. Jadi kalau kebelet gak usah jauh-jauh cari kamar mandi, hihi.
Aku mengangguk dan berbalik menuju ruang makan, mencicipi masakanku lagi. Enak, menurutku. Karena siapa lagi yang akan memuji kita kalau bukan diri sendiri.
“Nah, makan gak tunggu suaminya dulu.” Suara berat mengejutkan ku dari acara cicip mencicip yang berujung makan. Mas Sam sudah berdiri di seberang meja, bukannya duduk ia malah mengangkat piring dan tehnya. Mau di bawa ke mana?
Aku nyengir, “hehe. Maaf, tadi cuma cicip aja.”
Dia mendengus sebelum mengambil duduk di sebelahku. Lah, pindah duduk dia. “Gimana rasanya, Mas?” tanyaku penasaran. Yah, walaupun bukan bumbu racikan sendiri, tapi mendapat pujian dari suami adalah hal yang membahagiakan.
“Enak, apa kamu sudah sering masak di rumah?” Tanya Mas Sam disela makannya.
Sering? Di rumah tugasku hanya meracik bumbu atau potong memotong, “tidak. Bunda yang masak, aku cuma bantu-bantu.” Malu euy, masakan Bunda kan jos abis. Jadi gak pede masak buat Bunda. Kalau masak mie, baru aku kokinya, hehe.
Kulihat dia mengangguk sekilas, setelah itu hening. Kami sibuk dengan sarapan kami masing-masing, karena setelah ini banyak hal yang menunggu untuk dikerjakan. Dan aku ingin belanja keperluan dapur sepuasnya, hehe.
****
Hosh, hosh. Ya Allah, remuk sudah badanku. Tak berdaya, terkulai lemas. Hiks... Hiks.... Suami nyebelin! Gak punya belas kasih sedikitpun! Aku sebel! Teganya buat istri remuk redam!
Eits! Jangan berpikir aneh-aneh dulu ya. Aku baru saja tumbang di kasur setelah hampir setengah hari membersihkan rumah! Dari jam sepuluh pagi, dan sekarang ashar sudah lewat setengah jam yang lalu. Apa ada yang seperti aku? Wajar sih, aku baru membersihkan rumah hari ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, hehe. Kemarin-kemarin belum terlalu kotor, jadi aku malas. Ck! Istri jorok dan pemalas!
Padahal ketika di rumah aku hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk menyelesaikan segala jenis pekerjaan rumah. Lah ini? Nyapu lantainya aja hampir satu jam, belum ngepel, dan lain-lainnya. Capek aku tuh. Kenapa gak cari pembantu? Entahlah, aku tidak nyaman kalau ada orang lain dalam rumah ini. Serasa ada mata yang mengawasi pergerakanku dan Mas Sam. Apalagi pernikahan kami ini sejenis yang di novel-novel roman yang aku baca.
Hari ini hari ke lima ku setelah melepas masa lajang dadakan plus paksaan, masih pengantin baru ya hihi. Selama itu juga aku berperan sebagai istri yang baik dan teladan. Meskipun kadang-kadang jika merasa kesal aku malas melayaninya dalam segala keperluan. Suamiku itu, kadang dingin, humoris, nyebelin, kadang manis, pokoknya campur aduk. Tapi yang lebih dominan adalah sifat nyebelinnya, dengan perintah seenak udelnya. Mentang-mentang jadi suami!
Tapi aku sebagai istri yang baik, tidak bisa membantah perintah suami. Bisa jadi istri durhaka nanti, masuk neraka deh!
Oh iya, ngomong-ngomong masalah suami. Sejak tiga hari yang lalu ia sudah mulai berangkat ke kantor. Berangkat jam tujuh pagi, dan buru sampai rumah sekitar pukul setengah enam. Kalau lagi lembur bisa sampai jam sepuluh malam. Hubunganku dengannya juga tidak menyisakan kecanggungan lagi, jarak itu kian menipis. Semoga kedepannya akan menjadi lebih baik.
“Assalamualaikum,” lah. Baru dibatin, kok suaranya sudah kedengaran. Ini kan masih pukul lima kurang. Apa udah gak ada kerjaan?
Buru-buru aku bangun dari tiduran, berjalan menuju pintu dan membukanya. “Wa’alaikumussalam,” aku mengambil tas ditangannya kemudian menyalimi tangan kanannya. “Kok, udah pulang Mas?” tanyaku yang berjalan di belakangnya.
“Sudah selesai kerjanya, habis udah kangen sama istri.” Aku mencibir mendengar rayuannya. Inilah salah satu sikap manisnya, perayu ulung! Meski mencibir, tidak bisa dipungkiri hatiku langsung berbunga-bunga. Mungkin pipiku sudah merona dibuatnya, untung aku ada di belakangnya.
“Mau mandi sekarang apa nanti?” tawarku sambil menata tas di lemari. Kami sudah berada di dalam kamar.
“Kamu dari pagi belum mandi?”
Lah apa hubungannya? Pertanyaan kok dijawab dengan pertanyaan juga. “Kenapa?” tanyaku berbalik menghadapnya yang sedang membuka kancing baju, tapi tatapannya tidak lepas menatapku. Ugh, penampilannya sepulang kerja makin hot! Astaghfirullah, sepertinya otakku sudah keracunan cerita novel ini.
“Belum ganti baju dari tadi pagi,” aku melongo mendengar ucapannya. Hapal bener, eh? Memang sedari pagi aku memakai gamis motif bungan berbahan lembut yang lebih mirip daster sih. Mau ganti tanggung, belum mandi. Ketahuan deh! Tapi aku tidak bau, kan?
“Belum sempat, ini aja aku baru selesai beres-beres rumah.” Mengingat itu aku jadi sebel sendiri.
“Apa perlu dicarikan pembantu?” tawarnya yang kini sudah duduk manis di pinggir ranjang. Bajunya sudah tanggal dari tubuh atletisnya, melihat itu sebenarnya membautku malu. Tapi ya, rezeki jangan ditolak!
Aku ikut bergabung dengannya, tepat dihadapannya “gak usah. Gak enak ada pembantu,” padahal bisa ringan kerjaanku. Tapi seperti yang sudah aku jelaskan tadi, dan aku tidak mau.
Ia menghela napas, sudah biasa dengan keras kepalaku. “Dari pada capek, ngeluh sendiri.”
Aku cemberut mendengarnya, “iya sih. Tapi tetep gak enak, gak nyaman, nanti aja kalau aku pengen.” Keras kepala!
“Ya udah, tapi kalau butuh bilang. Ayo mandi,” ajaknya menarik tangan kiriku.
“Eh! Eh! Mandi ya tinggal mandi, Mas. Kenapa tarik-tarik aku,” protesku berusaha menghentikan tarikannya.
“Mandi bareng,” ujarnya yang kini sudah membawaku ke dalam kamar mandi. Kekuatanku bukan apa-apa bagi ototnya yang sering diajak olahraga. Dan apa tadi katanya, mandi bareng? Oh Allah, gila orang ini!
“No, aku gak mau!” teriakku berusaha keluar dari kamar mandi. Tapi naas, Mas Sam lebih cerdik ternyata. Pintu sudah dikunci, dan entah ke mana kuncinya.
“Tidak ada bantahan Sayang!” seringainya dan langsung menghidupkan shower yang tepat di atasku. Yah, aku tadi langsung di bopong dan diletakkan di bawah shower. Ya Allah, suamiku ini!