Sudah satu bulan usia pernikahan ku dengan Mas Sam, selama itu pula tidak ada masalah serius yang kami hadapi. Hanya perdebatan kecil yang tentunya dimenangkan oleh dia–si keras kepala.
Weekend kemarin aku pulang ke rumah Bunda dan menginap, awalnya tidak boleh. Tapi berkat rayuanku, doi kasih izin deh! Tapi ya, hanya satu malam saja! Bunda sempat bertanya masalah kerjaanku, aku bingung pasti. Tapi untungnya ada Mbak Riska–tetangga sebelah yang main ke rumah. Jadilah pembahasan kami terpotong dan tak ternah terlanjutkan sampai sekarang.
Aku lega sekaligus merasa bersalah pada Bunda. Selama ini aku sudah membohonginya, menjadi anak durhaka. Setiap menit yang aku lalui, kegelisahan menghantui.
Ting!
Yunaa
Gaes, ketemuan kuy
Aku kangen berat
Aku terkikik membaca chat dari Yuna, anak satu ini pasti sudah bosan di rumah. Ada-ada aja, pake bilang kangen segala.
Me
Wohooo, ada yang kangen nih?
Tapi aku nggak
Yunaa
Aku seriusan
Me
Oke deh
Aku izin dulu yaa
Ting!
Yunaa
Woke
Gpl
Me
Aku bangun dari rebahanku di kasur empuk yang berada di ruang baca, mencari kontak Mas Sam. Tempat baca ini cocok sekali untuk bersantai dan mencari inspirasi, aku betah berlama-lama di sini dengan bebagai buku yang menemani. Tempat ini juga menjadi ruang favorit keduaku setelah kamarku dan suami. Oh aku baru ingat, Mas Sam hari ini sedang rapat di luar kota, mungkin dini hari nanti baru sampai. Kalau menelpon aku takut ganggu, lebih baik aku izin lewat chat aja lah.
Me
Assalamualaikum, Mas
Adek mau jalan sama Yuna, boleh?
Satu hal yang berubah, aku harus membiasakan diri menyebut diriku dengan panggilan Adek. Tentu saja itu titah dari paduka raja Samuel Adidaya. Tak kuasa aku menolak, apalagi kalau sudah melotot matanya. Duh, dosa gak sih ngrasani suami.
Tak sampai lima menit Mas Sam membalas chatku.
Ting!
Mas Sam
Wa'alaikumussalam, boleh
Hanya sampai jam tiga
Me
Oke, makasih Mas
Mas Sam
Sama-sama
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar juga dari istana paduka raja. Bagaimana tidak, selama sebulan ini bisa dihitung jari kapan aku bisa keluar dari rumah, itupun hanya di depan pagar untuk membeli bakso keliling. Mas Sam benar-benar melarang ku untuk keluar rumah sendiri, kalau mau keluar ya harus sama dia. Tapi sayangnya, dia gak mau diajak keluar. Enakan di rumah bareng istri katanya. Suami otoriter! Protes pun percuma, pangkatnya sebagai suami menang telak. Aku tidak bisa berkutik jika ia sudah menggunakan embel-embel suami. Bukankah istri harus nurut?
Aku mempercepat persiapan ku, aku hanya di beri waktu sampai pukul tiga. Sedangkan sekarang sudah hampir setengah dua. Pilihanku jatuh pada gamis hitam bermotif tulisan dengan jilbab instan senada. Pakai bedak, lipstik, masker, kaos kaki, sepatu, dan gotcha! Aku siap meluncur dengan motor kesayanganku yang sekarang jadi pengangguran.
Yuhu, angin jalanan i'm coming!
Yuna sudah mengirim tempat ketemuan kami, warung bakso milik Bu Rika. Yah, kita mah gak bisa jauh-jauh dari bakso. Kemanapun pergi, bakso adalah menu yang tidak pernah absen untuk di pesan. Apalagi bakso Bu Rika tidak bisa untuk dilewatkan begitu saja kelezatannya.
Perjalanan dari rumah menuju warung bakso Bu Rika membutuhkan waktu setengah jam lebih, mengingat warung bakso Bu Rika tidak jauh dari kompleks perumahan ku. Eh, sejak kapan aku punya rumah sendiri? Maksudku tadi rumah Mas Sam.
**
“Beneran itu? Sumpah? Demi apa?” Yuna heboh sendiri usai mendengar ceritaku, ia bahkan hampir berteriak.
Aku mengangguk pelan, yaa aku baru saja menceritakan apa yang terjadi kepadaku belakangan ini. Awal mula pertemuanku dengan suami hingga sekarang, tentu direspon heboh oleh Yuna. Apalagi, gadis ini memang ratu heboh!
Aku menceritakan pada Yuna pasal pernikahan ku dan Mas Sam karena aku sudah tidak bisa memendam sendiri peristiwa ini. Setidaknya kalau Yuna tahu, aku bisa curhat dengannya mengenai Mas Sam dan kehidupan baruku. Dan itu bisa membuatku lega, ketimbang harus menyimpan sendiri.
Aku juga sudah mewanti-wanti Yuna agar tidak bocor, apalagi kalau sampai Bunda tahu. Itu kemungkinan terburuk yang aku pikirkan. Yuna langsung setuju, asalkan aku mentraktir bakso dua mangkok. Tentunya tidak masalah bagiku, mengingat aku sudah banyak uang sekarang, hehe.
“Gila! Gila! Penasaran aku sama lakimu, ganteng gak Din?” Mendengar pertanyaannya aku spontan menggetok kepalanya mengunakan ujung sendok yang tidak kotor. Kenapa harus kegantengannya yang ditayangkan dulu, sih?
“Kepo, nanti lihat sendiri lah.” Oh, jangan sampai Yuna terpesona. Mas Sam hanya untukku! Eh? Kenapa sekarang aku jadi gadis yang takut kekasihnya diambil orang.
“Ih, kapan-kapan ya. Pokoknya iya,” tuntut Yuna. "Awas kalau gak," sambung Yuna lagi.
Aku hanya menjawab lewat anggukan, kasian baksoku yang kuahnya mulai dingin. Gak seger lagi nanti! Yuna yang paham pun ikut diam, ia menghabiskan mangkok bakso keduanya. Gila! Perutnya kuat banget. Pas tak tanya katanya sengaja gak makan pas ajak aku ketemuan, biar bisa makan bakso banyak-banyak. Huh, ada-ada saja anak satu ini.
“Loh, ada Dina sama Yuna!” Kekagetan seseorang di sampingku membautku spontan menoleh. Lah, aku pun tak kalah terkejutnya dengan pria itu, yang tak lain Kak Randi. Kenapa bisa di sini?
“Lah, Kak Randi!” aku menyuarakan keterkejutanku.
“Kalian kok bisa sampai sini?” tanyanya yang langsung mengambil duduk berhadapan langsung denganku.
“Iya nih, Kak. Tadi diajak Yuna meet up, dah lama gak ketemu.” Jawabku apa adanya dan diangguki Yuna.
“Kakak sendiri kok juga sampai sini?” Giliran Yuna yang menanyai pria ini. Pria yang sudah kuanggap sebagai Kakak lelakiku. Mungkin aku merindukan sosok saudara dalam keluarga, dan perhatian Kak Randi membuatku merasakan memiliki saudara. Yah, meskipun dulu aku menganggapnya lebih.
Kak Randi tersenyum manis, “iya nih. Tadi baru dari rumah Kak Priska, terus Mama pesen suruh beliin bakso.” Ujarnya masih dengan senyumnya.
Lah baru kencan nih Kakak! Kak Randi segera saja memesan dua bungkus bakso jumbo ekstra pedas pada pelayan Bu Rika. Tapi ia meminta disiapkan terakhir saja, masih mau ngobrol katanya.
“Kenapa ya, rata-rata orang suka bakso?” tanyaku penasaran. Karena hampir setiap warung bakso di sini selalu antre pembeli. Dari yang anak-anak, remaja, muda, dan tua ikut dalam antrean itu.
Apalagi warung bakso Bu Rika siang menjelang sore ini sangat ramai, dari yang makan di tempat sampai yang di bawa pulang. Bu Rika dan dua pelayanannya saja sampai kewalahan!
Kak Randi terkekeh mendengar pertanyaanku, “kalau menurut Kakak sih, lebih karena rasa baksonya. Pas buat lidah orang Indonesia, harganya juga gak buat kantong kosong. Kalau Yuna?” Ini salah satu yang aku suka dari sifat Kak Randi, dia selalu melibatkan Yuna dalam pembicaraan kami. Meskipun mereka tidak terlalu dekat.
Yuna berlagak berpikir, “emmm, kalau aku sih yang pasti gak bikin kantong nipis, hihi.” Aku setuju juga! Haha, dengan modal lima ribu saja aku bisa mendapatkan bakso ayam satu mangkok.
Obrolan kami berlanjut makin seru, Kak Randi yang niatnya hanya memesan untuk Mamanya malah ikut larut dalam obrolan. Aku juga tidak memperhatikan jarum jam yang terus berputar, aku kangen masa-masa ini!
Sampai suara pesan menginterupsi ku, aku ingat notif ini. Notif khusus untuk dia, agar aku bisa membedakan ketika ada panggilan masuk di aplikasi wa ku.
Mas Sam calling....
Aku gemetar melihat nama yang tertera di layar ponselku, Allah aku tidak tahu kalau saat ini sudah pukul tiga lebih. Aku mendiamkan panggilan Mas Sam, takut kalau nanti dia marah. Hah, tentu marah!
"Kenapa gak diangkat, Dek?" Tanya Mas Randi yang heran melihatku mendiamkan panggilan yang masuk.
Aku tersenyum meski kaku, takut nanti membuat mereka curiga. "Gak papa Kak, orang iseng aja." Jawabku seadanya.
Ting!
Mas Sam
Berani sekali tidak menjawab panggilanku!
Lupa jam berapa sekarang?!
Cepat pulang!
Aku memejamkan mata sejenak setelah membaca pesan dari Mas Sam. Allah, dari pesannya saja aku tahu kalau dia marah besar. Tapi aku juga muak jika terus dikekang, aku ingin sedikit bebas!
Sebentar! Dari mana dia tahu kalau aku belum pulang? Apa dia punya mata-mata? Spontan saja aku langsung melihat ke segala arah, memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang mengawasiku. Tidak! Kenapa aku seperti buronan saja!
"Kamu kenapa Din? Nyari apa?" Duh! Yuna ternyata melihat perubahan wajahku, pasti sangat ketara. Aku menoleh ke arah Yuna dengan cengiran kecil, gadis ini menatapku penasaran.
"Hehe, kayaknya aku harus balik deh. Udah sore juga," dan suamiku sudah marah besar! Tentu ucapan itu hanya tertahan di dalam hati. Kak Randi tidak boleh tahu!
"Ya udah, gih sana pada balik. Keburu hujan, langit mendung soalnya." Kali ini suara Kak Randi yang menginterupsi. Dan benar apa yang dikatakan Kak Randi, langit sudah berubah menjadi gelap.
Aku dan Yuna mengangguk dan segera bangkit. Kak Randi juga bangkit, karena pesanan baksonya sudah siap.
Allah lindungi aku!